Genggaman pada tangannya mengalihkan pikirannya. Melihat Will yang menggenggam tangannya sembari tersenyum mengajaknya masuk ke dalam. Sontak semua pegawai yang melihat kedatangan Will segera membungkukkan badan tanda hormat sedangkan Will hanya memasang wajah datarnya.
Ketika sosok Will dan Macy menghilang, barulah semua pegawai mulai berbisik-bisik perihal Will yang baru pertama kali terlihat menggandeng seorang wanita.
"Jadi ini cafe milikmu?" Tanya Macy ketika mereka telah berada di dalam ruangan Will dan mereka duduk bersampingan di sofa.
"Iya, kenapa?" Tanya Will balik sembari menyalakan laptopnya.
"Tidak. Hanya saja aku sering ke sini ketika masih tinggal di London bersama Kenia" Jawab Macy sedikit ragu.
“Ya, aku tahu. Semua orang di London pernah ke sini. Kita juga pernah berpapasan saat kamu mau keluar ‘kan” Ujar Will.
"Dan aku pernah menebak siapa pemilik cafe ini. Aku sempat berpikir apakah dia seorang ahli matematika atau seniman yang memiliki imajinasi tinggi? Dan ternyata pemiliknya adalah dirimu, pria tampan yang dingin" Jelas Macy.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Will.
"Kamu tahu? Cafe ini adalah cafe teraneh yang pernah aku kunjungi. Lihat saja bentuk mejanya yang membentuk rumus matematika. Kamu mau mengajak semua pengunjung cafe-mu untuk menghitung lebar meja yang mereka gunakan? Tolong jangan menyusahkan mereka lagi. Sudah cukup mereka belajar matematika di sekolah, jangan sampai mereka juga harus mengingat rumus yang membuat kepala mereka sakit ketika tujuan mereka ke sini untuk bersenang-senang" Jelas Macy panjang lebar hingga tawa Will pecah begitu saja membuat Macy terdiam ditempatnya
Ini pertama kalinya Macy melihat Will tertawa lepas seperti sekarang. Dan tawa itu terlihat begitu indah di wajah tampannya. Perlahan tangan Macy terulur meraih wajah pria yang berada di hadapannya. Menangkup pipinya, membuat sang empunya menghentikan tawanya.
"Tawamu sangat indah" Ucap Macy sembari tersenyum tipis.
Will menatap Macy lekat tanpa membalas ucapan Macy. Dan tanpa peringatan apapun, Will mencium bibir Macy. Melumatnya selembut mungkin, tangannya menahan pinggang dan tengkuk Macy agar tak menjauh darinya. Sedangkan Macy hanya mengalungkan kedua tangannya pada leher Will sembari membalas lumatan Will.
Kegiatan mereka harus berhenti karena suara ketukan pintu yang berasal dari luar. Macy tersenyum melihat bibir Will yang terdapat noda lipstiknya, namun Macy membiarkannya begitu saja. Sekali-sekali ia ingin mengerjai pria perfeksionis di hadapannya ini.
"Masuk!" Pintah Will, setelah menormalkan nafasnya.
Tak lama, pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita berumur 30-an dengan name tag Aliana sebagai Manager. Wanita itu masuk dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat.
"Selamat datang Mr. Carbert. Maaf saya terlambat menyambut Anda, tadi saya sedang berada di belakang" Sapa Aliana tersebut berbohong padahal ia baru saja selesai menggosip bersama beberapa pegawai lainnya perihal Tuan mereka yang baru terlihat menggandeng seorang wanita. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat apa yang berada di bibir Tuannya.
"Tidak apa Aliana. Aku ke sini hanya ingin mengecek perkembangan cafe ini sebentar" Ucap Will.
"Baik, Sir. Tolong tunggu sebentar, saya akan mengambilkan hasil penjualan untuk dua bulan terakhir" Ucap Aliana kemudian berlalu keluar.
"Kamu sangat nakal" Ujar Will sembari mencubit hidung Macy kemudian mengambil sehelai tisu yang berada di atas meja lalu menyerahkannya kepada Macy.
Macy hanya terkekeh dan seakan mengerti maksud Will, ia mengambil tisu tersebut kemudian mengelap noda lipstik yang berada di bibir Will.
"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Macy.
"Aku melihat Aliana terkejut saat menatap bibirku" Jawab Will yang lagi-lagi membuat Macy terkekeh.
"Siapa suruh kamu nekat melakukannya di sini" Ucap Macy sembari meletakkan tisu bekas yang ia pakai mengelap bibir Will di atas meja.
"Kamu yang memancingku Princess" Ucap Will.
"Memangnya kamu ikan yang aku pancing" Canda Macy membuat Will tersenyum.
"Jadi sekarang kamu mulai berani menggodaku?" Tanya Will.
"Aku tak mengejekmu tuan ‘sok tahu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya" Jawab Macy sembari terkekeh.
Tanpa peringatan apapun Will langsung menggelitik perut Macy membuat Macy tertawa sambil berteriak meminta ampun. Dan kali ini Macy bersyukur karena diselamatkan oleh suara ketukan pintu diiringi dengan pintu yang terbuka menampilkan sosok Aliana yang membawa sebuah map yang cukup tebal. Membuat Macy menghembuskan nafas leganya.
Sementara Aliana kembali terkejut melihat pemandangan di hadapannya dimana Will tengah tersenyum. Walau sangat tipis bahkan hampir tak kelihatan bahwa pria di hadapannya kini tengah tersenyum, namun siapapun makhluk hawa yang melihatnya akan merasa sangat beruntung melihat senyum yang keluar dari bibir seksi seorang Will Carbert.
Aliana segera mengembalikan kesadarannya begitu melihat wajah datar Will kembali seperti semula. Ia berjalan mendekati Will dan memberikan map tersebut.
"Ini laporan keuangan dua bulan belakangan sejak terakhir kali Anda kemari, Sir" Ucap Alian sopan.
Will memeriksa laporan yang berisi angka-angka tersebut. Laporan keuangan yang keluar dan masuk, semuanya lengkap dan penghasilan cafe juga meningkat dari terakhir kali ia mengeceknya.
Setelah mengecek laporan cafe-nya, Will dan Macy memutuskan untuk meninggalkan cafe lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara karena pesawat mereka telah menunggu sejak satu jam yang lalu. Namun ketika mereka ingin masuk ke dalam mobil, sebuah suara yang tak asing di telinga Macy menahan kepergian mereka.
"Macy Allyson, right?" Sapa orang tersebut.
Macy berbalik dan terkejut melihat pria yang berada di hadapannya kini. Seorang pria tengah berdiri dengan gagahnya sembari memasang senyumnya. Will yang melihatnya hanya memasang wajah datarnya. Ia tahu pria tersebut.
"Who are you?" Tanya Will basa-basi ketika menyadari tubuh Macy kembali gemetaran.
"Oh ya, perkenalkan saya Warren Porter dari P Company" Ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya kepada Will.
"Will Carbert" Ucap Will tanpa mau membalas uluran tangan Warren. Sementara Macy hanya diam mematung ditempatnya.
"Kebetulan sekali bertemu denganmu di Miss Allyson" Ucap Warren pada Macy.
"Y, ya" Jawab Macy gugup.
"Apa yang Anda lakukan di sini Mr. Porter?" Tanya Will berusaha menyembunyikan kebenciannya pada Warren.
"Saya ingin menemui seseorang di sini dan kebetulan..."
"Kalau begitu silakan lanjutkan aktivitas Anda. Kami pergi dulu" Ucap Will memotong ucapan Warren.
Will membukakan pintu mobil untuk Macy kemudian ia berjalan setengah memutari mobil lalu masuk di sisi Macy. Mobil Will pun berlalu meninggalkan Warren yang hanya dapat bergeming di tempatnya.
-------
Ada yang tau nggak kenapa Will bisa benci sama Warren padahal mereka belum pernah ketemu sama sekali?
Love you guys~