"Apa?" bisiknya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Tristan mencondongkan tubuhnya dan menatapnya lekat. "Elea butuh ASI, dia butuh ibu. Dia terlalu kecil untuk kehilangan sosok itu dalam hidupnya. Aku tidak bisa memberinya apa yang dia butuhkan, tapi ... kamu bisa."
Elmira terdiam. Ia menunduk, kembali menatap Elea yang kini terlelap dalam pelukannya. Ada ketenangan yang Elmira rasakan dalam dirinya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Elea tampak begitu rapuh, napasnya yang lembut terdengar begitu teratur, seakan dunia di sekitarnya baik-baik saja. Seakan ia tidak tahu bahwa dunianya telah runtuh bahkan sebelum ia bisa memahami arti kehilangan.
Sejak kehamilannya, ia selalu membenci kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya, membenci takdir yang telah mempermainkannya, menjerumuskanna ke dalam penderitaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun kini, dengan bayi Elea yang berada dalam dekapannya, hatinya terasa hangat dan sekaligus ... sakit.
"Kenapa kamu serahkan anakmu padaku? Aku bahkan tidak bisa menjadi ibu bagi anakku sendiri," gumamnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kalau begitu, anggap ini kesempatan kedua untukmu," balas Tristan cepat. "Aku tidak peduli apa alasanmu, Mira. Aku hanya ingin Elea bertahan dan tumbuh dengan semestinya."
Elmira menggigit bibirnya, pikirannya berkecamuk. Kata-kata Tristan terasa begitu sederhana, tetapi dampaknya begitu besar. Logikanya berteriak bahwa ini adalah keputusan yang gila, bahwa ia tidak seharusnya menerima tawaran ini. Akan tetapi, di saat yang sama, naluri dalam dirinya justru berkata sebaliknya.
"Apakah aku bisa mencintai anakku jika dia benar terlahir di dunia yang kejam ini?" batin Elmira. "Bahkan terlalu kejam untuk seorang bayi kecil sepertimu."
Tangannya terangkat, mengusap punggung kecil Elea dengan gerakan lembut. Seakan tanpa sadar, ia mencoba menenangkan bayi itu—atau mungkin, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dadanya naik turun dalam embusan napas panjang.
"Kalau aku menerima tawaranmu ... apa yang akan terjadi setelahnya? Apa yang akan kamu berikan padaku?" tanyanya lirih.
Tristan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kamu bisa tinggal di sini. Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin anakku tumbuh tanpa kekurangan nutrisi dan ...."
"Dan apa?" sela Elmira.
Tristan terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa Elea tidak boleh kehilangan kasih sayang seorang ibu, tetapi kata-kata itu terasa sulit untuk keluar. Bagaimana mungkin ia meminta seseorang yang bahkan tidak percaya pada dirinya sendiri untuk memberikan kasih sayang yang tulus pada anaknya?
Elmira menatap Tristan cukup lama. Pria yang berdiri di belakangnya itu sama sekali tidak menawarkan cinta, tidak menawarkan janji manis. Dia hanya menawarkan peran, sebuah tujuan baru yang mungkin bisa membuatnya bertahan sedikit lebih lama di dunia yang dianggapnya begitu kejam.
"Apa kamu bersedia, Mira?" tanya Tristan memecah keheningan. "Jadilah ibu s**u Elea."
Kembali Elmira menatap wajah cantik Elea, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Elmira merasa bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian dalam kegelapan.
Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, biarkan aku menjadi ibu s**u bagi anak ini."
Senyum samar terbit di bibir Tristan. "Terima kasih, Mira."
--
Malam telah larut, tetapi Tristan masih terjaga di ruang kerjanya. Hanya cahaya lampu meja yang menerangi ruangan, menciptakan bayangan samar di dinding. Di hadapannya, selembar kertas laporan terbuka, tetapi pikirannya tak mampu berkonsentrasi.
Dengan napas berat, ia meraih pigura yang terletak di atas meja. Terlihat jelas di sana, Soraya tersenyum lembut dengan sorot mata yang selalu menenangkan. Tristan menelusuri tepian pigura dengan jemarinya, seolah ingin merasakan kembali kehangatan yang telah hilang dari hidupnya.
"Aku harap kamu tidak marah, Sayang," bisiknya lirih. "Aku tahu jika tak ada yang bisa menggantikanmu. Tapi Elea … dia butuh seseorang."
Matanya sedikit memanas. Sejak kehilangan Soraya, hidupnya menjadi gelap, cahayanya seolah telah memudar. Bahkan dia sendiri tak tahu bagaimana cara untuknya bertahan bersama Elea tanpa Soraya. Namun, saat ia melihat Elmira menenangkan Elea, sesuatu di dalam dirinya berkata bahwa mungkin—hanya mungkin—ia telah mengambil keputusan yang benar.
"Aku tidak berniat menggantikanmu dengan siapa pun, Raya. Aku hanya ingin Elea tumbuh dengan seseorang yang bisa menjaganya. Seperti yang kamu inginkan ... sebelum pergi."
Kenangan itu datang tiba-tiba tanpa diundang. Membawa Tristan kembali ke saat-saat terakhir Soraya di rumah sakit.
Saat itu, tubuh istrinya semakin lemah, napasnya tersengal, tetapi matanya tetap hangat menatapnya. Ia ingat betul bagaimana Elea yang berada di dalam gendongannya sama sekali tidak menangis, seolah ingin mendengarkan suara sang ibu untuk terkahir kalinya.
"Tristan, berjanjilah satu hal padaku ...."
Tristan menelan ludah, berusaha tetap tenang di hadapan istrinya. "Apa pun itu, aku akan melakukannya."
Soraya tersenyum lemah. "Aku ingin kamu menikah lagi."
Tristan terdiam mendengarnya. Kata-kata itu seperti belati yang menusuk dadanya. "Jangan bicara seperti itu, Raya. Kamu kuat, dan kamu akan sembuh. Kita akan membesarkan Elea bersama."
Tapi Soraya hanya menggeleng, menatapnya dengan mata yang penuh kepastian. "Kamu tahu itu tidak mungkin, Sayang. Aku bisa merasakan tubuhku semakin lemah." Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang hampir berbisik, "Elea butuh seorang ibu. Aku tidak bisa menjaganya lebih lama. Tapi kamu bisa mencarikannya seseorang yang bisa."
Tristan menggeleng keras. "Tidak, Raya. Tidak ada yang bisa menggantikanmu."
Soraya menatapnya lama, lalu tersenyum sedih. "Aku tidak meminta seseorang untuk menggantikanku, Tristan. Aku hanya ingin Elea mendapatkan kasih sayang yang cukup. Aku tidak ingin dia tumbuh tanpa ibu."
Tristan mengepalkan tangannya. Saat itu, ia hanya bisa diam, tidak sanggup berjanji, karena baginya, menikah lagi berarti mengkhianati cinta yang telah mereka bangun.
Tristan meremas pigura di tangannya. "Aku tidak bisa, Raya. Aku tidak bisa mencintai siapa pun lagi. Hatiku sudah mati bersamamu."
Soraya telah berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melahirkan Elea—putri mereka. Namun, sebagai gantinya, ia harus kehilangan nyawa.
"Kenapa kamu pergi secepat itu, Raya? Kenapa kamu tinggalkan aku dan juga Elea?" ucapnya dalam suara tangis yang tertahan.
Ia memejamkan mata, merasakan sesak yang selama ini selalu ia tekan dalam-dalam. Namun, tanpa ia duga bayangan Elmira tiba-tiba saja datang ke dalam kepalanya.
Tristan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir gejolak emosi yang mulai menguasai dirinya. Namun, sebelum ia bisa menenangkan diri, pintu ruang kerjanya terbuka sedikit.
Suara tangisan kecil terdengar dari kamar Elea, memaksanya untuk kembali ke realita. Tristan keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Elea.
"Kenapa dia?" tanya Tristan dingin.
Sosok Elmira berdiri di sana, ragu-ragu ia menjawab, "Elea menangis, mungkin dia lapar."
"Dia sering begitu," Tristan akhirnya berucap dengan suara yang terdengar sedikit serak.
"Mungkin dia rindu ... ibunya," ucap Elmira lirih seraya menimang-minang Elea.
Tristan terpaku. Kata-kata itu menggantung di udara, meninggalkan sesuatu yang memukul dadanya keras-keras.
"Lakukan saja tugasmu," ucap Tristan sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar itu.
Baginya, Elmira hanyalah seorang ibu s**u bagi Elea. Itu saja, dan tidak lebih.