Aku tahu apa yang aku lakukan ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Tapi rasa muak dengan aturan yang dilakukan oleh ibuku membuat aku mengambil pilihanku sendiri walau tahu bagaimana konsekuensinya setelah ini.
Setelah gadis cantik bergaun pink tadi pergi, aku menghitung apa yang mungkin akan terjadi setelah ini. Tapi aku tahu jika Elard sadar dengan rencanaku. Sempat aku lihat gadis itu melangkah cepat, teratur, tapi bahunya kaku, jelas dia menahan amarah dan rasa malu. Aku merasa bersalah, teringat tadi saat dia tiba di meja Elard dengan senyum senangnya dan binar mata yang tampak begitu jelas.
Namun, aku terpaksa melakukan ini. Lalu ibuku yang sejak tadi berdiam diri di belakangku, akhirnya ku rasa mendekat.
“Levina.” Suaranya terdengar begitu jelas, bahkan bergetar. Aku yakin, ada kemarahan. “Apa yang barusan kau lakukan, Levina?” tanyanya. Suaranya tenang, terlalu tenang. Aku tahu, itu adalah jenis ketenangan yang selalu mendahului badai.
Aku membuka mulut hendak menjawab ibuku, tapi Elard lebih dulu bergerak. Dia berdiri di sampingku, tapi tidak menyentuh. Jaraknya cukup dekat untuk mengirim pesan yang jelas pada siapapun yang melihatnya.
“Maafkan kami,” ucapnya sopan.
Dahiku mengkerut, tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Kenapa dia yang minta maaf?
“Maaf, sepertinya kami melakukan sesuatu yang tidak seharusnya,” katanya melanjutkan.
Aku sama sekali belum paham apa maksudnya.
Ibuku menoleh padanya, menatap wajahnya yang pasti sudah lama dia benci.
“Elard,” ucapnya dingin. “Aku tidak tahu kau masih bisa berani muncul di hadapanku, di lingkaran kami.”
Elard tersenyum kecil, tampak terkendali, berkelas, dan senyum seorang pria yang tahu bagaimana harus menghadapi orang-orang berkuasa, seperti ibuku.
“Sepertinya, dunia terlalu sempit, ya,” katanya santai, terkekeh jenaka yang aku lihat berhasil membuat ibuku kesal. “Lagi pula, kami memang hendak bertemu. Siapa yang menyangka, Levina datang untuk berkencan, aku pun sama. Tapi karena dia menunjukan cemburunya jadi secara tidak langsung, Levina mengakui hubungannya denganku, benarkan, Sayang?”
Mataku melotot mendengar apa yang dia katakan, Belum lagi saat tangannya tiba- tiba melingkar di pinggangku, menariknya merapat pada tubuhnya yang kaku. Aku hampir tidak bernapas.
Ibuku menoleh padaku cepat, tatapannya menuntut konfirmasi. Aku tahu tatapan itu adalah tatapan yang tidak memberi ruang untuk ragu, hanya patuh atau hancur.
Tanganku mengepal erat, lalu aku mengangguk, mengakui apa yang Elard katakan.
“Dekat?”
Satu gerakan kecil tapi cukup untuk mengubah segalanya.
“Sejak kapan?” Wajah ibuku datar, tersimpan kemarahan dari sorot matanya yang menggelap. Aku tahu, setelah ini akan ada badai.
Elard tertawa kecil, seolah pertanyaaan itu lucu.
“Kami memilih menyimpannya untuk diri kami sendiri,” katanya ringan. Dia menatap ibuku tak gentar, dari sorot matanya aku mendapati kebencian yang mengakar. “Karena Levina takut ibunya akan marah, jadi aku sepakat untuk merahasiakannya. Tapi siapa yang menyangka, kekasihku dijodohkan terus dengan pria lain, bagaimana aku tidak cemburu dan melakukan hal yang sama untuk membuktikan jika Levina mencintaiku.”
Sontak, aku menoleh cepat padanya. Apa katanya tadi? Cinta? Cih, yang benar saja. Tapi demi meyakinkan ibuku, aku harus mengikuti alur yang dibuat oleh Elard kaali ini.
“Kamu jahat, sih, El. Caramu salah, tapi kamu berhasil membuat aku menunjukan cemburuku,” kataku sambil akting manja.
Aku merapatkan tubuh pada Elard, membalas pelukannya. Aku merasakan tubuhnya menegang.
“Maaf, apa ada masalah?” Seseorang menghampiri, mengingatkan kami akan dimana kami berada.
Seketika aku menoleh. Benar, di restoran yang ramai orang-orang makan siang. Tidak sedikit yang memperhatikan kami yang tampak bersitegang. Tampaknya kami mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Elard bicara pada manajer restoran itu, berkata kalau tidak ada apa-apa dan memintanya untuk kembali bekerja.
Tapi ibuku tampak mulai risih dengan tatapan sekitar yang seakan menilai, dan bisik pengunjung yang sepertinya ingin tahu dengan keributan kecil kami. Dia memperhatikan sekitarnya beberapa saat lalu kembali menatapku.
“Kita bicarakan ini di rumah, Levina,” katanya tegas, dingin, dan tidak terbantahkan. Aku hanya mengangguk.
Ibuku berbalik, tapi tidak segera pergi, dia menatap seorang pria berperawakan tinggi yang berdiri tak jauh dariku. Aku menyadari jika pria itu adalah penghuni meja nomor sembilan yang seharusnya menjadi teman kencanku.
Tanpa berkata-kata ibuku melengos begitu saja dengan wajah datarnya. Langkahnya mantap, tegas dan penuh wibawa meninggalkan restoran tempat aku membuat panggung dadakan.
“Maaf,” ucapku pada pria itu.
Elard tiba-tiba meriah mangaku, menarikku kasar keluar dari restoran. Begitu tiba di parkiran, dia membuka pintu mobilnya di bagian penumpang.
“Masuk,” titahnya dingin.
“Tidak, aku membawa mobil. Jadi —”
“Aku bilang masuk, Lev!” tegasnya tak terbantahkan. “Mobilmu diurus asistenku,” lanjutnya.
Aku membuang napas lalu merogoh tas selempang, mengeluarkan kunci mobil dari dalamnya lalu menyerahkannya pada pria itu.
“Masuklah.” Dia kembali memerintah.
Aku masuk ke mobilnya. Dia menghampiri seorang pria tidak jauh dari sini lalu menyerahkan kunci mobilku pada pria itu setelahnya Elard masuk ke mobil, duduk di kursi kemudi. Tidak banyak kata, wajah datar yang dingin. Dia mulai menjalankan mobilnya, membawaku ke suatu tempat yang entah di mana.
Setelah tadi begitu tegang, aku menghela napas lega. Menatap jalanan di sisi jendela. Senja tergurat indah di sana tapi tidak di dalam sini. Aura dingin dari pria yang duduk di sampingku terlalu kuat, aku enggan bicara, takut jika itu hanya akan membuatnya mengancamku. Jadi sepanjang jalan itu aku hanya diam saja.
Sampai mobil berhenti di tempat parkir sebuah cafe. Dia menyuruhku untuk turun dan aku menurut saja. Tapi dadaku terasa berdebar. Berharap dia tidak melakukan apa-apa. Tapi jika dia membawaku ke cafe, bukannya ini aman saja ya?
Aku mengikuti langkah kakinya memasuki cafe yang masih ramai. Dia terus berjalan dengan aku mengekor, dia memilih lantai dua, di mana tempat itu tidak terlalu ramai. Dia memilih kursi di balkon, tepat di dekat pembatas. Tanpa disuruh, aku memilih duduk berhadapan dengannya.
Alih-alih memulai bicara, dia memanggil pelayan. Dahiku mengkerut saat dia memesan makanan.
“Kau mau pesan apa?” tanyanya datar.
Aku tidak mengerti, tapi dia menatapku.
“Aku lapar, aku butuh makan. Karena ulahmu tadi, aku tidak sempat makan di sana. Aku juga tidak sempat sarapan, jadi katakan saja, kau mau pesan apa?” katanya panjang lebar.
Sesaat aku heran, dia bersikap cool, datar, tapi bicara sebanyak itu.
Tidak ingin membuatnya marah, aku pun memesan pasta dan jus sebagai minumannya. Aku juga sedikit lapar. Bicara dengan seseorang seperti Elard itu butuh tenaga, setidaknya untuk bersabar.
Tidak ada percakapan di antara kami, hanya sama-sama diam. Angin sore yang berhembus sepoi mengelus kulit wajahku, refleks mataku terpejam menikmati sensasinya. Aku tidak peduli bahwa di depan ku duduk seorang musuh, dari ibuku. Aku hanya merasa aneh sebab bersamanya seperti ini, entah bagaimana membuat aku merasa bebas.
Saat aku kembali membuka mata, aku lihat Elard tengah bermain ponsel dengan cuek. Sampai makanan datang tidak lama kemudian, dan dia lebih memilih untuk makan.
“Makanlah. Kita bicara setelah ini,” katanya.
Aku tidak menimpali nya, dan meraih gelas berisi air putih, meminumnya hingga tersisa setengah. Setelah itu aku pun ikut makan tanpa banyak bicara, hanya sekadar menikmatinya.