Lewat lirikan mata Keysha menatap seorang pria yang duduk dibangku kemudi. Ya, yang menyuruhnya masuk tadi adalah Aksa—dosen yang sedang dia incar karena game. Kehadiran Aksa sangat diluar prediksi, bahkan Keysha tidak menyangka kalau pria itu menawarinya tumpangan.
Berhubung tidak tahu mau bicara apa, Keysha kembali menatap lurus ke depan. Lihatlah, keresahannya benar-benar terjadi. Beberapa detik dia masuk mobil, hujan deras langsung mengguyur. Sesekali Keysha mencuri pandang ke arah Aksa. Pria itu terlihat tenang seperti tidak ada beban hidup.
“Rumah kamu di mana?” tanya Aksa, memecah keheningan yang sejak tadi tercipta.
Refleks Keysha menoleh. Setelah sekian lama dicuekin, akhirnya pria itu buka suara membuat senyum Keysha terpancar. “Di daerah Jakarta Selatan, Pak. Dari kampus lumayan jauh, salah saya sih pilih kost di sana. mau pindah sayang udah bayar. Kalau Bapak keberatan, nanti turunin saya di depan aja. Saya naik taksi.”
Jakarta Selatan. Aksa menghembuskan napasnya. Jalur rumahnya dengan Keysha sungguh berbeda. Keysha yang berada di selatan, sedangkan dirinya di Jakarta Timur. Sebenarnya bisa saja dia menuruti perkataan Keysha untuk menurunkan dijalan. Tapi rasanya itu bukan ide bagus. Apalagi kondisinya sedang hujan deras. Mau semenyebalkan apapun kelakuan Keysha selama ini, tetap saja dia anak didiknya.
“Pak?”
“Kamu ngga lihat kalau hujan deras? Gimana caranya saya mau drop kamu? Saya akan antar kamu, tapi sebelum itu kamu mau ikut ke rumah saya dulu? Saya ada urusan mendesak yang ngga bisa ditunda. Nanti dari rumah saya, akan saya antar pulang,” jawab Aksa. Sekilas pria itu menoleh menatap Keysha yang sudah lebih dulu menatapnya.
Dalam hati Keysha bersorak kegirangan. Apa kali ini misinya berhasil?
“Kenapa diam? Bersedia atau engga?” Aksa kembali memastikan karena Keysha tak kunjung menjawab.
“Ah? Kalau emang Bapak ngga keberatan, saya gapapa. Mau dibawa ke mana aja saya ikut sama Bapak, hehe. Asal ngga dibuang ke laut atau jurang aja.”
Jawaban yang diluar dugaan sukses membuat Aksa menoleh. Astaga, selain menyebalkan ternyata otak Keysha sangatlah random. Sebagai respon Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Karena sudah mendapat jawaban pasti keduanya kembali terdiam. Ralat, lebih tepatnya hanya Aksa. Karena selama perjalanan Keysha terus berceloteh tanpa henti.
Kurang lebih setengah jam, mobil yang Aksa kendarai masuk kesalah satu perumahan. Perumahan yang cukup terkenal dan elit. Keysha yang tahu itu hanya bisa terdiam sambil melihat ke kanan dan kiri. Deretan rumah mewah kini terpampang nyata. Salah satu cita-cita Keysa yaitu ingin beli rumah. walaupun tidak semewah perumahan ini, yang penting punya dulu.
Setelah menerka-nerka di mana rumah dosennya, tidak lama mobil berhenti. Pintu gerbang terbuka, dan mobil masuk. Keysha dibuat kagum melihat bangunan rumah di depan matanya. Bernuansa putih, halaman luas, dan pasti dalamnya lebih menakjubkan.
“Mau ikut saya masuk?” Aksa bertanya sembari membuka sabuk pengamannya.
Mulut Keysha ingin sekali mengiyakan, tetapi dia juga malu kalau harus bertemu keluarga Aksa. Seperti … aneh saja mahasiswi mengikuti dosennya sampai rumah. Keysha meringis membayangkannya.
“Kamu ini calon psikolog atau pasiennya, sih? Kenapa hobi sekali melamun?” tegur Aksa.
Satu pukulan mendarat di lengan Aksa. Keysha menatap horror pria di sampingnya. “Bapak kalau ngomong kenapa tajam banget sih? Masa iya cita-cita saya jadi pasien poli jiwa?”
Alih-alih marah Aksa justru tertawa. Memang gadis di sampingnya tidak melawak, tetapi tetap saja jawabannya lucu. Tanpa mengatakan apapun lagi Aksa turun. Dia harus segera menemui orang tuanya karena mereka mau membahas sesuatu. Kepergian Aksa hanya Keysha tatap sambil menyandarkan punggungnya. Sudah tampan, dari keluarga berada, karir bagus, sangat sempurna sekali sosok Aksa itu. Dan … sangat beruntung nanti wanita yang dipilih olehnya.
Sambil menunggu Aksa kembali, Keysha memilih menyibukan diri dengan ponsel. Tak lupa dia mengabarkan kalau hari ini pulang bersama Aksa. Dan ya, reaksi keempat sahabatnya sangat heboh.
Meninggalkan Keysha yang sudah asik dengan dunianya, di dalam rumah Aksa langsung mendapat omelan dari sang mama. selama terkena omelan, Aksa hanya bisa diam sambil duduk di samping sang papa.
“Kamu sama Cantika serius mau nikah ngga, sih? Udah sejauh mana progresnya? Dari kemarin tante Farah chat Mama, nanyain kapan kamu sama Cantika mau fitting baju. Astaga, sampai fitting baju aja kalian sepelekan?”
Nia selaku ibu Aksa tentu pusing dengan anaknya yang sangat santai. Hari terus berjalan, tetapi anaknya asik saja bekerja. Gemas, Nia mencubit lengan Aksa sampai pria itu mengaduh kesakitan.
“Aduh, Mah, dengarin aku dulu. Niatnya itu sore ini, selepas aku pulang. Tapi tadi Cantika bilang kalau dia ngga bisa hari ini, ada urusan penting katanya,” jawab Aksa.
“Kerjaan juga? Jadi lebih penting mana sih kerjaan sama pernikahan?”
Kali ini Aksa dibuat terdiam. Tebakan Mamahnya memang benar, tidak salah. Untuk saat ini baik dirinya maupun Cantika memang masih sibuk dengan kerjaan masing-masing. Tapi bukan berarti mereka menyepelekan soal pernikahan yang sudah dirancang.
“Yaudah, aku temuin Cantika sekarang. Kita akan bahas ini berdua, jadi Mama sama Papa ngga usah khawatir. Yaudah, aku pamit ya.” Aksa berdiri, menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu dia bergegas menuju mobil dan masuk.
“Kalau gue berhasil kalian yang mampus!”
Mendengar itu Aksa menoleh. “Kamu bicara sama saya?”
Sadar kalau Aksa sudah kembali Keysha membetulkan posisi duduknya. Yang awalnya menaikan kedua kaki ke jok, seketika kaki itu lurus kembali. “Bapak ngagetin saya aja!”
Tidak menghiraukan perkataan Keysha pria itu memilih memasang sabuk pengaman lalu menyalahkan mesin mobil. Mobil meninggalkan halaman rumah. memang sudah tidak ada waktu, hari ini juga Aksa harus bertemu tunangannya.
“Ikut saya sebentar mau ngga? Kebetulan saya juga mau ke daerah selatan. Kamu di mananya?”
“Jagakarsa, Pak. Kost citra delima.”
“Bagus, semakin searah. Tapi karna lebih dekat ke saya, kamu ikut dulu ngga masalah, ‘kan?” Aksa menoleh tepat mobilnya berhenti karena lampu merah.
Tanpa rasa ragu Keysha menganggukan kepalanya. Memang kapan lagi dia pulang tetapi tidak keluar uang? Selama tidak dibuang, Keysha akan manut. Setelah menempuh kemacetan, akhirnya mereka sampai disebuah apartemen. Keysha yang bingung karena diajak ke apartemen hanya bisa melihat keseliling selagi Aksa mencari parkir.
“Saya ada urusan, kamu tunggu di sini. Kalau bosan keluar aja, atau beli makan. Ini uang buat kamu.” Aksa memberikan tiga lembar uang berwarna merah kepada Keysha.
Mendapat uang 300 ribu dari Aksa tentu Keysha melotot. Seanak-anak itukah dirinya di mana Aksa? Atau dia sangat tahu kehidupan anak kost? Keysha mendengus kesal, tetapi dia juga tidak menolak uang itu. beberapa menit Aksa pergi, Keysha keluar dari mobil. Kebetulan di samping ada minimarket, Keysha ingin beli minum. Tidak apa gerimis dikit, yang penting tenggorokannya tidak kering.
“Aku hamil, Rey!”
***