“Kalau kamu mau tahu … lihat sendiri.” Amanda terpaku cukup lama sebelum akhirnya tangannya terulur juga. Ujung jarinya menyentuh amplop cokelat itu seakan menyentuh sesuatu yang bisa membakar. Perlahan, ia mengambilnya dari tangan ayahnya. Bravy hanya memperhatikan, dia sama sekali tidak bergerak dan tetap pada posisinya. Amanda duduk kembali di sofa. Jemarinya gemetar saat membuka segel amplop itu. Kertas di dalamnya terdengar berdesir halus ketika ia menariknya keluar sedikit.Sudut berkas itu sudah terlihat. Kop surat rumah sakit juga tercetak jelas di sana. RUMAH SAKIT BINTANG HUSADA Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Tangannya bergerak hendak mengeluarkan lembaran pertama sepenuhnya. Namun tiba-tiba ... ia berhenti. Deru napasnya mulai tersengal dan jantungnya berd

