9. Nyaris Saja!

2120 Words
Suara pisau yang beradu dengan talenan terdengar ritmis di pagi itu. Nurul berdiri di meja prep, tangannya dengan cekatan membumbui ayam yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian. Di sampingnya, panci besar berisi kaldu terus mendidih pelan, mengeluarkan aroma gurih yang memenuhi dapur. Zahwa mendekat sambil membawa sekeranjang buah untuk dessert. "Hari ini Chef masak apa untuk bos besar?" tanyanya penasaran. Nurul melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. "Ayam penyet istimewa sama sop iga. Ini ayam penyetnya lagi dibumbui," kata Nurul sambil membolak-balik ayam. "Ini sopnya ya, Mbak." Zahwa menunjuk ke arah panci besar di sampingnya. "Iya. Dimasak dari pagi banget. Biar kaldunya keluar semua, jadi kuahnya nanti gurih dan dagingnya empuk. Bumbunya juga meresap.” Zahwa mendekat ke arah panci. Melongok sebentar, melihat isinya, lalu mengacungkan jempolnya. "Wuih, menggoda banget nampaknya. Bumbu-bumbunya harum." Zahwa mencium-cium udara. "Saya jadi laper lagi, Chef." David yang sedang mengupas bawang di dekat mereka ikut berkomentar. "Ah, kamu memang dasarnya tukang makan. Perut kok ya terbuat dari karet. Baru juga makan, udah laper lagi. Dasar," cibir Zahwa. Nurul hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Namun dari kejauhan, dua pasang mata memperhatikan. Chef Yesy dan Chef Johan berdiri di station mereka. Keduanya saling melirik, lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip sindiran. "Rajin juga ya Chef kesayangan boss besar," gumam Chef Yesy pelan. Chef Johan mendengus kecil. "Namanya juga tukang cari muka. Semua pekerjaan direbutnya. Kita cuma dapet bagian masak untuk tamu biasa." Sambil bekerja sesekali mereka melirik ke arah Nurul. Waktu berjalan cepat. Jam makan siang semakin dekat. Dapur mulai memanas. Pesanan berdatangan satu persatu. Nurul berdiri di depan kompor. Ayam yang sudah dimarinasi siap digoreng, sambal diulek. Sop iga terus ia jaga apinya agar tetap stabil. Semua berjalan seperti biasa. Sampai tiba-tiba Pintu dapur terbuka. Seorang pria berpakaian rapi masuk dengan langkah cepat. Staf manajemen hotel, Ardy. Nurul yang melihat kehadiran Ardy menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu datang menghampiri. "Pak Ardy," sapanya sopan. "Bos besar datang hari ini?" Ardy mengangguk singkat. Matanya mengamati seantero dapur. Nurul melanjutkan, "Seperti biasa beliau mau saya yang masak? Atau ada request khusus ?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nurul. Wajar mengingat selama tiga minggu ini, bos besar selalu memintanya untuk memasak. Namun kali ini Ardy menggeleng. "Saya mencari Chef Rudy." Nurul terdiam sejenak. Ia lalu mengarahkan Ardy pada Chef Rudy di belakang. Chef Rudy memang selalu mengecek stok bahan makanan pada saat jam sibuk. Setelah bertemu dengan Chef Rudy, Ardy melanjutkan dengan nada profesional dan jelas. "Mulai hari ini, Chef Rudy yang akan masak untuk bos besar setiap kali beliau makan siang di sini." Kalimat itu singkat saja. Namun cukup membuat Nurul gelisah. Jangan-jangan kemarin ia membuat kesalahan saat memasak. Makanya si bos tidak mau menyantap masakannya lagi. "Baik, Pak." Nurul mengangguk dan kembali ke kompornya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Chef Rudy langsung memasak. Wajahnya tampak antusias. "Hahahaha..." Suara tawa kecil terdengar dari belakang. Tanpa menoleh pun Nurul tahu, suata itu berasal dari Chef Johan. "Makanya jadi orang jangan kepedean,” ucapnya dengan nada santai tapi jelas menyindir. Chef Yesy menyambung dengan suara dibuat-buat sedih. "Iya… namanya juga usaha. Siapa tahu bisa dapet ikan besar," ia mengusap sudut matanya pura-pura menangis. "Dari mulut turun ke perut… eh, langsung nyangkut di hati. Tau-taunya anyep." Keduanya tertawa keras. Jelas mengejek Nurul yang gagal memasak untuk bos besar. Nurul diam saja. Ia tidak menggubris ejekan mereka. Tangan tetap bergerak gesit. Mengulek sambal, mengaduk sop dan membalik ayam. Ia bersikap seolah tidak mendengar apa-apa. "Pura-pura tenang padahal pengen nangis banget tuh di pojokan." Chef Yesy kembali tergelak. "Sakit tapi nggak berdarah. Kalah malu soalnya. Hahaha." Ana, cook helper yang membantu Chef Yesy ikut menimbrung. Zahwa mendengkus geram, mendekat ke tempat Nurul. "Kok ada ya orang yang mulutnya jahat kayak gitu,"" bisiknya kesal. David mengangguk. "Iya. Julid banget. Nggak takut apa mulutnya miring karena hobby banget ghibahin orang?" Nurul menghentikan sejenak gerakannya, lalu menoleh pada mereka berdua. "Udah,” katanya pelan. "Kita kerja aja. Nggak usah diambil hati. Kita di sini kan untuk kerja." Zahwa dan David mengangguk dan kembali ke posisi mereka. Tak lama kemudian Chef Rudy selesai memasak. Waitress yang bertugas buru-buru mengangkat baki dan mengantarkannya ke meja bos besar. Sementara Chef Rudy sendiri menghampiri Chef Johan dan Chef Yesy. "Saya sudah pernah memperingatkan kalian untuk selalu menganggap orang-orang yang bekerja di dapur ini sebagai satu keluarga besar, bukan saingan. Sekali lagi saya melihat kalian bergosip dan mencoba menjatuhkan salah satu anggota dapur, saya akan memberi sanksi kepada kalian. Paham?" tegur Chef Rudy keras. "Paham, Chef." Chef Johan, Yesy dan Ana mengangguk serempak. Ketegasan dalam suara Chef Rudy membuat mereka keder juga. Bukan tidak mungkin mereka akan dipecat. "Baik, ini adalah peringatan terakhir. Kalau kalian mengulanginya, saya akan memberi sanksi tegas," tandas Chef Rudy sebelum berlalu. Bos besar tiba-tiba saja memanggilnya. "Halah, pura-pura marah pada kita. Padahal dia juga senang tuh bisa kembali masak untuk bos besar," gerutu Chef Yesy pelan. "Ti hati kalo ngomong. Ntar kalau kedengaran Chef Rudy, bisa dipecat," sindir Zahwa. Namun ia bersikap seolah-olah sedang berbicara dengan David. "Ngomong apa kamu?" Chef Yesy membentak Zahwa. "Saya ngomong dengan David kok, Chef. Soalnya dia suka ngomong ngalor-ngidul," sahut Zahwa santai. Memangnya mereka saja yang bisa menyindir. Sementara Nurul, Ia diam saja dengan pikiran yang berkecamuk. Benaknya terus berpikir, kesalahan apa yang telah ia buat hingga bos besar tidak mau lagi menyantap makanannya. Ia takut sekali membuat kesalahan yang tidak ia sadari. Masa percobaannya tiga bulan. Bagaimana jika tidak di perpanjang lagi? "Aku nggak tahan lagi." Chef Yesy membanting spatula dan menghampiri Nurul yang diam bagai orang tuli. "Nurul... aku memanggilmu Nurul saja karena usiamu pasti jauh di bawahku." Nurul menoleh. Karena Chef Yesy langsung menyebut namanya, ia akan meladeni. "Kamu tahu nggak, kami ; aku dan Johan sudah mengabdi di dapur ini lima belas tahun lamanya. Hanya setahun lebih cepat dari Chef Rudy." Nada suara Yesy naik satu oktaf. Zahwa dan David segera mengambil posisi masing-masing di kanan dan Nurul. Siap siaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Kami bekerja keras setiap hari demi mendapat promosi dan diperhatikan bos besar seperti Chef Rudy. Tapi kamu... kamu dengan mudahnya mendapat promosi karena orang dalam." Nurul diam saja. Ia membiarkan Chef Yesy mencurahkan semua keluh kesahnya. "Kamu tahu, Nurul. Tahun ini aku harus membiayai anak sulungku masuk perguruan tinggi impiannya di Stanford University. Belum lagi adiknya yang juga mau masuk SMA unggulan. Suamiku cuma guru yang gajinya tidak seberapa. Aku butuh banyak uang makanya mengharap promosi. Dan kamu dengan wajah polosmu merampas impian kami!" Chef Yesy menunjuk wajah Nurul geram. "Aku juga, Nurul. Anakku ingin masuk sekolah musik internasional. Gajiku pas-pasan dan istriku cuma pramuniaga di sebuah butik. Belum lagi biaya hidup kami yang besar." Chef Johan ikut berkeluh kesah. "Kamu itu masih muda, cantik dan berbakat. Melihat penampilanmu, mungkin juga karir suami bagus. Harusnya kamu mengalah dan resign saja. Cari restoran lagi agar kami tidak tenggelam dalam bayang-bayangmu," saran Chef Yesy lagi. "Tidak bisa, Chef. Saya juga sangat membutuhkan pekerjaan ini," ucap Nurul dingin. "Sangat butuh? Coba sebutkan apa yang membuatmu sangat butuh? Saya yakin, kebutuhanmu tidak sepenting kebutuhan kami," tantang Chef Yesy. Nurul menarik napas panjang. Memgumpulkan kekuatan dan melawan ketidaknyamanannya menceritakan kehidupan pribadinya. "Sebulan yang lalu, saya menangkap basah suami saya membawa selingkuhannya yang sudah hamil besar di ulang tahun mertua saya." Hening. Semua yang mendengar menahan napas. "Malam itu juga saya kembali ke rumah orang tua saya beserta putra saya, Alfi yang berkebutuhan khusus. Saya ingin bercerai." Suara kesiap kaget terdengar di dapur. "Dua hari lalu suami saya menelepon dan mengancam bahwa ia tidak akan memberikan harta gono gini kepada saya sepeserpun kalau saya tetap ingin bercerai." Dapur tetap bergolak dengan segala macam kegiatan. Namun orang-orang yang tengah berbicara dengan Nurul terdiam. Mereka tidak menyangka kalau kisah Nurul sepahit itu. "Kedua orang tua saya sudah pensiun dan mengandalkan makan sehari-hari hanya dari warung kecil di depan rumah." Sebelumnya Nurul sangat tegar menceritakan masalahnya. Namun saat menceritakan tentang orang tuanya, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat bersalah karena membebani orang tuanya di masa senja mereka. "Saya membutuhkan pekerjaan ini selain demi kelangsungan hidup saya sehari-hari, juga untuk membiayai terapi anak berkebutuhan saya yang sangat mahal. Saya harus melakukannya bukan karena ingin pamer. Tapi saya ingin anak saya minimal bisa mengurus dirinya sendiri, pada saat saya... mungkin tidak ada lagi di dunia ini." Setelah mengucapkannya, Nurul kembali ke kompor. Ia mengerjakan semua tugasnya dalam diam. Namun Zahwa tempat melihat kalau Nurul sekilas menyusuti air matanya dengan punggung tangan, lalu membasuh wajah dan tangannya di wastafel. Sementara Chef Yesy dan Chef Johan kembali ke station masing-masing juga dalam diam. Ada rasa bersalah yang menggelayuti namun mereka gengsi untuk mengakui. *** Jam sudah menunjukkan 22.15 malam saat Nurul akhirnya keluar dari pintu belakang dapur menuju parkiran. Beberapa kendaraan sudah berkurang. Hanya tersisa motor dan mobil milik staf yang pulang terakhir. Nurul berjalan menuju motornya. Mengambil helm dan memakainya perlahan. Ia lalu men-starter motor, melaju keluar dari parkiran. Jalanan mulai lengang saat ia memasuki Jalan Pahlawan. Jalan ini memang relatif sepi di malam hari. Hanya sesekali dilewati oleh kendaraan yang melintas cepat. Nurul berkendara sambil melamun. Pikirannya masih penuh. Tentang kemungkinan dirinya bisa saja tidak lanjut bekerja setelah 3 bulan. Tentang rencana bertemu dengan Mahdi lusa nanti dan juga biaya terapi Alfi. Semuanya bercampur jadi satu, membuat fokusnya terpecah. Ia tidak sadar kalau sejak keluar dari parkiran restoran, ada sebuah motor yang di kendarai dua orang mengikutinya dari kejauhan. Saat Nurul memasuki jalan yang lebih sepi dan lampu jalan yang kian jarang, tiba-tiba motor itu melaju kencang dari samping. Rasa kaget Nurul belum hilang saat sebuah tarikan kuat menghentak tubuhnya. Orang itu menarik paksa tasnya! Motor Nurul oleng dan ia pun terjatuh. Tubuhnya terseret beberapa meter di atas aspal kasar. Rasa perih langsung menjalar dari siku dan lututnya. Namun Nurul tidak mempedulikannya. Kesadarannya kembali dengan cepat. Ia sedang dibegal! Nurul mempertahankan tasnya. Terjadi adegan tarik-menarik. Nurul dan pembegal sama-sama berusaha merebut tas. Adrenalin membuat tenaga Nurul bertambah dua kali lipat. Ia berhasil merebut tasnya. Para pembegal memaki kasar saat tas yang mereka incar lolos. Mereka tahu kalau tas itu berisi sejumlah uang. Karena mereka telah mengikuti Nurul saat mengambil uang di ATM sore tadi. Sedangkan Nurul dalam keadaan saat setengah terhuyung, berbalik ke arah motornya. Instingnya hanya satu. Ia harus kabur! "Tolong, ada begal! Ada begal! teriaknya keras." Teriakannya memecah kesunyian malam. Dua orang pembegal itu panik. Mereka tidak menyangka korban akan melawan. Salah satu dari mereka turun, wajahnya tertutup helm. Ia langsung mengacungkan sesuatu ke depan Nurul. Sebuah kilatan logam terlihat. Pisau! "Diam, kalo lo mau hidup!" bentaknya kasar sambil mendekat ke arah motor Nurul. "Serahin tas dan motor lo!" Perintahnya sambil mengacung-acungkan pisau ke wajah Nurul. Napas Nurul memburu. Motor itu bukan miliknya. Melainkan milik Daffa. Jerih payah hasil mengobyek adiknya. Ia tidak akan menyerahkannya. Begitu juga dengan tasnya. Tadi sore ia sudah menguras tabungannya untuk biaya pengacara dan terapi Alfi. Tas ini adalah hidup matinya. "Tidak akan!" jawabnya penuh tekad. Para pembegal mulai kesal. Tanpa aba-aba ia kembali Ia menarik tas Nurul kasar. Nurul tersungkur lagi. Lututnya menghantam aspal. Rasa perih kembali menjalar. Namun tangannya tetap mencengkeram tas mati-matian. "Lepas!" bentak pembegal makin panik. Mereka sudah terlalu lama berurusan dengan Nurul. Mereka sekarang dikejar waktu. "Nggak akan! Tolong, ada begal!" Nurul berteriak lagi. Semoga saja ada orang yang lewat dan menolongnya. Tas terus ia peluk erat. Tarikan pun semakin kuat. Tubuh Nurul terseret lagi di atas jalan. Kulitnya terasa panas dan perih. Namun ia tidak mau melepaskan tasnya. Sampai akhirnya, dengan satu hentakan keras tas itu lepas dari genggamannya. Nurul kalah tenaga. Ia terjatuh lagi. "Woi, cepat!" teriak salah satu pembegal pada temannya yang sedang menstater motor. Nurul berteriak pilu. "Jangan!" Ia bangkit. Tanpa peduli rasa sakit di tubuhnya ia berlari mengejar. Dan saat itulah dari arah yang berlawanan debuah mobil melaju cukup kencang dan menabrak salah satu pembegal. Suara benturan keras memecah malam. Salah satu pembegal tertabrak. Tubuhnya terjungkal ke samping. Tas Nurul terlepas dari tangannya. Namun dengan cepat, pembegal itu bangkit. Dengan terpincang-pincang Ia langsung melompat ke motor temannya. Motor itu melaju pergi. Meninggalkan motor Nurul dan tasnya. "Alhamdullilah." Dengan penuh rasa syukur Nurul memeluk tasnya. Beberapa detik kemudian kendaraan lain mulai berhenti. Lampu-lampu menyinari lokasi kejadian. Orang-orang turun dan sebagian warga keluar dari rumah masing-masing. "Ya Allah… Mbak, nggak apa-apa?" "Tadi itu begal ya?" Warga sekitar mulai melontarkan pertanyaan. Kamu Nurul diam saja. Ia masik syok karena selamat dari korban begal. Sementara itu jalanan yang tadinya sepi, kini mendadak ramai. Perlahan Nurul berdiri. Dengan napas memburu tatapannya tertuju pada satu arah. Pintu mobil yang tadi menabrak pembegal itu terbuka. Seorang pria turun. Nurul mencoba mendekat karena ingin mengucapkan terima kasih. Pada saat itulah, ketika Lampu jalan menerangi wajah sang penolong, Nurul tertegun. Dadanya menegang dan matanya seketika membesar. Orang itu adalah Elang Samudera, boss besarnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD