"Apakah aku pernah menyalahkanmu?" tanya Bravy.
Amanda hanya tersenyum, lebih tepatnya sedikit memaksakan senyum. Bagaimana bisa dulu dirinya meninggalkan Bravy dan memilih untuk hidup bersama Kevin. Sungguh, tetapi semua janji dan kata manis Kevin benar-benar mampu membutakan matanya pada saat itu.
Malam semakin larut dan suara mesin monitor tetap berdetak stabil, seperti irama yang menjaga kehidupan di ruangan itu agar tetap berjalan. Amanda sudah terlihat lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya, meskipun rasa lelah jelas masih membebani tubuhnya.
Bravy tidak pernah benar-benar menjauh. Ia duduk di kursi dekat ranjang, satu tangannya masih menggenggam jemari Amanda dengan hati-hati. Sesekali ia mengusap punggung tangan wanita itu, gerakan kecil yang terasa menenangkan, seolah ia sedang memastikan Amanda benar-benar ada di sana.
Kelopak mata Amanda mulai berat lagi.
“Aku masih agak pusing …,” gumamnya lirih.
“Itu normal,” jawab Bravy lembut. “Tubuh kamu habis ngalamin benturan keras. Tapi semua sudah ditangani.”
Amanda menatapnya dengan sedikit ragu. “Brave … aku beneran nggak apa-apa, 'kan?” tanyanya pelan, ada ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Bravy langsung mendekatkan tubuhnya. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Amanda dengan ujung jarinya.
“Kamu dengar aku baik-baik,” ucapnya dengan suara beratnya. “Semua akan baik-baik saja.”
Tatapannya begitu dalam dan meyakinkan.
“Semua akan kembali seperti semula,” lanjutnya. “Bahkan … jauh lebih baik dari sebelumnya.”
Amanda terdiam, ia tak pernah ragu dengan Bravy.
“Di sini sudah ada tim dokter terbaik,” tambah Bravy. “Mereka pantau kamu dua puluh empat jam. Kamu cuma perlu satu hal sekarang.”
“Apa?” tanya Amanda.
“Kamu harus sembuh, Manda.” Bravy berkata dengan aura yang tak ingin dibantah. “Dan balasan atas semua lukamu … biar aku yang urus.”
Nada suaranya tetap tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada sesuatu yang dingin dan berbahaya, seperti janji yang tidak mungkin ia tarik kembali.
Mendengar kata pembalasan dari luka, membuat kedua mata Amanda terbuka lebar. Napasnya tercekat seperti baru saja tersadar dari sesuatu yang sangat penting. Tangannya bergerak gelisah di atas ranjang meskipun tubuhnya masih lemah.
."Manda, kamu kenapa?" tanya Bravy.
“Ponselku!” suaranya sedikit serak dan terdengar panik. “Di mana ponselku?!”
Gerakannya itu membuat monitor sedikit berubah ritmenya.
“Tenang—” Bravy langsung menahan bahunya dengan lembut.
Amanda menggeleng cepat, napasnya memburu.
“Ponselku, Brave. Di mana ponselku?” ulangnya dengan suara bergetar. “Apa Kevin yang bawa? Jangan bilang kalau dia mengambilnya juga.”
Ketakutan jelas terlihat di matanya sekarang. Bukan lagi takut pada luka ataupun rasa sakit, tetapi pada sesuatu yang lain.
“Di dalam sana ...,” bisiknya hampir putus asa. “Semua bukti ada di dalam ponselku, Brave.”
Bravy terdiam sepersekian detik. Lalu ia justru tersenyum kecil yang penuh arti.
Ia menggeser posisi duduknya dengan santai, kemudian merogoh saku jasnya. Beberapa detik kemudian sebuah benda muncul di tangannya. Itu adalah ponsel Amanda.
Ia mengangkatnya sedikit di depan wajah Amanda.
“Kamu tahu 'kan, Man,” ucapnya pelan. Sorot matanya tajam namun hangat di saat bersamaan. “Bravy tidak pernah bodoh.”
Tubuh Amanda membeku seketika. Ketegangan di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan rasa lega yang begitu besar sampai matanya mulai berkaca-kaca.
“Semua masih ada?” tanyanya lirih.
“Lengkap,” jawab Bravy tenang. “Nggak ada yang kurang satu pun.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Tak akan ada yang bisa menyentuhnya selama ada di tanganku.”
Amanda menutup mata sesaat, napasnya keluar panjang seperti beban berat baru saja dilepaskan dari dadanya.
“Terima kasih …,” bisiknya. "Kamu yang terbaik."
Bravy tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya hanya kembali menggenggam jemari Amanda. Namun di dalam kepalanya, satu kalimat bergema dingin. "Tentu saja aman."
Karena mulai sekarang … semua yang menyakiti kamu akan aku hancurkan satu per satu.
Beberapa menit kemudian, efek obat kembali bekerja. Kelopak mata Amanda perlahan turun dan napasnya mulai teratur. Hingga akhirnya, ia tertidur lagi.
Dan seperti sebelumnya ... Bravy tetap di sana. Perlahan napasnya mulai teratur. Kelopak matanya kembali turun. Bravy tetap di sana, tidak bergerak sedikit pun sampai ia yakin Amanda benar-benar tertidur.
Beberapa menit berlalu. Ia menunduk, menyentuhkan keningnya ke punggung tangan Amanda.
“Sekarang … kamu cuma perlu istirahat,” bisiknya sangat pelan.
Matanya menatap wajah wanita itu lama. Aura dingin yang biasanya menyelimuti dirinya melembut sepenuhnya hanya di hadapan Amanda.
--
Sementara Itu di Rumah Kevin
BRAK!
Pintu rumah terbuka keras hingga membentur dinding.
Kevin masuk dengan langkah tergesa dan rambut berantakan. Wajahnya masih menyisakan bekas tamparan dari amukan ayah Amanda di rumah sakit tadi. Sudut bibirnya pecah serta tulang pipinya nyeri. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding kekacauan di dalam kepalanya saat ini.
"Arkh! Sial!" racaunya.
Kedua matanya memandang ke seiap sudut rumah itu. Namun, apa yang tersisa sekaeang, rumah itu terasa kosong.
Aneh! Padahal semua masih terlihat sama di matanya. Namun, seperti ada sesuatu yang hilang entah sejak kapan. Matanya menyapu ruang tamu lalu napasnya terhenti.
Tak ada foto pernikahannya dengan Amanda di ruangan itu. Dinding yang selama ini dipenuhi foto pernikahan mereka, beberapa bagiannya telah kosong. Rak pajangan yang dulu memajang bingkai kebahagiaan mereka pun ikut kosong.
“Tidak … tidak … tidak!” ucapnya panik.
Ia berjalan cepat dan hampir tersandung sendiri.
“Mana foto itu?” gumamnya frustasi.
Tangannya gemetar saat membuka laci meja. Semua tidak ada di sana, tak ada apa pun.
"Ini nggak mungkin!"
Kevin segera berbalik lalu berlari ke lantai atas, membuat setiap langkahnya terdengar keras di tangga.
“AMANDA!” teriaknya keras, meskipun ia tahu tidak mungkin ada jawaban.
Pintu kamar mereka dibuka kasar. Matanya kembali memindai hingga akhirnya berhenti tepat di lemari pakaian putih berpintu empat. Kevin langsung menuju lemari pakaian dan membukanya dengan cepat.
Di sanalah kenyataan menghantamnya lebih keras dari pukulan siapa pun. Sebagian besar pakaian Amanda sudah hilang, yang tersisa hanya beberapa potong, dan Kevin langsung mengenalinya. Pakaian-pakaian yang tertinggal itu adalah pakaian yang dulu ia belikan, atau setidaknya mereka beli bersama. Selebihnya … tidak ada yang tersisa.
Tangan Kevin mencengkeram pintu lemari dengan sangat erat.
“Ini semua nggak mungkin terjadi,” bisiknya serak. "Bagaimana bisa semua ini luput dari penglihatanku?"
Baru sekarang ia sadar. Bukan hanya Amanda yang pergi dari rumah itu. Kenangan mereka pun juga sudah diambil. Dan sejak semua kekacauan ini terjadi, Kevin merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kehilangan dan ketakutan yang nyata. Amanda ingin menghapus dirinya.
"Kamu sudah tahu?" batin Kevin kesal.