Kevin berdiri mendadak. “Ini tidak adil!” Mahendra yang semula duduk bersandar tiba-tiba menepakkan telapak tangannya ke meja. “Jangan berteriak di hadapan saya, Dokter Kevin!” Suara itu menggelegar di ruangan luas tersebut. Gema bentakannya memantul di dinding kaca dan kayu gelap, membuat dokter kepala semakin menunduk ketakutan. Kevin membeku. Dadanya naik turun menahan emosi, tetapi tatapan Mahendra jauh lebih dingin daripada amarahnya sendiri. “Silakan keluar daei ruangan saya,” lanjut Mahendra tegas, menunjuk ke arah pintu. “Keputusan ini sudah tidak dapat diganggu gugat.” Kevin mengepalkan tangan. “Saya berhak tahu alasan pemecatan ini secara jelas. Tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa sidang etik yang layak. Apa sebenarnya yang terjadi?” Mahendra menyandarkan punggungnya kembal

