Pagi datang dengan suasana yang berbeda. Bukan karena rumah itu berubah melainkan karena jarak di antara mereka tidak lagi sedingin kemarin.
Nesya sudah rapi sejak pukul tujuh. Blazer putih tulang membingkai tubuhnya dengan elegan, dipadukan rok span hitam dan sepatu heels rendah yang tetap nyaman. Rambutnya dibiarkan tergerai setengah, make-up tipis menegaskan wajah profesionalnya.
Ia keluar dari kamar sambil mengecek jadwal di tablet.
Leo sudah duduk di ruang makan dengan kopi hitamnya. Biasanya, setelah sarapan singkat, Nesya akan memanggil taxi atau memakai mobil sendiri. Namun pagi ini, Leo berdiri sebelum ia sempat bicara.
“Aku antar.”
Nesya mendongak, sedikit terkejut. “Tidak perlu. Aku sudah biasa—”
“Aku tidak ada agenda pagi ini.”
Nada suaranya tidak memerintah, tapi tegas. Untuk pertama kalinya, tawaran itu terdengar… tulus.
Nesya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Baik.”
"Kamu mau sarapan dulu?" tawar Leo.
"Nggak, aku sudah telat. Ada meeting pagi," tolaknya sopan.
"Ayo berangkat sekarang."
"Kamu sudah selesai sarapan?"
"Ya," jawab Leo singkat. Mereka berdua pun berjalan keluar. Nesya berjalan di belakang Leo.
---
Perjalanan menuju kantor startup mereka tidak terlalu jauh. Gedungnya bukan gedung pencakar langit, tapi bangunan modern berlapis kaca dengan logo perusahaan terpampang minimalis di depan. Nama perusahaan itu lahir dari empat kepala keras yang berteman sejak kuliah. Nesya sebagai CEO. Tara sebagai COO. Anita dan Sari sebagai perencana inti sekaligus pemegang saham.
Mereka bukan sekadar karyawan dan atasan melainkan empat orang yang tumbuh bersama membangun semuanya dari nol.
Mobil berhenti di depan lobi. Beberapa karyawan yang baru datang langsung menunduk hormat pada Nesya.
“Pagi, Bu.”
“Pagi.”
Suaranya berubah profesional, tapi tetap hangat. Leo turun mengitari mobil dan membukakan pintu untuknya. Gerakan kecil itu membuat dua staf resepsionis saling pandang, menahan senyum.
Nesya menoleh sedikit. “Terima kasih.”
“Mau aku jemput nanti?” tanya Leo tanpa sadar.
Nesya mengangkat alis tipis. “Kamu yakin?”
Leo menatap lurus ke depan gedung. “Ya.”
Sebelum Nesya sempat menjawab, pintu lobi terbuka. Tara keluar dengan langkah cepat, mengenakan kemeja navy dan celana bahan rapi.
Begitu melihat Nesya, wajahnya langsung berubah cerah.
“Pagi, Boss!”
Nesya membalas senyumannya, "Boss apanya?"
"Di kantor, kamu bossku." Tara tersenyum lebih cerah.
Nesya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Suara deheman membuat Tara akhirnya menyadari kehadiran Leo.
Senyumnya tetap ada, tapi kini lebih formal. “Pagi, Suami Nesya.”
"Aku Leo," tegasnya. "Bukannya kemarin kita sudah saling menyapa?"
"Benarkah?" Tara tersenyum tengil, "Kamu mau kupanggil, Pak, Suami Nesya atau..."
"Leo," potong Leo tegas.
"Pagi, Leo." Tara tersenyum puas membuat Leo kesal.
"Pagi," jawabnya singkat, sedikit sinis.
Nesya yang melihat ketegangan itu merasa perlu mengubah suasana.
“Tara, meeting investor jam sembilan sudah siap?” tanya Nesya.
“Sudah. Anita sudah cek ulang proposal. Sari masih deg-degan, tapi dia pasti beres.”
Nesya tertawa kecil. Tawa yang sama seperti kemarin sore. Leo memperhatikan.
Tara berdiri agak dekat. Terlalu nyaman seolah sudah terbiasa.
“Aku masuk dulu,” kata Nesya pada Leo.
Leo mengangguk. “Aku jemput sore.”
Kali ini Nesya tidak menolak. “Baik.”
Ia berjalan masuk bersama Tara.
Leo tetap berdiri beberapa detik.
Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti orang luar yang melihat dunia istrinya dari balik kaca.
Di dalam ruang kerja utama, suasana jauh lebih hidup. Anita langsung berdiri ketika melihat Nesya.
“Finally! Investor itu rese banget, Nes.”
Sari menyusul dari balik meja dengan wajah tegang.
“Aku sudah print semua dokumen cadangan. Kalau mereka minta revisi lagi aku bisa pingsan.”
Nesya menaruh tasnya. “Tenang. Kita sudah siap.”
Tara bersandar santai di meja, memperhatikan wanita itu dengan tatapan yang hanya sedikit orang sadari.
Tatapan penuh rasa bangga.
“Kalau kamu yang presentasi, mereka pasti luluh,” katanya ringan.
Anita melirik Tara dengan senyum usil. “Tuh, ada yang selalu yakin.”
Tara melempar kertas kecil ke arah Anita. “Fokus kerja, Nita.”
Nesya hanya menggeleng kecil, tapi senyumnya lembut.
Interaksi mereka cair. Tidak ada jarak jabatan.
Meski Nesya CEO, saham mereka hampir seimbang. Semua keputusan besar dibicarakan bersama. Itulah yang membuat perusahaan ini bertahan.
Beberapa jam kemudian, meeting selesai dengan hasil positif. Investor setuju menambah pendanaan.
Sorak kecil terdengar di ruang rapat begitu pintu tertutup.
Sari hampir menangis. “Kita lolos!”
Anita memeluknya. “Gila, Nes! Kamu keren banget tadi.”
Tara menepuk bahu Nesya pelan. “Aku sudah bilang.”
Sentuhan itu singkat seolah sangat wajar. Namun tatapan Tara tidak sesingkat itu. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tertahan.
"Jaga sikapmu, Nesya sudah menikah," bisik Anita.
Tara hanya tersenyum kecut, "Aku tahu."
Anita hanya mengembuskan napas pelan, antara kasihan dan iri karena Nesya bisa dicintai setulus itu. Meskipun yang dicintai Tara masih tidak sadar akan perasaan istimewa Tara padanya.
"Kami pergi dulu," pamit Anita dan Sari.
Nesya hanya mengangguk pelan.
Ketika Anita dan Sari keluar untuk mengabari tim, Tara tetap tinggal. Ruangan menjadi lebih sunyi.
“Kamu kelihatan lebih tenang akhir-akhir ini,” katanya pelan.
Nesya menyandarkan tubuh ke kursi. “Aku hanya mencoba menyesuaikan diri.”
“Dia memperlakukanmu dengan baik?”
Pertanyaan itu bukan sebagai COO, tapi sebagai pria. Meski jelas, Nesya tidak merasakannya.
Nesya menatapnya. “Leo bukan orang jahat.”
“Itu bukan jawaban yang aku mau.”
Nesya tersenyum tipis. “Kami saling menghormati.”
Tara menatap Nesya lekat, "Menghormati?"
"Kami suami istri sekarang, Tara." Ada nada penekanan di sana. Tara langsung paham kalau Nesya tidak mau membahas hal ini lebih jauh.
“Aku cuma mau kamu bahagia, Nes.”
Kalimat itu sederhana, tapi penuh makna.
Sebelum Nesya sempat membalas, pintu kaca ruang rapat terbuka. Leo berdiri di sana.
Tatapannya langsung menangkap adegan itu, Tara berdiri terlalu dekat. Ekspresi lembut di wajahnya dan kalimat terakhir yang masih menggantung di udara.
“Aku cuma mau kamu bahagia, Nes.”
Ruangan seketika terasa lebih sempit.
Tara menoleh. Ekspresinya berubah profesional dalam satu detik. “Oh, Pak Leo.”
Nesya berdiri. “Kamu kenapa ke sini?”
“Aku kebetulan lewat. Meetingmu sudah selesai?”
Nada suaranya netral, tapi rahangnya mengeras.
Tara mundur satu langkah, memberi ruang. “Pergilah, aku akan tinggal sebentar lagi. Ada laporan yang harus aku kirim.”
Mereka pergi tanpa banyak bicara. Namun sebelum pintu tertutup, Leo masih sempat melihat cara Tara menoleh sekilas pada Nesya.
Tatapan yang terlalu dalam untuk sekadar rekan kerja atau sahabat lama.
Untuk pertama kalinya, rasa panas itu kembali. Kali ini lebih jelas dan nyata.
Leo menutup pintu perlahan.
“Sepertinya dia sangat peduli padamu.”
Nesya menghela napas kecil. “Tara sahabatku.”
“Sahabat yang mencintaimu.”
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan.
Nesya terdiam.
"Kamu gila. Tara dan aku sudah seperti keluarga," bantahnya.
Leo mengepalkan tangan kuat.
"Ya, aku yang salah," katanya dengan rahang yang mengeras. Jelas dia tahu Nesya hanya tidak peka bahwa Tara menganggapnya lebih dari sekadar keluarga. Namun, dia tidak akan membiarkannya Nesya menyadarinya.