Hari pertama Nurul bekerja di dapur restoran Cita Rasa Nusantara dimulai pukul tujuh pagi. Namun Nurul sudah tiba di sana setengah jam sebelumnya. Saat mengenakan seragam chef yang baru, ia merasa sedikit kaku. Namun ketika ia mengikat apron dan merapikan penutup rambut, ia merasa kembali menjadi Nurul yang dulu. Di mana dapur adalah tempat ternyamannya.
"Pagi," sapa Nurul pada beberapa chef yang juga baru datang. "Perkenalkan, nama saya Nurul."
Beberapa membalas dengan anggukan singkat. Namun sebagian lainnya hanya melirik sekilas dan memulai pekerjaannya.
Di tengah suasana canggung itu, sebuah sapaan menyambutnya ramah.
"Pagi juga, Chef. Saya Zahwa, anak baru juga di sini." Seorang gadis manis berlesung pipit bergegas menghampiri.
"Saya David, Mbak. Anak magang." Seorang pria muda seumuran Zahwa juga mendekatinya.
"Saya dengar Chef dulu adalah head chef Selera Rasa selama 3 tahun ya?" tanya David dengan mata berbinar.
Nurul mengangguk kecil.
"Kalau begitu saya mau belajar banyak dari Chef Nurul. Mohon bimbingannya." David membungkukkan tubuh. Meniru adegan-adegan kartun anime jika ingin berguru.
"Saya juga, Chef. Mohon bimbingannya." Zahwa mengikuti gaya David.
"Kalian ini apa-apaan sih. Kita sama-sama belajar ya." Nurul tersenyum hangat pada keduanya.
Alhamdullilah, walau para chef senior terkesan tidak mempedulikannya, ada dua chef junior yang bisa menghiburnya.
"Oke, chef. Kami permisi dulu untuk memeriksa persiapan bahan mise en place di belakang ya, chef?" Zahwa dan David berlalu.
Nurul menyusul memeriksa persiapan bahan makanan beku di freezer. Saat sedang mengecek daging dan udang, telinganya mendengar suara bisik-bisik dari sudut dapur.
"Katanya dia itu rekomendasi Bu Dinda. Makanya bisa langsung masuk dapur utama. Pantes, titipan orang dalam." Suara-suara sumbang itu terdengar lagi.
Nurul mengintip si pembisik. Seorang chef senior bergosip dengan cook helper dengan nada meremehkan. Nurul membaca nama di d**a kanan sang chef : Yesi.
Nurul menarik nafas panjang. Berusaha menulikan telinga dari gosip-gosip yang tidak enak. Tujuannya ke sini adalah untuk bekerja, ia tidak memperdulikan yang lain.
Sejurus kemudian terdengar suara langkah kaki dari pintu belakang dapur. Head Chef Rudy sudah datang untuk briefing pagi.
Percakapan kecil di antara para staf langsung mereda. Beberapa chef senior otomatis meluruskan posisi mereka di depan meja kerja masing-masing. Zahwa dan David juga mendekat. Saat briefing pagi biasanya Chef Rudy akan mengatur pembagian kerja di dapur.
"Selamat pagi semuanya. Kita akan memulai briefing pagi."
Pisau-pisau berhenti bergerak. Panci yang sedang dipanaskan dikecilkan apinya. Para chef berkumpul setengah lingkaran menghadapnya.
Chef Rudy memandang seantero ruangan hingga tatapannya terhenti pada sosok Nurul yang berdiri di antara Zahwa dan David.
"Mulai hari ini kita punya anggota baru di dapur utama. Namanya Chef Nurul."
Para chef senior yang tadi sudah lebih dulu disapa oleh Nurul, kembali melirik lagi ke arahnya. Kali ini sedikit lebih lama.
"Sebagian dari kalian mungkin sudah pernah dengar namanya." Chef Rudy melanjutkan. "Nurul sebelumnya adalah head chef di restoran Selera Rasa selama tiga tahun."
Bisik-bisik kecil kembali terdengar di antara beberapa staf.
Nurul berdiri tenang, berusaha tetap terlihat percaya diri meskipun menjadi pusat perhatian.
Chef Rudy melipat kedua tangannya di depan d**a lalu berkata," saya ingin menegaskan satu hal." Nada suaranya berubah menjadi lebih tegas.
"Chef Nurul bekerja di Cita Rasa Nusantara bukan karena orang dalam, titipan ataupun lainnya." Chef Rudy menoleh sedikit ke arah para chef senior.
"Beliau direkomendasikan oleh Bu Dinda atas dasar CV yang bagus dan skill yang mumpuni. Selain itu ia juga diuji langsung oleh saya sendiri dan saya setuju ia masuk ke jajaran tim kita ini."
Dapur menjadi semakin hening.
"Bukan hanya saya." Chef Rudy menambahkan, "Boss besar juga sudah menyetujui perekrutannya."
Kalimat itu membuat beberapa chef senior yang tadi terlihat acuh kini saling bertukar pandangan.
Chef Rudy kemudian melangkah ke depan. "Di dapur ini, kita semua adalah keluarga dan statusnya sama. Tidak ada senioritas apalagi upaya untuk menjatuhkan orang lain."
Ia menunjuk ke arah meja kerja di sekeliling mereka.
"Kita bekerja sebagai tim. Kalau satu orang yang lambat, seluruh dapur ikut lambat. Kalau satu orang gagal, maka kita semua yang dianggap gagal."
Ia menatap satu per satu wajah stafnya.
"Jadi saya harap mulai hari ini, kita semua harus kompak."
Pandangan Chef Rudy kembali ke arah Nurul.
"Chef Nurul akan membantu di beberapa station dan juga membimbing chef junior."
Zahwa dan David otomatis menegakkan badan.
Chef Rudy kini memandang dua orang chef junior.
"Zahwa. David."
"Iya, Chef! jawab keduanya hampir bersamaan.
"Kalian banyak harus belajar dari Chef Nurul."
"Siap, Chef!" jawab keduanya tegas.
"Jadwal tugas hari ini. Chef Herman dan Yesi bertanggung jawab di grill. Chef Nurul dan Johan di bagian sup, Chef Erwin dan Lidya di bagian salad dan dessert. Chef Zahwa dan David akan membantu para chef yang paling sibuk. Begitu juga cook helper. Mereka boleh membantu siapa saja yang paling membutuhkan. Ini adalah pembagian kerja kita seminggu ke depan. Jelas semuanya?"
"Jelas, Chef!"
Chef Rudy kemudian menepuk kedua tangannya sekali.
"Baik. Sekarang kembali ke pekerjaan masing-masing. Kita membuka restoran satu jam lagi."
Suasana dapur langsung hidup kembali. Semua sibuk dengan tugas yang sudah dibagikan.
Zahwa mendekat ke Nurul yang sedang mengecek kaldu sambil berbisik pelan.
"Chef Nurul … Chef Rudy itu biasanya jarang banget ngomong sepanjang itu. Dia belain Chef dari pandangan sinis chef-chef senior."
David mengangguk setuju.
"Iya. Biasanya cuma bacain nama pembagian kerja aja. Kalau nggak ya ngomelin kami kalau kerjanya salah." David nyengir.
"Sudahlah kita fokus bekerja aja. Jangan bergosip di jam kerja ah. Tunjukkan pada orang-orang yang meremehkan kita, kalau kita ini mampu dan kompeten dalam bekerja."
Mendengar kata-kata Nurul, semangat David langsung terbakar. Ia pun segera mengambil talenan. "Oke, Chef. Kalau begitu saya akan memotong daun sup dulu."
Zahwa juga membawa sekeranjang daun untuk menambah aroma rasa kaldu.
"Jangan cuma daun sup, Vid. Ini ada daun bawang, ketumbar dan peterseli." David menjawab dengan acungan jempolnya.
Menit-menit berikutnya semua sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Suara panci, wajan, dan langkah para chef saling bersahutan membuat suasana dapur menjadi hidup.
Beberapa jam berlalu. Dapur mulai sibuk menjelang jam makan siang. Pesanan datang silih berganti. Rush hour seperti ini mereka memang dituntut lebih sigap.
Nurul bekerja tanpa banyak bicara. Saat David kewalahan memotong bawang, Nurul ikut membantu. Ia mengecilkan api kaldu dan ikut memotong. Gerakannya efisien, cepat dan rapi.
Chef Rudy yang mengawasi dapur sempat memperhatikan teknik potongannya yang presisi.
Namun belum sempat suasana benar-benar tenang, seorang staf servis tiba-tiba masuk ke dapur.
"Chef!”
Chef Rudy menoleh.
"Ada apa Ardy?"
"Ini adalah perintah dari manajemen," katanya sambil memberikan selembar kertas.
"Untuk siapa?" tanya Chef Rudy penasaran. Jarang-jarang orang manajemen datang ke dapur.
"Untuk... Chef Nurul," jawab Ardy setelah melihat catatan di tangannya.
Beberapa kepala langsung menoleh. Nurul pun menghentikan pekerjaannya.
"Saya?" Nurul menunjuk dirinya sendiri.
Ardy mengangguk. "Ia kalau Anda adalah Chef Nurul," katanya seraya menghampiri Nurul.
"Chef diminta menyiapkan makan siang untuk boss besar. Boss ada di meja 4 bersama dua orang anak buahnya yang biasa."
Suasana dapur mendadak hening beberapa detik. Para chef menatap Chef Rudy yang terlihat sedikit terkejut. Memang sudah menjadi kebiasaan di restoran. Jika pemilik hotel makan di restoran, Chef Rudy-lah yang memasak langsung untuknya.
Namun kali ini perintahnya berbeda.
Ardy lalu melanjutkan membaca catatan.
"Menu bebas. Apa saja, yang penting enak. Masaknya juga harus cepat."
Bisik-bisik berdengung makin ramai. Zahwa dan David tampak bertepuk tangan kecil. Sementara yang lain menunjukkan keheranan bahkan ketidaksukaan.
Nurul menyadari suasana yang tidak enak namun ia mengabaikannya.
Ia hanya menatap Chef Rudy dengan dan bertanya dengan sopan.
"Chef… apakah ada bahan khusus yang dihindari oleh boss?”
Chef Rudy menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.
"Tidak ada. Tapi seleranya tinggi. Masak yang enak ya. Tunjukkan keahlianmu." Chef Rudy menepuk bahu Nurul pelan.
Nurul mengangguk kecil. Ia terharu karena Chef Rudy tidak menganggapnya saingan. Sebaliknya malah menyemangatinya.
"Baik, Chef."
Nurul berjalan menuju meja bahan. Tangannya mulai memilih satu per satu bahan dengan hati-hati. Daging sapi segar, cabai merah, bawang putih, serai dan lengkuas.
Aroma rempah Nusantara perlahan memenuhi dapur ketika Nurul mulai menumis bumbu.
Suara wajan mendesis saat minyak panas bertemu bumbu yang dihaluskan. Beberapa chef yang tadi bergosip tanpa sadar mulai memperhatikan. Gerakan Nurul tenang. Tidak panik dan
tidak terburu-buru.
Di sudut dapur, Chef Rudy menyilangkan tangan sambil mengamati.
"Chef… ini beneran anak baru itu yang masak buat boss?" tanya Chef Yesi penasaran.
Chef Rudy hanya menjawab singkat. "Iya. Boss sendiri yang minta. Kita fokus saja pada pesanan yang lain." Chef Rudy memutus pembicaraan.
Sementara itu Nurul tetap konsentrasi memasak. Ingatan bahwa boss besar yang akan menyantapnya, membuatnya bekerja ekstra hati-hati.
"Ini tambahan bawang putih cincangnya, Mbak." Zahwa membawa mangkuk kecil untuk Nurul.
"Kalau saya yang disuruh masak, pasti udah gemeteran saya, Chef." Zahwa bergidik.
"Kenapa gemetar? Takut masakanmu tidak enak ya?" tukas Nawang sambil menumis bawang yang dibawa oleh Zahwa tadi.
"Bukan itu saja, Chef. Boss besar kita ini selain cita rasanya tinggi, juga perfeksionis. Beliau pernah meninggalkan meja dan hanya makan sesuap gara-gara masakannya tidak sesuai dengan lidahnya. Chef Rudy galau seharian gara-gara merasa gagal waktu itu," bisik Zahwa.
"Mudah-mudahan saja masakan saya ini sesuai seleranya, aamiin. "Nurul mengamini kata-katanya sendiri diikuti oleh Zahwa.
Beberapa menit kemudian tiga hidangan telah siap disajikan. Harumnya aroma rempah yang menguar membuat beberapa staf dapur tanpa sadar menelan ludah.
"Aku saja yang membawanya, Tia." Fitri merebut baki yang baru saja diletakkan dimeja penghantar.
"Sekarang giliranku, Fit. Kamu antar yang di meja 5 saja." Tia mempertahankan baki.
"Aku bilang aku saja!" Fitri menarik nampan hingga isinya nyaris tumpah. Keributan itu membuat Chef Rudy marah.
"Kalian berdua, letakkan nampan itu!" hardik Chef Rudy murka. "Ella, kamu saja yang membawanya." Chef Rudy menugaskan waitress lain.
Tia meletakkan nampan kembali di meja hantar. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Begitu juga dengan Fitri. Sebaliknya air muka Ella berubah semringah. Memang sudah rezeki anak sholehah.
"Kalian berdua ikut saya!" Chef Rudy menunjuk Tia dan Fitri sebelum masuk ke sudut dapur. Keduanya menghela nafas panjang sebelum mengikuti langkah head chef mereka. Hukuman sudah pasti akan menanti.
"Rasain tuh para waitress centil. Giliran ada boss besar aja, pada kerajinan. Biasanya kayak paku semua. Kalau dipalu, baru jalan," umpat Zahwa.
"Tapi terlepas dari galaknya yang nauzubillah, boss besar kita memang gantengnya masyallah." David ikut menimbrung. Matanya memancarkan cahaya cinta.
"Ya Allah, nyebut kamu Vid, nyebut. Kamu tuh lakik. Kudu setrong. Jangan melehoy begini. Malu sama jakun!" Zahwa mengejek David.
"Ya siapa tahu kan, doi seleranya beda. Bayangin, sama perempuan doi kagak napsu. Kali aja sama eike, doi baru menyala." David mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Oh, boss besar kita nggak suka perempuan ya, Vid?" Nurul jadi penasaran.
"Nggak usah percaya omongan ngawur David, Chef. Boss besar kita normal. Kalau masalah gantengnya sih, iya." Zahwa meringis. "Kalau nggak percaya, coba Chef intip. Selama ini Chef nggak pernah melihat boss besar secara langsung kan?"
"Iya sih." Nurul mengangguk.
"Ya udah, ayo kita intip. Mumpung Chef Rudy sedang sibuk." Zahwa pelan-pelan melipir ke depan. Diikuti oleh Nurul dan David.
"Tuh, Chef, boss besar kita, Pak Elang. Yang duduk di meja 4, pakai kemeja abu dan celana hitam. Ya Allah, ganteng banget ya?" Zahwa bergumam kagum.
Akan halnya Nurul. Ia langsung jantungan saat mengenali laki-laki berkharisma yang sedang menyantap makanannya. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama, yang ia tabrak di kafe Harmoni. Juga yang memakaikan sepatu Alfi di rumah sakit Cinta Sehat. Bukan itu saja. Elang jugalah orang yang ia tabrak di pintu masuk Hotel Putra Mulia.
Pantas saja pria itu menuduhnya menguntit atasannya. Kini ia tahu alasan mengapa pria ia menuduhnya sebagai penguntit!
"Kalian bertiga, ngapain berdiri berjejeran seperti panci begitu? Sana, kembali ke pantry!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan. Ketiganya sontak menoleh.
"Eh panci... panci!" David yang latahan membuat gerakan melambai karena kaget.
Di belakang mereka Chef Rudy melotot sambil berkacak pinggang. Sementara Tia dan Fitri berjalan menunduk dengan mata sembab.
"Siap, Chef!" Ketiganya menjawab seperempak dan bergegas kembali ke pantry. Namun mood Nurul sudah berubah. Ia sangat resah setelah mengetahui siapa boss besar mereka.