Begitu Tristan keluar dari kamar, Elmira merasakan lututnya melemah. Ia tidak bisa lagi menahan segalanya. Dengan tubuh gemetar, ia berlutut di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangannya meremas gaunnya yang sudah kusut, dan perlahan, ia menarik lututnya ke d**a, membenamkan wajahnya di sana.
Isakannya nyaris tanpa suara, tetapi tubuhnya bergetar hebat. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menekan jiwanya. Setiap kali ia menatap Elea, hatinya seperti disayat-sayat.
Ada luka yang tak pernah sembuh. Ada dosa yang selalu menghantuinya.
"Maafkan aku ..." bisiknya, hampir tanpa suara. "Maafkan aku ...."
Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi mungil itu, tetapi ia ragu. Ia menarik tangannya kembali, menggenggamnya erat di d**a, berusaha menahan sesak yang makin menjadi-jadi. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi kain bajunya.
Ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh terlihat lemah. Akan tetapi, bagaimana bisa ia menahan perasaannya?
Setiap kali menatap Elea, setiap kali mendengar suara tangisnya, Elmira merasakan belenggu yang semakin erat menjerat dirinya. Ia bukan siapa-siapa di rumah ini. Ia hanya seorang wanita yang datang karena pekerjaan. Seorang pengasuh yang hanya diberikan kepercayaan sementara.
Elmira menarik napas panjang, berusaha meredam getaran di dadanya. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menghapus air mata dengan punggung tangan. Tidak, ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak di rumah ini. Tidak di hadapan Tristan, dan terutama tidak di hadapan Gina.
"Bangkitlah ... Mira. Jangan menjadi wanita lemah!" ucapnya pada dirinya sendiri.
--
Samar-samar, suara langkah kaki menggema di lorong gelap, terdengar mendekat dan semakin cepat. Elmira berlari sekuat tenaga, napasnya memburu, dadanya naik turun dalam ketakutan. Tubuhnya menggigil bukan hanya karena udara malam yang dingin, tapi karena ketakutan yang mencengkeramnya erat.
Jalanan yang basah membuat langkahnya terpeleset beberapa kali. Lututnya membentur aspal kasar. Rasa perih menjalar, tapi ia tidak punya waktu untuk merasakannya. Dengan tangan gemetar, ia mendorong tubuhnya bangkit. Di belakangnya, suara tawa menggema di antara bangunan tua yang sunyi.
“Jangan lari, Sayang. Kami cuma mau bersenang-senang,” suara salah satu dari mereka terdengar mengejek.
Elmira segera berbelok ke gang sempit, tetapi jalannya buntu. "Tidak!" jeritnya.
Ia berbalik dengan tubuh gemetar. Cahaya lampu jalan yang temaram hanya membuat wajah mereka tampak semakin menyeramkan.
“Tolong ....” Suaranya nyaris tak terdengar. Ia melangkah mundur, hingga punggungnya menabrak dinding lembap.
"Diam! Jangan berisik!"
Salah satu pria itu, yang paling tinggi, mengangkat botol minuman dari tangannya. Elmira menjerit, tapi sebelum suara itu benar-benar keluar, botol itu menghantam kepalanya dengan keras.
Praaang!
Dunia di sekelilingnya seketika berputar. Pandangannya kabur. Rasa nyeri yang menyengat menyebar ke seluruh kepala. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan aroma alkohol yang menusuk, dan ia bisa merasakan darah mengalir di pelipisnya.
Ketiga pria itu tertawa puas.
“Lihat dia, masih sadar rupanya.”
“Sial, dia cantik sekali.”
"Tidak ...," rintih Elmira yang masih berusaha merangkak untuk menjauh.
Beberapa detik kemudian, tangan-tangan kasar itu mencengkeram tubuhnya. Elmira menjerit, menendang, mencakar—melakukan apa pun yang bisa ia lakukan untuk melawan. Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan mereka.
"Lepaskan! Tidak! Tolong lepaskan saya!" Dengan sisa kekuatan yang ada, Elmira masih terus memberontak.
Bajunya direnggut dengan kasar. Tubuhnya ditekan ke tanah yang kotor. Napas panas dan bau alkohol menusuk hidungnya. Elmira berusaha mengusir tangan-tangan itu, tetapi pukulan keras lain menghantam wajahnya, membuat kesadarannya semakin hilang.
Pakaiannya koyak, tangisnya bercampur dengan rintik hujan yang mulai turun.
Tidak ada yang akan menolongnya. Tidak ada yang akan menyelamatkannya. Malam itu, dunianya hancur.
"Tidak! Lepaskan! Tolong, jangan!"
Elmira menjerit di tengah tidurnya. Tubuhnya berkeringat, wajahnya memucat, napasnya memburu. Tangannya meronta, seolah masih berusaha melawan sesuatu dalam mimpinya.
"Elmira! Nak, bangun!"
Suara panik Bi Asih terdengar di kejauhan, diiringi guncangan lembut di bahunya. Elmira terbangun dengan tubuh tersentak. Matanya terbuka lebar, bola matanya liar menatap sekeliling, mencoba mencari di mana ia berada.
Masih gelap. Masih sunyi, tapi ini bukan gang sempit itu. Bukan jalanan yang basah dan dingin. Bukan malam yang menghancurkannya.
Elmira tersadar bahwa ia ada di kamar Elea. Tempat yang seharusnya aman. Tapi rasa aman itu tidak pernah benar-benar ada untuknya.
"Astaghfirullah, Nak ... Kamu mimpi buruk?" suara Bi Asih penuh kekhawatiran. Perempuan tua itu duduk di tepi ranjang, mengusap kening Elmira yang basah oleh keringat.
Elmira menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Napasnya tersengal, tubuhnya terasa lunglai. Ia menatap Bi Asih dengan mata yang masih dipenuhi ketakutan, tapi hanya sesaat. Detik berikutnya, ia menundukkan kepala, menyembunyikan ekspresinya itu.
"Enggak apa-apa, Bi," katanya pelan.
Bi Asih menghela napas. "Mira, jangan bohongi Bi Asih. Kamu tadi berteriak-teriak. Seperti sedang ketakutan."
Dadanya masih berdegup kencang. Tangannya meraba tengkuknya, mencari luka yang seolah masih terasa perih di dalam mimpi itu. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya bekas luka lama yang tak kasat mata.
Elmira menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkan dirinya. Kejadian mengerikan itu … terus menghantuinya. Seolah-olah waktu tak pernah benar-benar menghapusnya.
Ia tidak akan pernah lupa. Ia tidak bisa melupakannya. Mengapa ia masih hidup setelah semua yang terjadi? Mengapa ia masih bisa berpura-pura kuat?
Namun, satu hal yang pasti—tidak ada seorang pun yang boleh tahu.
Tidak Tristan. Tidak siapa pun!
"Aku cuma ... mimpi buruk biasa, Bi," jawabnya akhirnya, berusaha mengendalikan nada suaranya agar terdengar lebih stabil. "Bi Asih nggak perlu khawatir."
Bi Asih masih menatapnya dengan curiga. Perempuan tua itu sudah terlalu lama hidup untuk bisa dibohongi dengan mudah. Namun, ia tidak memaksa Elmira untuk bicara. Ia hanya mengusap punggung gadis itu dengan lembut, memberikan kehangatan yang selama ini terasa asing bagi Elmira.
"Kalau ada apa-apa, coba cerita. Jangan dipendam sendiri. Kamu bisa cerita sama Bi Asih," katanya dengan suara lembut.
Elmira hanya tersenyum kecil. Senyum yang hambar.
"Terima kasih, Bi."
Bi Asih menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya bangkit. "Sudah hampir subuh, tidur lagi kalau bisa, ya? Bi Asih ke dapur dulu.
Elmira mengangguk. Setelah Bi Asih pergi dan pintu tertutup, Elmira memeluk lututnya. Tangannya mengepal erat, kukunya menekan telapak tangan hingga hampir melukai kulitnya sendiri.
Tidak. Ia tidak akan menangis lagi. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat lemah.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menelan kembali semua emosi yang hendak meluap. Menyimpannya jauh di dalam. Menyembunyikannya, seperti yang selalu ia lakukan.
Karena dunia tidak peduli pada luka yang tidak terlihat.