Rumah keluarga Nesya berbeda jauh dari rumah keluarga Leo. Bukan hanya besar dan mewah, melainkan juga hangat.
Begitu mobil mereka masuk ke halaman luas dengan taman yang terawat, suasananya terasa hidup.
Deretan bunga bougenville berwarna cerah membingkai jalan masuk. Pohon kamboja tua berdiri teduh di sudut halaman, sementara air mancur kecil di tengah taman memantulkan cahaya matahari siang itu.
Seorang tukang kebun yang sedang menyiram bunga langsung menghentikan selangnya dan tersenyum lebar.
“Mbak Nesya!”
Nada suaranya bukan sekadar hormat. Ada rasa senang yang tulus di sana.
Nesya bahkan turun dari mobil sebelum Leo sempat mengitari sisi mobilnya untuk membukakan pintu.
“Pak Darto! Bunganya makin cantik,” katanya, benar-benar memperhatikan deretan mawar yang sedang mekar.
Pak Darto tertawa kecil, wajahnya mengerut ramah. “Soalnya Mbak yang pilih bibitnya waktu itu. Saya cuma rawat saja.”
Leo berdiri diam di samping mobil, memperhatikan interaksi itu.
Tidak ada jarak canggung atau batas kaku antara majikan dan pekerja.
Seorang pelayan rumah tangga keluar dari pintu samping membawa nampan berisi dua gelas jus.
“Mbak Nesya sudah pulang! Kami lihat di berita foto pernikahannya. Cantik sekali, Mbak.”
Nada suaranya hangat dan bangga seolah yang menikah bukan anak majikan, tapi anggota keluarga sendiri.
Nesya tersenyum malu. “Ah, itu cuma foto.”
“Tapi kami simpan, Mbak,” sahut pelayan itu polos.
Leo merasakan sesuatu yang asing menyusup ke dadanya.
Di rumahnya sendiri, suasana tak pernah sehangat ini.
Pintu utama terbuka lebar. Ibu Nesya langsung melangkah cepat dan memeluk putrinya erat.
“Anakku…”
Bukan pelukan formal atau basa-basi keluarga terpandang.
Pelukan rindu yang lama tertahan.
Nesya membalasnya dengan sama eratnya. “Mama sehat?”
Ayahnya menyusul, menepuk bahu Leo dengan sopan tapi agak kuat.
“Terima kasih sudah menjaga putri kami.”
Kalimat itu sederhana, tapi Leo merasa aneh mendengarnya.
Menjaga?
Ia hampir ingin berkata bahwa pernikahan ini hanya formalitas. Ia bahkan belum benar-benar memahami wanita yang kini disebut “putri mereka”.
Namun ia hanya mengangguk tipis.
Di ruang keluarga, suasana jauh lebih cair dibanding di rumahnya tadi pagi. Tidak ada tatapan menilai. Tidak ada kalimat tersirat yang penuh makna ganda. Hanya percakapan yang mengalir.
Ibunya Nesya bercerita tentang masa kecil putrinya.
“Nesya itu dari kecil tidak pernah minta macam-macam. Kalau ulang tahun, dia lebih senang traktir teman-temannya makan dibanding beli hadiah mahal.”
Ayahnya tersenyum bangga. “Waktu SMA dia jualan kecil-kecilan online. Katanya tidak enak minta uang terus.”
Seorang pelayan yang berdiri di dekat meja berani ikut bicara, tanpa rasa takut dimarahi.
“Mbak Nesya yang paling sering tanya kabar kami. Kalau ada anak saya sakit, Mbak yang pertama kirim obat. Bahkan pernah datang langsung.”
Nesya menggeleng pelan. “Sudah, jangan dibuka semua ceritanya.”
“Kenapa? Itu fakta,” jawab ayahnya ringan.
Leo duduk diam, mendengarkan dan mengamati.
Semua cerita itu konsisten. Tidak terdengar dibuat-buat atau kesan pencitraan.
Nesya tidak berusaha tampil sempurna. Ia hanya… memang seperti itu.
Wanita yang pagi tadi memasak omelette tanpa banyak bicara. Wanita yang di rumahnya membantu membuat kue tanpa pamer.
Kini juga ternyata wanita yang dicintai bukan karena status, tapi karena sikapnya.
"Nesya itu kesayangan papa dan mama, Leo. Mereka pilih kasih sejak dulu..." kalimat Maria yang sering diulang kembali muncul dalam ingatannya.
Tiba-tiba pintu depan kembali terbuka.
“Permisi!”
Suara pria yang familiar itu membuat Leo menoleh.
Tara, sahabat Nesya, atang dengan kemeja kasual dan senyum lebar, membawa sekotak kue di tangannya.
“Selamat pengantin baru,” katanya santai, meski tatapannya sempat berhenti lebih lama pada Nesya.
Ibunya Nesya langsung berdiri.
“Tara! Sudah lama tidak makan di sini. Masuk, Nak.”
Sambutan itu terlalu akrab dan nyaman.
Seolah pria itu bukan tamu, melainkan bagian dari keluarga.
Leo merasakan sesuatu yang tidak ia sukai, sesuatu yang mengusik.
Tara duduk tidak jauh dari Nesya. Jaraknya sopan—tapi cukup dekat untuk membuat Leo sadar akan setiap tawa yang keluar dari bibir istrinya.
Mereka bercanda ringan tentang kantor, tentang Anita yang panik saat klien besar datang mendadak dan Sari yang hampir menangis karena presentasinya salah file.
Nesya tertawa lepas.Tanpa beban. Tawa yang belum pernah Leo dengar sebelumnya. Entah kenapa, itu membuat rahangnya mengeras.
“Dulu kami kira Tara dan Nesya akan bersama,” celetuk ayah Nesya santai, sambil menyeruput teh.
Ruangan langsung hening setengah detik.
Ibunya Nesya, tanpa sadar, menambahkan, “Iya… kalau saja Leo jadi menikah dengan Maria, mungkin Tara yang akan menikah dengan Nesya.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Seperti candaan keluarga. Namun bagi Leo—
Itu seperti percikan api yang jatuh ke dalam bensin.
Tatapannya langsung mengarah ke Tara lalu ke Nesya.
Wajahnya tetap tenang, tapi udara di sekitarnya berubah dingin.
Tara tersenyum kecil, sedikit canggung. “Saya tidak seberuntung itu, Tante.”
Nada suaranya setengah bercanda, setengah jujur.
Nesya menghela napas pelan. “Mama…”
Namun ibunya hanya tertawa. “Ya sudah, sekarang sudah ada suaminya.”
Leo akhirnya bicara.
“Sepertinya banyak yang berharap selain saya sekalipun kalian semua yang ingin saya menikah dengan Nesya.”
Ruangan kembali sunyi tipis.
Nesya menoleh cepat ke arahnya. “Apa maksudmu?”
Leo tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.”
Tangannya mengepal di bawah meja.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ada rasa yang tidak bisa ia definisikan.
Bukan marah, benci atau tersinggung. Hanya perasaan panas dan mengganggu.
Rasa itu muncul saat melihat Nesya duduk terlalu dekat dengan pria lain.
Padahal ia sendiri yang berkali-kali mengatakan pernikahan ini hanya sementara. Tanpa cinta atau sentuhan dan... ini hanya tanggung jawab.
Ironis. Karena sekarang—
Ia justru tidak suka membayangkan kemungkinan lain.
Saat mereka akhirnya pamit pulang, suasana kembali normal. Pelukan hangat, pesan agar sering datang, dan bekal makanan yang dipaksakan masuk ke tangan Nesya.
Tara berdiri di dekat pintu, menatap Nesya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Kalau butuh apa pun, kamu tahu aku di mana.”
Kalimat itu pelan. Namun cukup jelas untuk didengar Leo.
Untuk pertama kalinya, ia tidak suka mendengar kalimat itu.
Nesya hanya mengangguk. “Terima kasih.”
Di dalam mobil, suasana jauh lebih tegang dari sebelumnya.
Leo menyetir tanpa bicara.
Jalanan sore itu ramai, tapi pikirannya lebih ramai lagi.
Ia baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Nesya bukan hanya “pengganti”.
Bukan sekadar adik dari wanita yang meninggalkannya di hari pernikahan.
Ia adalah pusat dari dunianya sendiri dengan dikelilingi orang-orang yang akan selalu berdiri di belakangnya.
Tiba-tiba, Leo merasa jika suatu hari ia benar-benar menceraikan wanita itu…
Mungkin bukan hanya ibunya yang akan kecewa.
Bukan hanya keluarga Nesya yang akan terluka, ada lebih banyak orang dari yang ia kira.
Hal yang paling mengganggunya adalah ada kemungkinan ia sendiri yang akan merasakan kehilangan itu paling dalam.
Mobil terus melaju tapi pikiran Leo terus berisik seolah dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.