BAB 3: Rasa Bersalah yang Menyiksa

785 Words
Aisha tersentak, matanya melebar menatap nama Rendra yang berkedip di dasbor. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mendorong d**a bidang Adrian kuat-kuat. Adrian melepaskan pagutannya, namun ia tidak menjauh. Pria itu tetap mengurung tubuh Aisha, napasnya yang memburu menerpa wajah Aisha yang kini pucat pasi. Sepasang mata elangnya melirik dingin ke arah ponsel yang masih bergetar nyaring. "Jangan diangkat," perintah Adrian, suaranya rendah dan serak. "Minggir, Adrian!" tangis Aisha pecah. Rasa bersalah yang dalam mencekik dadanya hingga ia hampir sulit bernapas. "Aku harus mengangkatnya! Dia tunanganku!" Aisha meraih ponselnya dari dasbor dengan tangan gemetar, lalu menggeser layar hijau tepat sebelum panggilan itu terputus. "Halo? Rendra?" suara Aisha bergetar, ia mati-matian menahan isak tangis agar suaranya terdengar normal. "Sayang? Syukurlah tersambung. Di sini sinyalnya buruk sekali," suara Rendra di seberang sana terdengar riuh oleh bising bandara. "Bagaimana perjalanan ke Bogor? Kau aman bersama Kak Adrian, kan?" Aisha melirik Adrian yang kini menatapnya lurus dengan tatapan intens yang menghipnotis. Jari panjang Adrian perlahan bergerak, mengusap bibir Aisha yang sedikit bengkak akibat ciuman mereka tadi. Aisha memejamkan mata, tubuhnya meremang karena sensasi yang salah ini. "I-iya, Rendra. Kami... kami aman. Mobilnya sedikit bermasalah karena badai, tapi semua baik-baik saja," bohong Aisha, air matanya luruh melewati pipi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang menusuk hatinya sendiri. "Baguslah. Maaf aku tidak bisa di sana, Sayang. Aku harus menutup telepon, pesawatku akan lepas landas. Aku mencintaimu, Aisha." "Aku..." Aisha menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak sanggup membalas ucapan itu. "Hati-hati, Rendra." Begitu sambungan terputus, Aisha melempar ponselnya ke dasbor mobil. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak hebat. "Kau puas, Adrian? Kau membuatku menjadi wanita paling menjijikkan di dunia ini!" Adrian menarik tangan Aisha dari wajahnya secara paksa namun tidak kasar, memaksa wanita itu menatapnya. "Aku tidak pernah memaksamu jika kau benar-benar menolakku, Aisha. Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu." "Tidak! Aku mencintai Rendra!" jerit Aisha defensif. "Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dengan kebohongan itu," ucap Adrian dingin. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu kembali ke kursi pengemudi. Entah bagaimana, ia berhasil menyalakan kembali mesin mobil yang sempat mati, lalu memutar balik kendaraan menuju Jakarta tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seminggu telah berlalu sejak kejadian di dalam mobil dan Aisha melakukan segala cara untuk menghindar. Ia tidak membalas pesan Adrian, menolak panggilan teleponnya dan memindahkan seluruh aktivitas rapat proyek galeri ke kafe-kafe kecil di luar kantor Mahendra Group. Ia berpikir, jika ia menutup mata dan telinga, dosa itu akan menghilang dengan sendirinya. Namun, ia lupa dengan siapa ia berurusan. Adrian Mahendra bukanlah pria yang bisa di hindari begitu saja. Siang itu, Aisha sedang menyusun konsep tata letak lukisan di kantor galeri seni, tempatnya bekerja. Namun pintu ruangan tiba-tiba dibuka tanpa ketukan. Pemilik galeri masuk dengan wajah pucat dan tubuh yang membungkuk hormat. "Aisha, syukurlah kamu ada di sini. Kenalkan, ini investor utama yang baru saja mengambil alih seluruh pendanaan proyek pameran kita," ujar pemilik galeri dengan suara gemetar. Aisha berbalik, dan jantungnya seakan mendadak berhenti berdetak. Adrian Mahendra melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang sangat elegan. Di belakangnya, dua orang pengawal berbadan tegap menjaga pintu. Tatapan mata Adrian yang dingin langsung mengunci Aisha. "Selamat siang, Nona Kurator," sapa Adrian formal, namun ada nada mengejek yang terselip di sana. "Tuan... Tuan Adrian? Mengapa kamu di sini?" tanya Aisha, suaranya sedikit gugup. "Bukankah dana proyek ini awalnya dari perusahaan mitra Rendra?" "Mitra Rendra terlalu lambat dalam mengeksekusi modal," jawab Adrian santai, melangkah mendekati meja kerja Aisha dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, menunduk tipis untuk menatap Aisha dari dekat. "Jadi, aku membeli seluruh saham mereka pagi ini. Mulai detik ini, Mahendra Group adalah pemilik tunggal proyek ini. Dan aku... adalah atasan langsungmu." Pemilik galeri yang merasakan ketegangan aneh itu segera berpamitan keluar, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sempit. "Kau gila, Adrian!" desis Aisha begitu pintu tertutup. Ia berdiri dari kursinya, mundur beberapa langkah. "Apa yang kau inginkan sebenarnya? Aku sudah mencoba melupakan kejadian malam itu!" "Tapi aku tidak bisa melupakannya," Adrian berjalan mengitari meja, mengikis jarak di antara mereka tanpa tergesa-gesa, seperti singa yang sedang memojokkan mangsanya. "Kau mengabaikan teleponku selama seminggu, Aisha. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani mengabaikan Adrian Mahendra." "Aku tunangan adikmu! Tolong lepas kendalimu atas hidupku!" Aisha memohon dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Adrian menyudutkan Aisha hingga punggung wanita itu membentur dinding pembatas ruangan. Ia menumpu kedua tangannya di sisi tubuh Aisha, mengurungnya. "Kau bisa lari ke mana pun kau mau, Aisha. Tapi ingat satu hal..." Adrian berbisik tepat di depan bibir Aisha, membuat napas wanita itu tertahan. "... setiap proyek yang kau sentuh dan langkah yang kau ambil, mulai hari ini adalah milikku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD