3. Meraih Asa.

1868 Words
Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya. "Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nurul mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat. "Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi. Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Seperti yang Nurul diceritakan di taksi tadi, Nurul mau bercerai dengan Mas Erland. Karena..." "Sudah malam, Nurul. Istirahatlah. Besok pagi baru kita bicarakan semuanya pelan-pelan. Kamu pasti capek kan?" kata Pak Yusuf bijak. Nurul yang duduk di hadapan kedua orang tuanya mengganguk dengan mata berembun. Tadinya ia sempat ragu pulang ke rumah orang tuanya. Ia takut menyusahkan dan dianggap beban. Tapi nyatanya mereka menyambutnya dengan tangan terbuka. "Satu hal yang harus kamu ingat. Ayah dan Ibu akan selalu mendukung apa pun keputusanmu. Termasuk keinginanmu untuk bercerai." Mata Nurul memanas. Ia menatap kedua orang tuanya yang kian renta. Ayahnya adalah lelaki sederhana yang dulu setiap pagi berangkat mengajar dengan sepeda motor tuanya. Dan kini setelah pensiun hanya mengandalkan uang pensiun dan warung kecil di depan rumah. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Ia takut sekali membebani hari tua kedua orang tuanya. Mereka juga masih memiliki satu tanggungan, Daffa adiknya yang masih kuliah. Daffa lahir dengan usia yang cukup jauh darinya. Mereka berselisih 12 tahun. "Maaf… Nurul ke sini dan menyusahkan Ayah," ucapnya dengan suara tersendat. "Mana Ayah masih menanggung Daffa. Dengan adanya Nurul dan Alfi, beban Ayah pasti jadi makin berat," tukas Nurul nelangsa. Ayahnya menggeleng tegas. "Orang tua tidak pernah menganggap anaknya beban. Daffa itu sedang menyusun skripsi, sebentar lagi wisuda," pungkas ayahnya menenangkan. "Lagi pula Daffa sekarang rajin mencari obyekan bareng temannya. Tuh, TV baru kita, yang beli ya Daffa." Ayahnya menunjuk televisi dengan dagunya. "Jadi keputusanmu kembali ke sini sudah tepat. Jika kamu tidak dihargai di sana, maka pulanglah ke sini. Ayah dan Ibu masih sanggup memberimu dan Alfi makan, walau dengan lauk sederhana. Kamu tidak perlu khawatir." Nurul mengiyakan dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sayangnya ia tidak bisa memejamkan mata. Ia terus termenung sembari memandangi langit-langit kamar. Menatap kosong plafon rumah yang catnya sudah mulai pudar. Benaknya terus berputar. Memikirkan biaya hidupnya dan Alfi di rumah ini. Penghasilan ayahnya pas-pasan. Sementara biaya sekolah dan terapi Alfi tidak murah. Satu hal lagi, biaya pengacara untuk mengurus perceraiannya. Menilik sifat Erland, sangat mungkin suaminya itu akan mempersulitnya memperoleh harta gono gini. Ia memerlukan pengacara untuk membela hak-haknya. Nurul menghela napasnya berat. Ia tidak boleh terlalu lama meratapi nasib. Ia bukan perempuan yang tidak punya kemampuan. Ia pernah menjadi chef restoran terkenal selama tiga tahun. Reputasinya juga baik. Tangannya meraih ponsel. Ia bermaksud menelepon Niken. Sahabatnya sejak SMP yang kini sukses sebagai agen asuransi senior. Networking Niken luas, temannya banyak, kliennya juga di mana-mana. Siapa tahu dengan menemui Niken ia bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Namun ia mengurungkan niatnya, saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Besok pagi saja ia menelepon sahabatnya. Nurul menoleh ke arah Alfi yang mengigau dalam tidurnya. Nurul menenangkan sang putra dengan suara lembut menenangkan. Seraya membetulkan selimut ia pun berbisik pelan. "Doakan Bunda berhasil ya Alfi. Nanti kita akan berjuang bersama," bisiknya pelan. Ia kemudian memejamkan mata. Mencoba tidur agar besok bisa bangun dengan pikiran yang lebih segar. *** "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?" Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul. "Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai. “Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata b******n juga!" Niken menggebrak meja. Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam. Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…" "Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan. "Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?" "Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi sekarang dia sering ngobyek kecil-kecilan. Belajar nyari duit sendiri," terang Nurul. Ia kemudian menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Gue nemuin lo karena mau minta tolong. Lo kan punya banyak relasi. Kali aja ada yang butuh chef." "Lah, kan lo bisa nelpon Pak Ahmad. Bilang kalo lo mau kerja lagi di Selera Rasa. Pasti diterima. Lo dulu kan 3 tahun kerja di sana? Ngapain lo nyari kerjaan di tempat lain?" Niken mengernyitkan alis. "Pak Ahmad udah pensiun, Nik. Selera Rasa sekarang dipegang anaknya, Asti. Mana mungkin dia mau nerima gue. Secara dulu kami saingan. Lo kan tau sendiri kalo dia benci banget sama gue." "Iya juga sih. Si Asti itu nggak profesional banget. Masa cuma kalah lomba masak dari lo, bapernya nggak ilang-ilang." Niken mendengkus jijik. "Sifat si Asti kan emang gitu. Nggak mau kalahan orangnya. Makanya gue nggak ngelamar ke situ lagi. Karena gue yakin, Asti pasti bakalan nolak," kata Nurul pasrah. Niken menggembungkan pipinya. Ia berpikir beberapa saat sebelum menjentikkan jarinya. Wajahnya berubah cerah. "Eh! lo inget tante gue yang kuliah di Inggris dulu?" "Tante Dinda ya?" tebak Nurul sambil mengingat-ingat. "Yes! Tante Dinda. Sekarang Tante gue itu jadi manajer di Hotel Putra Mulia. Hotel itu punya restoran terkenal, Cita Rasa Nusantara. Minggu lalu Tante gue bilang kalo mereka lagi nyari chef yang kuat di masakan tradisional." Harapan Nurul tumbuh. Berarti ada peluang untuknya. "Nah, lo chef spesialis masakan Nusantara, kan?" tukas Niken seraya mengetik lincah di keyboard ponsel. "Ini gue chat Tante gue. Nanya soal lowongan itu." Niken menunggu balasan. Ia tersenyum gembira saat menerimanya. "Tante gue bilang ada beberapa kandidat beberapa hari lalu. Tapi semua terpaksa ia tolak karena bos besarnya mau chef yang referensinya bagus. Ini Tante gue nelpon bos besar dia dulu. Tante mau ngerekomendasiin lo. Kalo bos besarnya oke, lo bisa ke hotel untuk diinterview sama Tante gue besok pagi." "Begitu ya? Mudah-mudahan aja bos besarnya mau nerima gue ya," ujar Nurul berharap. "Semoga ya, Rul." Niken berharap yang sama. "Ntar kalo Tante gue ngabarin, gue akan langsung kasih tahu lo. Biar lo bisa melengkapi surat-surat untuk interview. Tante gue bilang kalo lo punya sertifikat pelatihan kuliner, itu lebih bagus. Tambahin lagi sama Portofolio foto makanan." Niken membaca pesan dari tantenya. Pintu kafe bergoyang. Dua orang wanita berusia awal 20-an masuk ke dalam. Tatapan mereka mencari-cari nomor meja. "Di sini, Erya, Maureen." Niken mengangkat tangannya. Keduanya pun berjalan menghampiri. "Erya dan Maureen ini anak buah gue. Hari ini gue ada nasabah baru yang potensial banget. Gue harus ngajarin mereka bagaimana menghandle nasabah. Terutama soal waktu. Ini mereka udah terlambat hampir setengah jam. Untung aja nasabahnya belum dateng," omel Niken. "Ya udah, gue balik dulu ya, Nik." Nurul beringsut dari kursi saat anak buah kerja Niken menghampiri. "Gue nunggu kabar baik dari lo aja." "Oke, sip." Niken mengacungkan jempolnya. Nurul tersenyum kecil pada rekan kerja Niken sebelum berlalu. Ia masih bisa mendengar Niken memarahi dua rekan kerjanya. Nurul berjalan cepat menuju pintu utama kafe. Pikirannya melayang pada Alfi di rumah. Putranya pasti sudah menunggunya. Ia cukup lama meninggalkan Alfi hari ini. Nyaris empat jam. Tangannya mendorong pintu kaca. Di saat yang bersamaan, seorang pria dan dua orang lagi di kanan dan kirinya, dari luar hendak masuk ke kafe. Brak. Pintu kaca itu mengenai bahu pria yang di tengah cukup keras. Karena ia yang paling dekat dengan pintu. Nurul tersentak. "Astaga! Maaf… maaf banget! Saya nggak sengaja." Pria itu tinggi dan rapi. Mengenakan setelan abu-abu gelap dengan sepatu kulit mengilap. Dandanan khas eksekutif. Mahal dan berkelas. Menanggapi permintaan maaf Nurul, ia hanya mengangguk kecil dan melanjutkan langkahnya. "Anda sangat sembrono. Perhatikan dulu sekeliling baru bertindak!" Teman si pria memelototinya. "Maaf, saya sedang terburu-buru. Saya memikirkan anak saya di rumah!" Nurul membungkuk pelan. Setelahnya ia ingin memaki dirinya sendiri. Untuk apa ia memberitahu masalah pribadinya. "Abdi, langsung ke dalam saja. Kita sudah terlambat empat menit." Pria yang ia tabrak tadi memanggil temannya. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Nurul. Nurul berdiri terpaku beberapa detik, lalu bergegas ke parkiran. Deretan mobil mewah berjejer, kontras dengan sepeda motor bebek tua milik ayahnya yang ia pinjam. Nurul meraih helm yang tergantung di setang, lalu memakainya sambil menghela napas panjang. Ia harus segera pulang. Alfi sudah cukup lama ditinggalkan bersama kedua orang tuanya. Meski ayah dan ibunya tak pernah mengeluh, Nurul tahu menjaga anak kecil bukan perkara ringan, apalagi di usia mereka yang tak lagi muda. Mesin motor dinyalakan Angin sore menerpa wajahnya saat ia melaju keluar dari parkiran. Benaknya dipenuhi rencana mencari pekerjaan di tempat lain apabila bos besar Tante Dinda menolak rekomendasinya. Kalau tidak terapi Alfi yang mahal harus ia hentikan sementara. Ia tak tahu bahwa pria berjas abu-abu yang barusan hampir ia tabrak itu, beberapa menit beberapa menit yang lalu menerima telepon. Dan namanya kemudian disebut dalam percakapan mereka. Ia juga tidak tahu bahwa setelah ia pergi, pria berjas abu-abu yang ia tabrak tadi berdiri di depan meja Niken. "Selamat sore, Pak," ucap Niken cepat, menyambutnya dengan senyum profesional. Erya dan Maureen ikut menyambut gugup. Aura pria ini sangat berwibawa. Pria itu menarik kursi dengan tenang. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Elang Samudra. Namun bagi Niken, ia hanya klien baru—eksekutif yang ingin membahas polis asuransi untuk jaringan bisnisnya. Elang mengangguk singkat. Dua pria lain yang datang bersamanya mulai membuka map proposal. Pembicaraan tentang angka dan risiko usaha pun dimulai. Namun sebelum benar-benar fokus, Elang sempat melirik ke arah pintu kaca tempat Nurul tadi keluar. "Perempuan tadi… anak buah Anda juga?” tanyanya ringan, seolah basa-basi. Niken terkekeh kecil. "Oh, bukan. Itu sahabat saya. Nurul Hidayah namanya. Seorang chef profesional." Abdi dan Hendri saling pandang. Bos mereka bukan tipe pria yang bertanya tanpa alasan. Gerakan tangan Elang yang hendak membalik halaman proposal berhenti. "Chef profesional?" "Iya. Spesialis masakan Nusantara. Dulu ia tiga tahun lamanya memegang dapur Selera Rasa sebelum resign." "Kenapa resign?" "Karena menikah. Sekarang… sudah bercerai." Niken mengangkat bahu. "Kasihan dia. Sekarang sedang butuh sekali pekerjaan untuk membiayai anak berkebutuhan khususnya." Elang mengangguk tipis. "Dia sudah melamar ke mana saja?" "Baru ke restoran Cita Rasa Nusantara sih," jawab Niken apa adanya. "Tante saya, Dinda manajer di Hotel Putra Mulia. Tante saya sedang mencoba membantunya memasukan CV di sana." Elang mengangguk kecil. Tidak ada ekspresi yang berubah. Tidak ada juga komentar tambahan. Niken sama sekali tidak tahu bahwa pria di depannya adalah pemilik seluruh jaringan Hotel Putra Mulia. Atasan langsung dari tantenya sendiri. Ia juga tidak tahu bahwa keputusan akhir penerimaan kandidat dapur utama harus melalui meja pria itu. Pertemuan berlangsung formal. Profesional. Kaku. Tak ada yang tampak istimewa. Semuanya biasa saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD