Melihat Claudia terdiam terlalu lama, wanita misterius itu menoleh. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus lapisan terluar hati Claudia yang di dalamnya penuh gejolak.
“Mau tidak kamu membalas dendam pada your so-called bestie orang yang kamu anggap teman, tapi justru mengkhianatimu?” ucapnya pelan namun tegas “Dan merebut kembali semua yang pernah menjadi milikmu dari Klan Santiago, yang kini dipimpin oleh Dominic Santiago.”
Pertanyaan. itu terasa berat dan menghimpit hati Claudia, dia dilematis.
Claudia menunduk. Jarinya meremas kain baju warna orange di perutnya, merasakan gerakan kecil dari dalam rahimnya,seolah bayinya ikut merasakan kegelisahan ibunya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengangkat kepala.
“Apakah mungkin… Apakah mungkin orang seperti diriku melawan mereka? Apakah bisa aku membalas dendam?” suaranya nyaris lirih, rapuh. “Aku sudah kehilangan segalanya. Uang. Harta. Bahkan harga diriku.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Selama ini aku terlalu dibutakan, aku terlalu percaya. ” lanjutnya dengan suara bergetar. “Aku pikir hati orang-orang di sekelilingku seputih hatiku. Aku tidak pernah menyangka mereka berhati kelam… sampai sanggup mengkhianatiku dengan begitu kejam.”
Ia mengusap pipinya menghapus air matanya, supaya tidak terkesan lemah, tapi air mata itu tidak mau berkompromi, dia terus mengalir tanpa henti.
“Aku tidak tahu caranya membalas dendam pada Bella. Aku juga tidak tahu bagaimana merebut kembali milikku dari Dominic Santiago,” ucapnya lirih. “Aidan, pengacaraku bilang, Klan Santiago adalah orang yang sangat berkuasa dan berbahaya. Makanya semua hartaku bisa dialihkan ke tangannya meskipun aku tidak pernah menandatangani apa pun.”
Suaranya semakin pelan, hampir tenggelam oleh angin yang berembus di lapangan.
“Pasti Roy dan Bella sudah tahu itu ” bisiknya. “Mereka tahu kekuasaan Dominic Santiago bisa menghalalkan segala cara, sehingga membuat nama gedung ayahku berubah menjadi miliknya tanpa setitik pun aku menandatangani dokumen jual beli.”
Wanita misterius itu memandang Claudia lama, tanpa simpati berlebihan, tanpa empati palsu.
“Ya,” katanya akhirnya. “ Dominic Santiago memang bisa melakukan hal seperti itu."
Mereka kembali berjalan perlahan. “Klan Santiago itu mafia. Mereka uda tujuh turunan menguasai Las Vegas, Kekuasaan mereka bertambah besar, sejak dipimpin ayah Dominic, Sekarang ayahnya sudah meninggal dan kepemimpian di pegang oleh Dominic, yang sama berkuasanya dengan ayahnay. Semua orang takut padanya. Dia bisa membuat yang tidak ada menjadi ada, dan yang ada menjadi tidak pernah ada.” Nada suaranya datar, seolah sedang menceritakan cuaca. “Jadi wajar jika suamimu itu menjual semua milikmu padanya. Kalau pengusaha benaran, mana berani menerima jual beli tanpa tanda tangan pemilik sesungguhnya. Dominic itu tidak butuh tanda tanganmu untuk menjadikan semua milikmu menjadi miliknya”
Claudia menelan ludah.
“Kenapa Anda tahu semua itu?” tanyanya hati-hati. “Dan… kenapa kamu mau membantuku?”
Kini Claudia tidak bisa lagi menjadi wanita polos seperti dulu. Ia sudah belajar betapa sakit hatinya dikhianati oleh orang karena terlalu percaya dan baik hati. Ia tidak boleh lagi terlalu percaya begitu saja pada siapa pun apalagi di tempat seperti ini.
Wanita itu tertawa sinis.
“Aku tahu,” katanya. “Itu pasti pertanyaan 'mengapa' yang kamu lontarkan pertama kali pada orang -orang. Dulu kamu pasti tidak akan pernah bertanya seperti itu… karena kamu percaya semua orang baik.”
Ia berhenti berjalan dan duduk di bangku ujung dekat lapangan. Gerakannya santai, tapi auranya tetap mengintimidasi.
“Aku bukan orang baik, Claudia ” lanjutnya. “Dan aku tidak menyalahkanmu untuk curiga.”
Ia menatap Claudia lurus-lurus.
“Aku ingin membantumu karena dengan kamu membalas dendam… aku juga membalaskan dendamku pada Klan Santiago.”Ia tersenyum tipis.“ Saat kamu membalas dendam ku , kamu bisa sekalian balas dendam pada Bella itu bonus untukmu.”
Claudia terpaku.
“Kenapa… kamu membutuhkan aku untuk balas dendam pada Dominic Santiago ? Kenapa kamu tidak balas dendam sendiri ?" tanyanya bingung. “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya wanita gemuk yang sedang hamil.” Ia tertawa kecil, pahit.“Bagaimana mungkin aku bisa membantu membalas dendammu pada Dominic… dan merebut kembali milikku?”
Wanita itu memandang Claudia dari atas ke bawah, matanya menyapu tanpa belas kasihan. Lalu ia mengernyit sedikit.
“Setelah kamu melahirkan,” katanya singkat, “kamu akan kubentuk ulang.”
Claudia mengangkat wajahnya.
“Kamu akan jadi Claudia yang baru,” lanjutnya ringan, seolah sedang membicarakan rencana belanja hariannya “Claudia yang siap merebut miliknya kembali. Yang penting kamu percaya diri… dan siap membalas dendam.”
Kata-kata itu melayang di udara, absurd, mustahil dan Claudia tidak berani membayangkan dirinya yang bisa berubah. Tidak mungkin dia yang bertubuh XXXL jadi wanita yang bertubuh sempurna?
“Bagaimana caranya?” tanya Claudia. Kepalanya terasa penuh.
“Aku tidak mengenal siapa-siapa. Hidupku dulu terlalu dimanjakan. Setelah lulus kuliah aku langsung menikah dengan Roy. Aku… aku tidak pernah benar-benar berjuang dalam hidupku.”
Ia menunduk.
“Dan Aidan bilang,” suaranya kembali melemah, “dia akan membantuku mendapatkan bukti agar aku bias keluar lebih cepat. Setelah itu aku bisa bekerja di kantornya. Aku akan hidup sederhana saja. Aku… aku tidak ingin balas dendam lagi. ”
Ia mengusap perutnya pelan.
“Aku hanya ingin hidup tenang dengan anakku.”
Itu kejujuran paling telanjang yang ia miliki saat ini. Ia lelah. Ia hancur. Setelah melewati persidangan panjang yang menghancurkannya, menghancurkan hatinya dan menghancurkan harga dirinya. Ia hanya ingin berhenti terluka.
Wanita misterius itu menatapnya lama, lalu mendengus.
“Huh.”
Tatapannya berubah merendahkan.
“Kamu memang tidak punya niat. Tidak punya kemauan, Harusnya kamu lebih kuat, tapi kamu langsung menyerah seperti ini. ” katanya dingin.
“Sepertinya aku salah menilai orang seperti kamu.”
Ia berdiri.
“ Kamu hanya wanita lemah.”
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi.
Claudia berdiri mematung, menatap punggung wanita itu menjauh. Dadanya terasa sesak. Bukan karena kata-kata itu menghina, melainkan karena ada bagian dari dirinya yang tahu… mungkin wanita itu benar kalau dia hanya wanita lemah.
Dalam hatinya, Claudia berbisik lirih.
Apakah benar aku hanya ingin hidup tenang?
Atau aku sudah pasrah dan menerima pengkhianatan Bella sebagai takdir?
Wajah Roy terlintas.
Tawa Bella.
Gedung ayahnya yang kini bukan lagi miliknya.
Apakah aku harus mengikuti saran Aidan… bekerja, hidup sederhana bersama anakku?
Atau aku harus mengikuti ajakan wanita misterius yang bahkan namanya pun tidak aku tahu… untuk membalas dendam?
.
Di dalam dadanya, dua suara bertarung.
Satu ingin hidup tenang dan damai.
Satu lagi… ingin balas dendam agar sakit hati terbayar.
Dan kini Claudia harus memilih keputusan mana yang akan diambilnya?