Bab 8

1596 Words
Pagi ini Pria bernama Arthur Kalandra berencana untuk mengunjungi perusahaannya yang ada di kota B. Sejak berdirinya WR grup, Andra hampir tidak pernah datang untuk mengecek kondisi perusahaan. Ia hanya memantaunya, melalui orang-orang kepercayaannya. Ini adalah kedua kalinya Andra datang ke anak perusahaan-nya. Pertama kali Andra datang ke WR grup hanya saat peresmian saja, sehingga kali ini ia menyempatkan waktu datang ke WR grup. Disana, ia sudah di sambut hangat oleh para stafnya. Namun, ada satu orang lagi yang tentunya ia kenali wajahnya sekaligus namanya. Ketika semua orang memberi salam padanya, Giska justru termangu menatap Pria itu berdiri di hadapannya. " Apa ada yang aneh dengan wajah saya? " Tanya Andra, sambil melepas kacamata hitamnya. Siapa sangka, begitu ia membuka kacamata, Giska di suguhkan dengan wajah tampan Andra. Ia menjadi gelagapan, saat Andra memergoki dirinya sedang termangu menatap Andra. " Heh Gis, kamu ngapain? Cepat sambut hangat Tuan Andra!!! " Tegur Pak Lana, menggunakan nada suara rendah. " Ah, selamat datang Tuan! " Giska kini membungkukkan sedikit tubuhnya, dan menyapa Andra. Tanpa menjawab, Andra memberi isyarat pada Sekertarisnya agar dibawa ke ruangannya. Pria itu kini pergi dari hadapan Giska. Sementara Pak Lana dan Pak Tomy, mengikuti Tuan Andra di belakangnya. Begitu semuanya sudah tidak terlihat, barulag Giska bisa bernapas lega. " Gila, kenapa aku tegang begini sih? Apa Pria itu benar-benar Ayah-nya Nick? " Batin Giska, dalam hati. " Kenapa malam itu beliau nggak terlihat menyeramkan seperti tadi, ya? Apa karena waktu itu, aku lagi emosi banget jadi nggak merasakan auranya?! " Monolog Giska, merasa merinding. Alih-alih melamun, Giska memilih kembali ke ruang kerjanya. Namun lagi-lagi Wanita itu memikirkan sosok Tuan Andra, sekaligus Ayah Nick yang masih terlihat sangat muda. " Kalau Nick berusia 23 tahun, berarti berapa usia Ayah-nya? Kenapa terlihat masih muda? Apa Tuan Andra menikah muda? Tunggu, kalau pun menikah muda, berarti usia Tuan Andra sekarang, sekitar 43tahunan??? " sambil menyenderkan kepalanya di senderan kursi, Giska melamun. " Ah, s¡al. Kenapa aku malah belajar menghitung! " Begitu sadar dengan pikirannya, Giska memilih melanjutkan membuat proposal yang sudah hampir selesai. Setelah setengah jam menyelesaikan proposalnya, Giska lebih dulu mengcopynya dan segera di antar ke ruangan Pak Lana untuk memintar persetujuan. Perlahan Wanita itu mengetuk pintu ruangan Pak Lana, sebanyak tiga kali. " Masuk! " Mendengar itu, Giska segera masuk bersama dengan proposal di tangannya. " Ada apa, Gis? " Tanya Lana, menurunkan kacamatanya. " Saya mau mengajukan proposal untuk acara even, Pak. Silahkan di baca dulu isinya, " sahut Giska, sembari memberikan proposal itu pada Lana. Lantas Pak Lana pun membuka dan membacanya secara rinci. " Hari minggu? Kamu yakin, ada yang mau bergabung sama kamu? Hari minggu itu waktunya istirahat, Gis. Pikirkan lagi! " Tanpa basa basi, Pak Lana segera melempar kembali proposal tersebut. " Ada kok, Pak. Saya akan membawa Putri, Winda dan Zaki untuk acara ini. Mereka sudah setuju pak, asalkan ada bonus lembur untuk mereka. " Giska pun mengambil berkas tersebut, dan kembali bicara baik-baik pada Pak Lana. " Terus apa-apaan biaya operasional ini? Kamu mau memeras perusahaan? " Bentak Lana, terhadap Giska. " Bukan begitu, Pak. Saya sudah memperhitungkan semuanya, dan ini jumlah yang paling layak. Kalau anda merasa ini terlalu banyak, saya akan menguranginya, Pak " Ujar Giska, masih berusaha. " Oke, kalau begitu kurangi biaya operasionalnya setengah. Gimana? " Mendengar itu, Giska terdiam dan berusaha mengatur emosinya. Mengurangi setengah dari jumlah yang sudah di tentukan, cukup membuat Giska emosi. " Bagaimana kalau kurangi 10% saja, Pak? Saya rasa permintaan saya tidak berlebihan dan masih wajar kok. Tolong acc kan, ya Pak? " Ujar Giska secara baik-baik. " Cih, saya akan acc kalau biaya operasionalnya di kurangi 50%!!! " Pak Lana tak goyah sedikitpun. Ia tetap kekeh pada pendiriannya. " Baiklah, kalau begitu saya akan minta persetujuan langsung saja sama Tuan Andra. Lagi pula beliau masih disini. Saya permisi, Pak!!! " Tutur Giska dengan hormat. Wanita itu segera melangkah keluar dari ruangan Pak Lana. Ia tidak bisa lagi memohon kepada Pak Lana. " Gila! Memangnya aku perbuat kriminal? Aku melakukan ini kan biar mencapai target!!! " Gerutu Giska, berdiri di atas balkon. Tiba-tiba saja ucapannya yang tegas tidak sesuai dengan tindakannya. Giska cukup ragu, untuk meminta persetujuan langsung kepada Tuan Andra. Mendadak ia merasa gugup, ketika akan menuju ke ruangannya. " Gis, tunggu! " Ujar Lana, mengejar Giska yang sudah di depan ruangan Andra. Wanita itu lantas menoleh kepada Pak Lana. " Ada apa, Pak? " Tanya Giska, berpura-pura tidak tahu. Dalam hati ia sudah menduganya, bahwa Lana pasti berubah pikiran dan akan menandatangani proposal Giska. " Saya akan Acc proposalmu, dan memotong biaya operasionalnya 10% sesuai perkataanmu, bagaimana? " Ujar Lana, sesuai perkiraan Giska. " Oh ya, Gis. Tapi cantumkan juga nama saya di proposal kamu ya? " Bisik Lana, tanpa tau malu. Giska hanya bisa tersenyum getir, menertawakan Pria paruhbaya itu. " Jadi Bapak berubah pikiran untuk hal ini? Kalau begitu, nggak perlu ada pengurangan biaya, maka saya akan setuju untuk mencantumkan nama Anda disini. " Giska tidak sebodoh itu, dimanfaatkan oleh Lana. " Apa? Jangan melunjak kamu, Gis. Masih untung saya mau acc proposal kamu!!! " Sergah Lana, menatap tajam Giska. " Ada apa ini ribut-ribut??? " tanpa mereka sadari, Andra telah keluar dari ruangannya karena mendengar kebisingan mereka berdua. " Ah, ini saya mau meminta persetujuan sama anda langsung karena Pak Lana mempersulit saya. Silahkan di baca dulu, Tuan! " tanpa basa basi, Giska memberikab proposalnya pada Andra. Pria itu lalu membuka bagian depan proposal Giska dan membacanya. " Masuklah, bicarakan ini di dalam! " Tutur Andra, berjalan masuk kembali ke ruangannya. Sementara Giska, sebelum mengikuti langkah Andra, ia lebih dulu menoleh pada Pak Lana yang menatapnya tanpa ekspresi. " Ternyata benar dengan gosip yang tersebar, kalau Giska itu licik! Dia memacari Putra Tuan Andra untuk mendapat posisi terbaik disini! Aku nggak akan membiarkan kamu, anak muda! " Gumam Lana, menatap punggung Giska yang semakin tak terlihat. Hingga kini, Giska berdiri di hadapan Andra yang sedang fokus membaca proposal miliknya. " Kenapa Ayahnya Nick setampan ini? Apa Tuan Andra tau, kalau aku pernah berpacaran dengan Putranya? " Batin Giska, sambil memerhatikan wajah tampan Andra. Hidungnya yang mancung, rahang yang tegas, serta garis alis yang simetris membuat Andra tak membosankan saat di pandang. Giska tiba-tiba tersentak ketika sepasang mata tajam itu menatapnya. " Kenapa berdiri? Duduklah! " Ujar Andra, dengan suara khas baritonnya. " Ba-baik Tuan. " Giska akhirnya duduk di hadapan Andra untuk yang pertama kalinya, demi pengajuan proposalnya. Beberapa saat setelah menunggu Andra membaca proposalnya, akhirnyaa Pria itu meletakkan berkasnya di atas meja. " Kamu mau melakukan promosi event di acara yang lokasinya di outdor? Memang kamu nggak takut, kulitmu gosong??? " tanya Andra, menatap intens Giska. Mendengar itu Giska terdiam sejenak. " Pertanyaan macam apa itu? " Batin Giska, memikirkan sikap Andra di masalalu. Selain Ayah mantannya, Andra adalah orang yang tidak tau terimakasih dimata Giska. " Tidak, Tuan. Saya bisa pakai sunscreen! " sahutnya, ramah. " Apa kamu sudah mencari orang marketing buat jadi tim kamu? " " Sudah, Tuan. " " Baiklah kalau begitu, saya akan tanda tangani ini " Ujar Andra, membuat Giska tersenyum senang. " Terimakasih, Tuan. " tutur Giska, membungkukkan sedikit badannya. " Oh, ya. Tambahkan juga nomimal biaya operasionalnya! Saya akan menambahkannya, asalkan kamu bisa menjual banyak Unit. Minimal 30 Unit di acara yang akan kamu tangani! " " Baik, Tuan. Terimakasih banyak! Saya akan membicarakannya lagi dengan tim saya. Terimakasih banyak! " Wajah datar tadi, kini seketika berubah menjadi ekapresi antusias dan penuh semangat. Sambil menatap langkah Giska yang semakin jauh, Pria itu menyunggingkan sudut bibirnya melihat tingkah Giska yang seperti anak-anak. " Ternyata benar, ada yang lebih gila kerja dariku! " Gumam Pria itu, tersenyum simpul. Setelah keluar dari ruangan CEO, Giska kini menemui orang-orang bagian marketing yang akan menjadi Timnya. Diantaranya ada Winda, Putri dan Zaki. Giska mengajak mereka untuk bertemu di Cafe setelah pulang kerja nanti. Tentunya untuk membicarakan pekerjaan. Dari banyaknya karyawan marketing, hanya mereka bertiga yang mau belajar dengan Giska. Sementara itu di sudut lain, Pak Lana telah mengetahui bahwa Proposal Giska sudah di setujui langsung oleh Tuan Andra. Hal itu membuat Lana kesal, apalagi namanya telah gagal di cantumkan. Yang ada hanya semakin kesal. " S¡al, kalau begini, lama-lama dia pasti akan merebut posisiku!!! " Umpat Lana, merasa iri. Pria parubaya itu memperhatikan Giska yang sejak tadi sibuk menangani pekerjaannya. Di dunia kerja, tentu ada hal yang serupa demikian. Diantaranya ada yang merasa iri dengan pencapaian orang lain, juga merasa takut tersaingi. Tak terasa, hari cepat berlalu. Kali ini Giska tak melakukan lembur karena akan bertemu dengan teman-teman kerjanya untuk membahas pekerjaan. Tepat pukul 4 sore, Giska keluar dari gedung perusahaannya. Ia melihat bahwa mobilnya belum di perbaiki, padahal sejak pagi Giska sudah meminta montir di perusahaannya untuk memperbaiki mobilnya, namun rupanya belum di kerjakan. " Yah, kebetulan banget hari ini banyak yang melakukan service, jadi semua montir sibuk! " Eluh Giska, melihat ban mobilnya yang masih kempes. Mau tidak mau, Giska terpaksa pulang menggunakan busway lagi. Kini Wanita itu meninggalkan mobilnya lagi, dan berjalan kali menuju ke halte busway yang jaraknya cukup jauh dari kantor. " Huft, kakiku sepertinya lecet! " Gumamnya, sambil mengernyitkan dahi. Setelah cukup lama berjalan, tiba-tiba sebuah mobil Bentley berwarna hitam, menepi di hadapan Giska. " Ini, kan.. " Gumamnya, menduga sesuatu. Tak lama kemudian, kaca pintu mobil bagian belakang pun terbuka. Lantas Giska melihat sosok Andra, di dalamnya. Saat ini, Giska merasa tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga ia hanya bisa tersenyum menyapanya. " Apa kamu butuh tumpangan? " Ujar Pria itu, membuat Giska bergeming tak menjawab. *** Next....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD