Bab 7

1310 Words
Venus meneguk ludahnya kasar, tapi tangannya tetap bergerak menyentuh roti sobek milik Xafier. Mata Xafier yang tajam tak berkedip melihat wajah merah Venus. Meski ini bukan pertama kali buat mereka, tapi mereka saat ini melakukannya dengan sadar. Venus sudah mengigit bibir bawahnya menahan degupan jantung yang semakin berdetak kencang. Xafier yang tak tahan dengan yang di lakukan oleh Venus langsung menyambar bibir Venus. Melumat bibir itu dengan menuntut. Awalnya Venus kaget tapi lama kelamaan Venus bisa mengimbangi Xafier. Tubuhnya semakin terbiasa dengan sentuhan Xafier, ini kali ketiga Xafier menyentuhnya. Dan kali ini, Venus merasa sentuhan Xafier berbeda. Lebih lembut dan lebih hati hati seolah tubuh Venus adalah sebuah kaca yang sewaktu waktu bisa pecah. "Sayang, kamu cantik banget malam ini." puji Xafier di sela permainan mereka. Napas Venus memburu, wajahnya semakin panas saat mendengar pujian dari Xafier. Xafier kembali melumat bibir Venus, menerobos isi mulut Venus mengabsen setiap deretan gigi Venus. Mereka berdua saling membelit lidah, dengan tangan Xafier yang sudah bergerilya kemana mana. Xafier sangat hapal titik sensitif Venus meskipun baru dua kali melewati malam panas dengan Venus. "Venus, kamu milikku." bisik Xafier. Mata Venus terbuka, dia mencengkeram sprei mendengar perkataan Xafier yang membuatnya meremang. Malam itu, Xafier dan Venus melewati malam panas mereka dengan sadar dan lebih b*******h dari pada yang sebelumnya. Dan itu membuat Xafier semakin gila karena Venus membalasnya dengan tak kalah ganasnya. "Venus ..." Berkali kali Xafier memanggil nama Venus yang membuat Venus merasa jika Xafier mengutamakan apapun yang ada pada Venus. Permainan panas mereka selesai saat hari sudah mendekati pagi. Dimana Venus sudah terlelap di pelukan Xafier. Xafier merapikan helaian rambut Venus yang menutupi wajahnya. Ponsel Xafier bergetar, ada pesan masuk dari sahabatnya, Arthur. Wanita itu kembali, dia ingin merebut posisinya sebagai jodoh yang di siapkan oleh si tua bangka Adrian. Tapi seperti nya Adrian tahu diri untuk nggak usik hidup kamu sesuai perjanjian. Berbeda dengan istri mudanya. Xafier meremas ponselnya dengan erat. Mata nya menatap nyalang ke depan. Bisa bisanya Sabitha bertingkah konyol seperti itu. Biar bagaimana pun sejak dulu yang di incar Xafier hanya Venus. Dan dari awal permainan ini Xafier lah yang memegangnya. Awasi perempuan itu, jangan sampai dia menyentuh Venus meski sehelai rambut saja. Xafier meletakan ponselnya, lalu memeluk Venus dengan erat. Cup..... Xafier mencium puncak kepala Venus, memejamkan mata nya seolah ada perasaan tak tenang disana. "Biar bagaimana nanti, kamu udah jadi milikku. Udah lebih dari setahun sejak pertama kali kita ketemu. Kamu udah ku tandai sayang." # Venus membuka matanya perlahan, dia mengerjapkan matanya. Saat dia bangunz perutnya terasa berat karena ternyata Xafier memeluknya dengan erat. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Xafier. Jari jari Venus bergerak ke arah alis, mata, hidung dan juga bibir Xafier yang semalam sudah mencumbunya dari semua sisi. "Aku tahu aku tampan sayang." Venus melotot, dia ingin menarik tangannya dari wajah Xafier tapi Xafier menahannya. Venus tak tahu jika Xafier juga sudah bangun saat ini. Perlahan mata yang terpejam itu terbuka. Mata mereka saling memandang dengan perasaan yang berbeda. Dan lagi lagi Venus merasa jika jantungnya bermasalah. "Kenapa nggak di lanjut? Kamu boleh kok pegang lagi," ucap Xafier dengan suara seraknya. Tangan Venus yang sedang di cekal Xafier di arahkan ke d**a dan perlahan menuju perut dan semakin ke bawah. Venus yang sadar jika Xafier sedang menggodanya segera menarik tangannya yang membuat Xafier tersenyum tipis. "Kamu m***m banget sih," omel Venus. "m***m sama istri sendiri nggak di larang sayang." Venus yang kesal mendorong d**a bidang Xafier, dia melepaskan diri dari pelukan Xafier tapi saat ingin bangun Venus merasakan pinggangnya yang nyeri. "Astaga, sakit banget. Kamu tuh benar benar kayak singa kelaparan." Venus mengusap pinggangnya yang sakit. Xafier terkekeh, dia memeluk Venus dari belakang. Mencium pundak Venus yang putih. "Sakit ya?" Venus mendengus, dia mencubit lengan Xafier yang melingkar di perutnya. Bukannya kesakitan, Xafier malah menciumi leher Venus dan mencecap nya lagi. "Adikmu kembali." Venus terdiam, dia memutar badannya hingga menghadap ke arah Xafier. Xafier mengusap lembut pipi Venus. "Orang ku semalam mengirim pesan." Venus menaikkan sebelah alisnya merasa aneh kenapa tiba tiba Sabitha kembali sedangkan dia kabur bersama kekasihnya. "Tiba tiba banget dia kembali?" Xafier mencium bibir Venus sekilas. "Dia ingin merebut posisimu. Karena dia merasa jika aku menipunya." Venus mendengar kan seksama penjelasan Xafier. Menatap mata Xafier yang hitam legam dan tajam seperti mata burung elang. "Jangan bilang jika ini semua kamu yang atur?" Xafier menampilkan senyum smirknya. Tapi melihat wajah Venus yang berubah diam membuat Xafier panik. Tapi detik berikutnya dia merasa aneh dengan perubahan ekspresi Venus yang terlihat puas. "Sepertinya kamu kecintaan banget sama aku?" ledek Venus. Xafier bernapas lega, melihat ledekan Venus itu menunjukan jika Venus tak marah kepadanya. "Kamu tahu siapa aku Venus, dari awal kita bertemu aku sudah menandai mu. Tapi masalah perjodohan itu bukan aku yang mengatur. Hanya warisan para tetua. Dan kamu tahu aku seperti apa bukan? Aku nggak akan mau bersama wanita yang pernah di tiduri banyak laki laki. Dan ya, aku menyuruh orang lain ke rumah Adrian untuk menyerahkan mahar pernikahan." Wajah Venus takjub pada rencana Xafier yang licik dan menggemaskan bagi Venus. "Dan dugaan mu benar jika Sabitha nggak bakal tertarik dengan laki laki jelek, right?" Xafier mengangguk, dia merasa puas karena rencananya sudah berhasil. Apapun itu pernikahannya dengan Venus sah secara hukum dan negara. Jadi baik Sabitha atau yang lain tak akan bisa memisahkan mereka. "Di luar perkiraan kalau kamu juga tiba tiba pulang. Karena setelah malam panas itu aku melihatmu bersama seorang laki laki." Nada bicara Xafier mulai berubah, itu membuat Venus merasa aneh. Wajah Xafier mengeras. Tiba tiba saja Xafier emosi mengingat apa yang dia lihat beberapa tahun kemarin. "Kamu cemburu?" Venus membelai rahang Xafier yang mengeras. Dia tahu jika suaminya itu type laki laki yang keras dan mudah cemburu. Apalagi saat ini perubahan itu terlihat mencolok di mata Venus. "Kai.... " panggil Venus lembut. Xafier meneguk ludahnya kasar karena mengingat setiap kali mereka bercinta Venus selalu memanggilnya dengan nama Kaito. "Cemburu hmm?" Jari jari Venus membelai d**a Xafier yang masih telanjang. Napas Xafier mulai tak beraturan karena ulah Venus. "Venus, jangan memancingku!" Tangan Venus sudah di cekal oleh Xafier tapi Venus semakin berani. Venus mendekati Xafier lalu melumat bibir Xafier lebih dahulu. Mata Xafier membola, dia menarik tubuh Venus lalu mengungkungnya di bawah tubuhnya. Dia membalas ciuman itu tak kalah brutalnya. Tapi ciuman mereka terhenti saat ponsel Venus berdering keras. Venus memukul d**a Xafier agar Xafier mau melepaskan nya. Venus meraih ponselnya lalu terlihat nama Sabitha yang menelfon nya. "Angkat sayang," titah Xafier pelan. Tapi bibir Xafier malah menciumi leher dan d**a Venus. ( Ada apa? ) ( Kembalikan Xafier padaku, dia milikku ) "Uh....Kai jangan ...." Venus melenguh karena Xafier mengigit lehernya untuk memberi jejak disana. Di seberang telfon Sabitha langsung berdiri dari duduknya. ( Wanita jalang, kamu sedang bersama Xafier kan? Dia milikku Venus. Kamu nggak pantas bersama dia, kamu cuma anak haram ) Venus mulai tak fokus mendengar celotehan Sabitha. Apalagi saat ini Xafier sudah melesakkan juniornya ke dalam miliknya yang ternyata sudah sangat basah. Ponsel Venus terjatuh karena tangan Venus lemas dengan telfon yang masih menyala. Xafier menyeringai melihat Venus menikmati apa yang tengah dia lakukan. "Sayang, panggil nama ku." titah Xafier "Kaito....ah....." Xafier semakin gencar menghujam miliknya ke dalam inti Venus. Di seberang sana, Sabitha langsung membanting ponsel miliknya. Apalah mendengar suara Xafier yang sedang berhasrat pada Venus. Sabitha bukan anak kecil yang tak tahu tentang apa yang di lakukan oleh Xafier juga Venus. "Argh....berengsek kamu Venus!!" "Kamu cuma anak haram, kamu nggak berhak bersanding sama Xafier." Sabitha berteriak marah, tapi kemudian Sabitha terdiam saat mengingat jika Venus memanggil nama Kaito bukan Xafier. "Tunggu kenapa yang di panggilnya tadi ada adalah Kaito bukan Xafier? Apa Venus selingkuh?" Sabitha terus berpikir lalu dia tersenyum lebar. "Mati kamu Venus, aku akan bilang pada Xafier kalau kamu sudah selingkuh sama laki laki lain. Kamu pasti akan langsung di buang oleh Xafier." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD