Bab 6 Hanya Pengganti

1088 Words
“Nesya…” Suara Leo terdengar lebih pelan dari biasanya. Hampir seperti bisikan yang keluar tanpa ia rencanakan. Nesya tidak menjawab. Ia masih berdiri membelakanginya, kedua tangannya mencengkeram bagian depan gaun agar tidak jatuh. Punggungnya yang terbuka masih terasa dingin di bawah tatapan Leo. Beberapa detik terasa sangat lama. Leo akhirnya menarik tangannya kembali seolah baru tersadar apa yang ia lakukan. Ia berdeham pelan, lalu memalingkan wajah. “Resletingnya sudah terbuka,” katanya kaku. Nesya mengangguk kecil. “Terima kasih.” Leo berbalik lebih dulu menuju pintu. Langkahnya cepat, seolah ruangan itu tiba-tiba menjadi terlalu sempit. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti sebentar. “Cepat ganti baju,” katanya tanpa menoleh. “Udara malam dingin.” Ia keluar dan menutup pintu kamar itu. Begitu sendirian, Nesya menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Jantungnya masih berdetak cepat. Ia menyentuh pipinya sendiri yang terasa hangat. Apa yang barusan terjadi? Ia menggeleng kecil, lalu buru-buru melepaskan gaun pengantinnya sebelum pikirannya berjalan terlalu jauh. Gaun putih itu perlahan meluncur turun ke lantai. Gaun yang beberapa jam lalu membuat semua orang memandangnya seperti seorang pengantin sungguhan. Padahal ia tahu kenyataannya tidak sesederhana itu. Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan salah satu gaun yang tergantung di lemari. Gaun satin biru muda yang tadi ia pegang. Bahannya lembut, tetapi potongannya terasa asing di tubuhnya. Bahu dan sebagian punggungnya terbuka. Nesya menatap dirinya di cermin beberapa detik. Ia benar-benar terlihat seperti Maria. Potongan gaunnya. Warna birunya. Bahkan cara rambutnya jatuh di bahu. Pikiran itu membuat dadanya kembali sesak. Ia menarik napas panjang lalu keluar dari kamar dengan langkah pelan. Di ruang makan kecil yang menyatu dengan dapur, lampu sudah menyala. Leo berdiri di depan kompor dengan kaos rumahnya, membelakanginya. Aroma nasi goreng memenuhi ruangan. Nesya berhenti di ambang pintu. Ia tidak menyangka Leo… memasak. Gerakan pria itu terlihat terbiasa. Ia mematikan kompor lalu memindahkan nasi goreng ke piring dengan gerakan rapi. Tidak berantakan seperti orang yang baru belajar. Beberapa piring sudah tertata di meja. Dua sendok. Dua garpu. Dan dua cangkir. Leo menoleh sebentar ketika menyadari kehadirannya. Tatapannya berhenti sepersekian detik. Entah karena gaun yang Nesya kenakan… atau karena ia memang terlihat terlalu mirip dengan seseorang yang lain. “Aku tidak sempat belanja,” katanya datar. “Jadi makanlah seadanya.” Di atas meja, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi sudah disiapkan. Di sampingnya… secangkir teh hangat. Nesya sedikit terkejut. Maria tidak suka teh. Ia selalu minum kopi. Sementara Nesya… sejak kecil hanya minum teh tawar karena harus menghindari gula. Tatapan Nesya tanpa sadar melembut. Mungkin Leo tidak sejahat yang ia kira. Ia duduk pelan di kursi. “Terima kasih,” katanya tulus. Leo tidak menjawab. Ia hanya duduk di seberangnya dan mulai makan tanpa banyak bicara. Malam itu, mereka makan dalam diam. Namun untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, keheningan di antara mereka tidak terasa terlalu menusuk. Sesekali sendok mereka beradu dengan piring, menciptakan bunyi kecil di tengah rumah yang sunyi. Nesya makan perlahan. Ia bahkan tidak menyadari sudah cukup lama sejak terakhir kali ia makan dengan tenang. Setelah selesai, ia berdiri dan mengangkat piring mereka tanpa diminta. Leo sempat menatapnya. “Kamu tidak perlu—” “Tidak apa-apa,” potong Nesya pelan. Ia membawa piring itu ke dapur dan mencucinya dengan gerakan hati-hati. Air mengalir lembut di wastafel. Leo berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan tanpa mengatakan apa pun. Wanita itu… terlalu tenang seolah semua yang terjadi hari ini bukan sesuatu yang besar. Padahal ia tahu persis… Nesya adalah orang yang paling dirugikan dari semua kekacauan ini. Setelah semuanya selesai, Nesya mengeringkan tangannya lalu menoleh. “Selamat malam,” katanya lembut. Leo hanya mengangguk tipis. Nesya kembali ke kamar tamu. Rumah itu kembali sunyi. Jam di ruang tamu berdetak perlahan. Beberapa jam berlalu. Nesya hampir tertidur ketika samar-samar ia mendengar suara Leo berbicara di telepon dari ruang tamu. Suara pria itu rendah, tapi cukup jelas di tengah malam yang hening. “Belum ada kabar?” Hening beberapa detik. “Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Temukan Maria.” Nesya membuka matanya perlahan. Jantungnya terasa seperti ditarik. “Dia tidak mungkin pergi jauh,” lanjut Leo. “Periksa bandara, stasiun, semua tempat yang mungkin ada jejaknya.” Suara di seberang telepon sepertinya mengatakan sesuatu. Leo mengembuskan napas panjang. “Kalau dia sudah ditemukan,” katanya pelan namun tegas, “aku akan menyelesaikan semuanya. Pernikahan ini… tidak akan bertahan lama.” Tangan Nesya mencengkeram selimut. Ia tidak berniat menguping. Namun setiap kata tetap sampai ke telinganya. Seperti jarum yang menusuk satu per satu. Leo mengakhiri panggilan itu beberapa saat kemudian. Beberapa langkah kaki terdengar mendekati lorong kamar. Nesya cepat-cepat memejamkan mata, berpura-pura tidur. Pintu kamar tamu terbuka sedikit. Leo berdiri di ambang pintu, menatap sosok Nesya yang terbaring di ranjang. Lampu lorong membuat bayangan tipis jatuh di wajahnya. Ia tahu. Nesya pasti mendengar percakapan tadi. Namun Leo tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri beberapa detik. Tatapannya bergerak ke arah gaun biru yang dikenakan Nesya. Sekali lagi, bayangan Maria muncul di kepalanya. Ia menutup mata sebentar lalu membuka kembali. “Aku tidak akan pulang malam ini,” katanya pelan. Nesya bergerak sedikit, lalu menoleh. “Kenapa?” Leo tidak menjawab. Tatapannya kembali dingin seperti biasa. Nesya duduk perlahan di ranjang. “Ada pekerjaan?” Leo terdiam. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak menungguku,” jawabnya akhirnya. Nesya turun dari ranjang dan berdiri beberapa langkah darinya. “Ini malam pertama kita…” Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan ia sendiri tidak yakin kenapa ia mengatakannya. Leo terlihat membuang napas pelan. “Nesya,” katanya. Nada suaranya berubah lebih berat. “Jangan lupa. Wanita yang seharusnya aku nikahi hari ini adalah Maria.” Kata-kata berikutnya keluar lebih dingin. “Kamu hanya pengganti.” Pengganti. Kata itu seperti petir yang menyambar keras kesadaran Nesya. “Jika Mama atau Papa bertanya,” lanjut Leo datar, “katakan saja aku sedang di kamar mandi. Jangan menungguku.” Nesya ingin mengatakan sesuatu. Ingin menahan. Namun tangannya terhenti di udara saat Leo berbalik dan berjalan pergi. Pintu kamar tertutup kembali. Beberapa menit kemudian, suara pintu depan rumah terdengar dibuka dan ditutup. Mesin mobil menyala lalu menjauh dari halaman. Di kamar tamu yang gelap, Nesya masih berdiri di tempatnya. Beberapa detik berlalu. Perlahan, ia duduk kembali di tepi ranjang. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. Ia tidak menelepon siapa pun. Tidak mengadu atau mencari simpati. Ia hanya memeluk dirinya sendiri di bawah selimut. Menahan semuanya sendirian. Malam pertama pernikahan mereka berakhir dengan dingin. Ia adalah pengganti dan pengganti… sering kali hanya ada sampai yang asli kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD