Chapter 8

1544 Words
Mengantar-jemput Macy setiap hari membuat Will merasa semakin akrab dengan Macy, begitu pun sebaliknya. Meski perjalanan mereka dipenuhi oleh perdebatan-perdebatan tidak penting. Namun dibalik perdebatan tidak penting itu, Will merasa sangat bahagia. Ia yang notabenenya jarang berbicara dan hampir tidak pernah tersenyum, menunjukkan perilaku sebaliknya saat bersama Macy. Bahkan suasana di dalam mobil yang biasanya hanya diisi oleh keheningan, sekarang selalu terdengar suara tawa dan kemesraan tanpa mereka sadari. Dan hal tersebut terjadi karena kejadian lima hari yang lalu. Flashback On. “Ayo pulang” Ajak Macy seperti biasa sembari masuk ke dalam ruangan Will tanpa terlebih dahulu dan langsung duduk di sofa menunggu Will yang biasanya akan membereskan barangnya. Bukan tanpa alasan Macy selalu mengajak Will pulang tepat waktu. Pasalnya Luna memberitahunya bahwa Will merupakan seorang workaholic. Dimana jika ia telah bekerja, maka ia akan lupa dengan waktu dan baru selesai jika pekerjaannya selesai. Dan Macy tidak mau hanya memiliki sedikit waktu jika berada di rumah bersama sang suami. Meski ia tak tahu rumah tangga apa yang akan mereka jalani kedepannya. Tapi yang jelas, Macy ingin melatih Will pulang tepat waktu sejak dini agar Will terbiasa dengan hal tersebut jika mereka telah berstatus suami istri. Memikirkan hal itu saja membuat wajah Macy merah padam dan tanpa sadar tersenyum hingga tak menyadari bahwa Will telah berdiri di sampingnya hingga suara deheman Will terdengar. “Oh! K, kamu sudah selesai?” Tanya Macy gugup berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk lebih dalam ketika mengambil tasnya lalu berdiri. Ketika hendak berjalan keluar, Will masih saja berdiri di depan Macy dan menghalangi jalannya. “Ada apa?” Tanya Macy gugup hingga tak berani menatap mata Will. “Apa ada yang kamu lupakan?” Tanyanya lagi. Hening. Hingga dua menit berlalu, Will tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Macy semakin gugup. Ketika Macy ingin bertanya kembali, bibir Will segera menyambar bibir Macy dan melumatnya membuat Macy hanya bisa diam kaku di tempatnya. Saat sadar apa yang terjadi, Macy mendorong tubuh Will namun tentu saja itu tidak berhasil karena perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Beberapa kali Macy mencoba memberontak namun tetap tak berhasil dan membuatnya pasrah di bawah Will. ------- Macy membuka matanya dan melihat langit telah berubah gelap dan matahari tak lagi menampakkan sinarnya. Macy mencoba untuk duduk namun tidak terlaksana karena lengan Will yang melingkari perutnya. Melihat lengan Will yang bertengger di perutnya dan merasakan nafas yang teratur di lehernya membuat wajahnya kembali memerah. Walau mereka tidak melakukan hal yang ­iya-iya, tapi tetap saja mereka melakukan hal yang cukup panas di atas ranjang ini. Mengingat ranjang yang mereka tempati saat ini membuat Macy menjelajahi seisi ruangan yang tak lain adalah kamar. Hampir sama dengan ruangan lainnya, kamar ini pun dipenuhi dengan dinding kaca yang dapat berubah warna menjadi putih hingga membuat orang yang melihatnya tak sadar bahwa dibalik kaca tersebut terdapat ruangan lain. Bahkan Macy pun tak mengetahui jika terdapat kamar di dalam ruang kerja Will. Dari semua hal baru yang terjadi hari ini, yang paling membuat Macy terkejut adalah pernyataan cinta Will setelah mereka melakukan adegan panas yang bukan iya-iya. Bukan hanya terkejut, namun Macy juga merasa senang dan jantungnya berdebar tak karuan yang mampu membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Flashback Off. Genggaman di tangannya membuat Macy tersadar dari lamunannya. “Ada apa?” Tanya Will. “Ah, tidak ada” Jawab Macy sembari melihat keluar jendela dan menyadari bahwa mereka telah berada di pelataran rumahnya. “Baiklah. Aku akan menjemputmu pukul tujuh” Ujar Will. “Yes, Sir” Sahut Macy membuat Will tersenyum dan mengacak rambut Macy gemas. “Sekarang masuklah” Pintah Will yang dibalas anggukan oleh Macy. Ketika hendak keluar dari mobil, Macy berhenti sejenak dan menoleh memandang Will yang ada di belakangnya. "Ada apa?" Tanya Will bingung. Macy hanya diam sembari terus memandang Will yang membuat pria itu semakin bingung. Namun secepat kilat Macy mendekatkan wajahnya ke wajah Will dan mencium pipi pria itu. Setelah melakukannya, ia segera keluar dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh ke belakang. Disisi lain, Will terdiam kaku sejenak kemudian terkekeh geli melihat tingkah laku Macy sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini adalah pertama kali Macy menciumnya terlebih dahulu. Ia menatap Macy hingga wanita itu masuk ke dalam rumahnya lalu memerintahkan sang supir untuk berlalu ke penthouse-nya. ------- "I did it! I did it! I did it! Kyaaaa~" Teriak Macy sembari lompat-lompat di atas ranjangnya, ia bahkan belum berganti pakaian. Setelah puas melompat-lompat Macy menjatuhkan dirinya di atas ranjang kemudian memeluk guling. Ia merasa seperti ABG yang tengah dimabuk cinta. Sekarang ia mengerti mengapa orang tuanya selalu bertingkah seperti ABG, ternyata itu menyenangkan. Saat menatap langit-langit kamarnya, pikiran Macy tiba-tiba saja melayang ke Kenia. Sudah beberapa hari mereka tak saling mengabari dan membuatnya sedikit khawatir. Macy segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Kenia. Setelah menunggu beberapa detik, hanya suara operator yang terdengar menyatakan nomor Kenia tidak aktif yang membuat Macy semakin khawatir. Karena biasanya ponsel Kenia sangat jarang tidak aktif, bahkan hampir tidak pernah. Saat melihat jam, Macy segera bangun dan turun dari tempat tidur lalu segera bersiap-siap untuk acara yang akan diadakan kurang dua jam dari sekarang. Dan malam ini Macy telah siap dengan gaun malamnya. Bagian atas berwarna hitam sementara bagian bawah berwarna biru dengan bagian punggung yang agak terbuka, black heels, black clutch, gold bracelet, dan rambut yang dibiarkan terurai. Ponsel Macy berbunyi, menandakan sebuah pesan yang masuk. Macy tersenyum melihat siapa yang mengiriminya pesan. *** From : Future Husband Aku ada di bawah *** Macy mengambil clutch-nya yang berada di atas tempat tidur lalu segera turun ke bawah. Ketika ia sampai di ruang tamu, ia melihat Will, Derrick, dan Tessa tengah berbincang-bincang. Malam ini Will sendiri tampak tampan dengan setelan hitam, dasi hitam dengan garis-garis berwarna silver di tengahnya, serta pantofel yang juga berwarna hitam. "Ayo" Ajak Macy setelah sampai di hadapan mereka. "Wah! Putri Daddy cantik sekali" Puji Derrick, Macy hanya tersenyum malu mendengar pujian Derrick. Sementara Will masih terpaku melihat penampilan Macy. Menatap wanita di hadapannya tanpa berkedip membuat yang dipandang semakin malu dan gugup. "Ayo" Ajak Macy lagi sembari mencoba menormalkan detak jantungnya yang lagi-lagi berdetak kencang membuat Will tersadar. "Kami pergi dulu" Pamit Will. "Iya, jaga putriku baik-baik. Jangan sampai ada yang merebutnya" Canda Derrick. "Daddy!" Rajuk Macy. Setelah pamit, Will dan Macy berjalan keluar rumah sambil bergandengan membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum bahagia termasuk Derrick dan Tessa. Dalam perjalanan kali ini, entah mengapa keheningan melanda mereka. Sesekali Will melirik ke arah Macy yang tampil sangat cantik malam ini hingga membuat Macy salah tingkah. Meski genggaman tangan mereka tak pernah terlepas sejak mereka berangkat. Macy yang sudah tak tahan melihat tingkah Will memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Macy. "Tidak, aku hanya merasa sedang melihat bidadari saat ini" Puji Will. "Dari mana kamu belajar gombal seperti itu?" Tanya Macy berpura-pura kesal untuk menutupi rasa malunya. “Itu bukan gombalan, itu fakta” Ujar Will. “Selain belajar gombal, kamu juga belajar berbohong” Ucap Macy. “Kenapa kamu berpikir aku berbohong?” Tanya Will. “Karena mana mungkin ada bidadari yang mau dengan pria sepertimu” Jawab Macy. “Pria sepertiku?” Tanya Will sembari menaikkan sebelah alisnya. “Iya, pria sepertimu. Meskipun tampan tapi kamu itu datar, dingin, kaku, pendiam dan itu membuat ketampananmu tertutupi. Asal kamu tahu, wanita itu tidak menyukai pria yang sifatnya seperti itu. Mereka lebih menyukai pria humoris yang akan membuat mereka tersenyum setiap hari. Tapi untunglah sekarang kamu sudah taubat” Jelas Macy. “Jadi aku terlihat lebih tampan kalau tersenyum?” Tanya Will dengan senyum misterius. “Iya” Jawab Macy dan blush. Wajah Macy memerah ketika menyadari apa yang baru saja ia katakan. “Pertanyaan jebakan” Lanjutnya yang lagi-lagi berpura-pura kesal untuk menutupi rasa malu yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. “Jika sang bidadari berpikir seperti itu, apa boleh buat” Ucap Will sembari mengendikkan bahunya membuat Macy mencubit pinggangnya hingga Will mengaduh kesakitan. Dan kejadian manis tersebut disaksikan oleh sang supir yang telah menyaksikan kemesraan mereka selama beberapa hari belakangan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan. G-Corp. Pesta dansa tersebut memang diadakan di lantai tertinggi gedung G-Corp. Seorang petugas membukakan pintu untuk Macy dan seorang lagi membukakan pintu untuk Will. Ketika mereka turun, mereka langsung disambut oleh blitz kamera serta pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan yang telah berkumpul di pintu depan gedung tersebut. Will merangkul pinggang Macy lalu mereka mulai berjalan masuk dengan dilindungi oleh beberapa petugas keamanan dari banyaknya wartawan yang menyerbu mereka dengan berbagai pertanyaan dan kilatan blitz kamera yang mengambil foto mereka. "Will Carbert, siapa wanita yang berada di sampingmu?" "Will Carbert, apa hubunganmu dengan wanita di sampingmu?" "Baru kali ini kau membawa seorang wanita ke sebuah acara. Apa dia kekasihmu?" "Will Carbert, tolong katakan sesuatu" "Sudah berapa lama hubungan kalian?" "Kenapa kau baru menunjukkan wajah kekasihmu sekarang?" “Tolong jawab pertanyaan kami, Will Carbert” "Will Carbert!" "Will Carbert!" Begitulah berbagai pertanyaan yang diajukan para wartawan hingga Will dan Macy berhasil masuk ke dalam gedung dengan selamat. Mereka berdua berjalan masuk ke lift lalu menuju lantai teratas. Lantai 30 di mana acara sedang berlangsung. Selama di dalam lift, tubuh Macy gemetaran membuat Will khawatir. “Tidak apa-apa. Aku ada di sini, tidak ada yang berani mengganggumu selama ada aku” Bisik Will tepat di telinga Macy sembari mengusap punggung Macy hingga akhirnya mereka telah sampai di lantai dimana acara berlangsung. Dan kedatangan mereka langsung disambut oleh tuan rumah. "Hai sobat! Akhirnya kamu datang juga" Sapa Jordan yang hendak memeluk Will namun segera ditepis oleh pria itu. "Senang melihatmu lagi Macy" Sapa Jordan. “Saya juga, Tuan Jordan" Ucap Macy. "Ayolah, tidak usah sesopan itu padaku. Panggil Jordan saja, lagipula kamu adalah calon istri sahabatku tercinta ini" Ucap Jordan sembari menepuk bahu Will. "Baiklah, Jordan" Ucap Macy. "Good girl. Ayo ke sana. Puncak acaranya masih satu jam lagi" Ajak Jordan yang disanggupi oleh Macy dan Will. Tak berapa lama mereka berbincang, seseorang menepuk pundak Macy yang membuat wanita itu berbalik. Dan sangat terkejut melihat siapa orang menepuk bahunya. "Kenia!" Seru Macy terkejut.    ------- Gimana part ini? >_> Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD