Pagi datang dengan cahaya pucat, menembus jendela kamar yang masih sedikit berembun. Sisi ranjang di kamar tetap kosong. Leo belum pulang. Nesya tidak berusaha menelepon. Ia tahu jarak yang Leo inginkan harus dihormati, meski hatinya berat.
Nesya bangun dengan mata sedikit bengkak. Dia bergerak, berjalan menuju ke meja rias. Dia menatap pantulan dirinya di cermin lalu menyentuh bawah kantong matanya yang sedikit menghitam.
"Harus dikompres dingin dulu," katanya lalu berjalan menuju ke kulkas, mencari kantong es lalu melakukan pijatan ringan dan mengkompres kantong matanya selama kurang lebih lima menit. Setelahnya, dia pergi mandi. Dengan sampo lavender yang dibawanya sendiri, aroma kesukaannya, dia mencuci rambutnya. Juga, menghilangkan semua sisa kesedihan yang sebetulnya tidak perlu.
Pengganti. Kata itu masih menancap di pikirannya. Namun, dia tidak akan membiarkan apapun atau siapapun mengganggu pikirannya. Dia hanya perlu bertahan, setidaknya sampai Maria kembali. Semua akan kembali normal seperti sebelumnya. Nesya berusaha optimis.
Selesai mandi, dia berganti pakaian lalu dengan tenang, ia menyiapkan sarapan sederhana: roti tawar hangat dan teh tanpa gula. Sarapan yang selalu disantapnya setiap kali di rumah. Sekarang, dalam sehari, dia berpindah rumah dan berubah status. Meski semua bukan rencananya, tetap saja, pria yang dinikahinya kemarin curiga kalau dia adalah dalangnya.
Nesya menatap ruangan sekitar. Rumah itu masih terasa biru, terasa bukan miliknya. Setiap langkahnya mengingatkan bahwa ia bukan lagi tamu di sini—tetapi juga belum sepenuhnya pemiliknya.
Setelah memastikan semuanya rapi, Nesya mengambil tas kerja dan pergi. Tidak ada yang mengantar. Tidak ada pesan. Tidak ada tanda bahwa rumah itu peduli pada keberadaannya. Pahit, tapi mungkin memang demikian adanya.
Nesya berangkat dengan taxi online yang dipesannya. Meski ini cukup mengganggu karena biasanya dia memakai mobil sendiri, tetapi semua butuh penyesuaian dan Nesya yakin bisa melakukannya. Ditemani dengan pemikirannya yang masih seperti benang kusut, Nesya pergi bekerja.
---
Kantor Nesya adalah gedung modern di pusat kota, dengan kaca tinggi yang memantulkan sinar matahari pagi. Ia salah satu direktur muda di perusahaan start-up teknologi yang ia bangun bersama tiga sahabatnya sejak kuliah.
Ia melangkah masuk dengan tenang, menekan tombol lift dengan jari-jari yang sedikit gemetar karena campuran lelah dan kecemasan.
Begitu pintu ruangannya terbuka—
“NESYA?!” teriak Anita.
Anita berdiri paling depan, ekspresinya seperti melihat hantu. Sari di belakangnya menutup mulut dengan kedua tangan, sementara Tara—satu-satunya pria di antara mereka—hanya membeku. Tatapannya panjang, tak bisa disembunyikan, tapi ia berusaha tetap tenang.
“Kenapa status media sosialmu penuh foto pernikahan?!” Anita langsung menyerbu. “Kamu nikah?!”
Sari hampir menjatuhkan tablet yang dipegangnya. “Bukannya kamu yang paling anti nikah seumur hidup di antara kami?”
Tara, pria satu-satunya di kelompok mereka, akhirnya bersuara, nadanya lebih pelan, tapi tepat menusuk.
“Siapa pria itu?”
Nesya menatap mereka satu per satu, menimbang kata-kata yang akan keluar. Senyumnya kecil, profesional dan tersimpan rapi seperti selalu ia lakukan ketika menahan sesuatu.
“Kalian kenal,” katanya akhirnya. “Leo.”
Ruangan itu langsung hening. Anita mengerjap cepat. “Leo? Tunangannya Maria? KAMU GILA?”
Sari menunduk sebentar, seperti merasakan sesuatu yang akan membuat hatinya sesak. “Oh Tuhan… jangan bilang—”
“Maria kabur,” potong Nesya dengan tenang. “Dan aku menggantikannya.”
Beberapa detik tak ada yang berbicara. Anita tampak ingin marah, Sari seperti ingin menangis, dan Tara hanya menatap Nesya lebih lama dari yang lain. Ia mengenal Nesya lebih dari siapapun. Ia tahu senyum itu. Senyum yang dipakai Nesya ketika menahan rasa sakit, ketika menyembunyikan sesuatu yang rapuh di dalam hati.
“Kamu bahagia?” tanya Tara akhirnya, suaranya lembut tapi penuh makna.
Nesya menelan sejenak, napasnya tersendat. Ia tersenyum lagi, senyum yang sama seperti tadi.
“Tentu.”
"Jangan bohong, deh. Kamu dipaksa, kan?" Sari, wanita dengan rambut ikal menatapnya dengan sorot kasihan.
"Nggak, Leo baik. Bahkan, dia membuatkanku nasi goreng tadi malam setelah tahu kalau aku kelaparan."
Sari menekuk alisnya, "enak nggak?"
Anita langsung menyenggol lengan Sari, "Bukan itu intinya, kan?"
Sari nyengir, "Hehe, ya pokoknya, kamu harus bahagia ya. Btw, Maria kabur ke mana?"
Nesya menggeleng, "Tidak ada yang tahu. Jejaknya seperti hilang dan kemungkinan dia tidak lagi di negara ini."
"Apa?" Sari dan Anita menjawab kompak, kaget.
"Kata Mona, passpornya tidak ada."
Ketiganya terdiam sebentar.
"Tapi... kamu dan dia sudah mala...."
"Tidak, kami semua lelah jadi kami berdua hanya tidur tadi malam," sahutnya cepat.
Anita mendengus kesal. “Kalau dia berani nyakitin kamu, bilang sama aku. Aku datengin rumahnya dan membakarnya sampai habis.”
Sari mengangguk cepat. “Serius. Aku setuju dengan ide itu.”
"Aku baik-baik saja," tegas Nesya.
Tara tetap diam, namun tatapannya berubah. Lebih dalam dan hati-hati. Karena untuk pertama kalinya, Nesya memilih jalan yang tidak ia ceritakan lebih dulu kepada mereka.
Tara sadar—ia sudah kehilangan sesuatu, bahkan sebelum sempat memilikinya.
---
Di rumah dinas yang masih sunyi, pintu akhirnya terbuka menjelang siang. Leo masuk dengan wajah lelah, matanya menyapu ruang tamu yang kosong. Tidak ada Nesya. Hanya meja yang sudah rapi, cangkir teh yang dicuci bersih.
Ada rasa aneh yang menyelinap. Rumah itu terasa lebih kosong dari biasanya. Padahal semalam, ia memang menginginkan jarak. Tapi keheningan ini berbeda. Terasa hampa. Terasa kehilangan.
Leo berdiri di tengah ruang tamu, tangannya menggenggam seteguk kopi yang sudah dingin. Ia menutup mata sejenak, merasakan kekosongan yang sama yang mungkin dirasakan Nesya tadi malam. Ia tahu, ada sesuatu yang hilang, dan ia tidak bisa mengubahnya begitu saja.
Di luar, angin membawa aroma pagi yang segar, tapi di dalam, hanya ada hening dan bayangan keputusan yang telah diambil tanpa ia pahami sepenuhnya. Hanya ada rasa penyesalan yang baru menyentuh permukaan hati, menunggu waktu untuk meresap lebih dalam.
"Brengs3k," umpatnya karena teringat tentang Nesya yang membelakanginya, punggung mulus nan indah itu, bahkan pekikan kecil Nesya, masih tergiang di kepalanya. Dia sungguh tidak menyangka kalau momen kecil itu bahkan lebih mengganggu daripada kenyataan kalau dia sudah menikahi calon adik iparnya sendiri.
Sementara Leo berkutat dengan pikirannya sendiri, di tempat lain, Nesya melangkah di jalan kota yang ramai, menyembunyikan kepedihan di balik senyum profesional, menyadari bahwa air mata yang ia tangisi semalam, mungkin adalah satu-satunya saksi yang benar-benar memahami hatinya.