Chapter 7

1364 Words
"Oh My God!" Teriak Macy sembari menangkup wajahnya ketika sampai di kamar. "Apa yang baru saja terjadi?" Gumam Macy. "Kenapa aku membiarkannya menciumku? Dan bodohnya aku hanya diam mematung saja. Bodoh!" Gerutu Macy kemudian membenamkan wajahnya di atas bantal. Dengan malas Macy mengangkat wajahnya berusaha melupakan kejadian memalukan tadi. Beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh lalu memakai piyama. Malam ini ia hanya ingin segera tidur dan mimpi indah untuk hari esok yang cerah. Semoga. Macy kembali membuka mata ketika mengingat bahwa besok Will akan menjemputnya. "God! No! Aku belum siap bertemu dengannya lagi" Gumam Macy. "Dasar bodoh!" Rutuknya. Macy terus merutuki kebodohannya yang hanya diam ketika Will mencium pipinya. Ia merasa bahwa seharusnya ia menampar atau marah karena seenaknya saja mencium pipinya. Bukan hanya diam mematung seperti orang bodoh seperti tadi. Macy merutuki dirinya sendiri hingga lelah dan akhirnya terlelap ke dalam mimpi. ------- Pagi ini begitu cerah dan Macy telah siap dengan pakaian kerja pertamanya. Kemeja putih, rok hitam, stiletto hitam, Hermes mini putih, serta rambut yang sengaja ia ikat agar terlihat lebih formal. Setelah merasa sudah siap, Macy segera turun ke lantai bawah untuk sarapan sekaligus menunggu Will yang katanya akan menjemputnya. Ketika berada di ujung anak tangga, Macy mendengar suara asing yang sedang berbincang dari ruang makan. Dan benar saja, saat ia berada di pintu makan Macy melihat Derrick, Tessa, Monica, dan Will telah duduk di kursi makan. Hingga membuat Macy bertanya-tanya, sejak kapan pria itu berada di rumahnya? "Sayang, kamu sudah siap? Kemarilah" Panggil Derrick. Macy berjalan mendekat ke meja makan dan duduk di kursinya yang berada di samping Will. Monica pindah ke samping Tessa hingga membuat Will mengambil alih tempat Monica. Seusai sarapan, Macy dan Will pamit ke kantor karena Macy beralasan bahwa ia tak mau terlambat di hari pertamanya bekerja. Meskipun sang Bos berada bersamanya saat ini. Dalam perjalanan menuju kantor hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tak ada yang mau berinisiatif untuk membuka percakapan. Ditambah Will terlihat sibuk memainkan ponselnya. Mobil Will berhenti tepat di depan lobi di mana para pegawai masih ada yang berlalu lalang. Melihat keramaian seperti ini lagi-lagi membuat Macy gugup. Ia takut kejadian itu akan terulang kembali. Will keluar terlebih dahulu sementara Macy masih menyimpan keraguan setelah sang supir membukakan pintu mobil untuk Macy. “Keluarlah” Pintah Will yang telah berdiri di samping Macy. Dengan penuh tekad, Macy melangkah keluar dari mobil. Ia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Hanya saja ia merasa akan aman jika tetap di samping Will. Macy berjalan selangkah di belakang Will dengan kepala sedikit menunduk. Namun meski dengan kepala menunduk, Macy tetap bisa merasakan bahwa orang-orang tengah memperhatikan mereka dan mulai berbisik satu sama lain. Sementara mereka yang melihat kedatangan Will membungkuk sebagai tanda hormat. Kejadian di mana orang-orang tengah menatap sembari berbisik mengingatkan Macy dengan kejadian tiga tahun lalu hingga membuatnya berhenti tepat lima langkah sebelum mencapai lift. Macy memejamkan mata mencoba mengusir kenangan buruk yang membuatnya hingga kini sedikit trauma jika berada di keramaian seperti ini. Merasakan tangannya digenggam, Macy membuka matanya dan mendongak melihat sang pelaku. Will menggenggam tangan Macy dan menariknya dengan lembut memasuki lift yang hanya dapat dihuni oleh CEO dan hanya akan berlalu menuju lantai teratas gedung ini. Setelah sampai di lantai 47, Will masih menggenggam tangan Macy dan menariknya berjalan menelusuri lorong kaca yang cukup panjang dan berhenti beberapa meter dari ujung lorong. "Ini ruanganmu" Ucap Will sembari menunjuk ruangan yang berada di sisi kiri dengan bertuliskan ‘Secretary’ di depan pintu. "Baik" Ujar Macy. "Kamu bisa menutup dinding kacanya dengan tirai menggunakan remot yang ada di atas meja kerjamu" Jelas Will. "Baik" Ujar Macy kemudian masuk ke dalam ruangan yang disediakan tanpa menghiraukan Will. Meskipun semua dinding seluruh ruang di sini kaca, tapi setiap ruangan di lantai ini tetap kedap suara dan memiliki tirai untuk menghalau pandangan dari luar. Sesaat setelah Macy memasuki ruangannya, ia segera menutup tirai di semua sisi ruangan termasuk sisi yang memisahkan ruangan Macy dan Will Setelah merasa cukup aman, Macy mulai membuka lembaran demi lembaran berkas yang berada di meja utnuk mempelajarinya. Baru saja membuka lembaran kedua, telepon di ruangannya berbunyi. “Halo. Selamat siang. Dengan Macy Allyson, ada yang bisa dibantu?” Sapa Macy. "Jangan tutup tirainya" Pintah orang tersebut, siapa lagi jika bukan Will membuat Macy menghela nafas. "Apa ada yang Anda butuhkan, Pak?” Tanya Macy formal. "Buka tirainya" Pintahnya Will kembali. “Jika tidak ada yang Anda butuhkan, saya akan menutup teleponnya” Ucap Macy kemudian segera memutuskan sambungan teleponnya lalu melanjutkan membaca berkas-berkas di hadapannya dan melanjutkan membuat jadwal baru untuk Will. Namun sebelumnya Macy membuka kembali tirai yang menghadap ke lorong agar ia dapat mengetahui jika ada orang yang ingin menemui Will. Disisi lain, Will menggeleng melihat tingkah Macy. Mencoba bersikap formal padanya namun tetap mengabaikannya dengan menutup telepon secara sepihak. Padahal tadi ia sempat khawatir saat melihat wajahnya yang pucat di lobi hingga ia memutuskan untuk menyebarkan perihal ia yang akan menikah dengan Macy agar tidak ada lagi yang melakukan hal seperti tadi di hadapan Macy. Dan tentu saja hal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Macy. Tak lama setelah Will memeriksa beberapa dokumen, pintu ruangannya diketuk. “Masuk!” Pintahnya. Pintu terbuka dan Macy masuk ke dalam. “Maaf mengganggu Anda, Pak. Tapi Tuan Jordan Geith ingin bertemu dengan Anda” Ujar Macy. Will menghela nafas sebelum meminta Macy mempersilakan tamunya masuk. Tak lama setelah Macy keluar Jordan masuk dengan aura kebahagiaan seperti biasa. Jordan Geith merupakan satu-satunya sahabat yang Will miliki namun itu bukan berarti ia tak memiliki teman lain. Hanya saja tak ada di antara mereka yang sedekat dirinya dan Jordan. "Halo sobat!" Sapa Jordan sembari tersenyum dan merentangkan kedua tangannya berharap akan kali ini akan mendapat sambutan hangat dari sahabatnya tersebut. "Ada apa?" Tanya Will datar, tak mengindahkan sapaan Jordan dan lanjut berkutat dengan dokumen di hadapannya. "Tidak bertemu beberapa hari membuatmu semakin melunjak, sifat datarmu semakin menjadi-jadi. Hei! Setidaknya lihat lawan bicaramu jika berbicara. Memangnya aku ada di dalam kertas yang kamu pegang?" Tanya Jordan sembari duduk di sofa. "Ada apa ke sini?" Tanya Will lagi acuh. "Huft! Percuma memberimu nasihat” Ujar Jordan. “Aku hanya ingin berkunjung dan memberikan ini, meskipun itu tidak harus. Tapi ya, lagi-lagi karena formalitas" Lanjutnya sembari berjalan ke meja kerja Will dan memberikan sebuah undangan. Undangan untuk acara dansa tahunan. G-Corp. memang selalu mengadakan acara dansa tahunan. Bukan acara khusus, resmi, atau apapun, itu hanyalah acara untuk menghibur para rekan bisnis mereka agar hidup mereka tidak terlalu monoton. Bahkan tidak terdapat poin pidato dalam agenda acara tersebut. Para undangan pun tidak diharuskan untuk datang, namun Will tetap datang ke acara itu untuk menghormati sang sahabat yang selalu membawa undangannya sendiri. "Kamu tak lupa ‘kan? Setiap tahun aku selalu mengundangmu, walaupun kamu selalu datang tanpa pendamping" Goda Jordan kemudian tertawa terbahak dan kembali duduk di sofa. "Tak usah mengungkit masa lalu" Ucap Will. "Memang apa bedanya masa lalu dan sekarang? Lagipula minggu depan seorang Will Carbert akan tetap datang sendiri" Ucap Jordan lalu tertawa kembali. Tok… Tok… Tok… Pintu terbuka dan Macy masuk membawa nampan yang berisi secangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja depan Jordan lalu segera berlalu dari sana. "Oh iya, kulihat kamu sudah punya sekretaris baru. Dan ya, kuakui kali ini kamu pintar mencari sekretaris baru. Tidak seperti semua sekretarismu sebelumnya yang semuanya pria" Sahut Jordan. Will mengerti ke mana arah pembicaraan Jordan. Jika Jordan telah mengeluarkan kata cantik dari mulutnya, itu artinya ia akan menjadikan wanita tersebut One Night Stand-nya. Jika Will merupakan pria dingin, maka Jordan adalah kebalikannya. Suka bergonta-ganti pasangan, free s*x, dunia malam, itulah dia. "Hentikan pikiran kotormu itu. Jangan berani menyentuhnya" Ucap Will. "Kenapa? Kenapa tidak boleh?" Tanya Jordan. "Dia calon istriku" Jawab Will membuat Jordan tersedak minumannya. "APA?!" Teriak Jordan. "Calon istri?! Yang benar saja? Mana ada wanita yang mau dengan pria sepertimu? Bicara saja sepatah dua kata. Tatapan dan sikap dingin. Hanya wajah yang lumayan tampan. Apalagi calon istrimu wanita cantik seperti dia. Lagipula kapan kamu berkencan? Kenapa aku tidak tahu? Atau jangan-jangan kamu memaksanya?" Tanya Jordan tak percaya. "Kami dijodohkan" Jawab Will. "Sudah kuduga. Kamu memaksanya untuk menikahimu" Ucap Jordan seperti memenangkan sebuah lotre. "Tapi kenapa kamu tak menceritakannya padaku?" Tanyanya. "Surprise?" Tanyaku datar. "Tidak lucu" Ujar Jordan. "Jadi kenapa?" Tanya Jordan. "Kenapa apa?" Tanya Will balik. "Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sudah memiliki calon istri? Apa kamu masih menganggapku ada?" Tanya Jordan sok dramatis. "Kamu tak pernah bertanya" Jawab Will. "Aku tak bertanya karena tidak tahu. Seharusnya kamu yang memberitahuku" Ucap Jordan “Aku sudah memberitahumu” Ujar Will sembari membubuhkan sebuah tanda tangan pada dokumen di depannya. “Kapan?” Tanya Jordan. “Tadi” Jawab Will. “Huft! Percuma bicara denganmu. Orang paling kaku dan tidak peka sedunia” Kesal Jordan.    ------- Satu kata untuk Jordan? Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD