Bab 14. Hancur

1040 Words
Elmira melangkah keluar rumah untuk pertama kalinya setelah kejadian itu. Langit di atasnya cerah, tetapi dunia terasa kelam. Tubuhnya terasa ringan, seolah-olah ia hanya bayangan dari dirinya yang dulu. Ia menggenggam erat syal yang menutupi sebagian wajahnya, berharap bisa menghindari tatapan orang-orang. Ia hanya ingin pergi ke warung sebentar, membantu ibunya membeli beberapa kebutuhan rumah, hanya itu saja. Tidak lebih. Namun, saat ia melewati gang kecil menuju jalan utama, bisikan-bisikan mulai terdengar. "Itu dia, 'kan?" "Ih, kasihan, ya. Tapi katanya juga dia nggak benar sih, makanya kena batunya." "Pantas aja selama ini mengurung diri, malu kali dia." Elmira berusaha tidak mendengar mereka. Ia menundukkan kepala, mempercepat langkahnya. Namun, suara-suara itu semakin jelas. Seorang ibu yang sedang duduk di depan rumahnya bergumam pelan, tetapi cukup keras untuk didengar Elmira. "Anak perempuan harusnya jaga diri. Kalau sampai begitu, berarti salah sendiri." Seorang gadis sebaya yang sedang berjalan bersama teman-temannya mendengus sinis. "Aku kalau jadi dia, udah bunuh diri aja. Hidup buat apa kalau harga diri udah nggak ada?" Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya. Nafasnya memburu, kakinya mulai gemetar. Lalu, terdengar tawa beberapa pemuda yang duduk di sudut gang. Salah satu dari mereka bersiul pelan. "Wah, yang satu ini masih bisa dipakai, nggak, ya?" Tawanya menggema, menusuk ke dalam kepalanya. Elmira berhenti. Tangannya bergetar hebat. Ia ingin berteriak, ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia bukan seperti yang mereka pikirkan. Namun, suaranya terjebak di tenggorokannya. Tiba-tiba, seseorang melempar sesuatu ke arahnya. Batu kecil, tepat mengenai kakinya. "Pergi saja, jangan bawa sial di sini!" Elmira tersentak. Pandangannya mengabur oleh air mata yang mulai jatuh. Dadanya terasa sesak. Tanpa berpikir panjang, ia berlari kembali ke rumah. Kakinya menendang debu jalanan, napasnya tersengal. Saat sampai di depan pintu, tangannya gemetar saat mencoba membukanya. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan menutupnya rapat-rapat. Tubuhnya jatuh bersimpuh di lantai. Ia menutup telinganya, mencoba mengusir suara-suara jahat yang masih terngiang di kepalanya. Tangisnya pecah. Sejak hari itu, Elmira tidak pernah keluar rumah lagi. Elmira menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar. Ia jarang berbicara, bahkan dengan ibunya. Makan pun hanya ketika dipaksa, dan tidur selalu diiringi mimpi buruk yang membuatnya terbangun dengan keringat dingin dan tubuh gemetar. Bu Ratmi selalu mencoba merangkulnya, memberikan kenyamanan, tetapi tidak banyak yang bisa ia lakukan. Setiap kali menyentuh Elmira, gadis itu akan mengejang, seperti ketakutan akan sesuatu yang tak terlihat. Sementara itu, Pak Ratno berubah menjadi pria yang pendiam, tapi semua orang tahu ada bara api yang terus menyala di dadanya. Setiap hari, ia keluar rumah, mencari tahu siapa yang telah menghancurkan putrinya. Ia menginterogasi orang-orang di pasar, di gang-gang sepi, bahkan datang ke rumah beberapa preman yang sering berkeliaran di malam hari. Namun, tidak ada satu pun petunjuk yang ia temukan. Hingga pada tiga bulan setelah kejadian itu, dunia Elmira runtuh untuk kedua kalinya. Mual itu datang tiba-tiba. Elmira terbangun dengan perut yang terasa aneh. Ia berusaha menahannya, tetapi rasa mual itu semakin kuat hingga akhirnya ia berlari ke kamar mandi, muntah sejadi-jadinya. Bu Ratmi yang sedang menyiapkan sarapan mendengar suara gaduh dari kamar mandi dan segera menghampiri. Ketika melihat putrinya berlutut di lantai dengan tubuh lemas, napasnya tertahan. “Mira?” panggilnya pelan, mencoba mendekati. Elmira mengangkat wajahnya yang pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba tersenyum, tetapi justru terasa seperti mimik kesakitan. “Aku baik-baik saja, Bu,” bisiknya, meskipun tubuhnya jelas menunjukkan sebaliknya. Tapi Bu Ratmi bukan perempuan bodoh. Ada sesuatu dalam tatapan putrinya yang membuat hatinya mencelos. Dan ketika ia melihat Elmira memegangi perutnya sambil menarik napas dalam, perasaan itu semakin kuat. Tidak mungkin .... Dengan tangan gemetar, Bu Ratmi membantu putrinya berdiri dan membawanya ke kamar. Tanpa mengatakan apa-apa, ia pergi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih. “Mira, kapan terakhir kali kamu … datang bulan?” tanyanya hati-hati, meskipun suara itu terdengar gemetar. Elmira menegang. Ia terdiam, memikirkan pertanyaan itu. Sejak kejadian tiga bulan lalu, pikirannya begitu kacau hingga ia tidak memperhatikan hal-hal seperti itu. Namun, saat ini, ketika ibunya bertanya … ia mulai menyadari sesuatu yang mengerikan. Tangannya meremas selimut di pangkuannya. Napasnya tercekat. “A-aku … tidak ingat,” jawabnya akhirnya. Bu Ratmi menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya sesak. Ia ingin menyangkal kemungkinan itu, ingin meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah kelelahan atau stres. Namun, nalurinya berkata lain. Dengan tangan gemetar, ia berdiri. “Kita harus ke bidan,” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. Elmira mendongak, ketakutan kembali menguasai wajahnya. “Tidak, Bu … aku tidak mau.” “Tapi, Nak—” “Bu, aku mohon,” suara Elmira pecah, air matanya jatuh begitu saja. “Aku tidak mau tahu … aku tidak mau tahu, Bu ....” Tangisnya semakin keras, tubuhnya berguncang hebat. Bu Ratmi langsung merengkuhnya, menahan isakannya sendiri. Namun, Bu Ratmi tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Karena jika firasatnya benar, maka anaknya telah kehilangan sesuatu yang lebih dari sekadar kehormatannya. Ia telah kehilangan harapan untuk masa depannya. Dua hari kemudian, Elmira duduk di bangku kayu dalam ruang pemeriksaan bidan desa. Tangannya mencengkeram erat ujung bajunya, wajahnya pucat pasi. Bu Ratmi duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan erat. Sementara itu, Bu Sulastri, bidan desa yang sudah lama mengenal mereka, duduk di depan meja kecil, menatap hasil tes kehamilan yang baru saja ia periksa. Ruangan itu sunyi. Bu Sulastri menarik napas, kemudian menatap Elmira dengan mata yang penuh belas kasih. “Nak, kamu hamil.” Dunia Elmira berhenti berputar. Ia tidak bisa mendengar suara apa pun selain dengungan di telinganya. Pandangannya mengabur, napasnya tercekat. Tangannya yang menggenggam kain di pangkuannya mulai bergetar hebat. Hamil …? Tidak, ini pasti mimpi buruk. Ini tidak mungkin nyata. “T-tidak …” bisiknya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia kendalikan. “Aku … aku tidak mungkin hamil.” Bu Ratmi menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat. Ia sudah menduga kemungkinan ini, tetapi mendengarnya secara langsung tetap membuat dunianya hancur berkeping-keping. Sementara itu, Pak Ratno yang sejak tadi berdiri di luar pintu mendengar semuanya. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Bara api di dadanya yang selama tiga bulan terakhir sudah membakar perlahan, kini berubah menjadi lautan api yang siap melalap siapa pun yang bertanggung jawab atas kehancuran putrinya. "Setelah ini, pergilah kamu dari rumah. Bapak tidak mau melihat anak itu!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Pak Ratno berbalik dan berjalan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD