Pak Ratno baru saja turun dari sepedanya. Tubuhnya masih berbalut keringat, tangan kasarnya menggenggam erat sabit yang sejak pagi tadi ia gunakan untuk merumput. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat kerumunan orang berjalan ke arahnya.
Dahinya mengernyit. Wajah-wajah tetangganya dipenuhi ekspresi iba, beberapa orang berbisik satu sama lain, sementara sebagian hanya menunduk tanpa berani menatap langsung ke arahnya.
Di tengah-tengah mereka, ia melihat istrinya, Bu Ratmi, memeluk seseorang erat-erat. Sosok yang gemetar, menangis dalam pelukannya. Pak Ratno memicingkan mata, lalu merasakan dadanya dihantam oleh batu besar.
“Mira ...?”
Langkahnya otomatis maju, napasnya memburu saat menyadari bahwa gadis yang berada dalam dekapan istrinya itu adalah anaknya sendiri.
Bu Ratmi menghentikan langkahnya, tangisnya semakin pecah saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu. Ia berusaha menahan isakannya, tapi gagal. Elmira hanya diam, tubuhnya masih menggigil hebat.
“Ratmi, apa yang terjadi?” suara Pak Ratno terdengar serak. Matanya mengamati tubuh putrinya yang kotor, penuh luka lebam, dengan pakaian yang compang-camping. Ada sesuatu yang dingin dan mengerikan merayapi tulang belakangnya.
Bu Ratmi tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah, memeluk putrinya lebih erat, seolah ingin menyembunyikannya dari dunia. Sementara itu, Elmira masih tak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya kosong, seolah jiwanya telah tertinggal di suatu tempat yang tak bisa dijangkau oleh siapa pun.
Pak Ratno menatap orang-orang di sekelilingnya. “Apa yang terjadi pada anakku?” tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih tinggi.
Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa orang saling pandang, ragu untuk membuka mulut. Hingga akhirnya Pak Salim, pria tua yang tadi menemukan Elmira, maju selangkah dengan wajah sendu.
“Pak Ratno, saya yang menemukan Mira di gang dekat pasar tadi pagi ... dia ... dia dalam keadaan seperti ini.” Suaranya bergetar, berat untuk melanjutkan.
Pak Ratno kembali menatap anaknya, dadanya bergemuruh hebat. Ada sesuatu yang mengiris hatinya, sesuatu yang belum berani ia ucapkan, tapi perlahan-lahan mulai menyusup ke dalam pikirannya.
Tangannya mengepal erat.
“Mira ...” Pak Ratno mendekat, berusaha menyentuh bahu putrinya, tapi gadis itu tiba-tiba tersentak mundur. Napasnya memburu, tubuhnya bergetar, seolah sentuhan ayahnya saja adalah ancaman bagi dirinya.
Pak Ratno terdiam. Tangan yang tadi terulur perlahan mengepal kembali. Hatinya sakit melihat anaknya seperti ini, tapi lebih dari itu—ada kemarahan yang mulai mendidih di dalam dadanya.
Elmira menunduk, menahan isakannya sendiri. Ia tahu ayahnya marah, dan kali ini bukan hanya pada orang yang telah menghancurkannya, tapi juga padanya.
Karena di matanya, ia adalah noda. Ia adalah kotoran yang tidak seharusnya pulang ke rumah.
Bu Ratmi menggigit bibirnya, lalu menarik suaminya menjauh, berbisik lirih, “Pak, tolong... jangan sekarang. Mira butuh kita.”
Pak Ratno tidak langsung menjawab. Ia masih menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kepedihan, ada kemarahan, ada kehancuran yang bercampur menjadi satu.
Tapi pada akhirnya, ia mengangguk.
“Masuklah,” katanya dengan suara parau.
Tanpa menunggu lama, Bu Ratmi menggandeng Elmira masuk ke dalam rumah, meninggalkan Pak Ratno yang masih berdiri di depan pintu, menatap punggung mereka dengan mata yang mulai memanas.
Di luar, orang-orang masih berbisik-bisik. Tapi bagi keluarga kecil itu, dunia di dalam rumah mereka telah menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Karena mulai hari ini, tidak ada yang akan sama lagi.
--
Di dalam rumah, keheningan begitu pekat. Hanya suara napas tersengal Elmira yang terdengar, bercampur dengan isakan lirih Bu Ratmi. Lampu di ruang tamu masih menyala redup, membiaskan bayangan di dinding yang terasa lebih suram dari biasanya.
Pak Ratno berdiri di tengah ruangan, menatap putrinya yang duduk di lantai dengan tubuh mengecil. Matanya yang semula penuh kasih kini diselimuti bara api yang berkobar di dadanya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, lalu tanpa sadar meraih sesuatu di atas meja—sebilah parang yang biasa ia gunakan di ladang.
Bu Ratmi tercekat. Ia menatap suaminya dengan mata membulat. “Pak … jangan,” bisiknya takut-takut.
Namun, Pak Ratno tidak menggubris. Ia menatap Elmira dengan rahang mengeras. “Katakan padaku, Mira. Siapa yang melakukan ini padamu?” tanyanya dengan suara yang berat dan penuh intimidasi.
Elmira menggigit bibirnya. Tangannya mencengkeram erat kain lusuh yang masih melekat di tubuhnya. Tubuhnya masih gemetar, tapi bukan hanya karena trauma, melainkan juga ketakutan akan tatapan ayahnya.
“A-aku tidak tahu …,” jawabnya hampir tak terdengar.
Pak Ratno mengayunkan parangnya ke udara, bukan untuk menyerang, tetapi cukup untuk membuat suara mendesing yang memekakkan telinga. “Jangan bohongi Bapak, Mira!” suaranya meledak. “Kamu pikir Bapak bisa terima begitu saja? Kamu pulang dalam keadaan seperti ini, dan kamu bilang kalau tidak tahu siapa yang melakukannya?”
Elmira semakin merapatkan tubuhnya ke sudut ruangan, air matanya jatuh satu per satu, membasahi wajah yang penuh luka lebam. Napasnya tersengal, mencoba menenangkan dirinya sendiri, tapi ketakutan itu terlalu besar.
“Aku sungguh tidak tahu, Pak …,” suaranya pecah.
Pak Ratno menghela napas berat, menatap putrinya dengan sorot mata yang semakin berbahaya. Sementara di sudut ruangan, Bu Ratmi mencoba meraih tangannya, berusaha menenangkannya.
“Pak, tolong … Elmira baru pulang. Dia butuh kita, kenapa kamu menekannya seperti itu ...?” bisik Bu Ratmi, suaranya penuh permohonan.
Pak Ratno menutup matanya sejenak. Tangan yang masih menggenggam parang mulai bergetar. Ia ingin marah. Ia ingin tahu siapa yang telah merusak putrinya. Namun, di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang lebih takut—takut jika ia terlalu menekan, Elmira akan semakin menjauh, semakin tenggelam dalam ketakutannya sendiri.
Ia menarik napas panjang, lalu dengan kasar meletakkan parangnya kembali di atas meja. Tangan kasarnya terangkat, mengusap wajahnya yang terasa panas.
“Kamu benar, Bu … Mira butuh kita,” ucapnya akhirnya, meskipun suaranya masih penuh emosi yang tertahan.
Elmira mendongak, menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya, sesuatu yang ingin ia katakan, tapi setiap kali mencoba, suaranya menghilang.
Ia benar-benar tidak tahu. Ia hanya ingat berjalan sendirian, malam yang gelap, suara langkah-langkah di belakangnya, lalu segalanya menjadi kabur.
Sama seperti Pak Ratno, tentu saja Elmira juga ingin tahu siapa mereka. Ia ingin memberi jawaban kepada ayahnya. Tapi ingatannya seperti kabut yang tebal, menutupi semua yang terjadi setelah itu.
Pak Ratno menghela napas lagi, lalu akhirnya berlutut di hadapan putrinya. Dengan tangan gemetar, ia mencoba meraih tangan Elmira. Kali ini, gadis itu tidak menolak.
“Bapak akan mencari mereka … siapa pun mereka,” bisik Pak Ratno. “Dan Bapak bersumpah … mereka tidak akan lolos begitu saja.”