39. Arah Tujuan

1095 Words

Dari balkon privat di lantai atas hotel, Risty berdiri sendirian. Angin berembus pelan, mengibarkan ujung gaunnya yang berkilau di terpa sinar matahari siang. Tangannya bertumpu di pagar marmer dingin, sementara bibir merahnya melengkung dalam senyum tipis yang sama sekali tak menyiratkan kegembiraan. Risty mengeraskan rahangnya. Cincin. Dia melihatnya, berkilat di jari manis Helva. Bukan sekadar perhiasan. Itu adalah pernyataan. Deklarasi. Penegasan bahwa Helva milik Daniel. “Tertawalah, Helva,” gumamnya rendah, suara tajam seperti racun madu. “Selagi kau bisa. Karena nanti, kau akan menangis, dan aku yang akan berdiri tepat di atas kejatuhanmu.” Sorot matanya kian tajam, menatap nyalang penuh rencana. Dia meneguk sisa minumannya, lalu menoleh ke belakang saat suara langkah kaki dat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD