4. Kesepakatan

1360 Words
Bahkan setelah makan pun, dia tidak segera mengatakan sesuatu, hanya diam. Sesekali menatapku, dan itu membuat aku cukup jengkel juga. “Jika kau tidak mengatakan apa-apa, aku akan pergi. Orang sibuk sepertiku terlalu rugi membuang waktu,” kataku ketus. Tapi dia mendengkus lalu memalingkan wajah. Dia pun sama kesalnya denganku. “Kau pikir hanya kau yang sibuk, Nona Perfect. Aku juga sibuk, tapi karena kau yang memulainya, kenapa aku tidak bisa membalas?” katanya santai, terlampau santai malah. “Sial. Kau sengaja melakukan itu, bukan?” tuduhku. Sebelah alisnya terangkat, tatapannya meremehkanku. Aku memalingkan wajah, memperhatikan langit yang mulai berubah warna menjadi abu-oranye, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, atau mungkin nanti malam. “Kita bicara di sini,” katanya singkat. Sambil memperbaiki duduknya di kursi yang berhadapan denganku. Aku hanya mengangguk, tidak banyak menimpali. Aku hanya merasa sedikit kecil jika berhadapan dengannya. “Sebenarnya, apa yang kau pikirkan, Levina?” tanyanya. Nada suaranya menjadi datar, tapi matanya tidak. “Atau kau memang tidak berpikir sama sekali?” Tatapannya menyelidik ke arahku. Aku mendengus. “Kalau kau membawa aku ke sini hanya untuk menghakimi, sebaiknya aku pergi saja, itu lebih baik daripada aku mendengar ceramah panjangmu yang aku tahu pasti ada kebencian,” balasku ketus sambil membuang muka. “Oke. Mari kita menghemat waktu,” katanya seraya menyilangkan tangan di depan d**a. Sorot matanya tertuju padaku, membuat aku tiba-tiba gugup. “Kau tiba-tiba menciumku di tempat umum, di depan ibumu dan di depan seorang gadis yang tidak bersalah. Itu adalah caramu memberontak, bukan? Kau menyeretku ke dalam masalahmu. Apa alasanmu?” Aku terdiam beberapa saat, berpikir apa alasannya. “Tidak ada,” jawabku kemudiaan. Dia menatapku tajam. “Tidak ada?” ulangnya. “Aku tidak percaya,” katanya. Aku membalas tatapan itu dengan lebih berani kali ini. “Apakah harus ada alasan untuk sesuatu yang kau tahu sendiri. Bukannya itu jelas? Kau bilang, itu caraku memberontak. Yah, katakan saja begitu,” jawabku panjang lebar. Tapi dia tidak percaya sepenuhnya, menatapku semakin tajam dan itu lebih membuat aku tidak nyaman sebab dia seperti menguliti kebohonganku dalam diam. Aku mendesah. Boleh jadi dia dan ibuku bermusuhan, tapi aku tidak pernah bisa membencinya. Mungkin dialah yang lebih membenci aku atas apa yang ibuku lakukan padanya, yang meninggalkan luka. “Karena ibuku,” kataku akhirnya. Tidak lagi menatapnya, dan pandanganku tertuju pada meja putih. “Agar ibuku berhenti,” ulangku. “Berhenti apa?” tanyanya rendah. “Berhenti mengatur hidupku,” sahutku tajam. “Mengatur kencan buta untukku, mengenalkan aku pada anak teman-temannya yang dia anggap setara. Mengatur siapa yang lebih pantas berdiri di sampingku, dan mengatur aku harus tersenyum manis pada siapa.” Aku menuturkannya dengan suara yang bergetar, rasa muak seketika merayap dalam hatiku. Elard tertawa kecil, sinis. “Jadi, kau menjadikan aku sebagai alat? Sebagai solusi instan tanpa memikirkan bagaimana akibatnya?” cecarnya. Aku terdiam. “Aku lelah, El. Aku lelah terus diatur. Dan saat aku melihatmu tadi, aku mendapat ide gila itu. Kau mungkin tidak akan percaya.” “Semua orang juga lelah, Levina,” ucapnya dingin. “Tapi tidak semua orang mengorbankan orang lain untuk melarikan diri,” katanya. “Itu tidak adil,” kataku tidak terima. “Tidak, tapi itu jujur,” katanya lagi. Aku mengepalkan tangan di atas meja, kemarahan mulai menguasai diriku, dadaku bergetar sebab menahan amarah. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang ibuku,” kataku lirih, menunduk. “Dan kau tidak tahu,” balasnya cepat membuat aku mengangkat wajah untuk kembali menatapnya. “bagaimana rasanya membangun ulang hidup yang dihancurkan oleh keluargamu.” Kata-kata itu berhasil menghantamku dengan keras. Kami saling menatap cukup lama. Aku bisa melihat luka dari sorot matanya. Luka yang tidak akan mungkin sembuh dengan kata maaf. Yang tidak akan mungkin hilang dalam waktu singkat. Itu adalah luka yang menjejak lama, dalam, dan butuh waktu. Angin sore yang berhembus menggerakkan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia tidak menatanya dengan rapi, masih khas dirinya yang lebih suka ala kadarnya. Angin juga mengumbar aroma miliknya yang membuat aku tertegun cukup lama. “Kau egois,” katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan sekarang tapi itu justru menyakitkan. Tatapannya masih tertuju padaku. “Kau ingin bebas, tapi kau memilih cara yang merugikan orang lain.” Aku menelan ludah, sadar akan hal itu. “Mungkin. Tapi, setidaknya aku bisa berhenti pura-pura bahagia.” Dia menghela napas, memalingkan muka ke arah lain sejenak. Begitu kembali menatapku, ekspresi wajahnya berubah, terlihat lebih tenang, lebih dingin, dan juga lebih berbahaya dibanding tadi. “Baik,” katanya membuat aku mengerutkan dahi. “Mari kita bicara sebagai duaa orang dewasa yang merasa berhak atas hidup kita sendiri dan saat ini terjebak dalam drama yang kau buat,” lanjutnya. Aku merasa tersindir mendengar apa yang dia katakan di akhir. Aku mengangkat alis, apa itu artinya? “Aku mendengarkan,” kataku. Elard mengangguk sesaat. Tatapannya tajam, raut wajahnya serius dan itu membuat aku gugup. Apakah dia setuju dengan dramaku? “Kau ingin ibumu berhenti mengatur hidupmu, bukan?” Aku mengangguk cepat. Sangat ingin berhenti diatur. “Mulai sejak, sejak dia tahu kita bersama, dia akan mulai mengawasi hidupmu dengan lebih ketat,” katanyaa. Aku terdiam. Yah, ibuku pasti akan melakukan itu, terlebih ketika tahu siapa yang aku seret. “Dan aku sudah terlanjur berdiri di depanmu. Dia akan mencari tahu hubungan kita nyata atau tidak. Jika kau mundur sekarang, itu akan terlihat seperti permainan.” “Jadi?” tanyaku pelan, ingin tahu apa yang dia pikirkan. Elard menatapku lurus. “Jadi kita akan memanfaatkan situasi ini.” “Memanfaatkan bagaimana?” “Kita lanjutkan sandiwara itu dengan lebih nyata, kemesraan yang kau mulai tadi.” Pipiku terasa panas karena malu saat dia mengatakan kemesraaan. “Tapi itu terdengar gila,” kataku seraya menggelengkan kepala. “Itu strategis, Levina. Jika kau memang ingin lepas dari ibumu.” Aku tertawa, menatapnya lagi. “Kau mengatakan aku egois, tapi kemudian menawarkan kerjasama, lucu sekali,” komentarku. Dia tetap tenang, menatapku seolah aku hanyalah orang biasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya. “Karena egoismu mungkin bisa menjadi alat,” jawabnya tanpa ragu. “Dan mungkin, kemarahanku bisa menjadi pelindungmu.” Aku menatapnya, mencoba membaca wajahnya yang masih tenang, terlalu tenang malah. “Apa untungnya bagimu?” tanyaku. Dia tersenyum miring. “Ibumu,” jawabnya singkat yang penuh makna. “Aku ingin dia melihat bahwa aku tidak hancur, bahwa aku berdiri, dan bahwa putrinya yang paling dia jaga, memilih berdiri di sisiku.” Dadaku tiba-tiba mengencang. “Lalu aku?” tanyaku hati-hati. “Kau mendapatkan jeda. Ruang untuk bernapas. Tidak ada lagi kencan, tidak ada lagi pertemuan memuakkan untuk perjodohan, tidak ada lagi pria pilihan ibumu.” Aku terdiam cukup lama. “Jika aku menolak?” tanyaku akhirnyaa. Elard mendekat, kedua tangannya terlipat di meja. Tubuhnya condong ke depan. Aku melihat raut datar yang serius dari wajahnya yang dekat denganku. Aku merasakan tubuhku merinding. “Maka kau akan sendirian menghadapi ibumu,” katanya pelan, nyaris berbisik yang membuat aku menelan ludah. “Lalu, aku akan menjadi kesalahan yang paling memalukan, yang akan kau sesali.” Aku memejamkan mata sesaat. Aku tahu ini salah. Tapi aku seperti tidak bisa berbalik dan mundur. Aku terlanjur membuat drama di depan ibuku yang menyeret Elard. Tapi kemudian, aku merasa kali ini ada pilihan. Aku membuka mata, membalas tatapannya. “Oke. Tapi kita akan membuat aturan,” kataku. Elard mengangguk. “Ya, itu sudah pasti.” Dia menegakkan tubuhnya lagi, bersandar punggung. “Tidak ada perasaan, tidak ada sentuhan yang tidak perlu, dan … .” Aku menghentikan perkataan saat dia tertawa. “Sementara, Levina,” katanya. Dahiku mengerut lagi, tidak mengerti maksudnya. “Sementara?” Aku mengulang. Dia menatapku tajam. “Jangan pura–pura tidak tahu, Levina. Sandiwara seperti ini selalu punya resiko. Aku menarik napas dalam-dalam. Dia benar, sandiwara ini harus terlihat sempurna. “Oke. Kita buat kesempatan dari kesalahan,” kataku akhirnyaa. Dia menyeringai, menyebalkan. Tapi kemudian dia mengulurkan tangan. Aku hanya menatap tangan itu tidak mengerti lalu menatap wajahnya. “Ayo buat kesepakatan, Levina Leon,” katanya. Meski merasa aneh, aku menjabat tangannya. Aku tahu, saat ini baru saja membuat sebuah tanda tangan yang tidak tertulis, yang mungkin akan membebaskanku, atau justru menghancurkanku dengan cara yang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD