Mysterius

1159 Words
Claudia POV  Keesokan harinya, pada jam kunjungan, Aidan datang menemuiku di penjara. Aku sudah mengharapkan kedatangannya sejak pagi , karena dia uda berjanji untuk datang hari ini. Entah kenapa, ada rasa hangat kecil yang menyelinap di dadaku rasa yang tidak aku rasakan sejak hidupku runtuh. Aidan memang pengacaraku, tapi selama berbulan-bulan persidangan, kehadirannya membuatku lebih ringan karena tidak merasa sendirian. Aku merasa dia orang yang sangat tulus karena ia satu-satunya orang yang menemaniku bukan saat aku berada di puncak hidup, tapi justru saat aku jatuh ke titik paling rendah. Saat aku tidak punya apa-apa lagi. Dan itu membuatku tahu, Aidan adalah teman yang sesungguhnya. Kami tidak bertemu di ruang kunjungan biasa, yang memisahkan napi dan pengunjung dengan kaca tebal dan telepon dingin. Sebagai pengacaraku, Aidan berhak menemuiku di ruang konsultasi ruangan kecil yang sunyi, tanpa jeruji, tanpa suara pengawasan yang menekan. Saat aku masuk, Aidan sudah berdiri. Brewok tipis menghiasi rahangnya. Matanya seperti biasa teduh dan hangat Tidak menilai. Tidak menghakimi. Hanya… melihatku sebagai Claudia. “Claudia…” sapanya sambil tersenyum kecil. “Gimana dua hari ini di penjara? Are you okay?” Aku mendekat dan mengangguk. “I’m okay, Aidan.” Aku tidak benar-benar tahu kenapa aku mengatakan itu. Mungkin karena aku tidak ingin membuatnya khawatir. Mungkin karena aku sudah terlalu sering terlihat lemah. Tapi tiba-tiba, tanpa aba-aba, Aidan melangkah maju dan memelukku. Pelukan itu erat, hangat dan terasa aman Aku terpana. Ini adalah gerakan paling intim yang pernah Aidan lakukan padaku. Selama persidangan, ia selalu menjaga jarak. Profesional. Rapi. Seolah ada garis tak kasat mata yang tidak pernah ia lewati. Tapi mungkin karena sidang sudah berakhir… atau mungkin karena ia tahu betapa rapuhnya aku saat ini dan aku butuh pelukan itu untuk menguatkan diriku. Saat ia melepaskan pelukannya, wajahnya tampak penuh penyesalan. “Maafkan aku, Clau,” katanya pelan. “Aku tidak cukup baik. Aku tidak bisa membelamu dengan pasal pembelaan diri, pasal itu seharusnya bisa membuatmu bebas dari hukuman kamu tidak harus dihukum sepuluh tahun.” Dadaku terasa sesak mendengarnya. “Tapi aku janji,” lanjutnya cepat, “aku tidak akan berhenti mencari bukti baru. Aku akan mengajukan banding. Apa pun caranya.” Aku tersenyum tipis. “Jangan minta maaf, Aidan,” kataku. “Aku tahu kamu sudah berusaha keras. Tapi yang kita lawan itu orang -orang jahat” Aku menarik kursi dan duduk, lalu berkata lebih pelan, “Bella pasti sudah menghapus semua bukti. Karyawan di Gedung Carlson juga pasti takut bersaksi. Mereka punya keluarga. Mereka butuh pekerjaan.” Aidan mengangguk pelan. “Iya… tidak ada yang berani buka mulut. Semua pintu masih tertutup.” Ia menghela napas. “Aku minta maaf.” “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” jawabku. “Aku tahu kamu akan tetap berusaha.” Ia menatapku lama, lalu berkata dengan hati-hati, “Hanya saja…saat ini karena tidak ada bukti baru, kamu tetap harus melahirkan di dalam penjara. Padahal aku berharap sebelum dua tahun, saat anakmu harus keluar dari sini, aku sudah menemukan bukti baru. Biar kamu dan anakmu bisa keluar bersamaan.” Dadaku terasa perih. Aku tidak takut dengan diriku sendiri. Aku pasti bisa bertahan dipenjara sepuluh tahun di sini. Aku bisa menahan hinaan, rasa sepi, dan tembok dingin ini. Tapi anakku… Ketakutan itu menghantamku tiba-tiba. Air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan. Anak yang tidak bersalah. Anak yang lahir dari luka dan pengkhianatan. Anak yang mungkin harus hidup terpisah dariku saat usianya belum genap dua tahun dan diserahkan pada sistem sosial, pada tangan orang asing yang tidak aku kenal. Bagaimana jika mereka jahat? Bagaimana jika mereka tidak mencintainya? Aidan bergerak mendekat. “Clau…” katanya lembut. “Seandainya sampai dua tahun nanti aku belum menemukan bukti baru… aku yang akan mengambil anakmu. Aku yang akan merawatnya.” Aku menatapnya, terkejut. “Kamu tidak perlu khawatir,” lanjutnya mantap. “Aku janji. Aku akan merawatnya sampai kamu keluar dari penjara." Dadaku bergetar. “Terima kasih, Aidan,” bisikku. “Terima kasih…” Aku mengusap air mataku. “Aku sudah tidak peduli dengan diriku sendiri. Tapi anakku… dia tidak pantas menanggung hukuman ini.Aku tidak ingin dia menderita. Dia tidak pantas dibesarkan di penjara." Aidan mengangguk. Lalu ia membungkuk dan membuka tasnya. “Ngomong-ngomong,” katanya, mengalihkan suasana, “aku bawain kamu sesuatu.” Ia mengeluarkan beberapa buku tebal. “Buku hukum,” katanya. “Belajarlah. Kamu punya banyak waktu di sini. Sayang kalau ilmu hukummu saat kuliah tidak dipakai. Kamu bisa ujian pengacara, setelah keluar dari penjara. Ingat kan aku pernah menawarimu kerja di kantorku?" “Hah?” aku tertawa kecil. “Aku ujian pengacara?” Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat. “Aidan, aku memang kuliah hukum… tapi jujur saja, dulu aku kuliah cuma untuk menyenangkan ayahku. Aku masuk fakultas itu bukan karena aku pintar seperti Michelle Obama, tapi karena ayahku adalah donator yang menyumbang sangat besar untuk kampus kami.” Aku tersenyum malu. “Aku kuliah asal lulus. Aku… tidak sepintar itu jadi mana mungkin aku bisa lulus ujian pengacara” Aidan tersenyum “Yang lalu biarkan berlalu,” katanya tegas tapi hangat. “Dulu kamu memang ogah-ogahan. Tapi sekarang kamu tidak punya apa-apa lagi selain dirimu sendiri. Jadi kamu harus berjuang, kamu harus berusaha agar bisa lulus ujian pengacara.” Ia mendorong buku-buku itu ke arahku. “Itu tugasmu dariku. Baca. Belajar.” Hatiku tersentuh. “Baiklah, Pak Motivator,” kataku sambil tersenyum. “Aku akan belajar.” “Nah gitu dong,” katanya ringan. “Sekalian simulasi buat anakmu. Siapa tahu nanti jadi presiden Amerika.” Aku tertawa. “Hahaha. Mana mungkin anak yang lahir di penjara jadi presiden Amerika.” Aku meringis “Dia bisa jadi orang baik dan berguna untuk dirinya sendiri saja aku sudah bersyukur. Jangan mengulang kesalahan dan kebodohan ibunya.” Aidan menatapku serius. “Jangan bilang kamu tidak berguna, Claudia.” Nada suaranya membuatku terdiam. “Kamu masih punya waktu,” lanjutnya. “Waktu untuk membuktikan kalau hidupmu ke depan akan berguna. Kita jalankan tugas kita masing-masing. Kamu belajar. Aku cari bukti. Dan suatu hari nanti, saat kamu keluar dari sini, aku harap kamu jadi Claudia yang baru yang bisa angkat kepalamu tinggi dan membuat bangga anakmu.” Aku mengangguk pelan. “Terima kasih, Aidan.” Kami masih berbincang beberapa saat. Sampai tiba-tiba bayangan wanita misterius itu muncul di kepalaku. Aku menceritakan semuanya pada Aidan. Tentang tawaran balas dendam. Tentang Dominic Santiago. Tentang kekuasaan yang menakutkan. Aidan mengerutkan kening. “Siapa dia?” tanyanya. “Kenapa dia bisa begitu berkuasa?” “Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Tapi tadi saat makan, aku melihat sipir penjara menyapanya dengan sangat hormat.” “ Menyapanya dengan ??” “Madam Friska.” Aidan terdiam. “Tidak ada nama belakang?” Aku menggeleng. Ia mengulang nama itu pelan , berulang seperti mantra. “Madam Friska… Madam Friska…” Kami saling berpandangan. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk penjara, sisi hatiku yang terdalam mengingatkanku kalau ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bergerak di sekitarku. Sesuatu yang belum aku pahami dan mungkin… akan mengubah hidupku selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD