2. Hancur Jadi Debu.

1826 Words
"Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin." Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya. Kami. Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna. Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland. "Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah. "Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya. "Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar. "Tidak punya urusan karena menurutmu pernikahan kami tidak sah begitu?" Suara Tasya meninggi. "Yang seharusnya marah itu aku, bukan kamu. Kenapa jadi galakan kamu?" Nurul menanggapi amarah Tasya dengan dingin. Bu Titik berdeham pelan. "Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Kalian bertiga bicaralah baik-baik. Cari jalan tengah yang adil untuk semuanya." Bu Titik mencoba bersikap bijak. "Jangan bicara soal keadilan padaku, Bu. Karena sedari awal semua orang sudah tidak adil padaku," sindir Nurul getir. Bu Titik terdiam. Posisinya terjepit. Di tengah ketegangan terdengar derap suara langkah kaki berlari. "Yah... ayah..." Sekonyong-konyong Alfi berlari ke arah Erland. Ia kemudian memeluk paha sang ayah karena rindu. Ia tak memahami apa sedang yang terjadi. Ia hanya tahu ayahnya sudah pulang. Nurul menoleh ke arah pintu kasa. Rupanya Vito membuka pintu. Memberi celah pada Alfi hingga ia bisa berlari keluar. "Ayah, gendong," Alfi mengembangkan tangannya. Erland mengangkat tangan. Mengelus kepala putranya sekilas. Tapi ia tidak menggendongnya. Pemandangan di depan matanya membuat hati Nurul teriris. Apalagi saat ia melihat cibiran di wajah Dini. Erland memang tidak pernah memberikan cinta kasih seorang ayah seutuhnya pada Alfi. Tidak merasakan kehangatan yang ia inginkan, kini Alfi berganti memeluk kaki ibunya. Mendusel-duselkan hidungnya gelisah. Ia tak mengerti kenapa udara terasa berbeda. Nurul menunduk, memandang ubun-ubun putranya. Ia kemudian berjongkok, menatap mata Alfi lurus-lurus, lalu mengeja kalimatnya lamat-lamat agar sang anak mengerti apa yang ia katakan. "Alfi di sini sebentar dengan Oma, ya? Ibu mau bicara sama Ayah. Terus kita pulang." "Ayah… pulang?" tanya Alfi polos sambil menunjuk ayahnya. "Tidak. Kita pulang sendiri. Ayah tidak pulang bersama kita," jelas Nurul lembut. Untungnya Alfi mengerti. Ia berdiri di samping sang Oma. Nurul menegakkan tubuh. Sekarang ia menghadap Erland. Ia tak mengindahkan Tasya yang menggandeng tangan suaminya erat-erat. "Aku ingin bicara berdua saja denganmu, Mas," ujarnya datar. Tasya spontan mencengkram lengan Erland lebih erat, tanda tidak setuju. "Kita bicara di sini saja, bertiga," pungkas Tasya keras kepala. "Sudah kubilang, aku tidak punya urusan denganmu," tandas Nurul tegas. Erland menggeleng. Memberi isyarat pada Tasya agar tidak memperpanjang masalah. "Kamu tunggu di sini. Sebaiknya memang kami bicara berdua saja." Ada jeda kecil. Tasya jelas tidak setuju, tetapi akhirnya ia melepaskan pegangan tangannya. Namun pandangannya tetap mengikuti Erland dan Nurul yang berjalan melewatinya. "Kita bicara di ruang kerja saja." Erland berjalan lebih dulu menuju ruang kerja lamanya. Nurul mengekor dan pintu pun ditutup. Setelah berada di dalam, Nurul berdiri di tengah ruangan. Ia tidak duduk dan juga tidak menangis. Air mukanya datar. Namun kedua tangannya bergetar. Ia berusaha keras mengontrol emosinya. Sedangkan Erland berdiri membelakanginya, menghadap jendela. Mungkin sedang merapal alasan untuk membela diri. Nurul menatap gamang pria yang sudah delapan tahun lebih menjadi suaminya. Benaknya mengembara pada kejadian sepuluh tahun lalu. Di mana Erland kala itu berusaha keras meraih hatinya dengan cara mengambil hati kedua orang tuanya terlebih dulu. Erland muda adalah pemuda yang rendah hati, ringan tangan dan sangat hormat pada kedua orang tuanya. Makanya ia luluh dan bersedia diperistri. Meninggalkan karirnya yang tengah naik daun. "Kenapa?" Setelah jeda sekian menit, Nurul akhirnya bersuara dan hanya sepatah kata. Tidak ada tangis histeris maupun teriakan. Hanya sebuah keingintahuan. Erland berbalik badan dan menarik napas panjang. Inilah salah satu hal yang ia suka dari Nurul. Ia tenang, tidak berisik dan tidak mendrama. Sifat perempuan yang sangat langka. Sifat yang tidak dipunyai Tasya. "Aku ingin punya anak lagi, Nurul," ungkap Erland jujur. "Kalau begitu, Mas tinggal bilang padaku. Kenapa harus menikah siri? Diam-diam pula." Erland menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk bicara jujur. Siapa tahu dengan bersikap jujur, Nurul akan memaafkannya. "Karena aku takut." Nurul menjinjitkan alis. "Takut? Takut apa, mas?" "Takut kalau anak yang kamu lahirkan nanti… akan kembali seperti Alfi. Aku tidak sanggup kalau sampai terjadi dua kali,” lanjutnya pelan. Nurul merasa dadanya seperti ditonjok keras. Ternyata Erland menyalahkannya atas kondisi Alfi. Padahal semua yang terjadi di luar kuasanya. Nurul diam saja. Ia tidak berteriak apalagi memaki. Hanya telapak tangannya yang kini terasa perih. Mungkin karena ia mengepalnya lebih kuat. Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland. "Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis. "Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri. "Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan. "Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar." "Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat. "Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada semua perempuan yang di dunia ini. Bahkan pada istrimu yang baru itu," tandas Nurul getas. "Jangan berani-berani menyumpahi calon anakku!" Erland memukul meja. Ia emosi membayangkan kalau anaknya akan kembali terlahir cacat. "Aku tidak menyumpahi, Mas. Aku hanya memaparkan ilmu pengetahuan dasar." Erland mengibaskan tangan tidak sabar. "Sudahlah. Kita fokus pada masalah kita saja. Jangan melebar ke mana-mana." Erland menahan diri. Tujuannya meyakinkannya Nurul untuk menerima pernikahannya dengan Tasya belum berhasil. "Dengar, Nurul. Menikahi Tasya bukan berarti aku tidak lagi mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Aku cuma ingin anak darinya," bujuk Erland manis. Ia kemudian meraih jemari Nurul. Menciumnya mesra seraya menatap matanya dalam-dalam. "Terima saja Tasya sebagai madumu ya? Dia itu anak orang kaya. Dia tidak butuh uangku. Jatah bulananmu tidak akan berkurang sepeserpun. Bahkan bertambah karena dia bilang akan meminta orang tuanya memberiku posisi yang bagus di perusahaan mereka. Bagimana, Kamu setuju kan? Percayalah aku tidak pernah berniat menceraikanmu," terang Erland sungguh-sungguh. "Tapi aku berniat, Mas," sahut Nurul datar sambil menarik tangannya. "Berniat apa?" potong Erland tak sabar. "Berniat cerailah. Apalagi?" Nurul tertawa pahit. "Jangan gila ya, Nurul!" desis Erland geram. "Kamu yang gila, Mas! Menurutmu setelah aku tahu bahwa kamu menduakanku dan menganggap rahimku bermasalah, aku masih mau bertahan denganmu?" Nurul balik bertanya. "Kamu sudah tahu situasinya kan? Aku cuma ingin anak Nurul. Tasya hanya medianya." Erland melemparkan tangan ke udara putus asa. Nurul sangat keras kepala. "Kalau situasinya dibalik. Aku yang mencari pria lain hanya untuk mendapat anak, apa Mas masih mau menjadi suamiku?" tantang Nurul. "Situasinya beda. Agama kita memperbolehkan poligami bukan polindri!" sembur Erland emosi. "Oalah, Mas. Kalau sudah terjepit begini, Mas baru membawa-bawa agama. Jangan menjadikan dalil agama sebagai tameng kalau kamunya yang salah. Aku tidak rela!" "Jadi kamu maunya apa? Aku menalak Tasya yang sedang hamil besar? Begitu?" Erland membanting kursi. Kesabarannya habis sudah. "Aku sudah bilang tadi kan? Aku mau cerai! Mau Mas menalak Tasya atau tidak, itu bukan urusanku!" Kali ini Nurul berteriak. Ia yakin orang-orang yang mencuri dengar di luar ruangan mendengar teriakannya. "Kamu sungguh-sungguh mau cerai? Nurul... Nurul... mau jadi apa kamu kalau bercerai denganku? Kembali ke rumah orang tuamu yang kecil dan sumpek itu? Kamu tega membebani mereka di usia senja?" "Oh, sekarang Mas menyebut rumah orang tuaku kecil dan sumpek ya? Dulu Mas bilang mungil, asri dan penuh kehangatan. Lupa, Mas?" Gantian Nurul yang tertawa mengejek. "Memang begitu kenyataannya," sahut Erland seenaknya."Dulu aku memperhalusnya karena ingin menarik hatimu saja," tambahnya enteng. Kalimat berikutnya lebih kejam. "Tidak ada yang istimewa dari keluargamu kecuali kecantikanmu. Tapi tidak dengan keturunanmu." Kalah malu Erland mengeluarkan kalimat semenyakitkan mungkin. Nurul menatap Erland nanar. Kejamnya kata-kata yang dilontarkan Erland menoreh luka yang sangat dalam di hatinya. Sakitnya tak terkira. "Aku tidak menyangka kalau kamu semunafik ini, Mas. Mengingatkan saja, seseorang yang kamu hina hari ini bisa jadi adalah satu-satunya orang yang akan menolongmu suatu hari nanti. Allah Maha Besar. Tidak ada yang mustahil jika ia menghendakinya." Suara Nurul bergetar dengan air mata yang berlelehan. Ia tidak menangis saat memergoki Erland bersama Tasya. Tidak juga saat ia tahu bahwa ibu mertua dan ipar-iparnya juga mengelabuhinya. Tapi air matanya mengalir bagai air bah saat kedua orang tua dan anaknya yang tidak tahu apa-apa ikut dihina. Ruangan terasa menyempit. Saat melihat luka menganga di mata Nurul, Erland tersadar. Ia sudah kelewatan. Kecewa karena tidak berhasil membujuk Nurul untuk tetap menjadi istrinya, telah membuatnya berbicara tanpa berpikir. Saat Erland ingin menyela, Nurul mengangkat tangannya. "Mulai hari ini kamu bukan suamiku dan ayah Alfi lagi. Kamu juga tidak akan mendapatkan rasa hormatku lagi," ikrar Nurul serupa sumpah. Ia keluar tanpa menoleh. Meninggalkan Erland yang masih termangu. Di ruang tamu, tatapan Tasya dan keluarga Erland langsung tertuju padanya. Nurul mendekati Alfi yang duduk di samping ibu mertuanya. Ia kemudian menggendong Alfi yang langsung tersenyum saat melihatnya. "Ibu… pulang?” gumamnya sambil mengembangkan tangan. Isyarat bahwa ia ingin digendong "Iya, Nak. Kita pulang." Nurul menggendong Alfi dan mendekapnya erat. Tidak apa-apa kalau Erland tidak menyayanginya. Karena dirinya yang akan menyayangi Alfi dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi anak istimewanya. Langkahnya mantap menuju pagar. "Nurul, tunggu!” suara Erland memanggil dari belakang. Ia berjalan cepat ingin menyusul Nurul. Tasya sontak berdiri, bersiap menahan Erland. Namun Erland melewatinya begitu saja. Tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan. “Aduh… perutku…” Tasya meringis, memegangi perutnya. Dalam sekejap suasana berubah. Semua pandangan kini terarah pada Tasya yang meringis kesakitan. "Ya Allah, kamu kenapa, Tasya?” Bu Titik panik. Erland refleks berbalik. "Tasya, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" Ia memapah Tasya kembali duduk. Dini mengambilkan air. Rina sibuk mencari minyak angin. Keributan kembali terjadi. Di tengah kekacauan itu, Nurul berdiri di luar pagar, menunggu taksi online yang baru saja ia pesan. Dalam hitungan detik taksi telah berhenti di depan rumah. Ada penumpang yang turun dari dalamnya. Nurul sempat menoleh sekali. Ke arah Tasya yang terus meringis kesakitan. Dan di sela-sela kepanikan pura-pura itu, ia melihat Tasya tersenyum tipis. Bukan senyum kesakitan. Tapi senyum kemenangan. Pintu taksi terbuka. Nurul masuk tanpa ragu. Tangannya memeluk Alfi erat di pangkuannya. Mobil mulai bergerak. Di kaca jendela, rumah besar itu perlahan menjauh. Anehnya, d**a Nurul justru terasa lebih lapang. Sakit, iya. Hancur, sudah tentu. Tapi dia tidak menyesal meninggalkan rumah besar itu. Rumah yang penuh dengan kemunafikan. Dan di dalam taksi yang melaju menjauh, Nurul tahu, bahwa keputusannya untuk bercerai memang sudah tepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD