Bab 5. Penolakan Gina

1045 Words
Gina menyeru, "Tristan!" Suara tajam itu memenuhi seluruh ruangan, memantul di antara dinding kaca kantor yang tertata rapi. Tristan tidak bereaksi, ia tetap duduk dengan rahang mengatup, tangannya mengepal di atas meja. "Kamu itu seorang presiden direktur. Tak susah buatmu untuk mencari baby sitter dari tenaga penyalur, bukan malah membawa wanita yang nggak jelas. Mama bilang, ganti dia!" ujar Gina dengan suara yang meninggi. "Aku tidak akan menggantinya, Ma," ulang Tristan, suaranya lebih dingin dari sebelumnya. Gina mengembuskan napas tajam, matanya berkilat penuh kemarahan. "Kau sudah kehilangan akal sehatmu, Tristan? Kau benar-benar ingin mempertaruhkan masa depan Elea dengan membiarkan perempuan itu tinggal di rumahmu?" Tristan menatapnya dengan tatapan tajam. "Elmira bukan ancaman. Dia hanya melakukan tugasnya. Mama tidak perlu mencampuri urusan ini." "Tidak perlu mencampuri? Aku ini nenek Elea, Tristan! Aku juga punya hak atas cucuku!" Gina berdiri, kedua tangannya mengepal. "Dan aku tidak akan membiarkan seorang wanita asing sepertinya, yang entah datang dari mana, memasuki kehidupan cucuku." Tristan bersandar di kursinya, menatap ibu mertuanya itu dengan ekspresi datart yang justru semakin membuat Gina geram. "Jika Mama begitu peduli, di mana Mama berada saat Elea menangis setiap malam mencari ibunya?" "Atau ...." Tristan menjeda kata-katanya. Matanya menyipit dan menatap tajam ke arah mertuanya. "Di mana Mama saat Raya membutuhkan Mama di hari pernikahannya? Di mana Mama saat Raya berjuang melahirkan?" Gina terdiam. Rahangnya mengatup, seolah mencoba menahan kata-kata yang ingin meluncur. "Aku ... kenapa kau tanyakan hal itu, Tristan? Aku hanya melakukan yang terbaik untuk anakku," lanjut Tristan. "Dan Elmira adalah pilihan terbaik yang bisa kumiliki saat ini. Jika Mama tidak bisa menerima itu, itu urusan Mama." Wajah Gina memerah karena amarah yang mendidih. "Kau akan menyesal, Tristan. Aku tidak akan diam saja melihat cucuku dibesarkan oleh perempuan yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengannya." Tristan tidak menjawab. Ia hanya menatap Gina dalam diam, membiarkan ibu mertuanya menyadari bahwa ia tidak akan mundur dengan keputusannya. Gina mendengus marah, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, ia menoleh dan berkata dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Aku akan mencari tahu siapa perempuan itu, Tristan. Dan ketika aku menemukan sesuatu yang tidak beres darinya, kau akan menyesal telah membelanya." Tristan tetap diam saat Gina melangkah keluar, membanting pintu dengan keras. Begitu ruangan kembali hening, Tristan memijat pelipisnya, merasa kepalanya semakin berat. Ia tahu Gina tidak akan tinggal diam. Dan itu berarti, masalah baru akan segera datang. Gina melangkah cepat menuju mobilnya, tangannya gemetar menekan tombol kunci otomatis. Amarah masih menggelegak di dadanya, membuatnya sulit bernapas dengan tenang. Begitu duduk di balik kemudi, ia menatap bayangannya sendiri di kaca spion. Matanya yang biasanya penuh percaya diri kini menyala dengan kemarahan. "Kurang ajar! Berani-beraninya Tristan melawan perintahku." Gina memukul kemudi dengan cukup kuat. Lelaki yang berstarus sebagai menantunya itu menolak mentah-mentah keinginannya, bahkan mengungkit hal-hal yang selama ini ia kubur dalam-dalam. "Pasti gara-gara perempuan kampung itu!" Seketika dadanya terasa sesak. Ia mengertakkan gigi, menahan kepedihan yang hendak menyeruak. Ini bukan saatnya larut dalam kenangan. Yang terpenting sekarang adalah memastikan perempuan itu—Elmira—keluar dari rumah Tristan. Dengan tangan gemetar, Gina merogoh ponselnya dan segera menekan nomor seseorang. "Tolong carikan semua informasi tentang perempuan bernama Elmira. Aku ingin tahu siapa dia, dari mana asalnya, dan kenapa dia bisa berada di rumah Tristan." Suara di seberang terdengar ragu. "Bu Gina, ini mendadak sekali. Kami butuh waktu untuk—" "Aku tidak peduli," potong Gina tegas. "Kirim hasilnya secepat mungkin. Aku ingin laporan lengkap sebelum akhir pekan ini." Ia mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban. Napasnya berat, tetapi tekadnya sudah bulat. Jika Tristan berpikir ia bisa mempertahankan perempuan itu di sekitar Elea, maka ia salah besar karena Gina tidak akan tinggal diam. -- Tristan melepas dasinya dengan gerakan lelah, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa lebih tenang dari biasanya. Hening, tak ada suara tangisan Elea seperti malam-malam sebelumnya. Hatinya langsung dipenuhi rasa penasaran. "Bi Asih ...," panggilnya. Tak lama kemudian, Bi Asih pun datang. "Iya, Tuan." "Sepi sekali, apa Elea sudah tidur?" tanya Tristan. "Sudah, Tuan. Nona Elmira menemaninya seharian," jawab Bi Asih. Tristan berjalan menuju kamar putrinya dan menemukan Elea sudah tertidur pulas di dalam keranjang bayinya. Napasnya teratur, wajah mungilnya tampak damai di bawah cahaya lampu redup. Tristan berdiri beberapa detik, menikmati momen langka di mana anaknya bisa tidur tanpa gangguan seperti ini. Matanya kemudian beralih ke sosok yang duduk di dekat jendela, siluetnya samar di bawah sorotan lampu luar. Elmira duduk dengan punggung tegak, tatapannya terarah ke luar jendela, ke langit malam yang gelap dan sunyi. Rambutnya tergerai, tampak sedikit berantakan. Tristan mendekat, suaranya rendah tapi tegas. “Mama tadi datang ke kantorku.” Elmira tidak segera menoleh. Ada jeda beberapa detik sebelum ia menggeser pandangannya ke Tristan, sorot matanya sulit ditebak. “Aku tahu, karena dia sudah mengatakannya,” jawab Elmira pelan. Tristan mengernyit. “Dia datang ke sini?” Elmira mengangguk kecil, lalu kembali menatap ke luar jendela. “Tapi dia tidak lama. Hanya bertanya beberapa hal, lalu pergi.” Tristan menatap wanita itu dengan cermat, mencari tanda-tanda kecemasan atau ketakutan, tapi Elmira tetap tenang. Bahkan mungkin ... terlalu tenang. "Apa yang dia katakan padamu? Apa menanyakan hal yang tidak-tidak?" tanya Tristan lagi. Elmira menarik napas pelan sebelum menjawab, “Tidak ada,dan tidak penting. Dia hanya ingin aku pergi dari rumah ini.” Tristan menghela napas, sudah menduga hal itu. “Dan kamu bilang apa, Mira?” “Aku tidak akan pergi.” Elmira menoleh, menatap dalam ke manik mata Tristan. "Di sini, aku bekerja. Jika bukan kamu yang mengusirku, maka aku tidak akan pergi." Ada sesuatu dalam cara Elmira mengatakan itu—bukan hanya sebuah pernyataan. Namun, lebih dari itu. Tristan melihat tekad kuat di dalamnya. "Berhati-hatilah, Mira. Karena Mama Gina tidak akan diam saja," ujar Tristan memperingatkan. “Aku tahu.” Elmira menunduk sejenak, lalu kembali menatapnya dengan ekspresi lebih serius. “Aku di sini bukan untuk melawan siapa pun, Tristan. Aku hanya ingin melakukan tugasku, menjaga Elea dan memberikan ASI padanya. Bukankah begitu?” Tristan tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang berbeda dalam perasaannya saat mendengar jawaban itu. Bukan hanya sekadar profesionalisme atau tanggung jawab atas pekerjaan. "Baiklah, kamu boleh kembali ke kamarmu, Mira," ucap Tristan yang terdengar lebih lembut. "Tidak, aku hanya ingin tidur di kamar ini," jawab Elmira sambil melirik box bayi di mana Elea masih tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD