Jarak matakuliah kedua dan ketiga yang lumayan lama, membuat Keysha lebih memilih menghabiskan waktu di kantin. Tadi sih sama teman-temannya, tetapi mereka semua pisah. Ada yang panggilan rapat organisasi, ada juga yang ke toilet. Alhasil Keysha tinggal sendiri di kantin.
Karena bosan tidak ada kegiatan, Keysha memilih bermain game di ponselnya. Sedang asik main Keysha dikagetkan dengan kedatangan seseorang. Awalnya Keysha mengira yang datang adalah Jihan dan Aghnia, tetapi dugaannya salah. Yang kini duduk di samping adalah Derry.
“Sendirian aja, Key? Biasanya berlima,” celetuk Derry.
“Hah? Iya, tadi mereka ada kok. Tapi Jihan, Aghnia, mereka ke toilet. Kalau Tata sama Frishlly ada rapat, hehe.”
Mendengar jawaban itu Derry mengangguk-anggukan kepalanya. “Dan lo sendirian di sini? Kalau gue temanin boleh?”
Sejenak Keysha terdiam. Demi apapun jantungnya berdegup sangat kencang. Karena biasanya Keysha hanya bisa melihat Derry dari jauh dan itu cukup baginya. Keysha tidak menyangka akan bisa sedekat ini. Tapi … mau nolak harus pakai alasan apa?
Sedang asik berfikir mata Keysha tak sengaja menangkap sosok Aksa. Sepertinya pria itu baru masuk kantin karena dia membawa piring di tangannya. Senyum lebar Keysha terpancar, otaknya mulai berfikir untuk rencana selanjutnya. Yups, Keysha menerima tantangan dare keempat temannya. Dan dia bertekad untuk meluluhkan hati dosen dingin itu.
“Der, sorry, tapi gue ada urusan. Gue duluan ya,” pamit Keysha buru-buru. Tanpa menunggu jawaban Derry, Keysha bergegas pergi. Dia juga meninggalkan makanan serta minuman yang masih tersisa.
Senyum Keysha terus terpancar, dia juga mengabaikan tatapan orang disekelilingnya. Yang terpenting saat ini hanyalah menaklukan Aksa lalu terbebas dari tantangan tidak masuk akal ini. Langkah kaki Keysha terhenti di salah satu meja. Meja di mana Aksa sedang makan. Seperti tidak melihat sesuatu, Aksa sama sekali tidak mengangkat kepala. Pria itu masih dengan santainya melahap makanan miliknya.
Kehadirannya yang tidak mendapat respon baik membuat senyum Keysha luntur. Ingin rasanya dia melabrak, namun Keysha berusaha untuk sabar.
“Udah ganti cita-cita? Dari psikolog jadi patung? Kedatangan kamu bikin mood saya rusak.”
Kata demi kata yang Aksa lontarkan sangat kena di hati Keysha. Tapi tidak apa, masih sabar. Menghadapi orang seperti Aksa memang harus ekstra sabar.
“Siomay dan jus saya! Tunggu, Pak, saya mau ambil dulu,” kata Keysha, menghiraukan perkataan Aksa.
Lewat lirikan mata Aksa memperhatikan Keysha yang berlari menuju salah satu meja di depan. Entah apa yang mau anak itu buat, yang jelas Aksa sedang malas meladeni. Tidak lama berselang Keysha kembali datang, dan langsung duduk tepat dihadapan Aksa.
“Saya ikut makan di sini ya, Pak. Teman saya pada pergi, ngga enak makan sendirian,” ujar Keysha tanpa rasa malu.
Suasana kantin memang ramai, tetapi di mejanya sangatlah hening. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Sial, sudah maju begini Keysha bingung mau membuka obrolan apa. lagipula memangnya apa yang mau dibahas sama dosen? Agak tidak lucu kalau dirinya tiba-tiba ngelawak.
“Pak Aksa?”
Aksa yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Dengan wajah datar dia menatap Keysha. Tatapannya hanya sebentar, karena selanjutnya pria itu kembali menunduk. “Saya lagi malas ngomong, ngga mau buang energi. Kerjaan saya banyak yang lebih penting. Jadi, saya mau hemat energi.”
Lagi dan lagi Keysha kena skakmat.
Baru Keysha ingin menjawab, tapi matanya tidak sengaja menatap keempat temannya. Mereka sudah berkumpul, dan secara kompak mengacungkan jempol. Keysha mendengus kesal. Kalau saja hukumannya manusiawi, mungkin Keysha memilih menyerah daripada berurusan dengan Aksa.
Makanan di piringnya sudah habis. Aksa sedikit mendorong piring tersebut. Karena sudah tidak ada aktivitas mau tidak mau dia harus menghadapi Keysha. “Itu bukannya teman kamu? Kenapa masih di sini? Saya juga udah selesai makan.”
“Tapi ngga langsung pergi, ‘kan?”
Aksa menghela napasnya. “Saya ngga tau drama apa yang mau kamu buat, tapi tolong, bisa jangan libatkan saya? Udah dibilang saya banyak kerjaan penting, belum lagi urusan pribadi. Saya ngga ada waktu ngurusin drama kamu. Mending jalanin perintah saya, cat hitam rambut kamu.”
Setelah mengatakan itu Aksa berdiri, berniat untuk pergi. Namun baru dua langkah dia melewati Keysha, gadis itu menarik lengannya. “Apa lagi? Say—”
“Bapak marah sama saya? Marah karna saya duduk di sini?” potong Keysha.
Lagi, Aksa menghela napas. Dilepaskannya tangan Keysha dari lengannya, lalu pria itu sedikit merunduk mensejajarkan wajahnya dengan Keysha. Keysha yang tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini tentu sangat kaget. Apalagi kini jarak wajah keduanya sangatlah dekat.
“Saya ngga punya waktu main-main sama kamu, Keysha,” ujar Aksa dengan penuh penekanan.
Refleks Keysha menarik tangannya dari lengan Aksa. Apalagi saat telinganya mulai mendengar seruan penuh godaan. Aksa pergi, Keysha membalikan tubuhnya kembali. Demi apapun, dia sangat malu!
“Day satu yang gagal,” guman Keysha.
***
“Oke, karna tadi kelompok terakhir yang presentasi, adakah dari kalian yang ingin bertanya? Kalau ada silahkan sebelum saya tutup kelas ini.”
Beberapa mahasiswa mengangkat tangan. Keysha yang sudah lelah memilih diam saja sambil mendengarkan. Rasanya dia ingin cepat-cepat pulang lalu tidur. Karena matanya sangat berat untuk melek.
“Habis ini lo mau langsung pulang, Key?”
Keysha mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jihan. “Gue ngantuk banget, pengen tidur. Emang lo sama yang lain mau ke mana?”
“Rumah Tata. Yakin ngga mau ikut?”
Kali ini Keysha menggelengkan kepalanya. Sekali dia bilang ngantuk, selamanya tetap ngantuk. Keysha merebahkan kepalanya di atas meja. Toh kelas akan berakhir, jadi tidak ada salahnya memejamkan mata sebentar.
“Okay, kita ketemu lagi minggu depan. Tugas jangan lupa dikerjakan. Selamat sore,” pamit sang dosen.
Satu per satu orang di dalam kelas keluar. Keysha yang kalau tidak dibangunkan Jihan sepertinya akan terlelap damai. Beberapa kali gadis itu menguap sambil membereskan buku. Kelimanya keluar, lalu berpisah. Jihan, Frishlly, Aghnia, dan Tata ke parkiran, sedangkan Keysa langsung berjalan keluar Gedung. Sambil berjalan Keysha mencoba memesan ojek online, namun entah kenapa tidak ada yang menerima.
Selagi menunggu orderannya diterima Keysha memilih duduk di halte. Sekilas dia melirik jam dipergelangan tangannya. Hampir memasuki jam pulang kantor, dan juga jalanan mulai ramai. Terjebak macet memang bukan hal baru, tapi untuk kali ini Keysha berharap jalanan mulus.
“Wah, beneran ngga ada yang mau nerima orderan gue nih? Ck!” Keysha berdecak kesal. Sejak tadi juga dia tidak melihat ada taksi yang lewaat. Maka dari itu Keysha memutuskan untuk jalan sambil menunggu orderannya diambil.
Kurang lebih lima menit berjalan, tiba-tiba gerimis tanpa undangan datang. Keysha mendongak, mengadahkan tangannya. Benar, memang gerimis. Karena takut tiba-tiba hujan deras, Keysha buru-buru melanjutkan jalannya menuju minimarket di depan.
Tin!
Tin!
Keysha berhenti saat sebuah mobil berhenti di sampingnya. Kening Keysha mengerut, dia menunggu kaca mobil terbuka.
“Masuk!”
***