Makan siang itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Leo memilih restoran yang tenang, jauh dari area kantor. Bukan tempat yang terlalu formal, tapi cukup privat untuk berbicara tanpa banyak gangguan.
Nesya tahu ini bukan sekadar makan siang melainkan sebuah interogasi halus.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Leo setelah pesanan datang.
“Kerjaan.”
“Kamu yakin?”
Nesya menghela napas. “Leo.”
Nada itu lembut, tapi mengandung peringatan.
“Aku tidak suka kamu merasa terancam oleh sahabatku.”
“Aku tidak merasa terancam.”
“Kamu selalu membahas Tara selama dua hari,” balas Nesya tenang. “Jujur saja, itu melelahkan.”
Leo tidak langsung memberikan reaksi, tetapi harusnya dia sadar kalau sikapnya memang membingungkan.
"Aku dan Tara sudah seperti keluarga, bukanka sudah aku jelaskan? Mau dia mencintaiku atau tidak, itu tidak mengubah fakta kalau aku istrimu saat ini. Benar kan?"
Leo tidak langsung membantah, tetapi dia sadar kalau memang perkataan Nesya sulit dibantah.
Ia menatap gelasnya, lalu mendongak ke arah Nesya.
“Aku hanya ingin memastikan kamu tidak disakiti.”
“Kamu pikir Tara akan menyakitiku?”
“Bukan sengaja.”
Kalimat itu menggantung.
Nesya menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kamu tahu sesuatu yang tidak aku tahu?”
Leo menatapnya lama.
“Aku tahu bagaimana seorang pria melihat wanita yang ia cintai.”
Jantung Nesya berdegup sedikit lebih keras.
“Dan kamu melihat itu di matanya?”
“Ya.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Nesya tidak membantah.
Karena tadi… ia juga melihatnya sedikit hari ini.
"Bagaimanapun, dia adalah karyawan dan sahabatku, asumsi dia akan menyakitiku hanya hipotesismu, jadi hentikan sebelum semua mengarah ke hal yang rumit."
Rahang Leo mengeras, entah kenapa dia merasa tersinggung.
"Kamu mau bilang, dia lebih penting daripada aku?"
"Bukankah itu sudah jelas? Sama seperti aku yang hanya pengganti di matamu, kamu juga hanya suami sementara bagiku, Leo." Nesya berkata dengan tenang. "Tidak ada cinta dan sentuhan, bukankah ini pernikahan yang kamu mau?"
Leo merapatkan giginya. Tangannya mengepal. Memang dia yang bilang begitu tapi...
"Jangan mencampuri urusanku. Mari saling menghormati," pungkas Nesya membuat Leo hanya bisa terdiam dalam perasaannya yang kacau.
---
Di kantor, Tara berdiri sendirian di ruang kerjanya.
Ia jarang merasa seperti ini.
Biasanya ia rasional dan terukur, tapi melihat tangan Leo di punggung bawah Nesya tadi—
Itu terasa seperti batas yang ditegaskan dan ia tidak bisa protes.
Karena secara status, Leo memang suaminya. Sedangkan dia hanya sahabatnya.
Anita mengetuk pintu tanpa menunggu izin. “Eh, kamu kenapa bengong?”
“Tidak apa.”
“Bohong. Dari tadi kamu melamun.”
Tara tersenyum tipis. “Aku cuma capek.”
Anita menyipitkan mata. “Jangan bilang kamu kepikiran Nesya lagi.”
Tara langsung menoleh. “Apa maksudmu?”
Anita terdiam beberapa detik, lalu mengangkat bahu. “Aku ini perempuan, Tara. Aku bisa lihat.”
“Kamu lihat apa?”
“Cara kamu lihat dia.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
“Kamu salah paham.”
“Semoga.”
Anita menatapnya serius kali ini. “Karena dia sudah menikah.”
Kalimat itu seperti palu.
“Aku tahu.”
“Dan dia tidak pernah tahu, kan?”
Tara terdiam.
Itu sudah menjawab segalanya.
Anita menghela napas panjang. “Kamu harus hati-hati. Bukan cuma demi dia, tapi demi perusahaan ini juga.”
"Aku selalu berhati-hati," bisik Tara lirih.
Anita menepuk pundaknya, "Tara, kamu dan Nesya adalah sahabatku. Aku dan Sari akan selalu mendukung kalian, tapi jika kalian bertengkar, kamu tahu, kami akan di posisi yang sulit."
Tara tersenyum kecut. Dia paham kekhawatiran Anita.
"Aku tidak akan pernah membuat kalian dalam posisi canggung. Lagipula siapa yang mau bertengkar dengan Nesya? Dia galak dan..."
"Bidadari, kan?" potong Anita membuat Tara tergelak.
"Ya, dia bidadari yang galak."
Anita tersenyum tipis, "sebagai sesama wanita, aku mengakui kecantikan dan kebaikannya. Hanya orang bodoh yang tidak jatuh cinta padanya."
Tara mengangguk setuju, "bener, aku harap Leo sebodoh itu."
"Hei," protes Anita sambil mencubit pinggang Tara membuat pria itu mengeluh ringan lalu keduanya saling tertawa.
---
Sore hari, Nesya kembali ke kantor dengan pikiran penuh.
Ia mencoba bersikap biasa, tapi sekarang setiap interaksi terasa berbeda.
Tara berdiri di dekat mejanya saat ia masuk.
“Kamu sudah makan?”
“Iya.”
“Hm.”
Biasanya mereka akan lanjut bercanda. Namun hari ini, tidak.
Ada jarak tipis yang tak terlihat.
“Ada yang ingin kamu katakan tadi?” tanya Nesya tiba-tiba.
Tara mengernyit. “Tentang apa?”
“Di ruang meeting.”
Tara terdiam beberapa detik.
Ia bisa saja mengelak atau mengubah topik. Namun melihat mata Nesya yang tulus dan tidak curiga—
Ia sadar satu hal.
Wanita itu benar-benar tidak tahu dan mungkin memang tidak seharusnya tahu tentang perasaannya.
“Aku cuma mau bilang… kalau pun keadaanmu berubah, aku tetap di sini sebagai partner kerja yang profesional.”
Jawaban aman.
Nesya tersenyum lega. “Tentu saja. Kita kan sudah dari nol bersama.”
Kata bersama itu terdengar berbeda di telinga Tara.
Ia menahan napas sejenak.
“Iya,” jawabnya pelan. “Dari nol.”
Tanpa ia sadari, Leo berdiri beberapa meter dari sana.
Ia datang untuk menjemput lagi.
Kali ini, ia melihat dengan lebih jelas.
Cara Tara menatap Nesya ketika wanita itu membalikkan badan.
Cara ekspresi itu berubah ketika Nesya tidak melihatnya.
Bukan sekadar rekan kerja atau sahabat. Itu tatapan seorang pria yang sedang menahan sesuatu.
Leo mengepalkan rahangnya.
Ia tidak marah pada Nesya.
Ia tidak bisa. Karena Nesya tidak melakukan apa-apa.
Yang membuatnya gelisah adalah bahwa ia sadar saingannya bukan pria sembarangan.
Tara mengenal Nesya jauh lebih lama. Mereka membangun mimpi bersamanya dan mengerti ritme hidupnya.
Mungkin sudah lama mencintainya lebih dulu.
Apa? Leo segera menyadarkan dirinya. Wanita yang dicintainya hanya Maria. Dia bersikap begini karena Nesya adalah istrinya. Harga dirinya bisa jatuh kalau selama menikah, Nesya memiliki pria lain.
Saat Nesya berjalan menghampirinya, Leo tersenyum tipis.
“Kita pulang?”
“Iya.”
Kali ini, sebelum berjalan pergi, Nesya tanpa sadar menoleh ke belakang.
Tatapannya bertemu Tara.
Hanya satu detik. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dadanya terasa… aneh.
Bukan cinta. Belum. Namun itu bukan juga sekadar persahabatan yang polos seperti dulu.
Leo melihat tatapan singkat itu.
Cemburu bukan lagi dugaan. Perasaan itu nyata. Egonya tergores.
Untuk pertama kalinya—
Leo sadar ia tidak hanya ingin melindungi Nesya.
Ia ingin memilikinya sepenuhnya sebagai istri. Meski sepertinya Nesya membangun dinding padanya lebih tinggi daripada miliknya.
Sementara Tara, di sisi lain ruangan, berdiri diam.
Menahan perang yang hanya ia sendiri yang rasakan agar tidak dimulai.
Nesya masih belum sepenuhnya mengerti bahwa hatinya sedang berada di tengah dua pria yang sama-sama mulai kehilangan kendali.