“Baju gue basah! Kalau jalan dan bawa air tuh hati-hati, jan—” Kata-kata Keysha terhenti, lidahnya seketika keluh.
“Yang seharusnya berhati-hati itu kamu. Ini kampus, bukan area bermain yang bisa seenaknya berlari sesuka hati.”
Suara itu….
Refleks Keysha mengangkat kepala, menatap orang yang baru saja dia tabrak. Mendapati sosok Aksa yang berdiri dihadapannya Keysha membulatkan mata. Demi apapun dia tidak menyangka kalau yang ditabrak adalah dosennya. Keysha menoleh ke samping, tempat di mana Jihan berdiri. Tentu saja gadis itu diam seribu bahasa.
“Pak, maaf, saya ngga sengaja. Saya ngga maksud lancang, say—”
“Kalau udah begini yang paling repot siapa? Saya. Saya harus ngajar asal kamu tau. Lain kali itu jalan yang benar, jangan banyak tingkah,” sahut Aksa memotong perkataan Keysha. Tanpa menunggu jawaban gadis di depannya pria itu berlalu pergi.
Kepergian Aksa hanya bisa Keysha tatap dalam diam. Sumpah demi apapun, dosennya itu sangtlah dingin. Kalau begini Keysha jadi insecure dalam misinya. Bagaimana kalau endingnya dia gagal? Astaga, Keysha belum siap menjadi ATM berjalan selama dua minggu. Frustasi, Keysha mengusap kasar wajahnya. Beruntung dia tidak memakai make up jadi aman walaupun tangannya terkena wajah.
“Lari, Key, lari. Udah telat.” Jihan menepuk pundak Keysha, lalu dia berlari lebih dulu. Mengingat kelas pertama diisi oleh dosen yang tak kalah killer, mereka harus segera sampai sebelum dosen itu masuk kelas.
Keysha yang masih terbayang-bayang oleh omongan Aksa tak menghiraukan kepanikan Jihan. Alih-alih berlari, gadis itu justru jalan santai. Satu demi satu anak tangga dia tapaki sampai akhirnya tiba di kelas tujuan.
“Pak, saya cuma telat beberapa menit, bahkan ngga ada 10 menit. Saya mau belajar, sumpah ngga akan telat lagi.”
Dari ujung Keysha melihat dan mendengar permohonan Jihan. Ya, di depan sana sahabatnya sedang merayu seorang dosen. Sudah bisa dipastikan kalau mereka kalah cepat untuk masuk. Keysha menghembuskan napasnya. Pelan namun pasti, gadis itu mendekati Jihan.
“Sejak awal kalian tahu soal peraturan. Mau kalian telat lima menit, itu sama saja telat. Kelas hari ini kamu dan juga Keysha saya anggap alpa.”
“Tapi, Pak, ki—” Kata-kata Keysha terhenti ketika Wahyu—dosennya berlalu masuk dan menutup rapat pintu. Sudah berusaha, tapi sepertinya kesialan memang sedang menimpanya. Mungkin kalau tidak ada tragedi dengan Aksa mereka masih selamat.
Karena sudah terkena usiran, Jihan memeluk lengan Keysha. Tanpa mengatakan apapun keduanya pergi meninggalkan kelas. Mau memohon seperti apapun tidak akan membuahkan hasil. Berhubung bubur yang tadi dibeli belum dimakan, Keysha mengajak Jihan untuk ke kantin. Di tengah perjalanan Keysha tak sengaja melihat Aksa tengah mengobrol dengan beberapa mahasiswa. Terlihat baik, tetapi kenapa kalau sama dirinya dia selalu sensi?
“Gue bingung deh, Han.”
“Bingung kenapa? Bingung kenapa pak Wahyu ngga pernah luluh sama permohonan kkita?”
“Pak Aksa.”
Jihan menoleh ketika telinganya mendengar nama Aksa. Entahlah, mulai kemarin setiap ada pembahasan dosennya itu dia selalu semangat untuk mendengar. “Kenapa? Lo masih kepikiran sama yang tadi? nanti lo coba minta maaf aja, Key.”
Langkah kaki Keysha terhenti. Otomatis Jihan pun ikut berhenti. Ditatapnya Keysha dengan lamat, sambil menunggu apa yang akan temannya itu katakan lagi.
“Kok dia sama gue sensi banget ya? Tapi lo liat tuh.” Keysha menunjuk ke arah tikungan menggunakan dagunya. “Sama yang lain dia kelihatan santai bahkan bisa senyum. Tapi … ya lo ngerti maksud gue, ‘kan?” sambungnya dengan nada greget.
Mengikuti arah tunjuk Keysha, Jihan menyipitkan kedua matanya. Benar, di depan sana ada Aksa tengah mengobrol. Walaupun jarak mereka cukup jauh, tetapi jelas terlihat raut wajah Aksa. Apalagi saat pria itu tersenyum.
“Apa dia sensi karna rambut gue? Dia kesal berkelanjutan karna gue ngga dengarin dia? Tapi agak mampus, ya, gue belum cat rambut,” kata Keysha sembari memainkan rambut panjangnya. Ada rasa tidak rela, tetapi dia juga tidak bisa apa-apa. “Ap ague cat hijau aja biar diama makin emosi?” lanjut Keysha.
“Anak stress.” Jihan menoyor kepala Keysha. “Yang ada lo berdua makin sering berinteraksi. Dan yang parahnya, dia makin sentiment sama lo.” Sambung Jihan, melanjutkan langkahnya meninggalkan Keysha.
Tidak salah, ada benarnya. Astaga, ingin rasanya Keysha menggulung bumi detik ini juga. Tidak mau memperdulikan Aksa, Keysha berlari mengejar Jihan. Cacing di perutnya sudah berdemo minta diisi. Karena memikirkan Aksa tidak akan ada habisnya.
***
“Key, dapat salam.”
Tepukan di pundak membuat Keysha menoleh. Keningnya mengerut menatap wanita di sampingnya. “Salam? Salam dari siapa?”
Wanita itu tidak langsung menjawab. Dia lebih dulu duduk di samping Keysha. Memang, sih, tinggal menjawab, tetapi rasanya sangat melelahkan. Apalagi dia habis bertarung di kelas tadi. wanita itu kembali menepuk pundak Keysha beberapa kali.
“Apa, sih, kak Citra?” tanya Keysha dengan bingung.
“Menurut lo dari siapa lagi kalau bukan Alvaro?”
Ah, ketua BEM itu. jika di luar sana para wanita sangat senang dengan sosok Alvaro, beda hal dengan Keysha. Sejak awal dia sama sekali tidak tertarik. Beberapa kali memang pria itu mendekati secara ugal-ugalan, tetapi reaksi Keysha hanya seadanya. Kalau bukan tipe memang mau bagaimana lagi?
“Dia bucin banget sama lo, Key. Dari adik tingkat, senior, banyak yang ngincar dia. Tapi dia pilih lo. Lo kalau jadian sama Varo gue jamin akan meledak ini kampus.”
Keysha mendelikkan kedua bahunya. “Sayangnya gue ngga tertarik.”
Berhubung Citra sudah tahu watak dan perasaan Keysha terhadap Alvaro, dia tidak lagi menimpali. Tugasnya menyampaikan pesan sudah selesai, maka dari itu dia beranjak pergi meninggalkan Keysha untuk membeli makanan. Seperginya Citra, Keysha menghembuskan napasnya. Jujur, dia tidak mau berurusan dengan Alvaro. Bukan apa-apa, Keysha malas bermusuhan dengan fans pria itu.
Ting!
Ting!
Sambil menopang dagu Keysha mengambil ponselnya. Saat ini dia di kantin hanya sendirian karena Jihan sedang ke toilet. Sedangkan tiga yang lainnya entah ke mana. mendapati pesan dari sang adik tubuh Keysha langsung menegak. Dia tidak membalas, melainkan langsung menelepon. Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan langsung tersambung.
“Kamu baik-baik aja, ‘kan?”
‘….’
“Pulang, ya? Kakak ngga tau bisanya kapan. Soalnya masih sibuk sama tugas. Selain itu kakak juga ‘kan kuliah setiap hari.”
‘….’
“Jangan bicara begitu, Selvi. Nanti kalau kakak free akan pulang. Yang penting kamu baik-baik aja di rumah. jangan kecapean, jangan banyak fikiran.”
‘….’
Tut!
Panggilan terputus. Bibir Keysha tersenyum tipis. Tidak apa, sudah biasa dia menghadapi adiknya yang marah karena keinginannya tidak terwujudkan. Keysha pusing, dia menutup wajahnya rapat-rapat menggunakan kedua tangannya.
‘Kamu itu Cuma beban, nyusahin. Masih mending kuliah dibiayai. Bagus kalau kamu ngga tinggal lagi di rumah ini.’
Sial, kata-kata itu kembali terlintas lagi.
***