Chapter 15

746 Words
"Sial!" Geram Warren. Lagi-lagi usahanya untuk mendekati Macy kali ini gagal. Padahal ia telah membatalkan semua jadwalnya selama tiga hari hanya untuk mendekati Macy. Ia tahu kalau mendekati Macy akan sulit selama ia bersama Will. Siapa yang tidak mengenal Will Carbert? Pria yang masuk ke dalam jajaran pria terkaya se-Asia. Tapi selama Warren menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus menjadi miliknya. Apapun caranya, ia harus mendapatkan Macy. "Tunggu saja, ini baru permulaan" Desis Warren. Disisi lain, Will dan Macy telah berada di dalam pesawat. Macy hanya diam di tempatnya yang duduk disamping Will hingga pesawat take off. Seorang pramugari datang menghampiri mereka menawarkan sesuatu, namun ditolak oleh Will. Pramugari itu kemudian pergi setelah membungkuk. "Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Will sembari mengusap kepala Macy membuat Macy tersentak dari lamunannya. "Tidak ada" Jawab Macy berbohong sembari tersenyum. Lebih tepatnya senyum yang dipaksakan. Namun, Will jelas tahu kalau Macy tengah memikirkan perihal mereka bertemu dengan Warren tadi. "Ceritakan saja apa yang mengganggu pikiranmu. Aku tak suka kalau kamu memikirkan hal lain selama bersamaku" Bujuk Will. "Jadi kamu cemburu ya sama otakku?" Goda Macy. "Otakmu?" Tanya Will, ia tak mengerti. Kenapa pembicaraan mereka jadi terhubung ke otak? "Iya otakku. Kamu bilang kamu tak suka kalau aku memikirkan hal lain selama bersamamu. Karena otakku yang membuatku berpikir itu artinya kamu cemburu pada otakku" Jelas Macy membuat Will terkekeh geli mendengar penjelasan Macy yang menurutnya polos itu. "Kenapa kamu bisa jadi sepolos ini?" Tanya Will sembari mencubit pipi Macy. "Aku tidak polos, aku sudah dewasa. Buktinya kita su..." Ucapan Macy berhenti ketika ia menyadari apa yang akan ia katakan selanjutnya. Will yang juga menyadarinya pun memasang senyum miringnya, apalagi ketika ia melihat wajah Macy yang merona akibat ulahnya sendiri. "Kita apa? Kenapa tidak melanjutkan ucapanmu?" Kini giliran Will yang menggoda Macy membuat wanita itu semakin merona hingga wajahnya sekarang merah padam layaknya kepiting rebus. Will yang melihatnya hanya terkekeh geli kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Macy. "Kamu ingin mengatakan kalau kita sudah pernah berciuman? Atau tidur bersama? Atau hampir melakukan s*x?" Goda Will yang membuat Macy menegang. Sadar telah digoda, Macy segera memukul bahu Will. "Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu secara terang-terangan? Kita bahkan belum pernah melakukan tahap akhirnya" Bisik Macy, takut ada orang mendengar percakapan senonoh mereka. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Will mengatakan s*x semudah ia membalikkan telapak tangannya? Mereka bahkan belum sampai ke tahap itu. "Belum? Jadi kamu berharap kita melakukan tahap akhirnya?" Goda Will lagi. Macy yang baru menyadari apa yang diucapkannya tadi setelah mendengar ucapan Will segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia malu, sangat malu. Sedangkan Will semakin tergelak melihat tingkah Macy, namun ia segera mengendalikan dirinya dan segera memasang tatapan lembutnya yang hanya ia tunjukkan kepada wanita yang dicintainya. Perlahan tangannya membuka kedua telapak Macy yang memperlihatkan wajah yang merah padam. Will menatap Macy dengan tatapan lembutnya. "Kamu tidak perlu malu kalau kita membahas hal seperti. Lagipula seperti yang kamu katakan tadi, kamu sudah dewasa dan kita juga pernah hampir melakukan itu. Tidak ada yang salah dengan itu, dipelajaran biologi pun juga membahas tentang s*x" Ucap Will masih dengan tatapan lembutnya sembari memegang kedua tangan Macy. "Bahkan sekalipun kamu menginginkannya sekarang, aku tak akan melakukannya. No s*x before marriage, right? Dan aku tak mungkin melanggar prinsip yang telah kamu jaga selama ini. Lagipula pernikahan kita tinggal tiga minggu lagi" Lanjutnya. Macy tersenyum mendengar setiap penuturan Will. Ia bersyukur, Will selalu mengingat dan mau menghargai prinsipnya itu. Ia merasa sangat beruntung memiliki Will. Macy lalu memeluk Will meski harus sedikit bangkit dari tempat duduknya. "Aku beruntung memilikimu" Ucap Macy. "Tidak, aku yang beruntung memilikimu" Ucap Will. "Tidak, aku yang beruntung memilikimu" Ujar Macy. "Tidak, aku yang beruntung memilikimu" Ucap Will. "Tidak, aku yang beruntung memilikimu"Ucap Macy. "Tidak, aku yang beruntung memilikimu" Bantah Will. "Baiklah, kamu yang beruntung memiliki gadis perawan sepertiku" Canda Macy mengalah membuat Will terkekeh. "Gadis perawan yang telah dewasa tapi otaknya masih polos" Ucap Will sembari mengangkat tubuh Macy dan mendudukkannya di atas pangkuannya, membuat Macy terkejut. "Apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau ada yang melihat?" Bisik Macy. Saat ingin kembali ke kursinya, Will segera menahannya. "Tidak apa, lagipula siapa yang akan melihat? Hanya ada kita di sini. Kalaupun ada yang melihat kita, memangnya kenapa? Aku melakukannya dengan calon istriku" Jelas Will sembari meletakkan kepala Macy di dadanya kemudian memeluk wanitanya. Sementara Macy hanya bisa diam mengikuti pergerakan Will sembari melingkarkan lengannya pada tubuh will. Jauh dilubuk hatinya, ia sangat menyukai posisi mereka saat ini. Ia juga merutuki dirinya yang mudah sekali tersipu akibat berbagai macam panggilan Will untuknya. Mulai dari Princess, tunangan, hingga calon istri. Hanya dengan panggilan-panggilan itu, ia merasa seperti melayang di langit. ------- Ada yang mau ngasih Warren semangat? >_< Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD