Pagi itu rumah dinas terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sinar matahari menembus tirai tipis kamar utama, menyentuh wajah Leo yang masih terlelap. Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Ia jarang bangun setelat ini, tapi semalam pikirannya terlalu penuh.
Leo membuka mata pelan. Refleks militernya membuat tubuhnya langsung tegak duduk. Ia menoleh ke sisi lain ranjang. Kosong.
Tidak ada siapapun di sana. Maria tidak di sana dan istrinya adalah Nesya , bukan Maria.
Leo berpikir, apakah Nesya sudah bangun. Namun dia teringat tentang obrolan Maria tentang adiknya dulu padanya.
“Nesya itu tipe yang dilayani, Leo. Dia nggak pernah mau repot, makanya dia selalu bangun siang,” begitu kata Maria suatu malam, dengan nada setengah mengejek.
Leo berdiri, mengenakan kaus hitam dan celana training, lalu keluar dari kamar utama.
Langkahnya terhenti di ambang lorong. Aroma butter dan kopi memenuhi udara.
Ia berjalan menuju dapur, dan pemandangan di sana membuatnya diam beberapa detik.
Nesya berdiri di depan kompor, rambutnya yang panjang diikat rendah. Ia mengenakan dress rumah sederhana warna krem, tanpa make-up berlebihan.
Wajahnya tampak fokus saat membalik omelette di atas teflon.
Leo menyandarkan bahu ke kusen pintu.
“Kamu… masak?”
Nesya menoleh. Tatapannya sempat terkejut, lalu kembali tenang.
“Aku memasak omelette dan roti bakar, ditambah segelas kopi untukmu dan teh tawar untukku.” Ia mengangkat cangkir sedikit. “Tenang, aku membeli semua bahan dari supermarket kemarin.”
Nada suaranya ringan. Setengah menyindir.
Seolah tahu pria itu akan mengira ia tak mampu melakukan hal sesederhana ini.
Leo melangkah masuk. “Kenapa kamu memasak?”
Nesya mematikan kompor sebelum menjawab.
“Kamu yang bilang ingin kita sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah orang tuamu.”
Leo terdiam sejenak.
Memang ia yang mengatakan itu. Hanya kalimat formal.
“Kupikir kita bisa beli di jalan.”
Nesya tercekat sangat singkat—nyaris tak terlihat.
“Ini lebih hemat.”
Jawabannya sederhana. Tanpa nada tersinggung atau protes.
Ia menata piring di meja makan kecil. Gerakannya rapi, teratur. Tidak ada kesan canggung.
Leo duduk di kursi, masih memerhatikan.
Ini tidak sesuai dengan cerita Maria.
Wanita yang katanya selalu sibuk rapat, selalu dilayani asisten, terlalu manja untuk sekadar menyeduh teh—kini berdiri di hadapannya dengan celemek tipis dan tangan yang masih beraroma butter.
“Kamu sering masak?” tanyanya akhirnya.
“Tidak sering,” jawab Nesya jujur. “Tapi aku bisa.”
Jawaban itu entah kenapa membuat Leo merasa… tertohok.
Mereka mulai makan.
Sunyi. Hanya suara sendok dan piring. Omelette itu lembut. Rotinya tidak gosong. Kopinya pas.
Leo menyadari itu. Namun ia tidak memuji.
“Setelah ini kita langsung berangkat,” katanya datar.
Nesya mengangguk. “Baik.”
Tidak ada pembicaraan tentang cinta atau basa-basi manis.
Sejak awal Leo sudah menegaskan—pernikahan ini hanya tanggung jawab. Tidak lebih dan Nesya menerimanya.
---
Rumah keluarga Leo jauh lebih besar dibanding rumah dinasnya. Tampilannya klasik, elegan dan terawat.
Begitu mobil berhenti, Leo turun lebih dulu. Wajahnya kembali formal, tegak dan dingin.
Nesya mengikuti di belakangnya, mengenakan dress pastel sederhana dan sepatu rendah.
Pintu terbuka bahkan sebelum mereka sempat mengetuk.
“Mama sudah menunggu dari tadi!” suara hangat itu menyambut.
Ibunya Leo langsung menarik Nesya masuk tanpa banyak basa-basi.
“Nesya… kamu cantik sekali, Nak.”
Pelukan itu tulus dan hangat. Berbeda dari atmosfer yang ia rasakan di rumah biru itu.
Leo berdiri beberapa langkah di belakang. Rahangnya sedikit mengeras.
Ia tahu. Ibunya memang sejak awal lebih menyukai Nesya.
Bukan karena membenci Maria, tapi… Maria terlalu bebas dan terlalu sulit ditebak.
Sedangkan Nesya—mapan, tenang, punya karier jelas, tahu cara bersikap pada orang tua.
“Leo, kamu jangan cuma berdiri. Ajak istrimu duduk,” tegur sang ibu.
Nada lembut, tapi jelas menunjukkan siapa yang lebih ia perhatikan saat ini.
Di ruang tamu, ayah Leo hanya mengangguk sopan. Namun senyumnya pada Nesya lebih lebar dari biasanya.
“Kami lega akhirnya kamu jadi bagian keluarga ini,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam.
Leo menangkapnya dan pikirannya langsung bekerja ke arah yang salah.
Jadi ini maunya semua orang?
Mengganti Maria dengan Nesya?
Beberapa menit kemudian, ibunya Leo berdiri.
“Mama sedang buat kue. Nesya, kamu mau lihat?”
Nesya spontan berdiri. “Boleh, Tante.”
Leo hampir memijat pelipisnya.
Tante.
Masih terlalu sopan. Namun ibunya malah tersenyum makin lebar. “Panggil Mama saja.”
Ada kilatan sesuatu di mata Leo saat itu.
Di dapur, aroma butter dan vanila menyambut.
Ibunya Leo sedang membuat kue kering klasik.
Nesya langsung mencuci tangan tanpa diminta.
“Biar saya bantu, Ma.”
Leo yang berdiri di ambang pintu menatap pemandangan itu dengan kening berkerut.
Nesya terlihat natural. Tidak canggung.
Tangannya cekatan mengaduk adonan, membantu mencetak kue dengan hati-hati.
“Astaga, kamu bisa?” tanya ibunya Leo kagum.
Nesya tersenyum kecil.
“Saya sering bantu Mama saya. Saya suka lihat kue-kue cantik.”
“Kamu suka makan kue juga?”
Nesya menggeleng pelan. “Tidak terlalu. Saya harus menghindari gula.”
Ibunya Leo terdiam sesaat, lalu wajahnya melembut.
“Kamu tetap bantu meski tidak bisa menikmatinya?”
Nesya mengangguk ringan. “Saya senang melihat orang lain menikmatinya.”
Kalimat itu sederhana, tapi terdengar… tulus.
Ibunya Leo menatapnya lebih lama.
Di pintu dapur, Leo mengepalkan rahang.
Ini terlalu berlebihan.
Membantu di dapur? Panggil Mama? Bersikap sempurna seperti ini?
Baginya, itu terlihat seperti usaha seolah Nesya sedang menanam posisi. Seolah ia tidak rela jika suatu hari Maria kembali.
Pikiran itu membuat dadanya terasa panas.
Saat makan siang, ibunya Leo terus memuji.
“Nesya itu pekerja keras. Ibu sudah dengar banyak tentang perusahaanmu. Kamu juga perhatian sekali sama orang tua.” Senyumannya melebar. Wajahnya bahkan berbinar cerah.
“Leo beruntung punya istri sempurna sepertimu.”
Kalimat terakhir membuat suasana sedikit berubah.
Leo tersenyum tipis, tapi dingin.
“Terlalu cepat menilai, Ma.”
Ibunya menatap tajam. “Mama sudah menilai sejak lama.”
Kalimat itu jelas.
Sejak lama.
Artinya bahkan sebelum pernikahan ini terjadi.
Nesya menunduk, tidak ingin memicu ketegangan.
Namun Leo justru semakin yakin dengan pikirannya sendiri.
Jadi ini rencananya?
Dari awal memang dia yang diinginkan?
Saat mereka akhirnya pamit pulang, ibunya Leo menggenggam tangan Nesya lebih lama.
“Datang lagi ya, Nak.”
“Saya akan datang kalau diizinkan,” jawab Nesya lembut.
Leo menarik napas panjang dalam mobil.
Begitu pintu tertutup dan mesin menyala, suasana berubah dingin.
“Kamu tidak perlu berlebihan seperti tadi.”
Nesya menoleh. “Berlebihan?”
“Mendekati ibuku. Membantu di dapur. Itu tidak perlu.”
Nesya terdiam beberapa detik.
“Aku memang suka membantu di dapur.”
“Kebetulan sekali,” sindir Leo.
Mobil melaju dengan hening.
Nesya berkata pelan, “Tidak semua yang aku lakukan ada hubungannya dengan Maria.”
Kalimat itu lembut, tapi terasa seperti bantahan pertama yang sungguh-sungguh.
Leo tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya, ia merasa kalau mungkin ia tidak sepenuhnya memahami wanita yang duduk di sampingnya saat ini.
Juga mungkin ia terlalu cepat menghakimi seorang wanita yang dianggap sebagai menantu sempurna oleh mamanya.