Bab 5. Mau Cari Duda

1106 Words
Beberapa makanan sudah tertata di meja. Ada cemilan, makanan berat dan juga minuman. Seharusnya Keysha memang senang karena ada makanan yang datang tanpa perlu dia beli. Tapi yang membuat Keysha berfikir, semua makanan ini pemberian dari Aksa. Ya, saat dia selesai mandi, teman kostnya datang dan memberikan titipan itu padanya. Keysha tersenyum lebar, lalu dia duduk bersila sembari melihat isi makanan di depannya. Dari aroma memang sangat menggoda mengingat dirinya belum makan sejak tadi. masih dengan senyum yang mengembang Keysha mengeluarkan kotak makan berwarna putih dari dalam paper bag itu. “Kesambet apa pak Aksa kasih gue makanan?” tanya Keysha bermonolog. Saat tutup tempat makan dibuka, aroma dari nasi goreng langsung mencuat. Berhubung sudah lapar dan tidak berfikir negatif kalau makanannya diberi racun, Keysha langsung memakannya dengan lahap. Sambil makan Keysha mengecek ponsel yang sejak tadi berbunyi. Dari banyaknya pesan yang masuk, tidak ada satupun pesan dari orang tuanya. Terkadang Keysha iri melihat teman-temannya yang tumbuh dalam keluarga harmonis. Membahas soal keluarga, keluarga Keysha masih sangat utuh. Dia mempunyai ibu, ayah, bahkan adik. Tetapi … hubungan mereka tidaklah dekat. Salah satu alasan Keysha ingin pulang ke rumah adalah adiknya. Tanpa perintah, tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi. Dengan cepat Keysha menyeka menggunakan tangannya. Makan sambil menangis bukanlah hal baru untuk Keysha, tapi rasa sakitnya tetaplah sama. “Baper banget sih gue jadi orang,” guman Keysha sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya. Tidak ingin memikirkan itu terlslu jauh Keysha memilih makan sambil nonton drama korea favoritenya. “Misi!” Tok..tok..tok! Keysha menatap pintu yang diketuk tanpa rasa sabar. Gadis itu menghela napas pelan. Dari suara dia sudah bisa mengenali siapa orang yang berada dibalik pintu kamarnya. Diletakkannya sendok, lalu Keysha berdiri membuka pintu yang dia kunci. “Jihan? Lah katanya lo sama yang lain ke rumah Tata?” Jihan tersenyum masam menatap Keysha. Mungkin kalau tidak kepepet, dia juga tidak akan ke sini. Tanpa perlu menunggu dipersilahkan gadis itu masuk lalu duduk di lantai. Keysha yang melihat itu tidak marah, justru dia heran dengan temannya. Tadi di kampus masih ceria, kenapa sekarang terlihat murung? Pintu Keysha tutup, lalu dia ikut duduk di samping Jihan. “Are you okay? Mau minum, Han?” tanya Keysha. Jihan mengangkat tangan, memberi lihat botol minum yang dia bawa. Keysha mengangguk, lalu dia kembali menatap Jihan dengan lekat. Dalam hati Keysha menebak kalau temannya itu sedang ada masalah. Akan tetapi, Keysha tidak akan bertanya. Dia lebih memilih menunggu Jihan yang cerita. “Kalau ngga ke sini, gue bingung harus ke mana. iya sih bisa ke rumah Tata, Frishlly, Aghnia, tapi gue ngga enak sama orang rumahnya. Cuma di sini gue bisa bebas. Gue … gue lagi capek, Key. Capek karna rumah ngga pernah kondusif. Gue bosan dengarin mereka berantem,” ujar Jihan mengeluarkan isi hatinya. Keysha yang sudah tahu soal masalah keluarga Jihan langsung memeluk. Keysha tahu apa yang temannya itu rasakan saat ini. “Pintu kost-an gue selalu terbuka buat lo, Han. Malam ini lo nginap aja di sini.” “Emang rencananya gitu. Gue udah bawa baju sama buat kuliah besok.” Mendengar itu Keysha terkekeh. Sebetulnya, apa yang Jihan alami tidaklah jauh dengan dirinya. *** Pagi harinya, Keysha bangun lebih dulu. Setelah mandi dia keluar kamar untuk mencari sarapan. Sengaja dia tidak membangunkan Jihan karena semalam mereka tidur cukup larut. Jadi biar saja untuk hari ini Keysha yang berbaik hati. “Woy, mau ke mana?!” Langkah kaki Keysha terhenti, begitupun Gerakan tangannya yang ingin membuka gerbang. Keysha menoleh, mencari di mana sumber suara tadi berasal. Mendapati sosok Lia tengah menyapu halaman Keysha berdecak pinggang. “Deh, ditanya malah diem bae.” “Mau cari duda! Udah tau mau cari sarapan, ngapain masih nanya sih?” sahut Keysha. Hubungan keduanya yang sudah dekat, membuat mereka tidak ada lagi kata baper dalam berucap. Lia melempar sapu di tangannya, lalu dia berlari kecil menyusuli Keysha. “Kalau begitu gua nitip nasi kuning dua. Nih duitnya.” Walaupun sambil berdecak Keysha tetap mengambil uang itu dari tangan Lia. Setelah itu dia melanjutkan kembali jalannya. Kostan yang dekat jalan raya membuat para penghuni kost dengan mudah mencari makanan. Sebelum ke tempat bubur langganan Keysha lebih dulu membeli nasi kuning titipan ibu kostnya. Bubur dan nasi kuning sudah Keysha beli, gadis itu kembali ke kost. Karena tidak menemukan Lia, alhasil dia lebih dulu ke rumah ibu kostnya untuk menaruh nasi kuning. Barulah habis itu dia ke kamarnya. “Kirain belum bangun, Han. Baru mau gue siram pakai air,” kata Keysha saat dia membuka pintu dan mendapati Jihan tengah mengeringkan rambut. Lirikan maut Jihan membuat Keysha tertawa. Dua bubur yang dia beli ditaruh ke atas meja. “Kelas jam berapa sih?” “Aslinya juga kita udah mau telat.” Keysha menatap tak percaya Jihan. “Demi apa? Bukannya jam Sembilan lewat?” “Ya lo hitung aja. Ini udah setengah delapan, dan jarak dari sini ke kampus lumayan. Iya kalau ngga kena macet, kalau macet? Lagian lo bukannya bangun pagi.” Tidak mengidahkan ocehan Jihan, Keysha memilih membuka bubur miliknya. Ya kalau sudah ditakdirkan telat mau apa lagi? Toh mereka tinggal makan, habis itu berangkat. Namun baru saja Keysha ingin bulka plastic kerupuk tiba-tiba Jihan menahan tangannya. “Apa sih?” “Udah telat, makan di kampus aja,” jawab Jihan. Diambilnya bubur Keysha, lalu dimasukan ke dalam plastik. Keysha menghela napas. Ingin rasanya dia menjambak rambut Jihan, namun keinginannya diurungkan kembali. Sambil menggerutu Keysha mengambil tas serta cardigan birunya. Setelah itu mereka buru-buru ke luar kamar. “Biar gue yang pes—” “Itu taksi onlinenya. Udah gue pesan,” potong Jihan, menarik tangan Keysha. Selama diperjalanan Keysha terus mendapat pertanyaan dari Jihan. Sumpah, pertanyaan yang Jihan lontarkan sangat malas Keysha jawab untuk pagi ini. “Jadi gimana? Coba dong cerita soal kemarin sama pak Aksa. Kayaknya bakal lancar nih misi lo,” goda Jihan, menyenggol lengan Keysha. “Bisa ngga gue jawabnya di kampus aja? Gue yakin Frishlly, Aghnia, sama Tata bakalan nanya hal yang sama kayak lo. Gue malas jawab dua kali.” Jihan mendengus kesal. Karena paham temannya tidak bisa dipaksa, maka dari itu Jihan tidak lagi buka mulut. Keduanya asik dengan ponsel masing-masing. Tepat jam 9 keduanya sampai di kampus. Jam sudah mepet, mereka yang awalnya santai seketika berlari menuju kelas. Saking terburu-burunya, tidak fokus lihat jalan, Keysha menabrak seseorang. Tanpa bisa dihindarkan, dia melihat bajunya basah tersiram air. Melihat itu Jihan kaget. Tapi lebih kaget saat tahu yang Keysha tabrak adalah Aksa. Menyadari kalau Keysha akan marah, buru-buru dia memberi kode. “Baju gue basah! Kalau jalan dan bawa air tuh hati-hati, jan—” Kata-kata Keysha terhenti, lidahnya seketika keluh. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD