Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela terasa hangat di kulitnya, tapi hatinya masih diselimuti dingin yang tak kunjung mencair. Ia menatap Elea yang masih terlelap di sampingnya, jemarinya dengan lembut menyelipkan helaian rambut halus anak itu ke belakang telinga. "Kenapa kamu begitu cantik, Elea?" tanya Elmira lembut serah mengusap lembut pipi bayi mungil itu. Di luar kamar, ia bisa mendengar suara piring beradu dan aroma kopi yang samar tercium ke dalam ruangan. Tristan pasti sudah bangun. Elmira menarik napas panjang, berusaha mengabaikan degup aneh di dadanya. Ia tidak ingin menghadapi Tristan pagi ini. Pelan-pelan, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Air dingin yang menyentuh wajahnya memberikan sedikit kejernihan pada pikirannya. Saat menatap pantula

