Bab 12. Kenangan Pahit

1012 Words
Elmira sebenarnya mendengar ketukan di pintu, juga suara Tristan yang memanggil namanya beberapa kali. Suaranya terdengar lebih tenang dibandingkan tadi, seperti seseorang yang akhirnya menyadari kesalahannya dan mencoba menarik kembali apa yang telah terlanjur ia ucapkan. Namun, Elmira tetap diam. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap lembut punggung Elea yang masih terlelap dalam dekapannya. Anak itu bahkan tidak terusik oleh suara Tristan di luar, seolah merasa lebih aman dalam pelukannya dibandingkan dengan suara ayahnya sendiri. Ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan, seakan Tristan mulai ragu apakah Elmira akan benar-benar membukakan pintu. "Mira, kamu sudah tidur?" Elmira tetap diam. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya melayang ke kejadian tadi. Keadaan di rumah Amanda dan Roy, tatapan sinis Jenny, dan amarah Tristan yang langsung menyalahkannya tanpa sedikit pun keraguan. Ia menggigit bibirnya, menahan keinginan untuk tertawa sinis. Bagaimana bisa Tristan datang ke pintunya sekarang, setelah tadi dengan mudahnya melontarkan tuduhan? "Kamu pikir aku peduli, Tristan?" bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya terdengar getir. Ia menarik selimut, membaringkan Elea dengan hati-hati. Perlahan, ia pun merebahkan diri di samping anak itu, merasakan kehangatan yang jauh lebih tulus daripada apa pun yang bisa dia dapatkan selama ini. Di luar pintu, Tristan masih berdiri, menunggu. Tapi setelah beberapa saat tanpa jawaban, ia akhirnya menyerah. "Hah ..." Ia menarik napas panjang, lalu melangkah pergi. Di dalam kamar, Elmira memejamkan mata. Tapi hatinya masih penuh dengan kata-kata yang tak terucapkan. Besok, Tristan. Kamu bisa menyalahkanku lagi besok. Tapi malam ini, aku sudah cukup mendengar. Elmira sudah terlalu terbiasa untuk mendengar cacian, makian, tuduhan, dan hal-hal getir lainnya. Apa yang Tristan ucapkan tadi, seolah sama sekali tak berarti saat memasuki gendang telinganya. -- Masih jelas dalam ingatannya, saat di mana dia menerima semua luka itu sendirian. Suara gemericik hujan yang masih tersisa dari semalam mengiringi langkah seorang pria tua yang sedang berjalan di gang sempit itu. Ia menutup tubuhnya dengan jaket lusuh, tangannya memeluk sekeranjang sayuran yang hendak dijual di pasar. Namun, langkahnya terhenti. Matanya membelalak ketika melihat sesosok tubuh tergeletak di ujung gang. Seorang perempuan. Pakaian compang-camping, tubuh kotor berlumur tanah, rambut kusut menutupi sebagian wajahnya yang lebam. “Ya Allah … siapa itu?” gumamnya dengan suara tercekat. Dikerahkan segala keberaniannya untuk mendekat. Napasnya tercekat saat melihat wajah gadis itu. Ia mengenalinya. Elmira. Anak dari Bu Ratmi, tetangganya yang tinggal tak jauh dari sini. Tubuh tua itu gemetar. Dengan hati-hati, ia meraih bahu Elmira dan mengguncangnya pelan. “Nak, bangun ....” Beberapa kali, pria itu mengguncang tubuh Elmira, tetapi tubuh lemah itu sama sekali tidak merespons. Bibirnya pecah-pecah, napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram udara kosong, seolah berusaha menggapai sesuatu yang tak bisa ia raih. Lalu, tiba-tiba, tubuhnya tersentak. Matanya terbuka, merah dan sembab, dan ia menjerit. “Pergi ...! Pergi kalian, jangan sentuh aku! Pergi ... tolong!" pekiknya. Raungannya menggema di antara tembok-tembok sempit gang itu. Elmira meronta, seakan masih terperangkap dalam kegelapan pada malam sebelumnya. Tangannya bergerak liar, menutupi tubuhnya yang saat ini bergetar hebat. Pria tua itu mundur dengan mata berkaca-kaca. Hatinya pilu melihat gadis yang selama ini dikenal sebagai anak baik-baik kini tergolek lemah dalam keadaan yang seperti ini. Pria itu segera melepas kain sarung yang melilit di pinggangnya dan segera menutupi tubuh Elmira yang terbuka di beberapa bagian. Tangannya bergetar saat menyampirkan kain itu dengan hati-hati, takut menyentuh luka-luka di tubuh gadis itu. “Ya Allah, Nak ... siapa yang melakukan ini padamu?” gumamnya lirih. Elmira masih terisak, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan. Matanya kosong, menatap ke langit yang mulai merona merah karena matahari terbit. Tangannya mencengkeram kain sarung yang diberikan pria tua itu, seolah itu satu-satunya yang bisa melindunginya saat ini. Pria tua itu menoleh ke arah gang yang masih sepi. Ia tidak bisa meninggalkan Elmira di sini sendirian, tapi ia juga harus mencari pertolongan. Dengan hati-hati, ia mencoba mengangkat tubuh lemah itu. Namun, saat tangannya menyentuh bahu Elmira, gadis itu menjerit lagi. “Jangan! Jangan sentuh aku!" Tubuh Elmira bergetar hebat, air matanya mengalir deras. Ketakutan begitu jelas tergambar di wajahnya. Pria tua itu segera mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan. “Nak, ini Pak Salim ... kamu ingat? Aku tetanggamu. Aku nggak akan menyakitimu, Nak. Aku cuma mau bantu.” Elmira masih sesenggukan, tetapi suara pria tua itu perlahan mulai menembus kepanikannya. Ia berkedip beberapa kali, menatap sosok di depannya. Samar-samar, ia mengenali wajah itu. Pak Salim. Pria tua yang sering membantu ibunya dulu, yang selalu membawakan sayur untuk mereka jika dagangannya tidak habis di pasar. “Nak, kita harus pergi dari sini. Kamu butuh pertolongan,” ujar Pak Salim lagi. Tanpa pikir panjang, ia berlari mencari bantuan. "Tolong ... tolong!" teriaknya sembari berlari ke sana kemari. Tak butuh waktu lama, beberapa warga mulai berdatangan. Bisik-bisik kecil dengan cepat memenuhi udara pagi yang dingin. Ada yang menutup mulutnya karena terkejut, ada yang menatap dengan tatapan iba, dan ada pula yang hanya diam, tak sanggup berkata-kata. Apa yang saat ini ada di hadapan mereka begitu mengerikan. Bahkan sesungguhnya, sangat tak layak untuk dilihat. “Ini anaknya Bu Ratmi, 'kan?” “Ya Allah, siapa yang tega melakukan ini?” “Kasihan sekali ....” Tak lama kemudian, seorang wanita setengah baya berlari dari kejauhan. Wajahnya panik, nafasnya memburu. Ia menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Begitu melihat sosok yang terbaring di tanah, lututnya langsung lemas. “Mira!” Dengan gemetar, ia meraih tubuh anaknya dan mendekapnya erat. Elmira masih menangis tersedu, tapi tangannya tak berani membalas pelukan itu. Ia merasa kotor. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. “Nak, apa yang terjadi?” suara Bu Ratmi bergetar. “Ya Allah, siapa yang melakukan ini padamu?” Tapi Elmira hanya terisak, tubuhnya semakin gemetar. Air mata bercucuran dari matanya yang kosong. Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Dunianya sudah hancur. Bu Ratmi meraung, menumpahkan seluruh kepedihannya di sana. Ia mengguncang tubuh anaknya, berharap ini hanya mimpi buruk yang bisa segera berlalu. Tapi kenyataan begitu kejam. Orang-orang hanya bisa terdiam, menyaksikan dua ibu dan anak yang tenggelam dalam luka yang tak terbayangkan. Di kejauhan, matahari mulai terbit, menghangatkan bumi. Namun bagi Elmira, pagi itu hanyalah awal dari kegelapan yang lebih dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD