8. Salah Paham.

1812 Words
Mobil Elang baru saja memasuki pintu gerbang rumah, saat matanya langsung menangkap satu hal yang asing. Sebuah mobil yang tidak ia kenal terparkir di sana. Keningnya berkerut. "Mobil siapa itu, Pak?" tanyanya singkat pada Pak Anto yang berdiri tak jauh dari pos. Pak Anto tampak ragu sejenak sebelum menjawab, "Itu… mobil pacar eh suaminya Mbak Tasya, Den." Rahang Elang mengeras. Ia tetap melangkah masuk tanpa berkata apa-apa lagi. Begitu membuka pintu rumah ia melihat ibunya, Tasya, dan Erland sedang duduk bersama. Tampak mengobrol akrab. Namun percakapan itu langsung terhenti begitu ia muncul di ambang pintu. Suasana seketika sunyi. "Bang ... Elang," Tasya menyapa gugup setelah mendapat kode dari sang ibu. Sedangkan Erland, ia langsung berdiri dan menyapa ragu, "apa kabar, Lang?" "Buruk setelah melihat kehadiranmu," jawabnya dingin. Mendengar jawaban sang kakak Tasya ikut berdiri dan langsung protes. "Jangan kasar begitu dong, Bang. Hargai suamiku!" "Mengapa aku harus menghargai orang yang tidak menghargaimu?" Elang balik bertanya. "Maksud Bang Elang apa sih? Aku nggak ngerti?" Tasya mengernyitkan alis. "Nggak ngerti? Oke, aku jelaskan." Elang menghampiri mereka di sofa namun tidak ikut duduk. "Kalau dia menghargaimu, dia akan menyelesaikan urusan rumah tangganya hingga tuntas, baru memulai hubungan denganmu. Bukannya langsung menikahimu secara siri bahkan tanpa sepengetahuan istri sahnya," tuding Elang sinis. "Mas Erland sebenarnya sudah lama mau menceraikan istrinya, Bang. Tapi Mas Erland tidak tega karena mereka punya anak." Tasya langsung membela Erland. "Begitu? Lantas kenapa sekarang dia tega?" cecar Elang seolah-olah tidak ada Erland di sana. "Karena Mas Erland sudah tidak tahan menghadapi sikap istrinya yang kasar dan mata duitan. Istrinya itu cuma mengejar harta Mas Erland, Bang." Tasya terus membela mati-matian. "Kamu percaya?" Elang mendengkus sinis. Tasya terdiam. Abangnya ini memang jagonya membuat orang mati kutu. "Alasannya terlalu mengada-ada. Mengejar harta katamu? Memangnya dia punya?" Elang menunjuk Erland dengan dagunya. Air mukanya mengejek. "Cuma punya satu unit rumah dan mobil dia berani menyebut dirinya berharta? Kamu bahkan punya berpuluh kali lipat dari itu. Alasan yang lebih tepat : dia mengincar hartamu." Elang lagi-lagi bersikap bahwa Erland tidak ada di antara mereka. Di sofa, Erland mati kutu. Jikalau mengikuti kata hati, betapa inginnya membungkam mulut pedas Elang. Tapi ia harus bersabar, rencananya belum sepenuhnya berhasil. Masih jauh panggang dari api. "Lantas soal sifat kasar, bukannya dulu dia juga bilang begitu padamu saat kalian putus? Katanya kamu itu kasar dan berisik. Jauh berbeda dengan pacarnya yang tenang dan lembut. Kamu ini entah memang lupa atau pura-pura lupa. Tapi yang jelas, kamu bodoh, Tasya!" pungkasnya tanpa tedeng aling-aling. "Aku dulu sedang marah, makanya sembarangan berbicara. Aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu." Tidak tahan terus dikuliti, Erland mencoba membela diri. "Orang yang sedang marahlah yang benar-benar jujur. Jangan menghina kecerdasanku." Elang berbalik badan. Ia sudah muak menghadapi laki-laki kardus seperti Erland dan kenaifan adiknya. "Tidak semua orang yang mendekati kita mengejar harta, Bang. Ada juga yang cintanya memang tulus!" seru Tasya. Ia tahu kakaknya sudah muak dengan perempuan-perempuan mata duitan yang selama ini mengejar-ngejar kakaknya. Elang mengangguk kaku. "Betul. Aku baru saja bertemu dengan orang-orang yang benar-benar tulus akhir-akhir ini." Elang teringat Alfi. "Tapi yang jelas bukan orang seperti dia." Elang menunjuk Erland sekali lagi sebelum berjalan menuju kamar. Ia sangat lelah hari ini. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam menguras jiwa raganya. Ia masuk ke kamar dan menghidupkan pendingin ruangan. Seketika udara terasa sejuk. Sejurus kemudian ia mendengar pintu kamarnya diketuk. "Lang… ini, Ibu." Suara ibunya terdengar ragu dari luar. Elang yang sedang membuka kancing kemejanya menjawab singkat, "Masuk." Pintu terbuka perlahan. Ibunya masuk dengan langkah hati-hati. Wajahnya menyiratkan kegamangan yang jelas. Elang tidak menoleh. Ia tetap sibuk melepas kemejanya, seolah kehadiran ibunya tidak cukup penting untuk mengalihkan perhatiannya. Ibunya maju beberapa langkah mendekati Elang. "Ibu tahu kamu marah karena Ibu menerima Erland kembali di rumah ini. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah menikah, Lang," kata ibunya pelan lalu duduk di sisi ranjang. Elang akhirnya berhenti sejenak, tapi tidak berbalik. "Cuma siri. Erland punya anak dan istri yang sah." Nada suaranya datar. Ibunya menelan ludah. "Ibu tahu. Tapi agama kita memperbolehkan laki-laki memiliki istri lebih dari satu kan? Istri Erland harus menerima kenyataan ini." Erwan menoleh. "Kalau begitu mengapa dulu Ibu meminta cerai sewaktu ayah ingin menikahi Mbak Rahma?" Bu Sari terdiam. Elang memang berlidah tajam. "Ibu tidak usah membawa-bawa agama kalau hanya ingin membela Tasya," ucap Elang dingin. Hening sejenak memenuhi kamar. Bu Sari menatap putra sulungnya sejenak sebelum menarik napas panjang. "Tasya itu anak Ibu. Ibu menyayanginya. Wajar kan kalau Ibu membelanya? Ibu cuma ingin ia bahagia." "Sama, Bu. Tasya juga adik kandungku. Aku menyayanginya makanya aku tidak mau dia terluka. Erland itu tidak mencintai Tasya. Dia cuma butuh uang dan status sosialnya." Elang mendekati ibunya. "Aku bisa bilang begini karena aku sudah menyelidiki rumah tangga Erland. Aku bahkan sudah bertemu dengan istri dan anaknya." "Kamu bertemu mereka? Sebagai apa?" tanya Bu Sari penasaran. "Tidak penting sebagai apa." Elang mengibaskan tangannya. "Tapi apa yang dikatakan Erland saat putus dengan Tasya dulu memang benar. Istrinya lembut dan tidak berisik. Ia lupa menambahkan kata ulet dan juga kuat." Elang membayangkan sosok Nurul yang sangat melindungi Alfi. "Tasya itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan istri Erland. Kelebihan Tasya cuma satu, uang. Itulah yang diincar Erland darinya." Pernyataan Elang membuat Bu Sari berpikir. "Kalau istrinya memang sesempurna itu, mengapa Elang ingin meninggalkannya?" "Karena Erland ingin mendapatkan uang dan kedudukan secara instan. Istrinya tidak punya dua faktor itu, tapi Tasya punya punya. Selain itu juga Tasya punya rahim." "Apa hubungannya dengan rahim? Istrinya juga punya bukan? Makanya mereka punya anak?" imbuh Bu Sari. Elang menggangguk. "Ya mereka punya. Tapi anak mereka tidak sempurna. Anak mereka terlahir down syndrome." "Astaga" Bu Sari menutup mulut karena terperanjat. "Erland ingin anak yang normal makanya Erland mencari perempuan lain yang bisa mengandung anaknya. Dia pikir rahim yang beda akan menghasilkan anak yang berbeda juga. Dan Tasya adalah kandidat yang paling tepat." Ibunya terdiam lama. Ia lalu menarik napas panjang dan beringsut dari ranjang. "Ibu ke depan dulu. Ibu tahu Ibu salah, adikmu juga salah. Tapi ibu memilih cara ini, asalkan adikmu tetap hidup." "Tasya mengancam mau bunuh diri kalau Ibu tidak menerima suami mata duitannya? Hebat sekali pengaruh si Erland ini," umpat Elang geram. Bu Sari mengangguk. "Iya. Makanya Ibu terpaksa menerima mereka. Adikmu belum pernah sefrustasi ini dalam meminta restu. Sudahlah, tutup saja matamu sebelah. Demi nyawa adikmu." Bu Sari berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, langkahnya sempat terhenti. "Sekali lagi, Elang. Ibu harap kamu bisa mengerti." "Tidak bisa, Bu. Erland itu licik. Dia memaksa kita menerimanya dengan mengeksploitasi rasa cinta Tasya. Aku tahu tujuan utamanya adalah ingin masuk ke perusahaan kita. Dan aku tidak akan membiarkannya," jawab Elang dingin. Bu Sari tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan. Ia sangat dilema. Di satu sisi ia menyayangi putrinya. Di sisi lain, ia tahu putranya benar. Sementara di kamar Elang membuka ponsel saat mendengar suara notifikasi. Ada pesan dari Abdi. Penasaran Elang pun membukanya. Abdi mengirim sebuah photo. Ia juga menulis kalau wanita ini terlalu sering berjumpa dengan mereka. Jangan-jangan mereka akan ditakdirkan bersama dengan emoticon tertawa. Penasaran Elang pun memperbesar foto tersebut. Air mukanya seketika berubah saat mengenali perempuan itu adalah Nurul dengan Irgi Lesmana. Suami Asti Wirasti. Pemilik Restoran Selera Rasa. Restoran di mana Nurul dulu bekerja. Elang mengertakkan geraham. Ternyata Nurul berbohong saat interview dulu. Karena menurut Dinda, Nurul tidak melamar kembali ke sana karena tidak ingin Asti cemburu. Tapi foto ini menyatakan hal sebaliknya. Nurul tampak bergandengan tangan dengan Irgi di parkiran sebuah supermaket. "Perempuan, memang tidak bisa dipercaya!" desisnya geram. Ia kemudian melemparkan begitu saja ponselnya ke atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Ia berharap air dingin akan kembali menjernihkan kepalanya. *** Satu jam sebelumnya. Hari Selasa adalah hari libur Nurul. Saat libur seperti inilah ia memanfaatkannya untuk berbelanja kebutuhan pokoknya di supermaket. Biasanya ia membawa Alfi. Tapi hari ini Alfi tidak enak badan. Makanya ia berbelanja seorang diri. Lorong demi lorong ia lewati dengan troli kecil di tangan. Daging, sayuran segar, bumbu dapur, s**u dan jajanan sehat untuk Alfi. Tangannya bergerak otomatis, memilih bahan-bahan belanjaan dengan cekatan. Ia ingin pulang secepat mungkin. Sampai kemudian langkahnya terhenti. Di ujung lorong, dekat rak minuman berdiri seorang pria yang sangat ia kenal. Irgi Lesmana. Suami Asti. Nurul mendecakkan lidah. Moodnya berbelanja telah hilang. Irgi adalah type seorang pemaksa. Dan ia sedang malas ribut. Nurul langsung merunduk dan berjalan di lorong lainnya. Ia lalu mendorong troli ke arah kasir. Ia berencana membayar dan langsung pulang saja. Di depan kasir, Nurul mengeluarkan belanjaan sambil menatap ke arah layar pembayaran. Barang-barangnya hanya sedikit. Ia ingin cepat selesai, cepat keluar. "Totalnya dua ratus tujuh belas ribu, Mbak," ujar kasir. Nurul mengangguk, merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Lebih cepat membayar dengan scan via ponsel. Pembayaran pun selesai. Dan di saat itulah terdengar seseorang memanggil namanya. "Nurul?" Tubuh Nurul menegang. Namun ia pura-pura tidak mendengar. Tangannya dengan cepat memasukkan ponsel ke dalam tas, menyambar kantong belanjaan dan berlalu. Namun Irgi tak puas. Ia kembali memanggil-manggil Nurul. "Nurul, tunggu!" Nurul tak mempedulikannya. Ia langsung keluar dari supermaket. Di belakangnya, langkah lain terdengar menyusul. Nurul tahu Irgi mengikutinya. Langkah Nurul semakin cepat menuju area parkir. "Nurul, apa kabar kamu?" tanya Irgi, kini sudah sejajar beberapa langkah di belakangnya. "Baik." Jawaban Nurul singkat, datar, tanpa menoleh. Ia terus berjalan. Sebentar lagi ia akan sampai ke motornya. "Lama tidak bertemu, kita mengobrol dulu di—?" "Maaf, Mas. Saya sedang buru-buru," potong Nurul dingin tanpa berhenti. Namun Irgi tidak menyerah. Langkahnya sekarang sudah menyamai Nurul. "Aku tahu tentang kabar terbarumu.” Kalimat itu tempat membuat Nurul tertegun. Namun ia tidak menanggapinya. "Aku tahu Erland sekarang bersama wanita lain." Nurul tetap membisu. Tangannya menggenggam tas belanja lebih erat. Sebentar lagi ia akan sampai ke motornya. Irgi menatap Nurul makin intens, suaranya dibuat merendah. "Wanita itu sedang hamil. Aku melihatnya di mall. Mereka sedang berbelanja perlengkapan bayi." Nurul tetap bungkam. Seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata Irgi. Tidak bereaksi seperti yang ia harapkan, Irgi mencengkeram pergelangan tangan Nurul. Nurul langsung menepis dengan keras. "Jangan sentuh aku!" Suara Nurul tajam. Matanya menatap Irgi penuh amarah yang selama ini ia tahan. "Dan tolong jangan ikuti aku lagi. Kamu tidak mau aku laporkan lagi pada Asti kan?" ancam Nurul. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap langsung ke mata Irgi. Irgi yang kaget terdiam sesaat. Di kejauhan, tanpa mereka sadari, dua pasang mata memperhatikan. Dua orang pria berdiri di dekat papan reklame. Keduanya saling berpandangan. "Itu perempuan yang waktu itu kan, Hen?" "Iya, ya. Wah kita sering banget ketemu dia." Si pria tertawa. Pria pertama mengangkat ponsel dan memotret. Satu foto tertangkap. Terlihat, Irgi yang tadi mencengkram tangan Nurul. Tapi dari kejauhan mereka terlihat seperti sedang bergandengan tangan. Kedua pria itu kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu. Sementara itu, Nurul sudah duduk di motor dan menyalakan mesin. Ia kemudian berlalu. Meninggalkan Irgi. Tanpa tahu, bahwa masalah baru saja mulai mengikutinya. Berupa sebuah gambar yang baru saja tersimpan di ponsel orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD