7. Selangkah Lagi.

1802 Words
"Maaf, Mbak, kita sudah sampai." Nurul terbangun dengan sedikit tersentak. Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengusir kantuk yang masih menggantung. "Oh… iya. Maaf," gumamnya gelagapan. Ia baru sadar motor sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Ternyata suara yang membangunkannya tadi adalah driver ojek online yang memanggilnya. "Oh iya, maaf, Pak. Saya ketiduran," ucap Nurul buru-buru. Ia segera turun dari motor, merapikan tasnya yang sempat miring. "Nggak apa-apa, Mbak. Capek ya habis kerja?" tanya sang driver ramah. Nurul tersenyum kecil. "Iya, Pak. Lumayan. Namanya juga mencari nafkah." Ia lalu menyelesaikan pembayaran dan mengucapkan terima kasih sebelum motor kembali melaju meninggalkan rumahnya. Nurul mengusap mata beberapa kali. Menatap rumah orang tuanya yang kini kembali ia tinggali. Sudah seminggu ini ia bekerja di Cita Rasa Nusantara. Dan sudah seminggu ini pula ia harus mengandalkan ojek online untuk berangkat dan pulang kerja. Motor ayahnya sudah tidak bisa lagi ia gunakan. Sekarang kendaraan itu dipakai ayahnya setiap hari—untuk mengantar dan menjemput Alfi sekolah. Baru saja akan mengetuk pintu rumah, tiba-tiba saja pintu terbuka sendiri. "Taraa... surprise!" Di depan pintu, adiknya Daffa bertepuk tangan. Di sampingnya, terparkir sebuah motor bekas lama namun tampak terawat. "Surprise apaan?" tanya Nurul sambil melangkah masuk. "Lah, motor segede gaban begini masa nggak toh kelihatan, Mbak?" Daffa memutar bola mata. "Kelihatan. Tapi Mbak kan nggak tahu itu motor siapa." Nurul membuka sepatu dan meletakkannya di atas rak. "Punya Mbak Nurul sekarang. Aku baru membelinya." Daffa menepuk d**a dengan gaya jumawa. Nurul tertegun. "Heh, kamu yang beli? Pakai uang dari mana, Dek?" selidik Nurul tajam. "Dari hasil ngobyek. Asal Mbak tahu, sudah beberapa bulan ini aku jadi makelar mobil-mobil bekas. Jual beli mobil bekas tepatnya," terang Daffa. "Jual beli mobil itu butuh modal besar. Kamu uangnya dari mana?" Nurul menghempaskan pinggulnya ke sofa. Setelah berdiri berjam-jam, nikmat sekali rasanya bisa mengistirahatkan kedua kakinya. "Dari omnya Farhat." Daffa ikut duduk di samping Nurul. "Om Hasbi namanya. Setiap ada orang yang menjual mobil murah, aku dan Farhat akan membelinya dengan uang Om Hasbi. Setelah mobil kami jual kembali, untungnya dibagi dua dengan Om Hasbi sebagai pemilik modal. Nah keuntungan kami, dibagi dua lagi untuk aku dan Farhat." Daffa lalu mendekat ke arah motor. Mengamatinya dengan seksama. "Nah, dari bagianku itu, aku kumpulin sedikit demi sedikit sampai aku bisa membeli motor ini untuk Mbak." Daffa mengelus-elus motor dengan perasaan sayang. "Lihat deh, Mbak. Motor ini walaupun bekas dan tahun lama tapi masih bagus. Mesinnya bandel. Semoga motor ini bisa memudahkan Mbak bekerja ya?" Daffa kembali mengelus-elus motor. Ia tampak bangga sekali bisa membelinya. Nurul terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Ia tidak menyangka kalau Daffa diam-diam berusaha membantunya sampai sejauh ini. Perlahan, Nurul mendekat dan menepuk lengan Daffa. "Terima kasih ya, Dek. Seharusnya uang dari keuntungan-keuntunganmu tabung aja untuk masa depanmu. Jangan menghambur-hamburkannya untuk Mbak," katanya lembut penuh haru. Daffa mendecakkan lidah. "Nggak apa-apa, Kak. Uang kan bisa dicari lagi. Mbak tenang aja. Yang penting Mbak terus doain aku supaya lancar usahanya." Nurul mengangguk. "Pasti dong, Dek." Ia lantas menatap adiknya serius. "Kamu juga harus menjaga kepercayaan orang yang sudah mempercayakan uangnya ini padamu ini. Jangan sampai dia merugi. Nanti modalnya habis." Mendengar kata-kata Nurul, Daffa tertawa. "Om Hasbi itu orang kaya, Mbak. Duitnya nggak berseri. Jadi nggak bakalan habis." Nurul mengernyit. "Masa sih? Kaya banget ya dia? Kerjanya apa?" tanya Nurul penasaran. "Om Hasbi itu pejabat, Mbak. Anggota DPR. Ini nih profilnya." Daffa merogoh kantong. Mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan profesi Hasbi pada sang kakak. Mendengar jabatan Hasbi, Nurul terpana. Nama dan jabatan itu seperti tidak asing baginya. Penasaran Nurul memindai ponsel Daffa. "Oh, Pak Hasbi Hawari." Nurul membaca namanya pelan. Dugaannya benar. Pemodal Daffa adalah Hasbi Hawari. Salah seorang client kantor Erland. Hasbi pernah memberi kantor Erland project untuk membangun rumah bersubsidi dari pemerintah. "Iya, Mbak kenal ya dengan Om Hasbi? Dia baik banget kan, Mbak?" tanya Daffa antusias. "Bukan Mbak yang kenal, tapi Mas Erland. Kantornya pernah bekerjasama dengan Pak Hasbi saat membangun rumah bersubsidi," jawab Nurul hati-hati. Hatinya dipenuhi rasa tidak nyaman setelah mengetahui siapa sebenarnya pemodal Daffa. Dulu Erland bercerita bahwa Hasby adalah pejabat paling gila yang pernah ia temui. Hasbi meminta komisi dalam jumlah besar dan entertaint berupa perempuan-perempuan malam jika ingin projectnya goal. "Gimana Om Hasby menurut Mas Erland? Begini kan?" Daffa mengacungkan jempolnya. "Kalau Mas Erlandnya sih, begini." Daffa menurunkan jempolnya ke bawah dengan mulut menjebi. Ketidaksukaannya pada Erland Tergambar dari raut wajahnya. Nurul menarik napas berat. Menatap Daffa yang terlihat begitu bersemangat membela pemodalnya. Sebenarnya Nurul tidak sampai hati mematahkan semangat adiknya. Namun ia harus mengatakannya demi kebaikan adiknya sendiri. "Menurut Mas Erland, Pak Hasby ini tidak begitu baik, Dek. Dia..." "Halah, Mas Erland itu pembohong, Mbak. Sama Mbak aja yang sudah jadi istrinya bertahun-tahun, tega dia bohongin, apalagi cuma Om Hasby." Daffa memotong kata-kata Nurul. "Ya, terlepas Mas Erland itu berbohong atau tidak, tapi tidak ada salahnya kan kalau kamu berhati-hati? Mbak cuma takut kalau kamu dimanfaatkan orang lain," terang Nurul bijak. "Iya, Mbak. Aku paham. Aku bukan orang bodoh." "Mbak yakin kamu bukan orang bodoh, hanya kurang pengalaman saja. Makanya Mbak minta kamu lebih hati-hati. Mbak mengatakan Ini semua bukan karena ingin mematahkan semangatmu, tapi karena Mbak menyayangimu." "Iya, Mbak. Paham. Gimana motornya? Mbak suka nggak?" Daffa mengganti topik pembicaraan. "Suka dong, Dek. Apalagi gratis." Nurul nyengir. "Nanti tiap bulan Mbak cicil ya, motornya." "Nggak usah, Mbak," potong Daffa cepat. " Aku memang ingin menghadiahkannya untuk Mbak kok." "Baiklah kalau begitu. Sekali lagi, terima kasih ya, Dek. Mbak masuk dulu, mau melihat Alfi sekalian istirahat." "Silakan, Mbak. Aku mau nonton bola dulu," kata Daffa sambil menghidupkan televisi. Dalam sekejab ruang tamu telah dipenuhi dengan suara komentator sepak bola. Sementara Nurul yang telah tiba di kamar menatap Alfi yang sudah tertidur lelap di samping ibunya. Wajah putranya terlihat damai, seolah tak tersentuh oleh kerasnya dunia di luar sana. Sedangkan ibunya langsung terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. "Kamu sudah pulang, Rul?" sapa Bu Nafisah sambil menguap lebar. "Iya, Bu." Nurul mengangguk dan mendekati ranjang. Memandangi wajah Alfi yang tampak damai dalam tidurnya. Bu Nafisah beringsut turun dari ranjang, memberi ruang untuk Nurul. Nurul mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap Alfi beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan. "Nurul minta maaf ya, Bu? Bu Nafisah menoleh. "Maaf untuk apa, Nak?" tanya Bu Nafisah pelan. "Maaf karena Nurul harus bekerja sehingga Alfi jadi menyusahkan Ibu dan Bapak," ucapnya lirih. "Ah, kamu ini ngomong apa sih, Rul? Kita ini satu keluarga. Jadi sudah seharusnya saling bantu. Lagi pula kami senang kok mengasuh Alfi. Rumah jadi lebih semarak." Nurul terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. "Sudah jangan mikir yang tidak-tidak. Sekarang kamu istirahat saja. Kamu pasti capek kan?" Nurul mengangguk. "Iya, Bu." Bu Nafisah lalu keluar kamar perlahan, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Alfi. Setelah itu, Nurul menoleh kembali ke arah anaknya. Ia membungkuk, mencium kening Alfi dengan lembut. "Maaf ya, Nak…" bisiknya lirih. "Ibu nggak bisa jagain kamu siang-siang lagi karena Ibu harus kerja." Tangannya mengusap rambut halus Alfi. Nurul menarik napas panjang, lalu berdiri dan mengambil handuk, bersiap mandi. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Erland muncul di layar. Nurul terdiam sejenak. Rahannya mengeras. Beberapa detik ia hanya menatap layar itu… lalu akhirnya mengangkat panggilan. "Halo." Suara Erland terdengar dingin, tanpa basa-basi. "Sudah cukup jalan-jalannya." Nurul mengernyit. "Apa maksudmu?" "Maksudku, sudah cukup lama kalian berdua berada di luar rumah. Sekarang pulang!" lanjut Erland tegas. “Jangan kekanak-kanakan. Sedikit-sedikit ngambek dan pulang ke rumah orang tua." Nurul tersenyum tipis—senyum yang penuh sindiran walau Erland tidak bisa melihatnya. "Cukup ya, Mas. Aku tidak punya waktu meladeni pembicaraan tak berguna seperti ini. Langsung saja, apa maumu?" tukas Nurul dingin. "Dasar istri sombong tidak tahu diri!" Erland meledak dalam kemarahan. "Dengar baik-baik perempuan sialan, kalau kamu benar-benar mau bercerai… jangan mimpi untuk mendapat harta gono-gini dariku. Semua hartaku, aku sendiri yang mencarinya. Kamu cuma ongkang-ongkang kaki di rumah!" ancam Erland geram. "Masalah itu biar pengadilan saja yang memutuskan," jawab Nurul datar. Ucapan itu menyulut api kemarahan Erland menjadi kian berkobar. "Jadi ini rencanamu sedari awal hah? Kamu mau memerasku?" Nada suara Erland naik beberapa oktaf. Nurul tidak menjawab. Ia hanya menjauhan telinganya dari telepon. "Asal kamu tahu, aku sebenarnya juga sudah muak hidup denganmu. Perempuan yang tidak bisa memberiku anak normal. Aku cuma memikirkan Alfi. Bagaimana nasibnya kalau kita sampai..." Klik! Nurul memutus sambungan telepon. Ia tidak sanggup mendengar segala fitnahan dan kemunafikan Erland lagi. Ia mendadak merasa mual karena jijik. Ia segera masuk ke kamar mandi. Mungkin dengan mandi, ia bisa mendinginkan kepalanya. Sayangnya ponselnya kembali berdering. Nurul meraihnya dan bermaksud memblokir nomor Erland. Rupanya Niken yang menelepon. Nurul segera mengangkatnya. "Halo, Nik?" "Nurul!" suara Niken terdengar bersemangat. "Gue udah dapet pengacara bagus untuk ngurus perceraian lo." Nurul mengernyitkan kening. "Serius? Siapa? Biayanya gimana? Lo tau kan kalo dana gue pas-pasan." "Masalah biaya nggak usah lo pikirin," lanjut Niken. "Lah kenapa gitu? Emangnya pengacaranya mau dibayar murah?" "Mau kok. Karena pengacaranya Mahdi Siregar." Nurul terdiam sejenak. Ia merasa familiar dengan nama itu. "Mahdi… Siregar?” ulangnya pelan. "Iya! Teman sekelas kita dulu, ingat nggak?" Nurul mencoba mengingat, lalu mengangguk meski Niken tak bisa melihatnya. "Oh… yang dulu sering juara debat?" "Betul!" jawab Niken. “Sekarang dia sudah jadi pengacara. Gue tadi pagi ketemu dia di kafe. Terus gue ceritain deh masalah lo. Dan dia bilang dia siap bantu tanpa biaya." "Jangan gratis dong ah. Nggak enak gue." Nurul keberatan. "Iya. Tadi gue juga bilang begitu. Lo pasti nggak mau kalo gratis. Terus dia bilang bayar seikhlasnya aja." Nurul menarik napas lega. "Syukurlah kalo gitu. Makasih ya, Nik. Lo emang bisa diandelin." "Yaelah, lo kayak sama siapa aja. Eh tapi dengar ya,” suara Niken tiba-tiba serius. "Ntar kalo si Erland tiba-tiba datang, minta maaf, atau bersikap baik… lo jangan gampang luluh." Nurul tersenyum pahit. "Tenang saja." "Tenang... tenang... ntar tiba-tiba aja lo balikan lagi habis dirayu-rayu. Perempuan kan gitu. Ya gue juga sih." Niken mendecakkan lidah. Nurul terdiam sejenak sebelum menjawab mantap. "Gue nggak akan pernah sanggup hidup serumah dengan orang yang tega menghina dan memanipulasi darah dagingnya sendiri." Hening. Niken terdiam di ujung sana. "Gila ya, gue nggak nyangka kalau Erland bisa sebangsat itu!" Niken jadi ikut emosi. "Ya udah, kita atur aja supaya lo bisa secepatnya lepas dari si Erland sialan itu. Lo juga nggak usah kecil hati. Lo itu pinter cakep lagi. Makanya dulu banyak laki-laki yang suka sama lo. Ntar kalo lo udah jadi janda, gue yakin pasti banyak laki-laki yang antri. Percaya deh sama gue!" "Ya ampun, Nik. Jangan ngomongin soal laki-laki dulu. Trauma gue. Fokus gue sekarang membangun karir dan masa depan Alfi." "Begitu juga bagus. Gue tutup dulu teleponnya ya. Mas Harry udah minta jatah." Tawa Niken berderai. "Ya udah, urus dulu laki lo." Nurul menutup telepon. Sebelum membersihkan tubuh ia menatap Alfi yang masih tertidur lelap. Tekadnya sudah bulat. Ia akan mengurus perceraian secepatnya dan fokus untuk menata masa depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD