Claudia POV
Aku sedang membaca buku hukum di selku ketika kurasakan sesuatu yang hangat merembet di kakiku.
Awalnya aku berpikir aku hanya terlalu lama duduk. Tapi detik berikutnya, rasa hangat itu berubah menjadi basah yang tidak bisa disangkal. Aku menunduk. Air bening mengalir di sela kakiku, menetes ke lantai sel yang dingin.
Dadaku berdegup kencang.
“Tidak… tidak sekarang…”
Aku bangkit dari tempat tidur dengan napas terengah. Perutku menegang, nyeri datang tiba-tiba, tajam, membuat kakiku gemetar.
“Sipir Tolong... Tolong !” teriakku panik.
“Sipir! Air ketubanku pecah!”
Suaraku menggema di Lorong tapi sel ini terlalu jauh dari ruang penjaga. Suaraku terlalu lirih. Terlalu sendirian, sampai tidak ada yang bisa mendengarnya
Aku memukul jeruji dengan telapak tanganku. Sakit. Tapi tidak sepahit ketakutan yang merayap di dadaku. Aku akan melahirkan… di sini… sendirian.
Tiba-tiba terdengar suara pukulan keras dari sel sebelah.
Prang! Prang ! Prang!
Tetangga selku memukul gelas ke jeruji, sekuat tenaga. Suara itu memancing sel-sel lain. Satu per satu, jeruji dipukul kencang, digedor.
Suara berisik memenuhi seluruh lorong penjara.
Aku menahan tangis.
Terima kasih Tuhan…
Mereka mungkin berhati dingin… mungkin bukan orang baik… tapi di saat genting seperti ini, merekalah yang masih punya hati nurani.
Menit berlalu.Lima menit.Tidak ada siapa-siapa.
Perutku kembali berkontraksi. Aku terjatuh berlutut, menahan nyeri.
Sepuluh menit.
Ke mana semua penjaga itu?
Saat aku hampir kehilangan kesadaran, terdengar bunyi kunci beradu. Pintu selku terbuka. Wajah Madam Friska muncul di
hadapanku.
“Ketubanmu pecah,” katanya singkat. “Penjaga sedang ganti shift. Tidak ada yang buka pintu.”
Ia meraih lenganku.
“Ayo. Kamu ku bantu keluar menuju ruang dokter"
“Terima kasih… terima kasih…” ucapku terbata.
Aku bangkit. Setiap langkah terasa seperti pisau menusuk dari dalam. Air ketuban mengalir tanpa henti, membasahi kakiku, meninggalkan jejak panjang di lantai lorong sel penjara wanita ini.
Di sepanjang jalan, suara-suara terdengar.
“Ayo… kamu bisa, Claudia.”
“Tarik napas… kamu kuat.”
Aku tidak tahu wajah siapa yang berkata itu. Aku hanya mendengar suara manusia… suara yang mengingatkanku bahwa aku tidak sepenuhnya sendirian. Masih ada mereka
Di pintu utama bangsal, Madam Friska menggedor keras.
“WOI!” teriaknya kasar. “Ketubannya sudah pecah! Kalian ganti shift lamanya kayak Miss Universe lagi dandan ! Ke mana semua orang?!”
Lima belas menit kemudian, pintu otomatis akhirnya terbuka.
Madam Friska menoleh padaku.
“Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke ruang dokter. Itu bisa jadi masalah besar buatku.”
Ia menghela napas.“Punya kunci sel saja aku sudah melanggar peraturan dan aku tidak mau sipir yang memberikanku kunci ini dipecat.”
Aku mengangguk lemah.
“Aku mengerti… Terima kasih. Bantuan ini saja sudah lebih dari cukup.”
Pintu tertutup di belakangku. Saat aku menoleh, kulihat Madam Friska melambaikan tangan, gerakan kecil, tapi penuh arti.
Sejak hari dimana ia menawariku balas dendam dan aku menolaknya, ia tidak pernah lagi membahas masalah itu. Mungkin dia sudah menemukan orang lain yang bisa diajaknya bekerja sama untuk membalas dendam pada Santiago itu. Aku juga belum tahu mengapa Madam Friska ingin membalas dendam pada mafia yang berkuasa itu? Mungkin mereka yang menyebabkannya di penjara. Tapi semua pikiran itu harus menunggu, menunggu kalau aku bisa selamat hari ini.
Aku mulai berjalan perlahan, kakiku seperti diseret agar aku maju. " Ayo.. Claudia. Kamu harus bisa " Aku menguatkan diriku sendiri menyusuri lorong menuju ruang dokter terasa tak berujung. Setiap langkah adalah perjuangan. Setiap tarikan napas adalah perlawanan terhadap rasa sakit.
Aku harus kuat…
Aku harus kuat untuk anakku
.
Seorang perawat keluar dari ruang perawatan dan terkejut melihatku.
“Claudia? Kamu mau melahirkan?”Matanya langsung tertuju pada kakiku. “Ketubanmu pecah!”
Ia segera membantuku masuk.
Dan semuanya berubah menjadi kabur ketika badanku menyentuh tempat tidur ruang perawatan itu,Rasa sakit datang seperti gelombang.Satu demi satu.Tak memberi jeda.
“Push… push…!”
“AUGH—!”
Jeritanku memantul di dinding ruangan. Tanganku mencengkeram seprai. Keringat bercampur air mata membasahi wajah dan leherku. Tubuhku terasa seperti terbelah dua.Aku hampir menyerah.
Hampir. Lalu…..
Tangisan lantang terdengar.
Suara kecil … tapi kuat.
Tangisan seorang bayi lelaki yang lahir ke dunia ini…di dalam penjara…dari rahim seorang ibu yang hancur lebur tapi tetap berjuang menghadirkan kehidupan.
“Selamat, Claudia,” kata perawat.
“Kamu melahirkan seorang anak lelaki yang sehat.”
Dadaku bergetar. Aku ingin melihatnya. Ingin mencium kepalanya. Ingin berkata bahwa aku mencintainya.
Tapi sebelum bayi itu diletakkan di dadaku….
Pintu terbuka keras.
Kepala penjara masuk dengan langkah tergesa
Tatapannya dingin.
“Anakmu akan diadopsi,” katanya tanpa emosi.
“Ada orang kaya yang menginginkannya.”
Dunia berhenti.
“Kalau kamu bersedia,” lanjutnya, “hukumanmu akan dikurangi menjadi lima tahun.”
“Tidak…” suaraku pecah.
“Aku tidak mau. Aku akan merawatnya sendiri.”
“Kamu tidak punya pilihan Narapidana kasus pembunuhan tidak boleh memelihara anaknya di penjara.”
“Tapi… Aidan bilang…”
“Itu peraturan dulu. Sekarang ada peraturan baru yang baru disahkan oleh mentri kehakiman. Peraturan telah berubah"
Ia mendekat “Saran saya, ambil penawaran ini. Anakmu akan hidup enak. Disayang. Kalau tidak….dia masuk panti asuhan, dan kamu tidak dapat pengurangan hukuman dan tetap akan menjalani hy=ukuman dipenjara 10 tahun, sesuai keputusan pengadilan"
Aku gemetar.
“Orang itu sudah menunggu di ruanganku,” katanya tegas.
“Siapa dia?” tanyaku dengan suara bergetar.“Siapa yang akan mengadopsi anakku?”
“Rahasia. Dia tidak ingin kamu mencari anakmu nanti. Dia tidak ingin kalian ada hubungan apapun di kemudian hari. Kamu harus melepas semua hak mu atas anak ini tapi kamu tidak usah khawatir karena anakmu akan diperlakukan seperti pangeran.”
Perutku masih sakit. Hatiku lebih sakit lagi.
Aku terjebak. Tidak ada jalan keluar. Kalau aku berikan anak ini untuk adopsi tentu dia tidak akan menderita, hidup di penjara. Tapi dia masih bayi.. dia masih perlu aku untuk hidupnya. Aku harus bisa memberinya Asiku .
Tapi peraturan baru itu tetap membuatku harus terpisah dengan anakku. Apa yang harus aku lakukan? Air mataku mengalir.
“Jangan pikir kelamaan. Ayo..ini jalan terbaik buat kamu dan anakmu. Kalau kamu setuju,” katanya sambil menyodorkan kertas,
“tanda tangan lembar ini”
Tanganku gemetar saat mengambil pena.
“Maafkan mama, sayang…” bisikku sambil menangis “Maafkan mama… maafkan mama… Mama tidak bisa merawatmu, mama harus melepaskanmu. Mama tidak ada pilihan lain. ”
Air mataku jatuh, membasahi kertas itu, bercampur tinta saat aku menandatangani surat yang merenggut anakku dari pelukanku.
Dan saat pena itu terangkat….aku tahu…sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya.