Aku harusnya sudah pergi. Tapi saat itulah aku melihatnya. Pintu restoran terbuka perlahan, disertai hembusan udara sore dan suara langkah kaki yang aku kenal. Postur tegap dengan dress elegan, tatapan tajam yang seolah bisa menemukan kesalahanku kapanpun bahkan di tengah keramaian.
Harga diriku buka milikku, jadi saat Elard mengusirku, aku merasa biasa saja, bahkan tidak peduli, hanya enggan untuk pergi. Namun siapa yang menyangka, satu detik waktu itu berharga.
Dadaku mengencang saat kulihat wanita itu berjalan anggun dengan high heels yang selalu menjadi pelengkap bahwa dia adalah wanita penguasa. Yang menguasai seluruh hidupku.
Kenapa salah dia? Di mana pun aku berada, seolah ada benang tak kasat mata yang menariknya mendekat, mengawasi, bahkan memastikan aku tetap di jalur yang dia tentukan.
Wajahku memanas. Lalu aku berbalik kembali, menahan kesal, dan hampir saja tertawa karena kekacauan hidupku sendiri.
"Baiklah. Mari bermain."
Belum sempat aku berpikir jauh, seorang gadis cantik muncul di sisi meja Elard. Dia sangat cantik untuk diabaikan, terlalu cantik malah. Gaun pinknya lembut membalut tubuhnya yang ramping, rambut panjangnya tergerai rapi dan senyum manis menghiasi wajah. Dia adalah tipe yang ibuku sukai. Melihat wanita itu aku seperti berkaca, bahwa di balik senyum manis itu ada jiwa yang dipaksa untuk tenang, menjadi apa yang dimau ibuku.
Gadis itu tersenyum pada Elard dan duduk, tampak akrab seolah tempat itu emang miliknya.
Aku terdiam sekian detik. Ibuku semakin dekat, aku bisa membayangkan ekspresinya saat menemukan aku, wajah ramah yang dibuat buat, tawa ringan yang terselip ancaman lembut di baliknya. Aku tahu apa yang akan terjadi kemudian.
"Lagi pula, kau tidak punya pilihan, bukan? Jadi ya sudah, biar Mami yang atur pasangan untukmu. Tapi kalau kau punya pilihan, oke, Mami terima dengan syarat, kau harus menjalin hubungan dengannya."
"Siapapun?"
"Ya, siapapun."
Aku tiba-tiba ingat percakapan itu dengan ibuku. Dia meski tegas dan suka mengatur tapi dia menepati janjinya. Jika ini adalah kesempatan untukku, kenapa tidak aku manfaatkan walau aku tahu ada konsekuensinya.
Langkahku mantap kembali menghampiri Elard yang wajahnya datar saja meskipun gadis di hadapannya cantik dan bersinar. Langkahku cepat, lebar, dan begitu sampai di sisinya, aku menatap Elard. Pria ini membenci ibuku, pun sebaliknya. Dia adalah larangan mutlak dalam hidupku. Tapi justru di sanalah aku memulai sebuah celah yang bisa membuat aku lepas dari aturan jodohnya.
Aku mencondongkan tubuh. Tanganku mencengkram kerah jasnya hanya sebentar, tapi cukup untuk menahan diriku sendiri lalu aku menempelkan bibirku pada bibirnya.
Dunia seakan berhenti berputar, waktu membeku. Aku merasakan sebuah gejolak yang tak biasa, dadaku berdebar aneh.
Aku mendengar napas terkejut, seseorang terkesiap, dan kursi yang bergeser kasar. Aku juga merasakan tubuh Elard menegang, jelas tidak menyangka dengan apa yang aku lakukan, dia juga tidak siap. Aku pun sebenarnya sama saja tidak siap, tapi terpaksa melakukan ini.
Menarik diri dan menegakkan tubuh. Aku melihat keterkejutan dari wajah pria itu, tapi aku berusaha untuk tetep tersenyum. Jantungku berdegup terlalu keras, seolah bisa melompat dari tempatnya. Tapi aku bertahan, satu detik, dua detik, tiga detik, dan detik berikutnya sampai aku yakin ibuku melihatnya.
"Halo, sayang, kau di sini," kataku dengan senyum lebar yang kuusahan bertahan lama.
Sial. Aku benci ini, saat aku harus berakting.
Tatapan Elard masih penuh keterkejutan, makanya melebar sebelum berubah gelap. Gadis di depannya juga terpaku, wajahnya pucat, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Levina!"
Dan ibuku ... Meski aku tidak menoleh, aku tahu dari dinginnya udara di belakangku, cukup untuk membuatku membeku. Tapi aku tersenyum kecil. Ini terasa pahit, dan gila. Aku seperti mencari kematianku sendiri. Tapi jika ini satu-satunya cara untuk keluar dari kendali ibuku, maka aku akan membiarkan diri ini tenggelam sekalian.
"Apa yang kau lakukan?" Elard berbisik tajam, suaranya rendah tapi berbahaya.
Aku tahu dia menyadari kehadiran ibuku. Tapi aku menatapnya balik, tidak berusaha untuk mengelak, dan terlihat sempurna.
"Memiliki hidupku sendiri," jawabku pelan, tapi yakin.
Aku tahu, aku baru saja menyeret diriku ke dalam perang yang bukan milikku, tapi aku yang memulainya. Namun ini juga, mungkin satu-satunya perang yang layak aku menangkan, untuk kebebasanku sendiri.
Aku pikir Elard akan langsung menepis, atau setidaknya mendorong aku untuk menjauh dengan kasar. Tapi nyatanya dia hanya diam saja.
Saat aku mundur satu langkah, jantungku masih berdegup liar, tatapannya berubah, bukan lagi keterkejutan, melainkan sesuatu yang berbahaya. Dia seperti terluka, tersungging, dan marah yang tertahan.
"Apa yang barusan kau lakukan?" tanyanya lagi, pelan. Nada suaranya rendah, datar, tapi setiap katanya terasa menekan di d**a.
Gadis bergaun pink di depannya berdiri perlahan, menatap kami berdua dengan wajah yang tak percaya, shock mungkin atas apa yang aku lakukan secara sembarang pada Elard.
"Elard, kau ... Kau mengenalnya?" Suaranya pelan tapi gemetar.
Aku merasa bersalah, dan merasakan jarak yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Elard tidak menoleh pada gadis itu, pandangannya masih terpaku padaku, tapi aku melirik gadis itu.
"Pergilah," kata Elard singkat, pengusiran lembut.
Gadis itu terdiam, jelas tidak menyangka akan diabaikan seperti itu. Namun akhirnya, dia meraih tasnya dan pergi, meninggalkan aroma parfum yang terlalu manis dan keheningan yang menyakitkan. Dia tidak mengatakan apapun, tapi sorot matanya jelas menyimpan sakit hati dan kecewa.
Aku menelan ludah.
Elard menghampiri, tingginya membuat aku refleks mendongak. Dia mencondongkan tubuh sedikit, cukup dekat untuk bisa mendengar suaranya yang pelan.
"Kau pikir, aku alat?" bisiknya tajam. "Pelarian sesaat dari ibumu?"
Aku ingin menyangkal, tapi berdusta terasa lebih murahan saat ini.
"Aku terpaksa," jawabku jujur. "Dan aku ... Hanya melihat kau sebagai satu-satunya pintu yang bisa membawa aku keluar dari ini."
Rahangnya mengeras, aku bisa melihat urat halus di pelipisnya berdenyut. Dia menahan kemarahannya.
"Lalu, kau pikir, aku akan diam saja setelah dipermalukan di depan umum, terutama di depan ibumu, dan di depan gadis yang tidak ada hubungannya dengan ini? Kau bahkan membuat aku mengusirnya." Dia menarik napas dalam.
Aku meremas jemariku. Merasa bersalah? Ya. Takut? Jelaslah. Tapi, aku tidak menyesal sepenuhnya, itu yang aneh.
"Aku tidak meminta kau untuk membalas. Aku hanya ---"
"Jangan! Jangan berani menyederhanakan ini," katanya.
Dia mengambil jarak, melangkah mundur, menatapku seolah aku adalah sesuatu yang sulit untuk ditebak.
"Kau tahu, kau baru saja menarikku ke lingkaran keluarga yang susah payah aku tinggalkan," katanya rendah.
Ya, aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan.
"Susah payah aku membangun ulang hidupku, tapi pada akhirnya kau kembali menyeret aku."
"Elard, aku tidak ---"
"Itu bukan urusanku. Tapi, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan itu, Levina."
Tubuhku menegang, dia menatapku tajam seolah memastikan.
Aku tahu, apa yang aku lakukan itu adalah sesuatu yang salah. Tapi aku tidak bisa berhenti.
"Kau memang putri ibumu, Levina. Mulai saat ini, kau adalah urusanku. Jadi ... Lakukan apa yang kau mulai."
Dahiku mengerut. Dia tidak mundur, tidak juga mengatakan sesuatu yang lain. Tapi dia ... Tidak mungkin. Aku menatapnya lekat, mencoba mencari kebohongan. Tapi tidak ada.
Dia melakukannya, sandiwara yang aku mulai. Aku sama sekali tidak menyangka dia akan mengikuti permainanku.