Mobil meluncur cepat membelah jalanan siang yang mulai padat. Kevin tidak benar-benar melihat ke mana ia mengarahkan kemudi. Tangannya bergerak otomatis, mengikuti jalur yang selama bertahun-tahun sudah melekat dalam ingatannya. “Kak Kevin! Kok ke sini?” Suara Cecilia terdengar tajam dan sedikit panik. Kevin berkedip beberapa kali sebelum kedua matanya benar-benar fokus pada jalan di depan. Deretan rumah besar dengan pagar tinggi, pepohonan tua yang menaungi trotoar, dan gerbang hitam di ujung sana, adalah jalan menuju rumah lamanya. Rumah yang dulu ia tempati bersama Amanda. Napas Kevin tercekat sesaat. Tangannya refleks mengendur dari setir sebelum kembali mencengkeramnya. “Sial …,” umpatnya. Ia baru sadar. Ia seharusnya mengambil jalur kanan tadi, arah menuju rumah Cecilia. Ceci

