Bab 11 Kenapa?

1028 Words
Mobil berhenti di halaman rumah dinas saat langit mulai berubah jingga. Leo turun lebih dulu seperti biasa. Wajahnya kembali kaku dan terkendali. Ia mengambil beberapa kantong makanan yang dibekalkan ibu Nesya tanpa berkata apa-apa. Nesya menyusul di belakangnya, membawa tas tangan dan sekotak kue yang dipaksa ibunya untuk dibawa pulang. Begitu pintu rumah tertutup, sunyi langsung menyergap. Berbeda dengan rumah tadi. Tidak ada suara tawa atau aroma masakan rumahan seperti sebelumnya. Hanya ruang luas yang rapi dan terlalu teratur. Nesya berjalan ke dapur, menaruh kotak makanan di meja. “Aku simpan dulu ya, nanti bisa dipanaskan buat makan malam.” Leo melepas jam tangannya, menaruhnya di meja dengan sedikit lebih keras dari biasanya. “Kamu dekat sekali dengan Tara.” Kalimat itu keluar begitu saja. Datar, tapi tajam. Nesya berhenti. Perlahan ia menoleh. “Kami bekerja bersama dan sahabat baik.” “Bukan itu maksudku.” “Lalu?” Leo menatapnya lurus. “Keluargamu menganggap dia seperti calon menantu.” Nesya menghela napas pelan. “Itu hanya candaan lama.” “Candaan yang terlalu nyaman.” Ada nada yang tak biasa dalam suara Leo. Bukan dingin seperti biasanya. Lebih… tertekan atau terganggu? Nesya menyandarkan punggungnya ke meja dapur. “Kamu keberatan?” Leo terdiam sepersekian detik. Keberatan? Bukankah ia yang selalu berkata pernikahan ini tidak berdasarkan perasaan? Bukankah ia yang berkali-kali menegaskan bahwa jika suatu hari Maria kembali, semuanya bisa berubah? Ia seharusnya tidak punya hak untuk merasa apa-apa. “Aku hanya tidak suka melihat orang lain merasa punya tempat di hidup istriku,” akhirnya ia berkata. Hening. Kalimat itu menggantung di udara. Nesya menatapnya lama. “Kamu bilang pernikahan ini hanya tanggung jawab dan hanya berlangsung dua tahun atau sampai kamu menemukan Maria.” “Aku tahu.” “Kamu bilang jangan berharap lebih.” Leo mengatupkan rahang. Nesya melanjutkan pelan, “Jadi aku menjaga jarak. Dengan semua orang. Termasuk Tara.” Leo sedikit mengernyit. “Menjaga jarak?” “Kamu pikir kenapa aku tidak pernah balas pesan di luar jam kerja? Kenapa aku selalu pulang tepat waktu sejak menikah dan berhenti nongkrong dengan mereka sekarang?” Ia tersenyum tipis, bukan bahagia. Lebih seperti lelah. “Karena aku menghormati status ini.” Leo tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu karena tidak pernah benar-benar memperhatikan. Yang ia lihat hanya tawa Nesya sore tadi. Bukan batas-batas yang diam-diam ia buat. “Tara tahu batasnya,” lanjut Nesya. “Dan aku juga.” “Dia jelas masih peduli.” “Itu urusannya. Bukan milikku.” Kalimat itu tegas. Tanpa goyah. "Lagipula sejak dulu dia memang peduli padaku. Tidak hanya dia. Ada Anita dan Sari juga." Leo menatap wanita di depannya. "Kamu lupa? Kita harus menikah karena Maria meninggalkan altar, jadi Leo, jangan paksa aku meninggalkan dunia yang sudah ada sebelum aku menjadi istrimu. Lagipula aku melakukan peranku dengan baik." Leo terdiam cukup lama. Ia ingat pagi tadi. Cara Nesya memasak tanpa mengeluh. Cara ia menerima sindiran tanpa membalas. Cara ia tetap sopan pada ibunya meski dituduh berlebihan. Kini ia berdiri di sini, menjelaskan tanpa nada membela diri. “Aku tidak pernah memberi harapan pada siapa pun,” ucap Nesya lebih pelan. “Termasuk kamu.” Kalimat terakhir itu membuat dadaa Leo terasa aneh. “Apa maksudmu?” “Aku tidak menuntut apa pun dari kamu. Tidak meminta perhatian. Tidak meminta cinta. Aku hanya menjalankan peran yang kamu minta.” Sunyi. Leo sadar. Selama ini ia mengira Nesya berusaha mengambil tempat. Berusaha menggantikan Maria. Berusaha membuat semua orang melupakannya. Namun mungkin ia hanya sedang berusaha bertahan dengan caranya sendiri. “Kalau kamu merasa tidak nyaman dengan Tara, aku bisa lebih menjaga jarak,” kata Nesya lagi. Leo langsung menggeleng. “Aku tidak ingin kamu mengubah hidupmu.” “Lalu kamu ingin apa?” Pertanyaan itu sederhana, tapi Leo tidak punya jawaban instan. Ia mendekat satu langkah. “Apakah… kalau situasinya berbeda,” katanya perlahan, “kamu akan memilih Tara?” Nesya terdiam. Pertanyaan itu jujur. Mungkin untuk pertama kalinya, Leo benar-benar ingin tahu jawabannya. “Dulu?” Nesya berpikir sejenak. “Mungkin keluargaku berharap begitu.” “Dan kamu?” Nesya menatapnya lurus. “Aku tidak pernah mencintainya.” Jawaban itu tenang. Tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat sesuatu dalam diri Leo mengendur. “Kenapa?” tanyanya tanpa sadar. “Karena dari dulu… aku tidak ingin menikah dengan seseorang hanya karena semua orang bilang dia cocok.” Leo terdiam. Kalimat itu terasa seperti cermin. Bukankah itu yang terjadi pada mereka sekarang? Pernikahan karena keadaan. Karena keluarga. Karena situasi. Bukan karena pilihan hati. Nesya melanjutkan pelan, “Aku ingin menikah dengan seseorang yang memilihku. Bukan karena terpaksa.” Daada Leo terasa sesak. Ia tahu kalimat itu bukan tuduhan, tapi fakta. Fakta itu menampar lebih keras dari amarah. “Aku tidak pernah menganggapmu beban,” ucap Leo tiba-tiba. Nesya tersenyum kecil. “Aku tahu.” “Lalu?” “Tapi kamu juga tidak pernah menganggapku pilihan.” Sunyi kembali turun. Kali ini lebih berat. Leo menyadari satu hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya ia mungkin bukan satu-satunya yang terjebak dalam pernikahan ini. Nesya juga mungkin tidak pernah berpikir akan di posisi ini. Entah sejak kapan, ia mulai tidak menyukai gagasan bahwa wanita ini mungkin suatu hari benar-benar pergi. “Kalau suatu hari…” Leo berhenti sejenak, mencari kata. “Kalau suatu hari aku berubah pikiran—” Nesya mengangkat alis tipis. “Tentang?” “Segalanya.” Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya tanpa dinding formalitas. Tanpa kalimat dingin. Hanya dua orang yang sama-sama terluka oleh keadaan. Nesya menarik napas pelan. “Kalau hari itu datang, kita bicarakan lagi.” Bukan penolakan. Bukan penerimaan melainkan kemungkinan. Leo mengangguk kecil. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka duduk di ruang tengah tanpa jarak sofa yang terlalu jauh. Tidak bersentuhan. Tidak juga saling menjauh. Hanya diam yang terasa berbeda. Di tengah sunyi itu, Leo menyadari sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak sore, ia mungkin belum mencintai wanita ini, tapi ia sudah mulai takut kehilangannya. Leo menatap Nesya yang terlihat fokus menonton televisi. Dia melihat Nesya dengan benar, bulu matanya yang lentik, bibir yang tipis dan perawakannya yang kalem dan elegan. Leo jadi bertanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya kenapa dia sangat membenci wanita di sampingnya saat ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD