Bab 14 Really?

1042 Words
Malam itu, setelah makan malam yang hening, suasana rumah terasa berbeda. Bukan sebuah perang dingin tapi ada ketegangan oleh sesuatu yang tak terucap. Nesya langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian. Leo berdiri di ruang tengah lebih lama dari biasanya, mencoba duduk dan memikirkan semuanya secara pribadi. Kalimat tadi masih terngiang di kepalanya. “Aku akan tetap menjadi istrimu.” Bukan karena cinta melainkan karena komitmen. Namun justru itu yang mengganggunya. Apalagi Nesya bilang dia akan pergi begitu Maria kembali. Leo harusnya bahagia. Itu yang dia harapkan, tapi kenapa dia tidak suka? Ada perasaan janggal yang terus membuatnya merasa perlu mempertahankan Nesya. Meski ia sendiri yang awalnya tidak bersedia menikahinya. --- Di kamarnya, Nesya duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum benar-benar berganti pakaian tidur. Pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Dia mencintaimu. Kalimat Leo tadi terasa absurd. Tara mencintaiku? Tidak mungkin. Bagi Nesya, Tara selalu santai. Sering bercanda dan selalu profesional. Ia tidak pernah melewati batas. Tara tidak pernah menyentuhnya sembarangan atau mengucapkan sesuatu yang bisa disalahartikan. Namun… Ada momen-momen kecil yang kini terasa berbeda jika dipikir ulang. Cara Tara selalu berdiri sedikit di belakangnya saat presentasi. Cara ia diam paling lama ketika semua orang sudah keluar ruangan. Cara ia selalu menjadi orang pertama yang memastikan ia makan saat lembur. Nesya menggeleng cepat. Tidak. Itu hanya perhatian sahabat. Harusnya begitu. Dia salah sangka. Pikirannya terus menanamkan hal itu seolah sesuatu yang besar akan hancur bila dia percaya ucapan Leo. Pintu kamar diketuk ringan. “Aku masuk.” Leo tidak menunggu jawaban. Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang. "Kamu mau tidur di sini?" tanya Nesya, sedikit sinis. “Kamu memikirkannya?” Leo tidak menjawab pertanyaan Nesya. "Tentang apa?" "Ucapanku tadi." "Buat apa?" "Kamu memikirkannya?" ulang Leo seolah mendesak untuk dijawab. Nesya tidak pura-pura tidak tahu maksudnya. “Sedikit.” “Dan?” “Aku tetap tidak yakin.” Leo menyandarkan bahu ke lemari. “Kamu terlalu percaya orang.” “Aku tidak suka berprasangka.” “Aku tidak berprasangka. Aku mengamati.” Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang berbeda di mata Leo malam ini. Bukan tuduhan atau kecurigaan seperti saat ia menuduh Nesya membantu Maria kabur dulu. Ini lebih… protektif. “Kamu cemburu?” tanya Nesya pelan. Pertanyaan itu membuat ruangan hening. Leo tidak langsung menjawab. Ia tidak terbiasa ditanya seperti itu. “Tidak,” katanya akhirnya. Jawaban yang terlalu cepat. Meski sudah menduga, tetap saja, itu terasa pedih. Nesya tersenyum tipis. “Bagus.” Jawaban aman agar Leo tidak tahu kalau hatinya terluka. Bagaimanapun pernikahan mereka memang tanpa cinta. Entah kenapa, jawaban tenang itu membuat Leo semakin kesal. "Kamu mau tidur di sini?" ulang Nesya karena Leo masih tidak beranjak. "Aku suamimu." Leo menegaskan status. "Aku pikir kita sudah sepakat, tidak ada cinta atau sentuhan. Kamu yang memberikan syarat itu," ucap Nesya setengah menyindir. Leo menyipitkan matanya pelan, "Aku tidak suka nada bicaramu, Nesya." "Bukannya kamu memang tidak suka padaku dari dulu?" Leo tidak menjawab karena itu benar dan hal itu membuatnya semakin kesal. "Selamat malam, Nesya," ujarnya lalu pergi. "Malam, Leo," jawab Nesya lalu berjalan ke pintu dan menguncinya. Dia tidak mau pria itu masuk begitu saja seperti tadi. Meski Leo suaminya, itu tetap tidak sopan. --- Keesokan harinya di kantor, suasana berjalan seperti biasa. Anita sibuk dengan revisi proposal. Sari pusing mengurus timeline baru. Tara memimpin briefing pagi dengan tenang. Nesya berdiri di samping layar presentasi, menjelaskan strategi ekspansi. Leo benar. Tara memang profesional, tapi hari ini, tanpa sengaja, Nesya memperhatikan lebih detail. Saat ia berbicara, Tara mendengarkan dengan fokus penuh. Bukan sekadar COO yang mencatat poin penting melainka seperti seseorang yang benar-benar bangga. Ketika meeting selesai dan semua orang keluar, Tara tetap di ruangan. “Kamu kelihatan sedikit lelah,” katanya pelan. “Kurang tidur saja.” Nesya beralasan. “Karena suamimu over protective?” Nada itu setengah bercanda. Nesya terdiam. “Kamu tahu dia mengantar dan menjemputku kemarin kan?” tanyanya. Tara tersenyum kecil. “Iya. Seluruh kantor tahu.” "Dia hanya perhatian," pungkas Nesya. "Bagaimana setelah kami pulang? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Tara sembari menatap Nesya lekat. "Sedikit," jawabnya jujur. "Apa itu?" Tara tersenyum penuh arti. "Aku jadi penasaran karena sepertinya suamimu sangat waspada kepadaku." Nesya hanya tersenyum kecil. "Ayolah, aku tidak akan mengadu," bujuk Tara. Nesya sedikit ragu, tapi mungkin mengatakannya akan membuatnya bisa menilai prasangka Leo benar atau tidak. “Dia bilang kamu—” Nesya berhenti. Entah kenapa dia tidak sanggup mengatakannya. Tara mengangkat alis. “Aku apa?” Nesya ragu. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak nyaman melanjutkan kalimat itu. “Tidak penting.” Tara menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Aku tidak pernah ingin membuat situasimu rumit,” katanya pelan. Kalimat itu terlalu spesifik untuk disebut biasa. Nesya mengernyit. “Situasi apa?” Tara tersenyum, tapi kali ini lebih tipis. “Lupakan.” Namun sebelum percakapan itu bisa berkembang— Pintu ruangan terbuka. Ia memang datang dengan sengaja dan Nesya mengizinkannya masuk daripada harus menunggu di luar. Tatapannya langsung menangkap jarak di antara mereka. Tidak terlalu dekat, tapi cukup privat. “Maaf kalau aku datang mengganggu jam kerja,” ucap Leo datar. Tara mundur selangkah otomatis. “Tidak, kok. Kami sudah selesai.” Nesya merasa suasana berubah. Tegangan yang tak terlihat tapi jelas terasa. “Aku hanya ingin mengajak makan siang,” kata Leo pada Nesya. Tara menoleh sekilas pada wanita itu. Ekspresinya tetap tenang, tapi matanya seperti ada sesuatu di sana. Kali ini, untuk pertama kalinya, Nesya melihatnya. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sahabat. Detik itu juga, ia teringat kalimat Leo. Dia mencintaimu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena senang atau karena tersentuh melainkan karena sadar kalau dia mungkin benar-benar tidak pernah memperhatikan Tara selama ini. Really? Ia mencintaiku? "Kamu mau ikut aku kan?" Ucapan Leo membuat Nesya sadar bahwa dia harus menjaga jarak. “Aku ikut,” kata Nesya cepat. Leo mengangguk. Saat mereka berjalan keluar berdampingan, Leo tanpa sadar meletakkan tangannya di punggung bawah Nesya. Gerakan kecil dan protektif. Tara melihatnya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, ia merasakan sesuatu yang tajam menusuk dadanya sendiri. Bukan karena kalah melainkan karena sadar kalau wanita yang ia cintai diam-diam itu… sudah memilih untuk tetap berdiri di sisi pria lain. Di antara tiga orang itu hanya satu yang belum sepenuhnya mengerti isi hatinya sendiri yaitu Leo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD