Xafier membiarkan Venus terlelap di sampingnya.
Berkali kali ponsel Venus bergetar. Banyak spam chat dari Sabitha yang masuk.
Venus, kamu selingkuhi Xafier. Venus, kamu pikir Xafier bakal maafin kamu kalau kamu udah tidur sama cowok lain. Dia pasti akan langsung membunuhmu.
Alis Xafier yang membaca pesan Sabitha, mengkerut. Dia menoleh ke arah istrinya yang sedang terlelap dengan nyenyak nya.
"Venus selingkuh? Kok aku nggak tahu?" gumam Xafier polos.
Dia masih bingung, karena semenjak keluar dari rumah Adrian, Venus selalu bersamanya dan belum pergi kemana mana.
Lalu pesan singkat masuk kembali.
Venus, jawab pesanku. Aku bakal bilang ke Xafier kalau kamu selingkuh. Dan selingkuhan kamu itu namanya Kaito.
Uhuk.....
Xafier tersedak air minumnya, dia memilih membawa ponsel Venus keluar kamar karena penasaran dengan apa yang di katakan Sabitha selanjutnya.
Xafier masih memandangi pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel Venus.
"Dasar gila, beruntung sekali aku nggak nikah sama cewek bodoh kayak dia. Bisa bisanya dia nggak cari tahu dulu siapa nama lengkap ku." gerutu Xafier kesal.
Dia lalu kembali ke dalam kamar untuk mengembalikan ponsel Venus ke tempatnya semula.
Awalnya Xafier penasaran siapa selingkuhan Venus yang di maksud oleh Sabitha. Ternyata malah dirinya sendiri.
Xafier memilih untuk tak menghiraukan ocehan gila Sabitha.
Sebelum pergi ke ruang kerjanya dia merapikan selimut Venus, mencium keningnya dalam.
"Tidur nyenyak sayang," ucap Xafier lirih.
Xafier lalu keluar kamar, dia harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini karena dua hari lagi dia akan flight ke luar negeri dengan Venus.
Tak lupa juga Xafier meminta Marko menyiapkan semua keperluan mereka selama di luar negeri.
#
Di sisi lain, Sabitha menggeram marah karena pesan pesannya tak ada yang di balas oleh Venus. Terlebih saat ini Venus sudah offline.
"Berengsek kamu Venus, kamu cuma baca pesanku tapi kamu nggak mau balas pesanku!!!"
Sabitha kembali menghubungi Venus, tapi ternyata ponsel Venus sudah tak aktif.
Xafier sengaja memakai mode airplane untuk ponsel Venus karena tak ingin tidur nyenyak Venus terganggu.
"Argh, berengsek kamu Venus!"
Rosi yang mendengar teriakan Sabitha dari dalam kamarnya pun penasaran. Dia menemui Sabitha yang ternyata sudah mengamuk dan menghancurkan seisi kamarnya.
"Sabitha, apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau membuat papa mu kembali memukulmu?"
Rosi berusaha menenangkan Sabitha dengan memegang pundaknya. Tapi Sabitha yang sudah di kuasai oleh amarah menyentak tangan Rosi.
"Aku tak peduli, ini semua salah mama. Kenapa mama nggak langsung bilang sama aku saat Xafier itu datang ke rumah dan nggak sesuai dengan apa yang aku pikirkan!!"
Sabitha menatap Rosi dengan penuh kemarahan. Dia masih tak terima ketika Venus bisa menikah dengan laki laki yang di gilai banyak perempuan.
"Kamu nyalahin mama? Kamu sendiri yang bilang kalau kamu masih mau senang senang. Dan kamu nggak mau menikah. Kamu bahkan merengek pada mama agar membujuk papa kamu untuk meminta Venus pulang kemari. Dan sekarang, kenapa kamu malah nyalahin mama hah?"
Sabitha menjambak keras rambutnya. Dia kembali membanting barang barang yang ada di kamarnya karena Rosi malah mengingat kan semua yang dia lakukan.
"Ck, aku nggak mau tahu. Mama harus bantu aku biar aku bisa balik jadi pasangan Xafier apapun caranya."
Sabitha memaksa Rosi untuk memisahkan Venus dengan Xafier. Sebenarnya Rosi juga masih banyak tanda tanya ketika Xafier menerima Venus begitu saja. Tatapan Xafier seperti orang yang sudah lama saling mengenal. Terlebih banyak berita yang beredar jika Xafier bukan orang yang mudah. Lalu kenapa dengan Venus kemarin Xafier langsung menerimanya. Tak hanya itu, mahar sebagai pengganti Venus juga sangat besar. Perjanjian yang di buat untuk membawa Venus pergi juga rasanya tak masuk akal.
Rosi merasa jika Xafier memang menginginkan Venus bukan Sabitha. Terlebih Xafier juga tak bertanya lebih lanjut tentang kepergian Sabitha saat ini.
"Ma, kenapa malah mama diak saja?"
Rosi menepuk pundak Sabitha agar Sabitha sedikit tenang.
"Sabitha kamu sudah tahu bukan jika Xafier bukan orang yang mudah untuk di ajak bernegosiasi. Tapi kamu juga tahu jika Xafier adalah orang yang kejam. Bukan kah kamu tahu jika Venus adalah wanita yang suka membangkang. Lalu apa jadinya ketika Venus berbuat salah pada Xafier?"
Rosi menatap Sabitha penuh dengan rencana ke depannya dan juga senyum sinis nya.
"Xafier, akan membunuhnya!" sambung Sabitha.
Rosi mengangguk, dan itu membuat Sabitha bisa tersenyum lebar.
Dia langsung membayangkan jika Venus benar benar memberontak dan membuat Xafier marah. Pasti menyenangkan saat melihat Venus kehilangan nyawanya di tangan Xafier. Dengan begitu Sabitha tak mengotori tangan nya sendiri untuk memberi pelajaran pada Venus.
"Jadi kamu bersikap lah baik di rumah ini. Jangan membuat papa mu marah lagi. Bersabar lah, karena kamu pasti bisa mendapatkan Xafier dan kembali ke sisinya sebagai pasangannya."
Sabitha mengangguk mengerti, dia memeluk mamanya. Senyum jahat muncul di wajah Sabitha yang tak sabar mendengar kematian Venus.
#
Di kediaman Xafier, Venus membuka matanya perlahan karena perutnya terasa lapar.
Tapi saat meraba sebelahnya, Venus tak menemukan keberadaan Xafier.
"Apa Kaito pergi lagi?" gumam Venus lirih.
Entah kenapa dia tiba tiba kesal karena saat dia terbangun dia tak menemukan keberadaan Xafier di sebelahnya.
"Kenapa dia selalu seperti itu, pergi tanpa membangunkan ku terlebih dahulu. Apa dia mempunyai wanita lain di luar sana?" gerutu Venus kesal.
Venus memutuskan untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian karena perutnya sudah minta di isi. Cacing cacing di perut Venus sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Setelah selesai membersihkan badannya, Venus memilih untuk pergi ke dapur mencari makanan yang bisa dia makan dalam waktu cepat.
"Kenapa tak ada makanan instan? Aku mau makan ramyeon." gumam Venus lirih.
Venus memeriksa semua lemari penyimpanan. Matanya berbinar saat menemukan apa yang dia inginkan.
"Wah, dia menyembunyikan semuanya disini. Benar benar jahat sekali!"
Venus memulai masak mie yang dia temukan. Tanpa peduli dimana Xafier berada.
Xafier yang sejak tadi fokus dengan layar laptop di depannya tak sengaja melirik monitor CCTV khusus ke area kamarnya.
Matanya melebar saat tak melihat keberadaan Venus disana.
"Dimana dia? Kapan dia bangun?"
Xafier mulai panik dengan pikiran yang kosong.
Tapi saat dia membuka pintu ruang kerjanya dia mencium bau masakan.
"Rasanya bau mie yang di masak?"
Langkah kaki Xafier berjalan cepat ke arah dapur mengikuti intuisi nya.
Perasaan panik tak menemukan Venus di kamar kembali melandanya. Dan saat sampai di dapur dia melihat Venus sedang memasak. Xafier menghembuskan napas leganya karena Venus ada di sana. Langkah kakinya pelan, laku saat berada di belakang tubuh Venus, kedua tangannya melingkar di pinggang milik Venus lalu memeluknya erat.
Venus berjingkat kaget, lalu dia berbalik ke arah Xafier dengan tatapan marahnya.
"Bisa nggak sih, kamu nggak ngagetin aku?" omel Venus kesal.
"Bisa nggak kalau mau bangun itu kamu bilang dulu sama aku, biar aku nggak panik nyariin kamu!"
Xafier mengembalikan perkataan Venus yang membuat Venus semakin kesal dengan Xafier.
Xafier lalu mencium sekilas bibir Venus yang sudah manyun sejak tadi.
"Ngapain hmm? Kamu bikin aku panik sayang."
"Kamu yang ngapain, kenapa aku bangun kamu udah nggak ada? Kamu nggak tanggung jawab banget. Kamu udah bikin pinggang ku encok, tapi kamu juga nggak kasih aku makan. Kamu mau bunuh aku?"
Xafier merutuki kebodohannya karena dia lalai. Dia lupa belum jika mereka belum makan sejak tadi.
Xafier terbiasa menahan lapar jika sudah bekerja.
"Sayang , maaf, aku benar benar lupa. Aku sudah lama hidup sendiri dan jika aku sudah bekerja aku juga tak sempat makan karena aku memang jarang sekali merasa lapar." ucap Xafier penuh penyesalan.
Venus melihat mata Xafier yang benar benar merasa menyesal. Di tambah dengan perkataannya jika dia jarang makan karena sibuk bekerja.
"Apa kamu vampire? Kenapa kamu nggak pernah makan?"
Xafier memeluk Venus yang masih terus mengomel. Xafier belum terbiasa dengan hal normal yang di lakukan orang orang pada umumnya.
"Sudahlah, minggir dulu. Aku sudah lapar, aku mau makan."
Venus berusaha mendorong tubuh Xafier pelan. Dan kali ini Xafier hanya menurut. Karena dia tahu jika Venus pasti sudah kelaparan.
Xafier mengikuti Venus untuk duduk di meja makan. Di kediaman Xafier tak pernah ada pelayan saat malam tiba. Mereka tinggal di tempat terpisah, karena Xafier tak ingin berurusan dengan pelayan pelayan itu.
"Venus....."
to be continued