“Aku hamil, Rey!”
Refleks Keysha menoleh mendengar itu. tepat di mobil samping, ada sepasang laki-laki dan wanita sedang mengobrol. Sekilas Keysha juga menatap wajah wanita yang kini sedang menangis. Tak lama wanita itu didekap oleh sang pria. Keysha yang tidak ingin kepo memilih pergi dengan cepat.
Jantungnya berdebar cepat, fikirannya bercabang. Dari nada suara, reaksi, Keysha bisa menebak kalau wanita tadi sedang syok. Tapi apapun itu, Keysha tidak mau memikirkan masalah orang lain. Masalahnya sendiri saja menumpuk, yakali mau mengurusi orang lain yang entah siapa.
Setibanya di minimarket Keysha langsung mengambil dua botol air mineral dan juga roti untuk mengganjal perutnya selama menunggu Aksa. Padahal kalau diingat-ingat, sejak tadi dia ingin segera pulang karena ingin tidur. Tapi realitanya, dia menjadi teman berkelana Aksa.
“Ada lagi tambahannya, Mbak?”
“Sosis kejunya ada ngga?”
“Ada. Mau berapa?”
“Mau dua.”
Kasir itu mengangguk, lalu mengambil dua sosis pesanan Keysha. Semua barang sudah dibayar, Keysha kembali menuju mobil. Awalnya Keysha takut kalau pasangan tadi masih ada, tetapi ternyata tidak. Buru-buru Keysha masuk ke dalam mobil, namun dia tidak menutup pintu agar udara segar masuk. Sekilas Keysha melirik jam dipergelangan tangannya. Hampir jam enam, dan dia belum sampai kost. Sepertinya bulan besok Keysha sudah fix akan pindah dekat kampus.
Keysha menatap sekitar sambil menikmati sosis miliknya. Dari apartemen ini ke kostnya tidaklah jauh. Bisa saja Keysha pulang sendiri, tetapi bagaimana dengan kunci mobil dosennya?
“Mau ketemu siapa sih dia?” guman Keysha.
Dari makanan masih banyak, sampai roti suapan terakhir, Aksa tak kunjung datang. Keysha turun dari mobil, merentangkan kedua tangannya. Hari sudah gelap, tapi taka da tanda-tanda kehadiran Aksa.
“Too much ngga ya kalau gue tinggalin ini mobil? Terus kencinya gue titip ke satpam? Asli, gue udah capek, pengen mandi!” Keysha menghentakkan kedua kakinya kesal.
Beberapa kali Keysha berjalan mondar-mandir, otaknya sedang menimang. Cukup lama gadis itu berfikir, sampai pada akhirnya sebuah keputusan dia ambil.
“Udah benar gue titipin satpam aja!” Keysha membuka pintu mobil, mengambil tas, lalu menutupnya kembali.
Saat tubuhnya berbalik, Keysha dibuat terkejut karena Aksa ada dihadapannya. Masih dengan jantung berdegup kencang Keysha menerjapkan matanya.
“Mau ke mana?” tanya Aksa.
“Bapak kebiasaan! Kalau saya kena serangan jantung gimana?!”
Tidak mengidahkan Keysha, Aksa bersedekap d**a sambil memperhatikan Gadis di depannya dari atas hingga bawah. “Mau ke mana? Beli makan?”
“Mau pulang! Saya fikir Bapak masih lama, saya niatnya mau titip kunci mobil ke satpam. Saya pengen cepat-cepat sampai kost, capek.”
Diambilnya kunci mobil dari tangan Keysha, lalu Aksa memutari mobil sebelum akhirnya masuk. “Ayo pulang, urusan saya udah selesai.”
Masih dengan sisa-sisa kekagetannya Keysha masuk kembali ke dalam mobil. Tanpa ada percakapan, mobil Aksa keluar dari area apartemen.
“Maaf kalau saya agak lama,” kata Aksa dengan nada tidak enak.
Tanpa menoleh Keysha mengangguk. “Gapapa, toh akhirnya saya dibawa pulang bukan diculik.”
“Ngga berguna juga saya culik kamu,” sahut Aksa.
Mendengar itu Keysha mencibir sambil meremas kedua tangannya. Kalau saja bukan dosen, mungkin cubitan atau pukulan sudah mendarat sejak tadi. Terlanjur lelah, Keysha memilih memejamkan mata setelah menunjukan rute menuju kost-an.
***
“Keysha?”
Hening.
Aksa sedikit memajukan tubuhnya, menoel lengan Keysha. Entah sejak kapan, tapi yang jelas saat ini gadis itu sudah terlelap dengan damai. Tadinya Aksa ingin mengajak makan, tapi dia tidak tega untuk membangunkan. Jangankan membangunkan untuk makan, mancari di mana letak kostnya saja dia tidak enak. Alhasil tadi Aksa bertanya dengan orang. Dan ya, kini mereka sudah sampai di kost milik Keysha.
“Key, bangun, udah sampai. Bangun, lanjut tidur di dalam.” Dari menoel lengan, jari telunjuk Aksa menyentuh pipi Keysha. Tindakan itu membuat tidur nyaman Keysha terusik.
Dengan sangat terpaksa Keysha membuka matanya yang berat. Gadis itu menatap keseliling, dan ya, dia menyadari kalau sudah sampai di depan kostnya. Tubuh Keysha kembali menegak, sabuk pengaman dia buka.
“Pak, makasih banyak udah antar saya pulang. Tadi saya sedikit overthinking, gimana kalau Bapak benar-benar buang saya. Tapi ternyata engga, hehe. Makasih ya, Pak. Kalau bisa sih besok berangkat bareng,” celetuk Keysha.
Sudah diberi hati tapi minta jantung. Itulah Keysha di mata Aksa. Aksa yang enggan meladei hanya diam sambil memperhatikan.
Dugh!
“Awhh!” Keysha meringis, mengusap kepalanya yang terpentok. Aksa yang melihat kejadian itu berusaha untuk menahan tawanya agar tidak keluar.
Sambil mengusap-usap kepala Keysha turun dari dalam mobil. “Bapak ngga ikhlas antar saya ya? At—”
Belum selesai Keysha berbicara, kaca mobil langsung tertutup rapat. Tak lama mobil berwarna hitam itu pergi meninggalkan Keysha yang melongos.
“Dih? Cakep begitu?!” Keysha menggeleng-gelengkan kepalanya.
Berhubung tubuhnya sudah lengket, Keysha buru-buru membuka gerbang dan masuk. Pemandangan pertama yang dia dapati adalah ibu kost dan teman-temannya yang lain sedang ngerumpi. Selama ngekost di sini Keysha memang sangat betah. Selain teman yang baik, pemilik kost juga sangat dekat dengan anak-anaknya.
“Halloww, para rakyat!” sapa Keysha.
“Eh buseh, lantam banget itu mulut. Ngomong-ngomong dianter siapa lagi itu?” sahut Lia—ibu kost Keysha.
Keysha terkekeh, kakinya lanjut melangkah mendekati Lia yang sedang duduk diantara teman-teman kostnya. “Ngerujak kok malam-malam begini sih? Malam tuh enaknya makan mie ayam atau bakso.”
“Lah, lah, katanya ngga enak? Tapi kenapa itu tangan ambil mangga?!”
Lagi-lagi Keysha terkekeh. Gadis itu tidak berniat gabung, dia hanya mengambil dua mangga lalu berniat naik ke lantai dua. “Udahlah, saya capek, pengen mandi. Rujaknya remed, mangganya asem. Besok-besok jangan mangga yang ada di pohon lu, Mpok.”
Sebelum terkena lemparan sendal Keysha langsung lari menjauh. Teriakan Lia tidak Keysha hiraukan, gadis itu hanya tertawa sepanjang naik tangga. Sejujurnya Keysha ingin sekali pulang ke rumah setiap habis kuliah. Tapi setelah difikir-fikir, karena jarak yang jauh, itulah yang membuat Keysha memutuskan untuk ngekost.
“Assalamualaikum,” ucap Keysha saat pintu kamar terbuka.
Ditaruhnya tas, sepatu ditaruh denga nasal, setelah itu Keysha merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Astaga, akhirnya punggung gue ketemu kasur juga.”
Sebelum mandi, Keysha lebih dulu memejamkan mata sembari menikmati rasa leganya. Baru beberapa detik matanya terpejam, tetapi suara dering ponsel sudah terdengar. Awalnya enggan menghiraukan, tetapi karena berisik alhasil Keysha kembali bangun dari posisi rebahannya.
Wanita-wanita sukses calling…
Melihat nama itu yang tertera Keysha mendesah frustasi. Tubuhnya sudah lelah, Keysha enggan meladeni obrolan keempat sahabatnya itu. alih-alih mengangkat, Keysha justru melempar ponselnya ke atas kasur. Lalu dengan bodoamatnya dia melenggang ke kamar mandi.
“Tenang aja, taruhan akan sukses!”
***