Bab 19. Obsesi

1147 Words
"Sial! Rupanya Amanda sudah berencana untuk pergi." Kevin menarik napas pendek. "Itu artinya ... dia sudah tahu." Kevin pun buru-buru menghubungi Cecilia untuk mengabarkan bahwa Amanda hilang dari rumah sakit. Telepon di tangan Kevin bergetar halus sebelum akhirnya tersambung. Di seberang sana, suara Cecilia terdengar agak serak, seperti baru saja bangun tidur. “Halo, Kak Kevin? Ada apa malam-malam begini?” tanyanya. Kevin mengusap wajahnya kasar. Napasnya masih berat dengan emosi yang belum sepenuhnya stabil. “Amanda nggak ada, Cecil!” ucapnya tanpa basa-basi. “Hah?” Cecilia terdengar terkejut. “Maksudnya ... nggak ada gimana?” Cecilia langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. "Amanda ... mati?" "Cecil, jaga mulutmu!" bentak Kevin spontan. “Dia nggak ada di rumah sakit. Dan di rumah juga … kosong. Semua barang-barangnya nggak ada.” Beberapa detik hening. Ada rasa kecewa yang Cecil rasakan. Tadinya, dia akan bersorak kegirangan jika memang Amanda telah mati. “Mana mungkin,” ujar Cecilia cepat, lalu tanpa sadar ia menambahkan, “Bukannya tulang-tulangnya patah?” Kevin terdiam dengan detak jantung yang seolah berhenti untuk sepersekian detik. “Apa?” suaranya berubah, lebih rendah. “Kok kamu tahu, Cil?” Di ujung sana, Cecilia gelagapan. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. "Bodoh!" Namun, hanya satu detik ia butuh untuk mengatur nada suaranya kembali. “Kan Kak Kevin sendiri yang bilang kalau dia kecelakaan? Ditabrak mobil, ‘kan?” jawabnya ringan, berusaha terdengar logis. “Kalau ditabrak kencang sama mobil, masa iya nggak ada tulang yang retak?” Kevin mengerutkan kening, masuk akal juga. Ia memang bilang pada Cecilia jika Amanda kecelakaan parah. Orang mana pun pasti langsung berpikir patah tulang atau cedera berat. “Iya, sih,” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Cecilia mengembuskan napas lega tanpa suara. “Tapi kamu bilang dia nggak ada di rumah sakit?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih terkontrol. “Maksudnya Kak Manda kabur?” Kevin berjalan mondar-mandir di kamar yang kini terasa asing baginya. “Bukan cuma itu,” ucapnya perlahan. “Sepertinya Amanda tahu tentang kita, Cil.” “A-apa maksudnya?” Cecilia masih berusaha menjaga peran. “Semua barang-barangnya juga nggak ada semua di rumah,” lanjut Kevin. “Foto-foto hilang. Pakaiannya hampir habis. Ini bukan hilang yang tiba-tiba, Cil. Amanda sudah merecanakan semua ini sejak lama." Kata-kata itu terasa pahit di lidah Kevin. Sedangkan di tempat lain, Cecilia justru mengulas senyum kemenangan. Setidaknya, dia harus berterima kasih kepada Amanda karena sudah pergi, tanpa ia harus repot-repot mengotori tangan untuk melenyapkan Amanda di lain hari. "Apa Kak Kevin sudah mencari ke rumah orang tuanya?" tanya Cecil berpura-pura cemas. "Ayahnya pun nggak tahu dia ada di mana. Dan aku ..." Kevin mengambil napas panjang, "aku harus menemukannya." “Cil … kamu nggak pernah bilang apa-apa ke dia, ‘kan?" tanya Kevin tiba-tiba. Cecilia cepat-cepat tertawa kecil. “Ya ampun, ngapain juga aku bilang? Aku juga nggak mau ketahuan, kali.” Kevin terdiam lagi, semua masih masuk akal. Namun, tetap saja masih ada yang mengganjal di pikirannya. “Aku harus nemuin Manda ssecepatnya, Cil," ucapnya akhirnya. “Dia nggak mungkin pergi jauh. Kondisinya belum stabil, bahkan dia masih belum sadarkan diri saat terakhir kali aku tinggal." Cecilia menyipitkan mata, meskipun Kevin tak bisa melihatnya. “Iya … tapi hati-hati juga, Kak,” katanya lembut. “Kalau dia memang sudah tahu, berarti dia juga sudah siap sejak lama.” Kevin mengepalkan tangannya. “Dia pikir bisa pergi begitu saja?” gumamnya pelan. “Dia pikir bisa hapus aku dari hidupnya?” Nada posesif itu membuat Cecilia sedikit merinding dan juga cemburu. Amanda sudah pergi, tetapi Kevin pasti akan menghabiskan waktu untuk mencarinya. Lalu ... dia dan Sean? Setelah beberapa menit disambung dengan percakapan yang tak penting, telepon akhirnya ditutup. Begitu sambungan terputus, ekspresi Cecilia langsung berubah. Tak ada lagi wajah polos dan nada cemas. Yang tersisa hanya sorot mata tajam penuh perhitungan. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela. “Jadi kamu sudah bergerak duluan, ya, Amanda,” bisiknya pelan yang lalu mulai tersenyum tipis. -- Lampu kamar Kevin masih menyala ketika panggilan itu berakhir. Ia berdiri mematung, menatap ruang kosong di lemari yang dulu dipenuhi pakaian Amanda. Rahangnya mengeras, tetapi pikirannya justru melayang jauh ke masa lalu, ke masa yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Cecilia bukanlah wanita asing yang tiba-tiba saja hadir dalam hidupnya. Ia adalah gadis yang dulu dijodohkan dengannya. Keluarga mereka pernah sepakat. Dua keluarga terpandang, dua nama besar yang dianggap “cocok”. Saat itu Kevin baru saja lulus SMA dan hubungannya dengan Amanda baru saja kandas karena ego dan kesalahpahaman. Dalam keadaan patah hati dan gengsi yang terluka, Kevin menerima perjodohan itu. Dan jujur saja … Cecilia memang cantik, anggun, dan berkelas. Kevin tidak merasa dirugikan dengan hal itu. Sejak kecil pun mereka berdua sudah saling mengenal dan Kevin selalu memperlakukan Cecilia sebagai adiknya sendiri, jadi tidak ada salahnya juga, pikirnya. Ia pikir, mungkin ini takdir yang lebih baik. Mungkin Amanda memang hanya ditakdirkan sebagai masa lalu. Namun, semuanya berubah lebih cepat dari yang ia duga. Cecilia pergi begitu saja tanpa banyak penjelasan. Ia memilih laki-laki lain. Seseorang yang menurutnya lebih “bebas” dan tidak terikat aturan keluarga. Kevin masih ingat jelas bagaimana rasanya, bukan sekadar ditinggalkan, tapi ditolak. Harga dirinya hancur. Sejak hari itu, Kevin bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi menjadi pihak yang ditinggalkan. Pada saat itulah ia kembali mengejar Amanda, dengan segala cara ia meminta Amanda untuk kembali. Amanda tidak mudah menerima Kevin saat itu. Butuh waktu dan usaha. Butuh rayuan, penyesalan, dan janji-janji manis yang Kevin ucapkan dengan penuh keyakinan. Dan ketika akhirnya Amanda luluh, Kevin merasa menang. Ia tidak pernah benar-benar mengakui bahwa ada sedikit motif balas dendam dalam keputusannya dulu. Ia ingin membuktikan pada Cecilia bahwa ia tidak pernah kekurangan pilihan. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa yang meninggalkannya justru yang akan menyesal. Waktu terus berjalan. Pernikahannya dengan Amanda tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar gengsi semata. Amanda setia dan selalu mendukungnya. Mereka berdua akhirnya membangun semuanya bersamanya dari nol. Kevin tidak pernah berpikir ia akan kembali bersinggungan dengan Cecilia. Sampai beberapa bulan lalu setelah pernikahan. Pertemuan itu tidak disengaja. Sebuah acara bisnis keluarga mempertemukan mereka kembali. Cecilia terlihat lebih dewasa dan lebih matang. Tidak ada lagi gadis pemberontak yang dulu pergi tanpa pamit, yang ada hanya wanita dengan tatapan yang seolah menyesal. “Aku salah dulu,” kata Cecilia malam itu. “Aku pikir kebebasan itu segalanya.” Kevin tidak menjawab, tapi egonya terangkat kembali. Ia melihat penyesalan di mata Cecilia dan keinginan untuk kembali. Hingga pada akhirnya, hubungan itu bermula pelan. Kevin merasa jika kali ini ia yang memegang kendali. Sampai keduanya kembali melangkah terlalu jauh. Sekarang ... Kevin mengusap wajahnya kasar. "Sudah aku bilang, apapun boleh kamu lakukan, Manda. Tapi jangan pernah pergi meninggalkanku,” ucapnya tegas pada dirinya sendiri. Ia akan berusaha memiliki keduanya. Tanpa peduli siapa yang harus ia hancurkan di tengah jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD