Sore itu, langit mulai berubah warna. Jingga pelan merambat di antara gedung-gedung tinggi. Rainer berjalan keluar dari lift privat menuju tangga darurat.
Langkahnya tenang. Satu tangan memegang kotak rokok.
Tak lama kemudian, pintu atap didorong, dan angin langsung menyambut. Ia melangkah keluar, menarik napas panjang.
“Sepi,” gumamnya pelan, ia mengambil satu batang rokok.
Menyelipkannya di bibir, belum sempat menyalakan, ia mendengar suara aneh.
“Uh—”
Rainer langsung berhenti, ia sedikit menoleh.
“Uh, ahh.”
Suara muntah.
Rainer menautkan alisnya dan langkahnya berubah arah mengikuti suara muntah itu.
Dan, di sudut atap kantor, Lyo berjongkok di dekat pagar pembatas, tangannya mencengkeram besi dengan tubuhnya gemetar.
“Uh—”
Rainer berhenti beberapa langkah di belakang Lyo dengan ekspresi yang berubah.
“Kamu lagi?”
Suara itu membuat Lyo langsung tersentak, ia menoleh cepat dan matanya membesar.
“P-Pak,” suaranya gemetar.
Sebenarnya, Rainer sudah mencari Lyo malam itu, namun ia tidak menemukan tentang gadis itu karena ia berasal dari desa, ketika melihat Lyo masuk ke hotel sebagai OG, Rainer senang, namun ia tidak tahu mau melakukan apa pada gadis itu. Ia tidak mungkin mengakui dirinya bahwa ia adalah pria malam itu.
Lyo langsung berdiri buru-buru. Namun, tubuhnya goyah,
Rainer melangkah maju untuk menahan Lyo jika terjatuh, anehnya itu refleks, untungnya Lyo tidak jatuh dan hanya memperbaiki rambutnya.
Lyo langsung menunduk. “Maaf, Pak. Saya—"
“Saya tidak bertanya.”
Lyo menelan ludah dan tangannya masih gemetar, ia ketahuan bosnya dan ia tidak tahu apakah yang ada dipikiran Rainer.
“Kamu kenapa?” tanya Rainer, tiba-tiba, padahal di detik sebelumnya ia mengatakan tak bertanya.
“Masuk angin, Pak,” jawab Lyo cepat.
Rainer menatap Lyo cukup lama.
“Masuk angin?” ulangnya pelan.
“Iya, Pak, tadi belum makan,” lanjut Lyo sambil menghindari tatapan.
“Dari pagi?”
Lyo mengangguk cepat. “Iya, Pak. Di bawah juga muntah.”
“Di toilet,” lanjut Rainer.
Lyo menunduk lebih dalam.
“Iya, Pak.”
Angin berhembus pelan.
“Saya permisi, Pak, maaf jika saya merusak hari Bapak,” ujar Lyo hendak melangkah meninggalkan Rainer.
“Tunggu!”
Lyo langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh menatap bosnya.
“Kamu tetap di sini,” ujar Rainer.
“Untuk?”
“Tetap di sini saja.” Rainer menekan.
Lyo menganggukkan kepala.
Rainer lalu meraih ponselnya dari saku celananya dan mengirim pesan pada Roy.
“Tunggu di sini,” kata Rainer.
Lyo hanya menganggukkan kepala, ia tidak bisa menolak, karena yang meminta adalah bosnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Roy datang ke atap dan menghampiri bosnya yang kini duduk berdampingan dengan Lyo di kursi dekat pembatas ada mejanya juga, namun di sana tetap teduh.
“Ini, Pak,” ujar Roy.
“Taruh dan kamu lanjutkan pekerjaan.”
Roy mengangguk, ia membawa dua kotak makanan dan menaruhnya ditengah Rainer dan Lyo. Roy lalu pergi dan sesaat berbalik melihat keduanya, Roy sempat tersenyum, karena bosnya terlihat khawatir.
“Makan,” ujar Rainer.
“Nggak usah, Pak, bapak saja yang makan, saya akan menemani.”
“Saya bilang makan ya makan! Saya tidak menyuruhmu untuk menemani saya.”
“Tapi—”
“Makan bersama saya.” Rainer melanjutkan membuat Lyo bingung, petugas kebersihan di hotel ini makan dengan General Manager? Tidak masuk akal sekali.
“Kenapa diam?”
“Saya hanya … petugas kebersihan, Pak.” Lyo menundukkan kepala.
“Ya tentu saja, siapa yang bilang kamu petugas keamanan?” geleng Rainer.
Lyo mengelus leher belakangnya.
“Kamu tidak mau makan?” tanya Rainer.
“Makan, Pak,” angguk Lyo lalu membuka kotak makan yang isinya ayam, daging, dan sayur-sayuran mahal, anehnya Lyo tidak mual mencium aromanya.
Lyo tersenyum dan langsung mencicipinya satu suap, ia langsung lahap, sementara Rainer juga makan didepannya dan mereka duduk berhadapan, Rainer menautkan alisnya dan menggelengkan kepala, karena Lyo terlihat seperti baru melihat makanan didepannya itu.
“Kerja kamu terganggu, karena kamu mual-mual?” tanya Rainer.
“Nggak, Pak!” jawab Lyo cepat.
“Yakin?”
“Iya, Pak, aman kok. Saya masih bisa kerja,” jawab Lyo lagi.
“Kalau kamu tumbang di sini, bagaimana?” tanyanya pelan.
Lyo langsung menggeleng. “Nggak akan, Pak. Saya nggak akan tumbang.”
“Ya sudah. Asal tidak terganggu, kamu tetap bisa bekerja, dan kalau waktunya jam makan siang ya harus makan siang. Tidak usah bekerja.”
Rainer menatapnya, tatapannya tidak biasa, entah bagaimana perasaannya saat ini, entah karena perduli atau hanya karena rasa ibah.
“Saya butuh kerja ini, Pak,” ujar Lyo menundukkan kepala dan mulutnya masih mengunyah.
“Kenapa?”
Lyo menggigit bibirnya. “Saya—"
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Pokoknya saya nggak bisa kehilangan pekerjaan ini,” ujar Lyo lagi.
Setiap gerakannya, Rainer memperhatikan tanpa sadar, tangan Lyo menyentuh perutnya sekilas, dan Rainer menyadari itu.
“Kamu sakit?” tanya Rainer.
“Tidak, Pak!” Lyo langsung menggeleng cepat.
“Jangan bohong. Kamu tidak perlu bohong,” lanjut Rainer.
“Saya nggak bohong, Pak,” suaranya melemah.
“Kalau kamu sakit, kamu bisa izin.”
Lyo langsung menggeleng. “Saya baru beberapa hari bekerja, Pak, saya tidak boleh izin. Jika izin gaji saya mungkin akan di potong. Saya tidak mau malas-malasan, saya juga tidak apa-apa, kesehatan saya baik, Pak.”
“Oke terserah kamu, saya hanya tidak mau ada yang pingsan atau tumbang di hotel saya,” ujar Rainer membuat Lyo menundukkan kepala.
Lyo kembali makan makanan didepannya, ia baru saja merasakan makanan ini, entah sejak kapan ia terakhir kali makan enak.
Karena di kost Mala, hanya tersedia mie instan dan telur, hanya itu yang bisa ia makan, ia tidak mungkin minta apa yang Mala makan, karena itu akan semakin merepotkan Mala.
“Kalau sudah makan, lanjut kerja,” kata Rainer akhirnya.
Lyo langsung mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
Kebetulan sekali makanan Lyo sudah habis, jadi ia bisa pergi dari sini.
“Terima kasih atas makananya, Pak,” ucap Lyo.
“Ya sama-sama.”
Lyo hendak lalu melangkah pergi meninggalkan Rainer.
“Lyo!”
Langkahnya langsung berhenti, Lyo menoleh.
“Iya, Pak?”
Rainer menatapnya lurus. “Mulai besok, setiap jam makan siang, kamu makan siang di sini bersama saya.”
“Nggak usah, Pak, saya bisa makan sendiri, saya biasa bawa bekal. Tapi, tadi saya tidak bawa karena takut terlambat.”
“Ya sudah terserah kamu,” geleng Rainer karena Lyo selalu saja membuatnya pusing.
Lyo benar-benar pergi dan pintu atap akhirnya tertutup.
Rainer masih berdiri di sana, rokok di tangannya belum juga dinyalakan.
Setelah menghabiskan satu batang, ia pun segera kembali ke ruangannya, ia menoleh sesaat melihat Lyo yang sedang me lap meja pantry staf. Entah mengapa, hati Rainer terluka melihatnya.
“Roy.”
“Iya, Pak.” Roy masuk sambil membawa tablet.
“Duduk,” kata Rainer singkat.
Roy langsung duduk sesuai perintah.
“Ada perkembangan?” tanya Rainer.
“Sedikit, Pak,” jawab Roy.
Rainer menatapnya.
“Jangan hanya sedikit, saya butuh yang jelas,” katanya dingin.
Roy mengangguk cepat. “Iya, Pak.”
“Saya juga mau kamu cari tahu satu hal,” lanjut Rainer.
“Apa, Pak?”
Rainer menyandarkan tubuhnya.
“Cari tahu malam itu, siapa yang membuatnya masuk kamar saya, dan siapa yang jebak dia, saya mau tahu setiap detail, tentang kehidupannya juga dan selama ini dia tinggal dimana.”
Roy langsung fokus. “Baik, Pak.”
“Saya mau tahu, siapa yang menjebak saya, dan menjebak gadis itu, siapatahu saja rekan bisnis yang melakukan itu, dia masih cukup muda, saya tidak mungkin tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.”
“Tapi, dia tidak mengingat Bapak.”
“Tapi suatu saat dia pasti akan mengingatnya, lalu apa yang harus saya lakukan? Jadi, sebelum dia tahu saya, kamu cari tahu semuanya.”
“Baik, Pak. Sesuai perintah, ini akan lebih mudah karena Lyodra sudah ada di hotel ini, jadi kita bisa melacaknya.” Roy menjawab dengan yakin.
“Dan saya mau, mulai besok, semua petugas kebersihan makan di kantin yang sama dengan para karyawan. Mereka tidak boleh melewatkan makan siang juga.”
“Pak, itu akan jadi boomerang, karena bagi sebagian besar, petugas kebersihan adalah orang yang kotor.”
“Beritahu saja petugas dapur, ini sudah menjadi keputusan saya, jika ada yang melawan, bisa keluar dari hotel ini juga. Saya tidak mau membeda-bedakan seseorang, karena mereka sama-sama karyawan, hotel kita bersih karena mereka juga.”
Roy mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan langsung proses aturan barunya.”
Semua ini karena ia ibah melihat Lyo yang belum makan siang walau siang sudah menunjukkan pukul 2, itu sudah lewat jam makan siang, dan itu melukainya juga, seorang karyawan yang menjaga kebersihan hotel ini, harus menahan lapar karena tugas dan harus menahan lapar karena tak punya uang.
“Oh iya satu lagi, kalau ini jebakan, temukan pelakunya.” Rainer melanjutkan.
“Baik, Pak. Akan saya laksanakan.” Roy bangkit dari duduknya.
“Jangan sampai dia tahu.”
“Oke, Pak.” Roy lalu meninggalkan ruang bosnya dan menutup pintu.
Sepeninggalan Roy, Rainer menyandarkan bahunya di kursi kerjanya.
“Lyodra,” gumamnya pelan. “Siapa yang kirim kamu ke kamar saya, sebenarnya?”
Sementara itu, di lantai bawah, Lyo berjalan pelan di lorong, tangannya masih memegang perutnya.
“Aku harus kuat, jadi mohon kerja samanya, Nak,” ucap Lyo, menghentikan langkahnya sebentar.
Air matanya hampir jatuh, hidupnya benar-benar hancur sekarang, di grup teman-teman randomnya, dimana di dalamnya ada Danial, selalu bercerita tentang malam itu, membuat Lyo ingat semuanya, dan anehnya Mala tak pernah membelanya, ia hanya masuk mengirim emot ketawa dan menghilang.