Bab 4. Keributan

1046 Words
"Selamat pagi anak cantik." Elmira mengusap pipi Elea yang baru saja terbangun pagi itu. Elmira selalu merasa hangat saat melihat Elea tersenyum, membuatnya lupa pada rasa sakit yang sempat ia rasakan. "Biar saya mandikan Nona Elea, Nona El—" "Mira, nama saya Mira, Bi. Bibi tidak perlu panggil saya Nona." Elmira segera memotong ucapan Bi Asih, asisten rumah tangga Tristan. "Baik, Non ... eh Mira," ucap Bi Asih. "Biar saya yang memandikannya, Bi," ucap Mira. "Biar Bi Asih saja. Nanti Tuan Tristan bisa marah," sanggah Bi Asih. Entah datang dari mana, tetapi rasanya berat saat Elmira memberikan Elea pada Bi Asih. "Baik, Bi." "Apakah kamu, yang pernah tumbuh si rahimku ... secantik itu?" pikiran Elmira menerawang. Tak terasa pipinya basah karena air mata mengalir di pipinya. Setelah Elea bersih dan wangi, Bi Asih kembali menyerahkannya pada Elmira, karena itu adalah perintah Tristan. Dengan lembut, Elmira menggendongnya kembali dan membawanya turun. Suara deru mobil berhenti di depan rumah membuat Elmira yang tengah menggendong Elea menoleh ke arah jendela. Ia melihat seorang wanita paruh baya turun dari mobil dengan wajah angkuh. "I-itu ... Nyonya Gina," terang Bi Asih yang melihat ekspresi penuh tanya di wajah Elmira. Pintu rumah terbuka sebelum bel sempat ditekan. Bi Asih buru-buru menyambutnya, tetapi wanita yang disebut Nyonya Gina itu tampak tak peduli. Langkahnya langsung menuju ruang tengah, dan saat melihat pemandangan di depannya, matanya menyipit tajam. Elmira duduk di sofa, tenang, sementara Elea terlelap dalam gendongannya. "Heh, siapa kamu?" tanya Gina. Belum sempat Elmira menjawab, Gina kembali berkata dengan ketus. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Elmira hanya meliriknya sekilas. "Menggendongnya." Jawaban itu, yang terdengar begitu datar dan dingin, membuat amarah Gina langsung membuncah. "Lepaskan cucuku sekarang juga! Berikan padaku!" Elmira tak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap Gina dengan mata kosong, tanpa ekspresi, seolah wanita itu bukan siapa-siapa baginya. "Elea baru saja tertidur, Nyonya." "Aku tidak peduli!" Gina mendekat, hendak menarik Elea dari gendongan Elmira, tetapi wanita itu dengan sigap membalikkan badannya, melindungi bayi itu agar tidak terbangun. "Kau pikir kau siapa, hah? Kau hanya orang luar! Berani-beraninya kau melarangku!" "Katakan, siapa kau?" tanya Gina lagi, kali ini dengan suara yang lebih tinggi. "Saya ibu s**u dari anak ini," jawab Elmira tenang. "Kau hanya orang luar! Apa kau pikir dengan menyusui cucuku, kau bisa menjadi bagian dari keluarga ini?" sentak Gina. Elmira tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. "Saya hanya melakukan tugas saya. Tak lebih." "Tugas?!" Gina tertawa sinis. "Jangan mengira aku tidak tahu apa yang kau pikirkan! Kau hanya memanfaatkan situasi. Anakku baru meninggal dan kau sudah mebgincar Tristan? Aku tidak akan membiarkan cucuku diasuh oleh perempuan asing sepertimu!" Elmira menghela napas pelan, lalu menatap Gina tanpa gentar. "Saya tidak memanfaatkan siapa pun, Nyonya. Tristan yang meminta saya melakukan ini." Mata Gina berkilat marah. "Lancang mulutmu itu! Jangan sebut nama menantuku dengan begitu mudah. Tristan sedang dalam masa sulit, dan kau memanfaatkan celah itu untuk mendekatinya, bukan?" Elmira tetap diam, membiarkan Gina berbicara sesukanya. Selama ini, ia sudah terbiasa menghadapi kemarahan dan tuduhan orang-orang. Kata-kata tajam tidak lagi mampu melukainya. Melihat Elmira yang tak bereaksi sesuai harapannya, Gina semakin kehilangan kesabaran. "Kau pikir dengan bersikap dingin seperti ini, aku akan menyerah? Aku akan bicara dengan Tristan! Aku akan pastikan kau keluar dari rumah ini!" Elmira hanya menunduk, menepuk-nepuk punggung Elea dengan lembut agar bayi itu tetap terlelap. Gina menatapnya dengan kebencian yang jelas. "Kau tidak pantas berada di sini." Elmira menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah, hampir berbisik. "Saya juga tidak ingin berada di sini." Jawaban itu membuat Gina terdiam sejenak, tetapi amarahnya belum mereda. Ia berbalik dengan kasar, melangkah keluar dengan wajah penuh kemarahan. "Aku akan menemui Tristan sekarang juga!" -- Tristan menghela napas berat saat ia duduk di kursi kantornya. Di hadapannya, layar komputer menyala dengan berbagai laporan yang menumpuk. Sejak pagi, ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tetapi bayangan Elmira yang menimang Elea terus menghantuinya. Kata-kata perempuan itu masih terngiang di telinganya. "Mungkin dia rindu ... ibunya." Tristan memijat pelipisnya. Ia tidak boleh terjebak dalam perasaan ini. Elmira hanyalah ibu s**u Elea, tidak lebih. Tepat saat pikirannya mulai berantakan, pintu ruangannya diketuk. "Masuk," ucapnya singkat. Seorang pria berjas hitam masuk dengan ekspresi ragu. "Pak Tristan, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda." "Siapa?" Pria itu tampak enggan menjawab. "Nyonya Gina." Tristan langsung menegang. Ia menatap asistennya tajam. "Bilang kalau aku sibuk." "Tapi, Pak ...." Sebelum asisten itu bisa menyelesaikan kalimatnya, suara lain terdengar dari ambang pintu. "Sudah lama sekali, Tristan. Apa aku harus membuat janji dulu untuk bertemu dengan menantuku sendiri?" Tristan mendongak dan menemukan sosok wanita paruh baya berdiri di sana dengan angkuh. Gina, ibu mertuanya—ibu dari Soraya. Tristan mengatupkan rahangnya. "Aku sibuk, Ma. Apa yang Mama inginkan?" Memang benar jika Gina adalah ibu mertua Tristan, tetapi tetaplah Tristan harus memanggilnya dengan sebutan Mama, layaknya ibunya sendiri. Gina melangkah masuk tanpa diundang, membiarkan asisten Tristan menutup pintu dan keluar. Ia menatap ruangan itu sejenak sebelum akhirnya duduk di kursi di depan meja Tristan. "Aku hanya ingin bertanya, Tristan," ucapnya, suaranya dingin. "Siapa perempuan itu?" Tristan mengernyit. "Perempuan? Siapa?" "Perempuan yang ada di rumahmu itu. Yang tinggal di sana dan mengurus cucuku," jawab Gina ketus. Jantung Tristan berdetak lebih cepat, bagaimana Gina bisa tahu. Ada pertanyaan yang melintas—apakah Gina sudah datang ke ruamhnya? Namun, ia tetap menjaga ekspresinya tetap dingin. "Dia Elmira, ibu s**u Elea." Gina menyipitkan mata. "Dan kamu pikir aku akan percaya begitu saja, Tristan?" Ia menyilangkan tangan di dadanya. "Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk menerima bahwa Soraya telah pergi. Dan sekarang, aku melihat sendiri kalau ada seorang wanita lain di rumahmu? Apa kau sudah melupakan putriku ... secepat itu?" Tristan mengepalkan tangannya. "Jangan bicara seolah-olah aku mengkhianati Soraya, Ma.Tidak ada yang bisa menggantikannya, dan Mama juga tahu itu." Gina menatapnya tajam. "Lalu, kenapa perempuan itu ada di rumahmu? Kau membiarkannya menyusui Elea dan tinggal di sana. Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan?" Tristan menghela napas panjang. "Aku hanya melakukan ini untuk Elea. Dia butuh ASI, dan Elmira bisa memberikannya." "Kenapa harus Elmira?" Gina mengulang namanya dengan nada penuh penilaian. "Aku ingin kamu menggantinya." "Tidak perlu." "Aku tidak meminta izin, Tristan," sahut Gina tajam. "Aku hanya ingin memastikan bahwa cucuku tidak berada di tangan yang salah." Tristan menatap Gina lama sebelum akhirnya berkata, "aku tidak akan menggantinya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD