Pagi itu, Tristan tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Kepalanya masih dipenuhi kejadian semalam—bagaimana Elmira jatuh, bagaimana darah mengalir dari pelipisnya, bagaimana Jenny berpura-pura tidak bersalah. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, berusaha meredam amarah yang masih membara dalam dadanya. Suara ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala. "Masuk," ucapnya singkat. Pintu terbuka, dan Jenny melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Hari ini ia mengenakan gaun merah ketat yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya tergerai indah, dan senyumnya terlihat menggoda. “Pagi, Tristan,” sapanya manis, berjalan mendekat tanpa ragu. Tristan menghela napas, tidak menyembunyikan ketidaksenangannya. “Apa yang kamu lakukan di sini, Jenny?” tanyanya dingin. Jenny me

