BAB 4: Ancaman dari Masa Lalu

810 Words
"Rendra pulang sore ini." Kalimat pendek yang diucapkan pemilik galeri saat Aisha baru saja tiba di kantor bagai petir di siang bolong. Langkah Aisha terhenti di ambang pintu, jemarinya meremas tali tasnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "S-sore ini? Bukankah jadwalnya masih tiga hari lagi?" tanya Aisha, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Katanya urusan di Singapura selesai lebih cepat. Dia ingin memberikan kejutan untukmu," jawab sang pemilik galeri sambil tersenyum hangat, sama sekali tidak menyadari ada ketakutan yang berkecamuk di dalam d**a Aisha. Aisha melangkah ke ruang kerjanya dengan lutut yang terasa lemas. Pria yang statusnya masih menjadi tunangan resminya akan kembali. Dan ia sudah mengkhianatinya secara tidak langsung, karena Aisha telah menyerahkan bibirnya pada pria lain—kakak kandung Rendra sendiri. Rasa bersalah itu kian jelas saat Aisha melirik sudut ruangannya. Di sana, sebuah kotak kado beludru hitam berukuran besar tergeletak di atas meja sofa. Kotak itu tiba subuh tadi, dikirim oleh kurir pribadi tanpa nama pengirim. Namun, Aisha tahu persis siapa pemilik selera se-elegan dan seintimidatif itu. Dengan tangan gemetar, Aisha membuka tutup kotak tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah gaun malam sutra berwarna hitam pekat yang sangat mewah, berdampingan dengan kotak perhiasan kecil. Ketika dibuka, seuntai kalung berlian langka berkilau memantulkan cahaya lampu ruangan. Di bawahnya, terdapat selembar kartu kecil dengan tulisan tangan yang rapi: Kenakan ini di malam penyambutan adikku nanti. Aku ingin melihat milikku bersinar. – A.M. "Gila... dia benar-benar gila," bisik Aisha dengan air mata yang mulai menggenang. Adrian sengaja melakukan ini. Pria itu tidak hanya ingin memilikinya secara rahasia, tetapi juga ingin menguji batas kewarasannya, bermain api tepat di bawah hidung adiknya sendiri. Jika Rendra sampai melihat gaun dan perhiasan ini, tamatlah riwayatnya. Kemewahan seperti ini tidak akan bisa dibeli oleh kurator dengan gaji standar sepertinya. Aisha cepat-cepat menutup kembali kotak itu dan menyembunyikannya di dalam lemari berkas paling bawah, tepat saat ponselnya berdering nyaring. Nama Rendra berkedip di layar. "Halo, Rendra?" Aisha menjawab cepat, mencoba mengatur napasnya. "Sayang! Aku sudah di bandara Jakarta. Aku merindukanmu!" Suara Rendra terdengar sangat bersemangat, penuh energi yang jujur. "Aku akan langsung ke galerimu sekarang. Kita makan siang bersama, ya?" "Ah, Rendra... m-makan siang?" Aisha melirik jam dinding, baru pukul sebelas. "Tentu, aku akan menunggumu." Satu jam kemudian, Rendra menyembul dari balik pintu ruangan Aisha dengan senyum lebar. Pria itu tampak sedikit lelah karena penerbangan, namun matanya berbinar cerah saat melihat Aisha. Ia langsung melangkah maju dan memeluk Aisha erat. Aisha mematung. Tubuhnya secara refleks menegang saat pelukan Rendra melingkupinya. Ada rasa asing dan penolakan yang muncul dari dalam dirinya sendiri, sebuah reaksi tubuh yang membuat Aisha semakin membenci dirinya sendiri. "Kamu kenapa, Sayang? Kok kaku sekali?" Rendra melepaskan pelukannya, menatap wajah Aisha dengan dahi berkerut. Tangannya bergerak mengusap pipi Aisha. "Kamu pucat. Apa Kak Adrian terlalu keras memberimu beban kerja di proyek baru ini?" Mendengar nama Adrian disebut, jantung Aisha berdebar. "Tidak... tidak kok. Aku hanya agak kurang tidur karena menyusun konsep tata letak lukisan." "Jangan terlalu dipaksakan," Rendra mengecup kening Aisha lembut. Namun, saat tatapan Rendra turun ke bibir Aisha, pria itu menyipitkan mata. Ia mengusap sudut bibir Aisha dengan ibu jarinya. "Bibirmu... agak kering. Dan kamu terasa... berbeda sejak aku tinggal ke Singapura. Lebih dingin." Aisha memaksakan sebuah senyuman, menepis tangan Rendra halus dengan alasan ingin mengambil tasnya. "Hanya perasaanmu saja karena kita sudah seminggu tidak bertemu. Ayo, katanya mau makan siang?" "Tentu," Rendra tersenyum lagi, meski kilat curiga sempat melintas di matanya selama sepersekian detik. Saat mereka berjalan keluar dari area galeri menuju lobi utama, sebuah mobil sport mewah berwarna abu-abu baja berhenti tepat di depan pintu masuk. Pintu kemudi terbuka dan sesosok pria jangkung berjas gelap melangkah keluar dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Langkah Aisha langsung terhenti di tempat. Rendra yang melihat kakaknya segera melambaikan tangan dengan riang. "Kak Adrian!" panggil Rendra. Adrian melepas kacamatanya, menampilkan sepasang mata tajamnya, mengabaikan keberadaan adiknya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis, membentuk senyuman dingin yang sangat berbahaya. "Oh, Rendra. Kau sudah pulang," ucap Adrian, suaranya yang berat memecah keheningan lobi. Matanya beralih perlahan, menatap jemari Rendra yang menggenggam erat pergelangan tangan Aisha. "Kupikir kau akan tertahan lebih lama di Singapura." "Urusannya lancar, Kak. Ini aku mau mengajak Aisha makan siang," kata Rendra ramah. "Kakak mau bergabung?" "Rendra, Kak Adrian pasti sibuk—" Aisha mencoba menyela dengan panik. Ia tidak akan sanggup berada di satu meja dengan dua pria ini. "Aku tidak sibuk untuk makan siang bersama adikku... dan calon adiku," potong Adrian cepat. Ia melangkah mendekati mereka, aura dominasinya yang pekat langsung mengintimidasi sekitar. Adrian menatap Aisha dengan pandangan yang sarat akan ancaman rahasia. "Kebetulan, ada beberapa hal mengenai gaun malam... yang ingin kupastikan untuk acara keluarga besok. Benar kan, Aisha?" Aisha menahan napasnya, menatap Adrian dengan pandangan memohon agar pria itu berhenti. Namun Adrian justru melebarkan senyumnya, menikmati ketakutan yang menjalar di sekujur tubuh wanita milik adiknya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD